
"Apa ini gara-gara Jordan?" celetuk Naura, yang membuat Tasya berhenti melangkah.
"Bukan! aku hanya merasa tidak suka dengan kebohongan!" sahut Tasya, kembali menoleh ke arah Naura.
"Kebohongan apa?" Naura mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Kebohonganmu tentunya. Kebohongan siapa lagi?"
Naura benar-benar semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan olehnya Tasya, karena dia merasa tidak pernah berbohong.
"Kamu benar-benar tidak mengingatnya atau tidak menyadarinya?" raut wajah Tasya terlihat semakin dingin.
"Aku benar-benar tidak mengerti Tasya. Tolong bicara yang jelas!"
"Apa maksudmu berbohong padaku dengan mengatakan kalau yang menghubungi kamu tadi itu orang yang tidak dikenal? yang menghubungimu Jordan kan?" Tasya terlihat semakin dingin.
"Jadi hanya gara-gara itu kamu marah? aku melakukan itu karena __"
"Karena apa? karena kamu kasihan padaku? iya? asal kamu tahu, aku tidak butuh dikasihani! karena dengan kamu mengasihaniku, aku merasa kalau aku benar-benar menyedihkan," sambar Tasya dengan cepat.
"Bukan begitu, Tasya! aku tidak pernah beranggapan seperti itu. Aku tadi hanya merasa __"
"Ahh sudahlah! tidak perlu dijelaskan lagi! aku mau tidur," tanpa menunggu Naura selesai bicara, Tasya berlalu pergi, masuk ke dalam kamar yang terpisah dengan Naura dan Chika.
"Haish, dia benar-benar salah paham, Chika!" Naura mengembuskan napas berat seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Kamu tenang saja, aku akan bicara baik-baik dengannya!" ucap Chika, menenangkan Naura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tasya, kenapa kamu bisa bersikap seperti itu pada Naura? dia benar-benar tidak merasa kasihan padamu. Dia hanya merasa tidak enak hati kalau menerima telepon dari Jordan di depanmu, itu saja!" ucap Chika dengan lembut, ketika Tasya membukakan pintu kamar untuknya.
"Apa dia yang memintamu ke sini?" tanya Tasya balik.
"Tidak! hanya saja aku merasa tidak nyaman tinggal diantara sahabat yang sedang salah paham,"
"Salah paham bagaimana? bukannya karena merasa kasihanlah,makanya dia merasa tidak enak untuk menjawab telepon Jordan?" Tasya tetap merasa apa yang dia pikirkan itu benar.
"Itu dua hal yang berbeda Tasya!"
__ADS_1
"Menurutku sama saja!" ucap Tasya dengan tegas.
Chika menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, berharap kekesalannya ikut terbuang.
"Baiklah! Sekarang aku mau bertanya padamu. Kita coba lihat dari sisi sebaliknya dulu. Bagaimana kalau kamu ada di posisi Naura? apa kamu akan tega menerima telepon dari seorang pria yang disukai Naura di depannya? padahal dengan jelas di matamu kamu melihat kalau Naura sedang bahagia karena diajak keluar oleh pria yang selama ini dia sukai tapi menyukaimu?_
Tasya tercenung, tidak bisa menjawab. Karena sejatinya kalau dia ada di posisi Naura bisa dipastikan kalau dirinya juga tidak akan tega menerima telepon, di saat hati sahabatnya sedang berbunga-bunga karena akan diajak keluar oleh pria itu.
"Kenapa kamu diam? apa kamu mau, hanya karena permasalahan ini, hubungan persahabatan kita renggang? karena sejujurnya,aku tidak akan bisa memilih untuk memilih salah satu dari kalian berdua. Kalian berdua itu posisinya sama-sama penting bagiku," lanjut Chika kembali dengan panjang lebar dan nada berapi-api, melihat Tasya yang terdiam.
"Aku keluar dulu! coba kamu pikirkan apa yang baru saja aku katakan! Selama kamu masih salah paham pada Naura, aku memutuskan untuk tidur di sofa saja," pungkas Chika sembari beranjak keluar dari kamar.
Sementara itu, setelah Chika menghilang di balik pintu,Tasya duduk merenung, memikirkan kata-kata Chika. Setelah itu,dia mengingat ucapan Jordan yang menyakitkan baginya.
