
Mobil yang dikemudikan oleh David berhenti di depan apartemen tempat tinggal Tasya dan dua sahabatnya.
"Sudah sampai Tas?" ucap David setelah mereka diam dengan cukup lama. Ya, sepanjang jalan Tasya, lebih banyak diam dengan raut wajah murung. David sudah berusaha untuk mencairkan suasana, tapi hanya disambut dengan senyum terpaksa saja dari orang yang bersangkutan. Akhirnya David memilih untuk diam dan fokus mengemudikan mobilnya.
"Oh, sudah sampai ya?" Tasya membuka sabuk pengamannya dan bersiap membuka pintu.
"Terima kasih ya, Vid!" ucap Tasya lagi sembari keluar dari dalam mobil.
Di saat bersamaan,mobil milik Kendrick dan Edward juga muncul bersamaan dan menepi.
Empat orang yang belum keluar dari dalam mobil, bersamaan mengrenyitkan kening melihat David dan Tasya bersama.
"Kenapa dia bisa bersama David? bukannya tadi dia bilang kalau dia akan pergi keluar dengan Jordan?" batin Naura,dan bisa dipastikan hal itu juga jadi pertanyaan bagi Chika.
Naura langsung keluar dari dalam mobil disusul oleh Kendrick. Demikian juga dengan Chika dan Edward.
"Tasya, kamu kenapa bisa dengan David? bukannya tadi kamu bilang kalau kamu akan keluar dengan Jordan?" tanya Naura dengan alis yang bertaut. Sementara Chika menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Bukan urusanmu!" sahut Tasya ketus sembari berlalu pergi.
Naura dan Chika saling silang pandang bingung dengan sikap Tasya sedang kesal.
"Dia kenapa?" Kendrick buka suara.
Naura dan Chika menggelengkan kepala dan mengangkat bahu pertanda kalau keduanya juga tidak tahu.
"Kami susul dia dulu ya! kalian hati-hati pulangnya?" ucap Naura sembari beranjak pergi disusul oleh Chika.
"What kita ditinggal begitu saja, tanpa adanya ciuman selamat malam?" protes Edward sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Sementara Kendrick hanya terkekeh melihat raut wajah kesal Edward.
Kemudian keduanya sama-sama mengalihkan tatapan ke arah David yang juga sudah keluar dari dalam mobil.
"Ada yang bisa kamu jelaskan, Vid?" tukas Kendrik dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang harus dijelaskan? aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya. Kalian berdua jangan berpikir yang macam-macam!" David berusaha meredam kecurigaan dua sahabatnya.
"Tapi, kenapa aku kurang percaya ya, kalau kamu tidak sengaja bertemu dengan Tasya? entah kenapa aku yakin kalau kamu sengaja bertemu dengannya," kali ini Edward yang buka suara.
"Terserah mau percaya atau tidak. Tidak ada juga pengaruhnya bagiku," sahut David santai.
Kendrick dan Edward saling pandang dan bersamaan angkat bahu masing-masing.
"Oh ya,apa kamu tahu juga kenapa Tasya bersikap ketus seperti itu pada Naura?" kembali Kendrick buka suara.
__ADS_1
"Aku juga kurang tahu. Tapi, mungkin ada hubungannya dengan ini," David merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.
Kemudian pria itu memutar rekaman video perdebatan yang terjadi di antara Tasya dan Jordan.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Makanya aku merekamnya untuk aku tanyakan padamu," sambung David kembali.
Rahang Kendrick mengeras dan wajahnya juga memerah. Tidak ketinggalan juga dengan kedua tangannya yang mengepal dengan kencang.
"Brengsek! dasar pria licik!" umpat Kendrick yang dibalas dengan wajah bingung kedua sahabatnya.
"Kenapa kamu bisa semarah itu? emangnya apa yang mereka bicarakan?" tanya David memasang wajah penasaran demikian juga dengan Edward.
Kemudian Kendrick mulai menjelaskan apa saja yang dikatakan oleh Jordan dan balasan dari Tasya.
"Sepertinya Tasya merasa kesal dengan Naura. Padahal kan ini murni bukan kesalahannya. Apa kita perlu masuk ke apartemen mereka dan membantu menyelesaikan masalah mereka?" Edward memberikan saran.
"Sepertinya saat ini tidak perlu. Berhubung sudah malam, kita harus memberikan kesempatan pada mereka untuk menyelesaikan masalah sendiri. Aku yakin kalau mereka pasti bisa mengatasinya," Edward menganggukkan kepala, setuju dengan ucapan Kendrick barusan.
