Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Kemarahan Kendrick


__ADS_3

"Kenapa aku harus tidak bisa bahasa Indonesia? apakah orang luar dilarang untuk tahu?" nada suara Kendrick terdengar sangat dingin.


Surya terdiam tidak menjawab sama sekali. Tapi tatapan pria itu terlihat sinis saat menatap Kendrick.


"Ini nih perbedaan orang Indonesia dengan orang luar. Kalian bicara dengan orang tua tidak ada sopannya sama sekali," sindir Surya.


Kendrick, mengembuskan napasnya dan berdecih.


"Tidak sopan di mananya ya? apa aku harus memanggil anda dengan sebutan Tuan,baru bisa dikatakan sopan? tadi di dalam sana,anda sudah mengataiku dan berusaha memprovokasi Om Bayu untuk tidak mengizinkan Naura bersamaku. Kalau aku tidak tahu sopan dan kurang ajar, sudah tentu tadi aku akan mengatai anda balik kan? tapi, apa aku melakukannya? tidak kan? itu karena aku masih menghormati anda selaku tuan rumah dan orang yang lebih tua. Tapi, ketika anda menuduhku yang membuat Nenek Daryanti menangis,tentu saja aku tidak terima," tutur Kendrick panjang lebar dan tanpa jeda. Pria itu benar-benar sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan amarahnya.


"Ken, sudah jangan dilanjutkan lagi!" tegur Naura dengan raut wajah memelas.


Raut wajah Surya terlihat memerah, rahang mulai mengeras karena baru kali ini ada lagi yang berani mendebatnya selain putrinya Dewi.


"Berani sekali kamu membentakku di rumahku sendiri. Apa kamu aku__"


"Aku akan Anda apakan? Anda akan mengintimidasi saya dengan menggunakan jabatan anda yang dulu? kalau iya, apa menurut anda itu bukan terlihat seperti pecundang? itu bukan laki-laki sejati yang menggunakan suatu jabatan untuk melumpuhkan lawan," Kendrick dengan sengaja menyelipkan sebuah sindiran sarkas di dalam ucapannya.


"Jaga bicaramu! kamu sepertinya benar-benar tidak diajarkan sopan santun oleh orang tuamu!"


Kendrick mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Dadanya terlihat naik turun disebabkan oleh napasnya yang memburu.


"Anda benar-benar sudah kelewatan. Jangan pernah bawa-bawa orang tuaku dalam hal ini. Sekarang aku mau tanya, apa sebagai orang tua,anda sudah berhasil sebagai orang tua?"

__ADS_1


Surya terdiam tidak bisa menjawab sama sekali. Namun wajah pria tua itu sudah terlihat sangat marah. Lagi-lagi Kendrick mengingatkan dia kembali pada Dewi, putri yang tidak dia anggap.


"Kendrick, sudahlah! lebih baik kita pulang sekarang!" Naura kembali buka suara, guna menengahi perdebatan kakek dan cucu itu.


"Ya,mari kita pulang sekarang!" Kimberly juga ikut buka suara.


"Kalian jangan pergi dulu! aku benar-benar masih ingin berbicara dengan kalian!" Daryanti berusaha mencegah. Wanita tua itu sontak menatap tajam ke arah Surya suaminya. Hal yang pertama kali berani dia lakukan selama menikah dengan pria itu.


"Pa,Papa benar-benar keterlaluan. Aku menangis bukan karena mereka yang sengaja membuatku menangis. Tapi aku menangis karena mereka ini adalah __"


"Nenek, kami lebih baik pulang dulu!" Kendrick dengan cepat menyela ucapan Daryanti yang sepertinya ingin mengungkapkan identitasnya dengan Kimberly.


Daryanti mengalihkan tatapannya ke arah Kendrick dan Kimberly. Wanita melihat kalau tatapan kedua cucunya itu seakan memintanya untuk tidak mengatakan yajg sebenarnya.


