
Pesawat yang membawa Dewi dan Viktor akhirnya mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Dewi turun dari pesawat dengan kaki bergetar antara haru dan tegang, karena tidak menyangka kakinya kembali menginjak bumi Indonesia setelah puluhan tahun tidak pulang.
"Ayo!" Viktor meraih tangan Dewi, mengajak istrinya itu untuk melanjutkan langkah.
"Pa, apa kita benar-benar sudah berada di Indonesia?" tanya Dewi, yang kembali merasa enggan untuk mengayunkan kakinya.
"Tentu saja, iya. Kita benar-benar sudah berada di negaramu, Sayang!" Viktor menyelipkan senyuman tipis di bibirnya.
"Kalau begitu kita balik lagi saja ke London," tiba-tiba dari pelipis Dewi, mengalir peluh.
"Kenapa kita langsung kembali lagi? kita baru saja mendarat. Dan ingat, Kendrick sedang sakit, dia memerlukan kita," Viktor kembali mengingatkan. Padahal dia sebenarnya sudah tahu skenario Kendrick, Kimberly dan Naura.
Mata Dewi seketika membesar begitu mengingat tujuannya, memutuskan pulang ke Indonesia.
"Astaga, aku hampir melupakan Ken. Ayo, Pa kita harus keluar dari sini secepatnya dan langsung ke rumah sakit,"Dewi meraih tangan Viktor dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Taksi yang membawa Dewi dan Viktor tiba di depan sebuah rumah sakit yang besar.
"Rumah sakit ini sudah banyak perubahan. Dulu terlihat biasa saja, ternyata sekarang sudah sebesar ini," ucap Dewi, menatap kagum pada gedung di depannya.
"Tentu saja sudah berubah, Sayang. Kamu sudah puluhan tahun tidak pulang," Viktor menyelipkan senyuman di bibirnya.
Dewi, tidak menjawab sama sekali karena yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Bahkan selama perjalanan dari Bandara ke rumah sakit tadi, ia hampir tidak mengenali jalan-jalan yang dia lewati karena berubah total. Seandainya supir taksinya membawa mereka berkeliling -keliling dulu, agar biaya argonya besar, dirinya juga pasti tidak akan tahu hal itu. Beruntung si supir taksi baik.
"Ayo,Pa kita masuk! aku sudah tidak sabar melihat kondisi Kendrick," Dewi menarik tangan Viktor.
"Sebentar,Sayang. Kamu tidak lihat kalau aku harus menarik koper besar ini?" Viktor dengan sengaja memasang raut wajah kesal.
Ya, tadi Dewi menolak dengan keras permintaan suaminya untuk lebih dulu ke hotel, guna menyimpan barang bawaan mereka lebih dulu. Akhirnya sekarang Viktor mau tidak mau harus menarik koper itu ke sana kemari.
Dewi sama sekali tidak tersenyum melihat raut wajah suaminya. Itu karena pikirannya hanya tertuju pada sang putra, Kendrick.
"Pa, Naura sudah mengabari kan ruang tempat Kendrick dirawat?" tanya Dewi memastikan dan Victor mengangguk, mengiyakan.
__ADS_1
Dewi dan Victor akhirnya melanjutkan langkah mereka mengarah ke pintu masuk. Sekitar sepuluh meter lagi mencapai pintu masuk, tiba-tiba langkah Dewi terhenti ketika ada tangan yang menyentuh pundaknya.
Mata Dewi melirik ke arah tangan yang menyentuh pundaknya. Tampak jelas kalau pemilik tangan itu dipastikan sudah tua. Itu terlihat jelas dari kulit punggung tangan yang keriput.
Entah kenapa jantung Dewi tiba-tiba berdetak kencang, dua kali lipat lebih kencang dari detak jantung normal, padahal dia belum tahu siapa pemilik tangan itu.
Dengan sangat hati-hati, Dewi mulai memutar tubuhnya, berbalik hendak melihat sosok yang berdiri di belakangnya. Mata Dewi sontak membesar, melihat sosok wanita tua yang sudah bersimbah air mata, menatap Dewi penuh kerinduan. Di samping wanita tua itu juga berdiri seorang pria setengah baya. Tatapan pria itu juga tidak jauh berbeda dengan tatapan wanita tua itu
Tidak perlu menunggu lama, mata Dewi juga seketika basah. Tangan wanita paruh baya itu seketika terulur dengan bergetar menyentuh wajah keriput wanita tua itu.
"Ma-Mama!" gumam Dewi dengan suara yang seperti tercekat. Selain kata Mama, Dewi tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun lagi, karena wanita itu benar-benar shock, tapi dari bahasa tubuhnya terlihat kalau Dewi benar-benar merindukan wanita yang melahirkannya itu.
Ya, wanita tua itu adalah Daryanti wanita yang melahirkan Dewi. Wanita yang sangat merindukan Dewi. Wanita itu sudah berada di tempat itu, dari dua jam yang lalu, ditemani oleh putranya atau kakak laki-laki Dewi, guna menunggu kehadiran putrinya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"I-ini benar-benar kamu kan Nak? mama tidak sedang bermimpi kan?" Daryanti meraba wajah Dewi dan Dewi menyambut tangan keriput itu dan menciumnya berkali-kali.
