
Surya memilih untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju taman belakang. Pria yang usianya sudah lanjut itu, mendaratkan tubuhnya duduk di sebuah kursi besi. Tampak tatapan pria itu sangat kosong, seperti memiliki beban yang sangat besar.
Tanpa disadarinya, mata pria itu mengeluarkan cairan bening, hal yang tidak pernah diperlihatkannya di depan orang lain, bahkan di depan anak dan istrinya.
"Apa Papa sedang menangis?" Surya terjengkit kaget dan sontak menyeka air matanya saat mendengar suara putranya.
"Ti-tidak! Papa tidak menangis sama sekali," sangkal Surya dengan cepat.
"Jadi apa yang aku lihat tadi? sepertinya aku belum buta," ucap Dion sembari mendaratkan tubuhnya duduk di samping Surya.
"Kamu salah lihat. Mata Papa tadi hanya kemasukan debu, itu yang membuat mataku jadinya berair," Surya masih berusaha untuk menyangkal tuduhan Dion.
"Pa, aku buka orang bodoh, dan aku yakin Papa tahu akan hal itu. Kalau Papa menangis, akui saja! tidak ada salahnya seorang pria menangis. Pria yang menangis,. tidak menggambarkan kalau pria itu pria lemah. Karena pria itu juga butuh menangis, karena dengan menangis kita bisa mengeluarkan sedikit beban di hati kita," tutur Dion panjang lebar.
"Papa benar-benar tidak menangis Dion!" suara Surya penuh tekanan.
"Baiklah, kalau Papa tidak mengakuinya. Tidak masalah buat Dion. Oh ya, Papa sedang apa di sini?" Dion sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Papa hanya ingin menikmati sejuknya taman ini. Itu saja,"
"Apa Papa berbohong lagi?" tukas Dion straight to the point.
Surya sontak menoleh ke arah Dion dan menatap putranya itu dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kenapa Papa menatapku seperti itu? aku kan sedang bertanya, dan harusnya Papa menjawab," kali ini Dion terlihat tidak takut ataupun gentar melihat tatapan papanya.
"Dan pertanyaanmu itu adalah pertanyaan bodoh dan papa tidak perlu untuk menjawabnya?" sahut Surya, dingin.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan bertanya, tapi aku akan langsung saja menyimpulkan. Ucapan Papa yang ingin menikmati suasana sejuk di taman ini, adalah bohong. Papa ke sini karena papa merasa ada beban pikiran yang sangat berat dan aku yakin pasti berkaitan dengan Dewi," nada bicara Dion terdengar tegas dan mantap.
"Kamu jangan asal bicara! Papa sama sekali tidak merasa kalau masalah anak pembangkang itu adalah beban buat Papa. Jadi stop mengambil kesimpulan sendiri!" Surya berdiri dari tempat dia duduk dan hendak mengayunkan kaki meninggalkan Dion.
"Papa munafik! papa bisa saja berbohong pada orang-orang tapi, tidak padaku. Aku tahu jelas, kalau jauh di lubuk hati Papa, sebenarnya Papa sangat merindukan Dewi. Dugaanku benar kan?"ucapan Dion membuat langkah Surya terhenti dan sontak menoleh kembali ke arah Dion.
"Jaga mulutmu! Jangan sok tahu!"
__ADS_1
"Aku tidak sok tahu, tapi memang tahu." nada bicara Dion terdengar sangat tegas.
"Pa, aku sering melihat papa yang suka masuk ke dalam gudang dan melihat photo-photo Dewi yang katanya Papa sudah bakar, tapi ternyata papa simpan di sana,iya kan? aku sering melihat papa menangis saat menatap photo itu,Pa. Kali ini Papa jangan menyangkalnya lagi!" suara Dion terdengar meninggi.
"Jangan sok tahu kamu!"
" Aku tidak sok tahu, Papa! aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri,"
Surya terdiam, tidak bisa memberikan bantahan lagi.
"Papa melarang semua orang untuk masuk ke gudang itu. Tapi karena larangan Papa lah yang membuat aku penasaran, kenapa kami dilarang. Larangan yang papa buat justru membuatku semakin ingin tahu ada hal apa di dalam gudang itu.
"Terserah kamu mau mengatakan apa. Yang jelas itu tidak seperti yang kamu katakan!". Surya masih berusaha menyangkal seraya berputar kembali dan melangkah pergi.
"Pa, jangan pergi dulu! sekarang Papa harus jawab pertanyaanku dulu!" cegah Dion yang kini sudah berdiri tepat di depan Surya.