"Maksudku, mereka ini datang dari negara Inggris. Aku tahu kalau putriku ada di sana. Aku hanya menanyakan pada mereka, apa mereka apa mereka mengenalnya? karena nak Kimberly ini seorang diplomat sama seperti Viktor. Aku hanya ingin tahu, bagaimana kabar putriku, Pa," ucap Daryanti, mencari alasan yang tepat dan masuk akal. Namun walaupun itu hanya alasan, Tetap saja wanita tua itu tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh, karena memang wanita itu tidak sepenuhnya berbohong masalah kerinduannya pada sang putri.


"Jangan bawa-bawa nama anak pembangkang itu di depanku! ingat dia bukan putri kita lagi!"


Kendrick kembali mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Surya yang benar menyakitkan untuknya.Namun lagi-lagi Naura berusaha membuatnya untuk tetap tenang.


"Terserah kamu mau mengatakan apa, yang jelas Dewi itu putriku. Aku yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan, aku yang sudah melahirkannya ke dunia ini dan tangan ini yang sudah membesarkannya sampai dia dewasa. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk melupakan itu semua? kamu benar-benar egois, Pa. Sudah berpuluh tahun, tapi kamu tetap tidak bisa menurunkan egomu. Sampai kapan begitu?"


"Daryanti!" suara Surya meninggi. Tatapan pria itu sangat tajam bak sebilah pisau belati yang siap menghujam jantung. Karena baru kali ini Istrinya itu membantah ucapannya.

__ADS_1


Daryanti terjengkit kaget, mendengar suara Surya yang menggelegar. Namun rasa takutnya hanya berlaku untuk sepersekian detik, karena menurutnya cukup sudah dia nurut selama ini.


"Apa,Pa? Papa mau apa kan aku? selama ini aku selalu diam, walaupun hatiku ingin memberontak. Kamu tidak menyadari kalau apa yang kamu lakukan selama ini membuatku hatiku sakit. Apa Papa kira dengan harta, hadiah yang selalu Papa berikan, sudah bisa membuatku bahagia? tidak sama sekali! Papa sudah merampas kebahagiaanku," Daryanti sudah tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang dia rasakan selama ini.


Napas Surya terlihat memburu. Pria itu sontak menoleh ke arah Kendrick dan Kimberly.


"Ini semua gara-gara kehadiran kalian berdua. Kalian telah membuat istri saya berani membangkang. Pergi kalian dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi di tempat ini!" bukannya menyadari kesalahannya, Surya malah kembali menyalahkan Kendrick dan Kimberly.


"Papa, stop menyalahkan mereka! Ini bukan salah mereka, tapi aku sendiri yang sudah tidak kuat menyimpan semua rasa sakit hatiku. Aku benar-benar merindukan Dewi, Pa!" Daryanti mulai terisak-isak.


"Nenek," Kimberly ingin memeluk Daryanti, guna memberikan ketenangan pada wanita tua itu.


"Jangan sesekali kamu berani memeluk istriku!" Surya menarik tangan Daryanti, hingga membuat Kimberly mengurungkan niatnya.


"Lepaskan aku! kamu tidak__"


"Naura,bawa mereka berdua dari sini! dan jangan pernah bawa mereka lagi ke rumahku!" titah Surya dengan suara yang sangat tegas dan dingin,memotong ucapan Daryanti.


Naura, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. Tanpa membalas ucapan pria tua itu,Naura meraih tangan Kendrick dan memberikan isyarat agar mereka meninggalkan tempat itu.


Sementara itu Kendrick tidak langsung menggerakkan kakinya. Pria itu masih berdiri di tempatnya sembari menatap tajam ke arah Surya dengan mata elangnya.


"Tanpa anda usir kami akan pergi dari tempat ini. Tapi selama aku hidup, baru kali ini aku melihat ada pria yang sudah sangat tua, dan bahkan hampir bau tanah masih bertahan hidup dengan keegoisannya. Anda benar-benar hidup hanya untuk anda sendiri. Anda tidak menyadari tidak selamanya orang yang berada di sisi anda itu, akan selalu bersabar. Suatu saat semuanya akan meledak seperti bom waktu. Selamat menanti hal itu terjadi!" pungkas Kendrick sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Surya yang berdiri terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2