
"Tasya, kenapa kamu menangis?" tiba-tiba suara seorang laki-laki yang sangat familiar, terdengar di belakangnya dan menyentuh lembut pundaknya.
Tasya tersentak kaget dan sontak menoleh ke belakang. "Da-David? kamu ngapain ada di sini?" tanya Tasya dengan kening yang terangkat ke atas, curiga.
"Aku rasa, pertanyaanmu tidak masuk akal. Apa salah kalau aku ada di sini? tidak kan?" jawab David, santai.
"Iya juga sih. Kamu sendirian ke sini?" tanya Tasya sambil mengedarkan pandangannya, untuk melihat apakah pria itu bersama seseorang. Pacarnya mungkin.
"Menurut kamu? aku benar-benar tersingkir semenjak dua orang itu, menjalin hubungan," sahut David dengan ekspresi kesal.
" Dan sepertinya kamu juga sama sepertiku," imbuh David, dengan ekspresi wajah lucu, membuat Tasya terkekeh.
"Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu tadi menangis?" David mengulang pertanyaannya, pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dia memang tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Tasya dan Jordan tadi. Karena dia sama sekali tidak tahu bahasa Indonesia. Akan tetapi, melihat ekspresi wajah dan gestur tubuh keduanya, David yakin kalau apa yang Tasya dan Jordan bicarakan ada hubungannya dengan masalah hati. Apalagi, kedua orang itu berkali-kali menyebutkan nama Naura dan Kendrick.
"Oh, tidak ada apa-apa. Seperti yang kamu katakan tadi. Aku merasa sedih saja, karena aku ditinggal sendiri sama Naura dan Chika." jawab Tasya, menutupi apa yang dia rasakan.
"Oh seperti itu?" David mangut-mangut, merasa kecewa dengan jawaban Tasya yang tidak mau jujur padanya.
Keheningan terjeda untuk sepersekian detik. David merasa benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.
David menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan kembali ke luar dalam sekali hentakan. Kemudian dia menatap kembali menatap ke arah Tasya.
"Tasya, maaf. Bukannya aku mau ikut campur atas masalahmu. Sebenarnya, tadi aku sudah melihatmu bersama Jordan. Aku melihat kalau kalian berdua sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Tapi, apapun itu, kamu yang sabar ya,"
Tasya mengreyitkan keningnya, menatap curiga pada David.
"Kamu membuntutiku?"
"Bu-bukan! a-aku hanya tidak sengaja melihatmu. Aku berniat ingin menyapa, tapi aku melihat kalau kalian berdua sepertinya sedang berbicara serius. Aku tidak sengaja mendengar apa yang kalian bicarakan, dan sialnya aku tidak mengerti sama sekali." sangkal David, gugup.
__ADS_1
"Oh, seperti itu?" ucap Tasya, percaya dengan ucapan David.
"Apa sih yang kalian berdua bicarakan, sampai kamu bisa menangis seperti tadi? dan yang paling membuat aku bingung, dalam pembicaraan, kalian berdua berkali-kali menyebut nama Naura dan Kendrick,"
"David, sepertinya kamu salah mengambil jurusan di kampus," ucap Tasya ambigu.
"Salah ambil jurusan? maksudnya?" David mengrenyitkan keningnya.
"Iya, seharusnya kamu mengambil jurusan jurnalistik. Dari cara kamu bertanya seperti tadi, kamu sudah seperti wartawan yang haus akan berita." Jawab Tasya yang mengandung sindiran.
"Ah, bukan seperti itu. Tapi, ya udahlah, kalau kamu tidak mau bercerita, ya tidak apa-apa." David menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya David, mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau naik London eye lagi, karena tadi aku tidak puas naiknya, apa kamu mau menemaniku?" tanya Tasya penuh harap.
"Tentu saja aku tidak menolak," jawab David gembira, yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati, karena tidak ingin terlihat kalau dirinya terlalu senang.
