Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Dikenalkan pada orang tua


__ADS_3

"Mantan tunangan? kamu punya mantan tunangan?" celetuk Chika sembari menatap tajam ke arah Edward.


Wajah Edward sontak berubah pucat,. karena memang pria itu sama sekali tidak pernah menceritakan mengenai Cathleen pada Chika.


"Kenapa kamu diam, Edward?" Chika memanggil nama Edward tanpa adanya embel-embel sayang lagi.


Jordan seketika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu benar-benar merasa bersalah karena sudah merubah atmosfer yang tadinya aman damai berubah menjadi atmosfer yang menegangkan antara Chika dan Jordan.


"Kamu diam, berarti yang dikatakan Jordan benar. Aku kecewa pada kamu," Chika dengan langkah cepat beranjak pergi meninggalkan yang lainnya.


"Ini semua gara-gara kamu!" umpat Edward pada Jordan, sembari berlari menyusul sang kekasih.


"Sayang, jangan marah dong! Cathleen bukan mantan kekasih maupun mantan tunanganku, karena kami berdua sama sekali tidak pernah bertunangan," Edward berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Chika.


Chika sontak menghentikan langkahnya,dan menoleh ke arah Edward yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Tidak pernah bertunangan? tapi kata ...." Chika menunjuk ke arah Jordan yang masih bercengkrama dengan Kendrick dan Naura, serta David dan Tasya.


"Aku dan Cathleen memang pernah dijodohkan, karena dia adalah putri dari sahabat baik papaku. Tapi aku sama sekali tidak pernah mencintainya makanya aku menolak keras perjodohan itu. Beruntungnya Cathleen mau mengerti, dan dia yang akhirnya bicara dengan papanya agar membatalkan perjodohan. Jadi, aku dan dia tidak pernah sempat bertunangan, Sayang," jelas Edward panjang lebar, tanpa jeda berharap Chika percaya.


Chika memejamkan matanya sekilas dan kembali mengayunkan kakinya melangkah, dengan langkah yang kali ini tidak secepat tadi. Helaan napas wanita itu terlihat berat seperti ditindih oleh beban yang sangat berat


"Sayang kamu kenapa diam? apa kamu tidak percaya padaku?" Edward kembali menyusul langkah Chika dengan raut wajah frustasi.


"Aku bukannya tidak percaya padamu. Justru sekarang aku yang tidak percaya pada diriku sendiri?"sahut Chika ambigu.


"Maksudnya?" alis Edward bertaut, hingga membuat wajah pria itu seperti berkerut ketika mendengar ucapan wanita yang dia cintai itu.

__ADS_1


"Ed, masa kamu tidak mengerti sih dengan maksud perkataanku? bagaimana aku bisa percaya pada diriku sendiri, sementara aku tahu kalau orang tuamu menginginkan gadis lain untuk menjadi menantunya? apa lagi seperti yang kamu katakan tadi, kalau wanita itu memilih mundur. Itu berarti dia wanita yang tidak egois. Orang tuamu pasti sangat menyukainya," nada suara Chika terdengar lirih dan raut wajahnya juga sangat sendu.


Edward seketika tersenyum, mengerti dengan apa yang dirasakan oleh kekasihnya itu sekarang.


"Kamu jangan pernah berpikir seperti itu. Mama memang pernah menginginkan Cathleen jadi menantunya, tapi mamaku juga tidak pernah memaksakku untuk tetap menyetujui perjodohan itu. Mama tetap mau mendengarkan keputusan putranya. Mama justru sekarang memintaku untuk membawamu ke rumah dan mengenalkan kamu padanya. Tadinya aku mau mengatakan ini padamu, nanti setelah pulang kuliah. Aku mau membawamu ke rumah malam ini, kamu mau kan?"


Chika sontak tercenung. Kini wanita itu bingung antara mau menolak atau mengiyakan. Karena sekarang ada rasa ketakutan yang timbul di hatinya, khawatir kedua orang tua Edward tidak menyukainya nanti, mengingat kalau ternyata Edward berasal dari keluarga bangsawan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu kenapa?" tanya Edward, menyadari kalau sepertinya Chika merasa tidak nyaman Ketika mobil yang dikemudikannya berhenti di depan sebuah rumah yang sangat mewah.


Ya, setelah cukup puas berperang dengan hatinya, akhirnya Chika bersedia dibawa oleh Edward untuk dikenalkan pada kedua orang tua pria itu.