"Hmm,aku rasa kamu ada benarnya. Ayo kita pulang sekarang!" ucap David sembari melangkah menuju mobilnya.
Kendrick dan Edward juga melakukan hal yang sama. Namun, tiba-tiba langkah Edward berhenti dan kembali berbalik menoleh ke arah David.
"David, tunggu dulu!" pekiknya membuat langkah David terhenti dan berbalik menatap ke arah Edward.
"Ada apa?" David mengrenyitkan keningnya.
Tenggorokan David tercekat sehingga pria itu sedikit mengalami kesulitan untuk menelan ludahnya mendengar apa yang baru saja ditanyakan oleh Edward.
"E-emangnya kenapa? apa aku tidak bisa berubah pikiran. Dan apakah ketika aku berubah pikiran, aku harus melaporkannya pada kalian berdua? aku hanya merasa bosan tadi, makanya aku memutuskan untuk pergi ke London eye," David memberikan alasan yang masuk akal.
"Oh seperti itu? tapi__"
"Tidak ada tapi-tapi! stop berpikir yang tidak-tidak tentanku. Yang jelas tadi aku tidak membuntuti Tasya ke sana," ucap David tanpa sadar.
"Hei, tunggu! kenapa kamu mengatakan seperti itu? padahal aku tidak spesifik menuduhmu membuntutinya. Tadinya aku malah berpikir kalau kamu tidak sengaja bertemu dengannya di sana. Tapi, kenapa kamu malah menyinggung masalah membuntuti?" Edward tersenyum meledek.
"Ah, sialan kamu! aku mau pulang dulu!" David dengan cepat masuk ke dalam mobilnya, untuk menghindari pertanyaan Edward dan Kendrick. Kalau begitu dia takut keceplosan, karena dua sahabatnya itu sangat pintar untuk memancingnya untuk jujur.
Edward dan Kendrick saling silang pandang, dan sejurus kemudian tawa mereka pun pecah.
David mendengus kesal melihat dari kaca mobilnya, kedua sahabatnya yang tertawa.
"Tertawa aja sampai kalian lupa bagaimana rasanya tertawa!" ucap David sembari mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
Melihat hal itu,tawa Kendrick dan Edward bukannya semakin mereda, justru semakin pecah.
__ADS_1
David dengan perasaan dongkol akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan dua sahabatnya yang terlihat sangat menyebalkan malam itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tasya,kamu kenapa sih? kenapa dari tadi kamu sepertinya kesal padaku?" tanya Naura dengan raut wajah bingung. Karena semenjak mereka masuk ke dalam apartemen, wanita yang biasanya ceria itu, mendiamkan Naura.
"Tasya, kamu kenapa?" suara Chika meninggi. Wanita itu benar-benar tidak sabar lagi melihat sikap Tasya.
Tasya sontak meletakkan ponsel di tangannya dan berdiri sembari menatap Chika dengan tatapan dingin.
"Berani sekali kamu membentakku? apa karena dia lebih kaya dariku?" ucap Tasya, yang benar-benar sudah mulai keluar dari jalur.
"Kamu benar-benar gila ya? bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu. Aku tidak membela siapapun di antara kalian berdua. Aku hanya merasa kesal, dengan sikapmu yang tiba-tiba kesal pada Naura. Emangnya apa salahnya dia?" Chika terlihat mulai berang.
"Tidak ada sama sekali! aku mau tidur dulu!" Tasya mengayunkan kakinya dan melangkah hendak meninggalkan dua sahabatnya itu. Namun tangan Chika dengan sigap menahan pergerakan Tasya.
"Kamu tidak boleh pergi sebelum kami tahu apa yang membuatmu marah. Tolong jelaskan pada kami!" kali ini suara Chika sudah mulai melembut.
"Bukannya aku sudah bilang tidak ada sama sekali? kenapa kamu harus memaksa?" Tasya menepis tangan Chika dari bahunya dan kembali hendak melanjutkan langkahnya.
"Apa ini gara-gara Jordan?" celetuk Naura, yang membuat Tasya berhenti melangkah.
Tbc
Ryan Guzman as Kendrick
Brant Daugherty as Edward
Jorge Del Rio As David
Natasha Wilona as Naura
Micha Tambayong as Chika
Syifa Hadju as Tasya
__ADS_1