"Hmm tidak usah deh. Kamu sepertinya terpaksa. Aku mau pulang saja lah,"
"Eh, bukan begitu! aku sama sekali tidak terpaksa." David terlihat gelagapan. "Sial, kenapa aku jadi tegang begini?" bisiknya pada dirinya sendiri.
"Aku sangat senang kok bisa menemani kamu, melihat suasana London bersama." ucap David, yang tidak mau kehilangan momen bersama dengan Tasya.
"Sungguh?" Tasya, memastikan kembali.
"Kalau begitu, ayo!" Tasya dengan senyuman di bibirnya, menarik tangan David, ketika pria itu menganggukkan kepala, mengiyakan.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Jordan yang sebenarnya tidak jadi beranjak pergi, melihat ke arah Tasya dan Davis dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Cih, ternyata dia sama saja dengan Naura dan Chika. Perasaannya labil. Baru saja dia aku tolak, eh sudah dengan laki-laki lain. Benar-benar murahan!" umpat Jordan, yang akhirnya memutuskan melangkah pergi, dengan perasaan dongkol.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Apa benar kamu mau ikut liburan ke Indonesia, bersama Edward dan Kendrick, di liburan musim panas ini?" Tasya buka suara, ketika mereka sudah berada di dalam capsul London eye.
"Sebenarnya aku sangat ingin ikut. Tapi, kalau dipikir-pikir, aku akan merasa kesepian di sana. Karena aku yakin kalau Edward dan Kendrick akan sibuk dengan kekasih mereka. Aku pasti akan seperti lalat pengganggu bila aku ikut."
Tasya terkekeh melihat ekspresi wajah David.
"Benar juga sih? __ Emm, bagaimana kalau kamu ikut saja? nanti biar aku yang menemanimu di sana. Aku akan jadi guide kamu selama di sana. Kamu juga bisa menginap di rumahku, atau di rumah Naura ataupun Chika, terserah kamu." ucap Tasya memberikan saran.
"Kamu serius?" David, memastikan. Senyum David mengembang dengan sempurna, ketika Tasya menganggukkan kepalanya.
"Aku rasa kami tidak akan menginap di rumah salah satu dari kalian bertiga. Karena kemungkinan kami akan menginap di rumah kakak perempuannya Ken." ucap David, mengingatkan.
"Oh iya, aku lupa," Tasya memukul jidatnya sendiri dan tersenyum lebar ke arah David, hingga deretan giginya yang rapi terlihat jelas.
Ekspresi yang ditunjukkan oleh Tasya, terlihat sangat menggemaskan di mata David. Pria itu bahkan sampai terpaku dan ingin sekali menarik tubuh Tasya yang mungil dan memeluknya dengan erat.
"Hey, David! kenapa kamu diam? Apa ada yang salah denganku?" Tasya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah David, hingga pria itu tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Eh, tidak ada yang salah denganmu. Kamu cuma terlihat sangat cantik, kalau tersenyum lebar seperti itu," puji David, yang tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kamu bisa saja," ucap Tasya yang tidak merasa tersanjung sedikitpun dengan pujian yang baru saja dilontarkan oleh pria itu.
"Oh my God, kenapa aku bisa memujinya seperti itu sih? mulut ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi." bisik David pada hari sendiri, merasa malu.
"Baiklah, menunggu minggu depan, aku akan jadi bodyguardmu selama di sini. Aku akan membawa kemanapun yang kamu mau. Kamu mau ke Big Ben, ke British museum, ke tower bridge, Trafalgar square, terserah kamu. Aku akan dengan senang hati membawamu ke sana. Free akomodasi dan semua biayanya aku yang tanggung." ucap David, mengalihkan kecanggungannya.
__ADS_1
"Kamu serius?!" Manik mata, Tasya berbinar bahagia dan tanpa sadar memeluk David, ketika pria itu menganggukkan kepalanya. Respon Tasya sontak saja membuat jantung David berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.
Tbc