"Minggir kamu, papa mau lewat!" Suara suara Surya terdengar tegas.
"Jawab dulu pertanyaanku baru Papa boleh pergi," Dion bersikukuh tetap berdiri di depan Surya.
"Sekali ini, Papa harus jawab jujur. Apa Papa sama sekali tidak merindukan Dewi? apa papa sama sekali tidak menyayanginya?" mata Dion menatap Surya tepat di mata papanya itu.
Surya cukup lama terdiam dan balas menatap Dion.
"Papa diam saja, itu berarti Papa sangat merindukan Dewi dan sangat menyayanginya," sudut bibir Dion tertarik sedikit ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Aku sama sekali tidak pernah merindukannya, dan aku sama sekali tidak menyayanginya lagi! Kamu sudah mendengar jawabanku kan? sekarang menyingkir dari depanku!" nada suara Surya terdengar sangat dingin, dan bagi siapa yang mendengarnya, pasti akan merasakan atmosfer yang tidak nyaman.
Kini gantian Dion yang terdiam. Pria itu tidak menyangka kalau papanya bisa mengeluarkan kata setegas itu.
Melihat Dion yang terdiam. Surya menepis pundak putranya itu ke samping, agar dirinya bisa lewat.
"Papa bohong! aku yakin papa pasti bohong! Papa sangat menyayangi Dewi dan papa sangat merindukannya. Mata Papa tidak bisa berbohong, aku sangat yakin itu!" teriak Dion, sebelum papanya itu benar-benar melangkah jauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Dasar pria egois. Sudah tua tapi masih saja egois. Heran, ada ya manusia seperti itu! terbuat dari apa sih hatinya?" Kendrick tidak berhenti mengumpat dari tadi. Kini mereka semua sudah tiba di kediaman Kimberly.
"Kendrick, tolong bicara yang sopan! bagaimanapun itu Kakekmu!" tegur Victor dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku lebih baik tidak memiliki kakek, kalau sikapnya seperti itu. Coba tadi lihat, ada tidak dia menatap ke arah papa? tidak sama sekali kan? Papa tidak dianggap sebagai menantunya, jadi buat apa kita harus menganggap dia?" Kendrick meluapkan kekesalannya.
"Kendrick, walaupun dia tidak menganggap papa, tapi kamu jangan lupa kalau dia adalah Papanya mamamu. Kamu berkata seperti itu, apa kamu tidak memikirkan perasaan mamamu?" nada bicara Victor mulai melembut.
Kendrick terdiam dan sontak menatap ke arah mamanya yang matanya sudah sembab.
"Ma, maafkan Kendrick! aku hanya tidak bisa menahan amarahku," Kendrick menjatuhkan dirinya, berlutut di bawah kaki Dewi.
" Tidak apa-apa, Nak! aku tahu bagaimana perasaanmu!" Dewi mengelus-elus puncak kepala Kendrick.
Tiba-tiba pandangan semua orang menoleh ke arah Naura, karena ponsel wanita itu tiba-tiba berbunyi.
"Iya, Om ada apa?" tanya Naura, setelah dia menjawab panggilan itu.
"Iya, Om. Aku masih bersama Tante Dewi. Tunggu sebentar, aku kasih teleponnya ke Tante Dewi," Naura melangkah menghampiri Dewi yang duduk di sofa.
"Tante, Om Dion mencari Tante," Naura memberikan handphone ke tangan Dewi.
"Ada apa,Kak?" tanya Dewi, dengan suara lemah.
"Wi,mama kita jatuh sakit," terdengar suara Dion dari ujung telepon.
"Apa? mama sakit? di rumah sakit mana,Kak?" pekik Dewi sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Mama tidak mau dibawa ke rumah sakit,dia hanya mau kamu datang ke sini untuk melihatnya. Kakak mohon kamu datang ya!"
Dewi terdiam, bingung antara menolak atau mengiyakan. Karena dia tahu jelas kalau rumah itu tidak menerimanya kembali.
"Dewi, Kakak mohon. Kamu datang ya! kalau tidak mama sama sekali tidak mau dibawa ke rumah sakit dan tidak mau makan apapun," suara Dion terdengar memelas.
"Baiklah kami akan datang Kak!" bukan Dewi yang menjawab melainkan Victor yang merampas ponsel dari tangan sang istri, ketika melihat istrinya itu hanya diam saja.
__ADS_1
Tbc