"Sayang, aku benar-benar takut, kalau kedua orang tuamu nanti tidak akan menerimaku. Aku takut kalau aku tidak sesuai dengan ekspektasi mereka," Chika akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kamu tenang saja, kan ada aku yang akan selalu bersamamu. Lagian aku yakin semua yang kamu khawatirkan itu tidak akan terjadi. Mama papaku bukan orang tua yang egois. Mereka pasti mendukung pilihan putranya apalagi kalau pilihannya itu merupakan kebahagiaan buatku," nada bicara Edward begitu lembut, mencoba memberikan kenyamanan buat Chika.


Chika menatap mata Edward dengan dalam-dalam. Wanita itu tiba-tiba menyelipkan senyuman di bibirnya dan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku percaya pada ucapanmu. Mudah-mudahan yang kamu katakan itu benar," pungkas wanita itu, dengan mantap.


"Nah, gitu dong. Ayo kita masuk!" Edward menyerahkan tangannya untuk digandeng oleh Chika. Melihat itu, Chika tersenyum dan langsung mengaitkan tangannya ke tangan Edward. Kemudian mereka berdua berjalan masuk dengan langkah pasti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketakutan Chika ternyata benar-benar tidak terjadi. Wanita itu benar-benar disambut dengan senang hati dan antusias oleh kedua orang tua Edward. Mereka bahkan berulang kali memuji Chika hingga membuat Chika benar-benar nyaman berada di tengah keluarga itu.


"Pantas saja Edward jatuh cinta padamu. Ternyata kamu secantik ini," puji mamanya Edward saat itu, membuat dirinya tersipu malu.

__ADS_1


"Oh ya, Bibi tidak tahu makanan kesukaanmu. Jadinya Bibi tadi mendatangkan koki dari Indonesia untuk memasak makanan dari sana." tutur mamanya Edward membuat Chika merasa kalau kedatangannya benar-benar sangat diinginkan. Wanita itu seketika merasa menyesal sudah sempat khawatir dan berprasangka buruk sebelumnya.


"Aduh, Bibi harusnya tidak perlu seperti itu. Karena aku juga menyukai makanan Inggris," ucap Chika, yang di samping merasa diinginkan, juga merasa tidak enak karena merasa sudah merepotkan mamanya Edward itu.


"Oh, Bibi sama sekali merasa tidak direpotkan, Sayang. Ayo kita ke meja makan. Kita makan malam sama-sama


Kamu pasti sudah lapar kan? lagian makanan-makanan Indonesia itu, dari penampilannya sepertinya enak. Bibi benar-benar penasaran bagaimana rasanya," wanita paruh baya itu tanpa sungkan langsung menggandeng tangan Chika dan mengajak kekasih putranya itu ke meja makan.


"Ma, tolong jangan kamu kuasai kekasihku!" protes Edward pura-pura kesal dengan sikap mamanya yang dari tadi tidak pernah membiarkan Chika lepas darinya.


"Apaan sih? apa kamu kurang puas, selama liburan musim panas itu selalu bersama dengan Chika? jadi sekarang giliran mama," sahut Mamanya Edward dengan raut wajah sinis.


"Aku tidak akan pernah puas, dan justru ingin selalu bersama dengannya, Ma. Jadi tidak ada kata bosan," sahut Edward.


"Kalau begitu, mama akan ke Indonesia, mama akan melamarkan Chika untukmu!"


Mata Chika dan Edward sontak membesar mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut wanita paruh baya itu.


"M-Mama,Apa mama serius?" suara Edward terdengar bergetar saking kagetnya.


"Apa menurutmu mama sedang bercanda? Mama benar-benar serius," ucap mamanya Edward dengan tegas. Kemudian wanita paruh baya itu mengalihkan tatapannya pada Chika yang masih belum bisa lepas dari rasa kagetnya.


"Bagaimana Chika, kamu tidak keberatan kan untuk menikah secepatnya dengan Edward? kamu tenang saja, kamu tetap akan bisa melanjutkan kuliahmu sampai selesai,"


Chika bergeming, tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya Edward, karena sebenarnya wanita itu masih belum terlalu siap untuk menikah.


Di lain tempat hal yang sama juga terjadi pada Tasya yang kebetulan juga sedang dikenalkan David pada kedua orangtuanya. Sifat ceria dan lucu Tasya seketika membuat orang tua David langsung menyukai wanita berisik itu. Merasa merasa kalau dengan hadirnya Tasya membuat suasana menjadi ceria.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2