
"Naura, apa kamu mendengar semua percakapanku dengan papa?"
Naura tidak langsung menjawab. Wanita manis itu, diam beberapa saat dan akhirnya
menganggukkan kepalanya, membenarkan,. begitu melihat raut wajah Kendrick yang menatapnya penasaran.
Kendrick menghela napasnya, dan menatap intens Naura. Mendapat tatapan dalam dari Kendrick membuat Naura merasa gugup sampai wanita itu menundukkan kepalanya.
"Jadi, kamu sudah tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya? Aku yakin kalau kamu pasti menganggap aku seorang pria pengecut, iya kan?
Naura menggelengkan kepalanya,dan memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap ke arah Kendrick.
"Awalnya aku memang merasa, kalau kamu jadikan aku seperti sebuah lelucon. Tapi setelah mendengar apa alasan kamu, aku cukup maklum kenapa kamu bisa mempunyai prinsip seperti itu. Yang jadi masalah sekarang, kenapa kamu jadi menyamaratakan semuanya, tanpa mencari tahu lebih dulu?"
Kendrick bergeming, merasa sangat bodoh selama ini.
"Naura, apa kamu mempunyai perasaan yang sama sepertiku?"
gantian Naura yang bergeming, diam seribu bahasa. Wanita itu justru menggigit bibirnya sambil mere*mas tangannya.
"Kamu sudah tahu, kalau sebenarnya
aku sudah jatuh cinta padamu, apa kamu juga mencintaiku?" Kendrick, mengulangi pertanyaannya dengan mata yang tidak lepas menatap ke arah Naura.
"Apa ada gunanya aku jawab? kalau aku jawab tidak, apa yang akan kamu lakukan? dan sebaliknya kalau aku jawab iya, apa juga yang akan kamu lakukan?" pancing Naura.
"Kalau kamu jawab tidak, aku tidak apa-apa. Aku tidak akan marah dan tidak akan memaksa, tapi selagi kamu belum punya kekasih, kali ini aku akan berusaha membuatmu untuk mencintaiku. Kalau kamu jawab iya, aku pastinya akan jadi orang yang paling bahagia hari ini, dan akan berusaha membuktikan kalau dengan aku bersamamu, aku tidak akan pernah membuatmu melupakan tanah airmu."
Naura tergugu dengan jawaban yang diberikan Kendrick dengan tegas. Padahal awalnya dia mengira kalau pria itu akan memintanya untuk mengubur rasa cintanya dan jangan berharap banyak padanya.
"Bu-bukannya kamu ... ah, kenapa kamu terlihat seperti berubah pikiran?"tanya Naura dengan gugup dan alis bertaut.
__ADS_1
"Karena aku menyadari, kalau ternyata selama ini aku terlalu pengecut. Asal kamu tahu, dari tadi aku berpikir seandainya kamu bersama dengan pria lain, aku merasa hatiku sangat sakit dan tidak rela. Sekarang tolong kamu jawab, apa kamu juga menyukaiku?"
Naura tersenyum dan tanpa ragu menganggukkan, kepalanya.
"Yes! jadi apa kamu mau menjadi kekasihku?" lagi-lagi Naura menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Kendrick meraih tangan Naura dan mengecupnya dengan lembut, serta mata yang menatap wanita itu dengan mesra, hingga membuat Naura tersipu malu.
Dari balik pintu, dua pasang mata tersenyum bahagia menatap interaksi kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jordan menghamburkan semua barang yang ada di dalam kamar asramanya, merasa marah dengan kabar yang baru saja dia dapat hari ini. Di mana dengan teganya Naura mengatakan kalau dia dan Kendrick sudah resmi memiliki hubungan istimewa.
Jordan merasa kalau perjuangannya untuk bisa menyusul Naura ke London terasa sia-sia. Yang dia dapat justru perasaan sakit hati melihat keromantisan Naura dan Kendrick saat makan di kantin.
"Kenapa? kenapa kamu tidak pernah melihat ke arahku? kenapa kamu hanya menganggap aku hanya seorang sahabat? padahal aku sangat yakin kalau kamu pasti tahu, kalau aku mencintaimu, Naura!" Jordan meletakkan kedua tangannya di atas kepala dan mengacak-acak rambutnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak bisa! aku sudah berjuang sampai sejauh ini. Aku harus tetap bisa mendapatkanmu. Aku yakin, kalau kamu tidak benar-benar mencintai pria itu. Itu hanya kekaguman sementara, karena bisa memiliki kekasih bule, menjadi suatu kebanggaan buat perempuan Indonesia jaman sekarang, dan aku yakin kalau dirimu juga terkena syndrom itu." Jordan tersenyum miring, sambil mengangguk-anggukan kepalanya, yakin dengan apa yang dia pikirkan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tasya mematut dirinya di depan cermin, untuk memastikan penampilannya sudah menarik atau masih kurang menarik.