"Chika benar. Tidak sepantasnya karena masalah sepele seperti ini, hubunganku dengannya renggang," batin Tasya, sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naura tersentak kaget ketika ranjangnya bergerak dan ada yang memeluknya dari belakang.
Wanita itu sontak menoleh dan melihat Tasya yang nyengir, memamerkan giginya yang rata.
"Maaf untuk apa? kamu tidak salah sama sekali," ucap Naura, sembari menyelipkan sebuah senyuman.
"Aku benar-benar kekanak-kanakan tadi. Chika benar, dalam hal ini kamu tidak salah sama sekali. Kalau aku di posisimu pun, mungkin aku akan melakukan hal yang sama,"
Naura kembali tersenyum, merasa lega melihat Tasya sahabatnya sudah kembali seperti semula.
"Oh ya, Kenapa kamu tadi bisa pulang bersama dengan David? bukannya kamu pergi dengan Jordan?" Naura mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi di London eye. Aku berdebat dengan Jordan karena dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah bisa mencintaiku dan memintaku untuk tidak berharap lebih padanya. Dia juga dengan jelas mengatakan kalau cintanya hanya untukmu," jelas Tasya,membuat Naura mengembuskan napas berat.
"Jadi apa gara-gara itu juga kamu merasa kesal padaku?" tanya Naura menyelidik.
Tasya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali! Karena aku tahu, kalau hal itu bukan kesalahanmu. Kamu jelas tidak bisa melarang orang untuk mencintaimu kan?" jelas Tasya, membuat Naura tersenyum lega.
"Oh ya, mumpung aku ingat. Kamu harus berhati-hati pada Jordan, karena tadi dia mengatakan kalau dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu dan berniat memisahkan kami dan Kendrick," lanjut Tasya lagi, membuat Naura terkesiap kaget.
"Dia bilang seperti itu?" ulang Naura memastikan dan Tasya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Tasya! aku akan lebih hati-hati! oh ya, di mana Chika?" Naura mengedarkan tatapannya karena dia baru menyadari kalau Chika tidak terlihat.
"Dia ada di ruang tamu. Dia tidur di sofa," sahut Tasya santai.
"Kenapa seperti itu?" Naura mengrenyitkan keningnya.
"Katanya dia mau bersikap adil. Dia tidak tidur denganmu, juga tidak tidur denganku," sahut Tasya, tersenyum tipis.
Tiba-tiba wanita itu membesarkan matanya dan Naura tahu kalau sudah seperti itu pasti sahabatnya itu sedang berpikiran jahil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chika tersentak kaget dan wajahnya berubah pucat karena tiba-tiba lampu di ruangan itu mati, hidup, mati dan hidup lagi. Terakhirnya benar-benar mati.
"Naura,Tasya! bangun! udahan dong diam-diamannya!" pekik Chika, tidak berani bergerak dari tempatnya.
"huuuuuu huuuu!" terdengar suara tangisan samar-samar.
"Suara tangisan siapa itu?" Chika bergidik, takut.
"Tasya, apa itu kamu? kamu menangis ya?" teriak Chika lagi, dan sama sekali tidak ada Respon.
"Hais, kenapa lampunya benar-benar mati sih? apa memang mati dari sananya?" gumam Chika yang dibalas dengan suara cekikikan.
"Siapa itu?" pekik Chika lagi. Wanita itu benar-benar sudah sangat ketakutan sekarang.
"Apa kuntilanak sudah sampai ke negara ini?" gumam Chika lagi yang membuat suara cekikikan kembali terdengar.
"Ma, Paaa tolongin Chika!" gadis yang terkenal kuat itu mulai menangis.
Ketika wanita itu berniat berdiri hendak lari menuju kamar, samar-samar dia melihat bayangan putih di depannya.
"Ku-kuntilanak!" teriak wanita itu sembari berlari menuju kamar.
Belum sampai pintu kamar, lampu tiba-tiba kembali menyala yang dibarengi dengan suara dua wanita yang pecah.
"Kalian! pekik Chika dengan napas yang memburu.
"Kalian berdua benar-benar kelewatan ya!". Chika berlari menghampiri kedua sahabatnya yang sedang tertawa meledeknya. Sementara kedua orang itu langsung lari menghindari kejaran Chika.
__ADS_1
Tbc