"Iya, Ma! ini benar-benar Dewi. Harusnya aku yang bertanya,apa aku yang bermimpi bisa melihat mama di sini,"
Daryanti tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Wanita tua itu hanya menarik tubuh Dewi dan memeluk putrinya itu dengan sangat erat, dibarengi dengan isak tangis.
"Mama sangat merindukanmu,Nak! mama benar-benar kehilangan semangat semenjak kamu pergi. Kamu pergi seperti tertelan bumi. Kamu tidak merindukan mama ya?" ucap Daryanti di sela-sela isak tangisnya.
"Ma, apa yang mama rasakan juga Dewi rasakan. Hatiku benar-benar sesak menahan rindu Ma. Tapi,aku tidak bisa pulang karena papa sudah membuangku. Kata-kata Papa benar-benar menyakitkan,Ma," tutur Dewi dengan suara yang tersendat-sendat.
"Dewi,apa kamu juga tidak merindukan kakakmu ini?" pria paruh baya yang bersama Daryanti tadi buka suara. Mata pria itu juga sudah memerah dan berkaca-kaca menahan tangis.
"Kakak!" dengan berurai air mata, Dewi menghambur memeluk kakak laki-lakinya itu.
"Aku tentu saja sangat merindukanmu," pria itu membalas pelukan Dewi dengan erat. Air mata yang tadi berusaha dia tahan akhirnya merembes juga membasahi pipinya.
"Maafkan aku, Dek. Aku tidak bisa meluluhkan kekerasan hati papa kita saat itu. Kakak benar-benar tidak berguna. Aku merasa kalau aku sudah gagal menjadi seorang Kakak," ucap pria itu dengan lirih.
Dewi melerai pelukannya, sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Kakak tidak salah sama sekali. Karena saat itu, tidak akan ada yang bisa membantah ucapan papa. Kalau saat itu, Kakak membantahnya, kakak pasti ikut terbuang sepertiku," ucap Dewi.
Tiga orang itu kemudian saling berpelukan lagi, sembari bertangis-tangisan. Mereka benar-benar tidak peduli dengan orang-orang lewat yang menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Mama dan Kakak' sedang apa di sini? siapa yang sakit? mama tidak apa-apa kan?" tanya Dewi yang tiba-tiba panik.
Daryanti tersenyum dan menggelengkan kepala. "Mama baik-baik saja Nak. Mama__"
"Ini semua rencana kami, Ma!" tiba-tiba Kendrick, Kimberly dan Naura muncul dari arah yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Mata pria itu terlihat sembab pertanda kalau Kendrick sempat menangis.
"K-Ken? ja-jadi kamu tidak benaran sakit,Nak? dan kalian sudah menipu Mama?"
"Maaf,Ma! hanya ini caranya agar Mama mau pulang ke Indonesia. Nenek benar-benar merindukanmu, dan aku tidak tega melihat tangisan Nenek," sahut Kendrick.
"Iya,Ma. Maafkan kami. Sebenarnya Papa juga ikut dalam rencana ini," Kimberly buka suara menimpali ucapan Kendrick.
Dewi sontak menatap Victor yang sudah tersenyum ke arahnya, senyum merasa tidak bersalah sama sekali.
"Jadi, kalian berdua sebenarnya anak dari anak pembangkang itu?" tiba-tiba terdengar suara bariton dari arah yang tidak terlalu jauh dari mereka.
Semua yang berada di tempat itu sontak menoleh ke arah datangnya suara. Wajah mereka Benar-benar panik begitu mengetahui siapa pemilik suara yang ternyata adalah Surya.
Mata pria tua itu terllihat sangat sukar untuk dibaca. Antara marah atau ada perasaan lain, hanya dialah yang tahu.
"Daryanti, Dion, ayo pulang!" titah pria itu pada istri dan putranya.
"Tidak mau! aku masih mau bersama dengan putriku!" tolak Daryanti dengan tegas.
"Daryanti!" tatapan Surya semakin tajam.
Daryanti dan Dion akhirnya melangkah dengan perlahan dan berat hati, mendekat ke arah Surya, Bukannya mereka takut dengan tatapan pria tua itu,tapi mereka hanya tidak mau terjadi keributan, karena tempat mereka berdiri berada di lokasi rumah sakit. Di samping itu mereka juga tidak mau menjadi bahan tontonan.
Sebelum masuk ke dalam mobil,pria tua itu menatap Naura dengan tatapan tajam.
"Naura, kakek benar-benar kecewa padamu. Kamu sudah membohongi dan mempermainkan Kakek," pungkas pria itu, dan tanpa menunggu jawaban dari Naura,pria itu masuk ke dalam mobil dan meminta supir untuk menjalankan mobil.
"Woi, dasar pria tua egois, sudah bau tanah masih arogan kamu!" teriak Kendrick.
"Kendrick, tenang Nak! ini rumah sakit, jangan buat keributan di sini!"
__ADS_1
Tbc