Chika dan Naura saling silang pandang dan dari tatapan mereka, terlihat jelas kalau dua wanita itu, bingung dengan tingkah Tasya.
"Tasya, kamu tampil cantik begini mau kemana?" Chika akhirnya sudah tidak kuat untuk tidak bertanya.
Tasya dengan riang memutar tubuhnya sehingga gaun yang dia pakai mengembang diakibatkan putaran tubuhnya.
"Aku mau jalan sama Jordan. Katanya dia mau melihat suasana London. Kalian bisa bayangkan kan, kalau nanti aku akan membawanya ke London eye?
__ADS_1
aku akan merasakan nuansa romantis saat menaiki London Eye bersama dengan Jordan. Lalu kami akan melihat pemandangan indah kota London dari atas ketinggian 135 meter saat menaiki kapsul. Ihhh, romantisnya!" Tasya berjingkrak, dengan kedua tangan yang berada di depan dada, kegirangan sendiri membayangkan hal-hal romantis yang akan dilakukannya nanti dengan Jordan.
"Kamu jangan terlalu berekspektasi tinggi! Nanti kalau tidak sesuai dengan kenyataan, rasa sedihnya dua kali lipat asal kamu tahu," jelas Naura, mengingatkan
Tasya tersenyum kecut mendengar ucapan Naura, karena dia sadar, kalau yang diucapkan oleh sahabatnya itu benar. Dirinyalah yang merasa bahagia saat ini, tapi tidak dengan Jordan.
"Udah ah, kamu jangan langsung sedih begitu! tetap semangat dong. Tapi benar kata Naura, jangan terlalu ber-ekspektasi tinggi. Biarkan berjalan apa adanya. Karena kalau kamu bersikap biasa, dan hasilnya di luar ekspektasi kamu, kamu akan semakin merasakan kebahagiaan yang luar biasa." Chika menghibur sekaligus mengingatkan Tasya juga.
Tasya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, seraya memeluk dua sahabatnya itu.
Naura melerai pelukan Tasya dan beranjak menghampiri ponselnya yang berbunyi. Dia merasa kaget karena yang meneleponnya adalah orang yang sedang mereka bicarakan, siapa lagi kalau bukan Jordan.
Naura merasa dilema, mau menolak panggilan tidak enak pada Jordan, mau menjawab, tidak enak pada Tasya.
"Kenapa tidak diangkat, Ra?" Tasya,bertanya dengan kening yang berkerut
"Hmm, dari nomor yang tidak dikenal. Biarin ajalah!" Naura meletakkan kembali ponselnya tanpa menekan tombol tolak dan juga tombol jawab.
"Kalau tidak mau diangkat, ya ditolak dong Ra, jangan dibiarkan bunyi begitu terus." Tasya mengayunkan kakinya, melangkah ingin menghampiri ponsel Naura. Melihat hal itu, Naura dengan sigap langsung meraih ponsel itu, dan langsung menekan tombol tolak.
"Sudah! sudah aku tolak!" seru Naura dengan senyum yang dipaksakan. "Maafkan aku, Jo!" bisik wanita itu pada dirinya sendiri.
"Oh ya, sebentar lagi liburan musim panas. Kalian semua mau pulang ke Indonesia atau mau stay di sini?" Naura dengan sengaja mengalihkan pembicaraan agar Tasya tidak curiga.
"Pulanglah! ngapain juga di sini, gak ada kerjaan. Kebetulan Edward dan David katanya juga mau liburan ke Indonesia." sahut Chika dengan raut wajah bahagia.
"Aku juga mau pulang ke Indonesia, dan sama seperti kamu Kendrick juga akan ikut. Aku mau mendekatkan Kendrick dengan keluarga dari tante Dewi nanti, bagaimana denganmu, Tasya?" Naura menatap Tasya, menuntut jawaban.
" Ya, walaupun aku berat untuk pulang mengingat Jordan ada di negara ini, tapi kalau aku tidak pulang, sementara kalian berdua pulang, mama dan papa pasti akan bertanya-tanya. Jadi, dengan sangat berat hati aku ikut kalian pulang," pungkas Tasta yang dibarengi dengan embusan napas berat.
Tbc
__ADS_1