Cinta Beda Negara

Cinta Beda Negara
Makan sambal


__ADS_3

Naura langsung berlari masuk ke dalam rumah begitu mobil yang menjemputnya berhenti dengan sempurna di depan rumah tempat dia d


besarkan.


"Maaa, Paaa, Naura pulang!" teriaknya dengan begitu riangnya.


"Kami sudah tahu kamu pulang, jadi tidak usah koar-koar!" Nani, mamanya Naura menyeletuk sambil turun dari atas tangga.


"Mama, kangennn!" Naura tidak peduli dengan sikap mamanya yang dia tahu hanya bercanda.


"Ihh, mama juga kangen, Sayang!" tuh kan, benar. Nada ketus Nani, hanya bercandaan saja. Wanita setengah baya itu langsung memeluk putrinya dengan sangat erat.


"Apa papa di sini, hanya makhluk tak kasat mata, buat kalian berdua?" tiba-tiba Bayu sang papa sudah berdiri di dekat kedua wanita kesayangannya itu.


"Papa, Naura kangen!" Naura melerai pelukan mamanya dan langsung memeluk Bayu papahnya.


"Lho, bukannya kamu bilang, kalau pacar bule kamu itu akan ikut ke Indonesia? mana dia?" celetuk Nani dengan mata yang celingukan ke arah pintu masuk.


"Pacar bule, pacar bule. Dia itu ada keturunan Indonesianya, Mah, kalau Mama lupa," Naura mencebikkan bibirnya.


"Dia itu, anak dari cinta pertama papa lho, Mah," bisik Naura, menggoda mamanya.


Nani, berdecih dan mengangkat bahunya tidak peduli.


"Kamu kira mama akan meraung-raung dan menangis tidak terima? Oh tidak! mama bukan tipe seperti itu. Yang jelas cintanya papamu sekarang hanya buat mama," ucap Nani penuh percaya diri.


"Masa sih, Mah? itu benar, Pah?" Naura beralih ke arah Bayu, papanya.


"Sebenarnya sih nggak. Cuma biar mamamu tenang dan senang, ya papa terpaksa bilang begitu,"


"Papahhhh!" pekik Nani dengan bibir yang mengerucut.


"Hahaha, canda Sayang. Jangan cemberut gitu dong!" Bayu menarik tubuh istrinya dan merengkuh bahu istrinya itu.


"Cih, udah tua aja, masih kaya remaja yang jatuh cinta. Gak malu sama umur," protes Naura jengah.


"Justru makin tua, harus semakin mesra, Sayang. Jangan ketika lagi cantik saja sayangnya, setelah nggak secantik dulu, kadar cinta juga langsung turun, " ucap Nani, dengan senyuman yang mengembang.


"Emang kamu pernah cantik, Mah?" ucap Bayu, meledek.


"Papah!" Nani memukul pundak suaminya itu, kesal, hingga membuat tawa Bayu dan Naura pecah.


" Hmm, mana pacar kamu itu, Nak? apa dia tidak jadi datang ke sini?" tanya Bayu setelah suara tawa mereka reda.


"Jadi kok, Pah. Besok di akan ke sini diantar sama kakaknya. Tadi dari bandara mereka langsung ke tempat tinggal Kak Kimberly." jawab Naura sambil mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa dan langsung menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa itu.


"Hei, kenapa kamu langsung duduk? bawa dulu koper kamu ini ke atas!" protes Nani, kesal.

__ADS_1


"Biarin dulu di situ kenapa sih, Mah? aku mau istirahat sebentar," Naura mengerucutkan bibirnya mendengar, omelan mamanya.


"Kamu juga, kenapa pakai bawa pakaian kamu balik ke sini? biarin aja di sana, toh di sini juga pakaian kamu banyak," Nani tidak berhenti mengomel. Hal yang sudah tidak mengherankan lagi di rumah itu. Jika Nani berhenti mengomel, justru semua ada dalam zona bahaya.


"Itu bukan pakaianku, Mah. Tapi oleh-oleh Tante Dewi buat Mama. Itu pakaian, tas, sepatu dari butik tante itu,"


"Serius? kenapa kamu nggak bilang dari tadi?" manik mata Nani langsung berbinar, membayangkan isi oleh-oleh yang baru saja disebutkan putrinya itu.


"Tadi aja ngomel, giliran tahu isinya langsung berubah, huh," ucap Naura, sembari memutar bola matanya, jengah. Ekspresi putrinya membuat Nani terkekeh dan Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa pasword koper kamu ini? kamu ganti ya?" Nani, menatap Naura putrinya dengan alis yang terangkat ke atas.


"Eh, iya Mah!" Naura nyengir kuda.


"Coba mama tebak, pasti ada hubungannya dengan tanggal lahir Kendrick, iya kan?" tebak Nani.


"Kok, Mama tahu?"


"Tahulah. Karena kamu sama dengan papamu. Papa aja, semua-semuanya, pasti tanggal lahir mama," ucap Nani.


"Serius?" tanya Naura, tersenyum misterius.


"Mah, mulai besok, simpan jauh-jauh kartu ATM papah, karena perasaanku sudah tidak enak."celetuk Bayu dengan ekor mata yang melirik ke arah Naura dan yang dilirik hanya cengengesan.


"Tenang aja, Pah. Kalau Naura ambil pun nggak bakal terkuras habis, paling setengahnya saja," ucap Naura.


Naura pun akhirnya menyebutkan password kopernya. Begitu koper itu terbuka, mata Nani langsung berbinar melihat pemberian Dewi yang baginya sangat bagus-bagus.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Di apartemen Kimberly.


"Kak, apa nanti kita akan keluar makan malam atau kakak akan memasak makan malam?" Ken buka suara sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Kalian maunya bagaimana?" Kimberly balik bertanya.


"Kita makan di luar saja, Kak. Aku mau makan masakan Indonesia." Edward buka suara dan David mengangguk setuju.


"Kalian yakin? apa kalian kuat makan sambal?" tantang Kimberly.


"Sambal itu istilah besar yang dalam kuliner Indonesia, merujuk pada saus maupun kondimen pedas. Secara garis besar, sambal berbahan utama cabai yang dilumatkan sehingga keluar kandungan sari cabai dan ditambah bahan-bahan lain seperti garam, bawang merah, dan terasi." jelas Kimberly yang membuat Edward dan David bingung.


"Apa itu terasi?"


"Ahh, namanya ya terasi. Aku susah ngejelasinnya." ucap Kimberly.


"Ya udah, sekarang kita lebih baik keluar , buat cari sambal, Kak. Aku benar-benar penasaran bagaimana rasanya sambal. Kalau kita main ke rumah Ken, Tante Dewi tidak pernah buat sambal buat kami. Jadi kami ingin merasakan sambal," David terlihat sangat antusias.

__ADS_1


"Baiklah! ayo berangkat!" ucap Kimberly.


"Oh men, bisa tidak kita berangkatnya nanti saja. Aku masih capek!" ucap Ken sambil membaringkan tubuhnya di sofa.


"Tidak bisa! kalau kamu mau istirahat, ya istirahat aja sendiri! Ayo, Kak, Ed!" David melangkah terlebih dulu disusul oleh Edward dan Kimberly. Akhirnya mau tidak mau, Kendrick pun bangun dari sofa dan menyusul ketiga orang itu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Kimberly yang pada dasarnya memiliki sifat jail, sengaja membawa Ken dan dua sahabatnya itu ke warung di pinggir jalan, yang di spanduknya bertuliskan 'pecel lele'


Kehadiran ke empat orang berparas bule itu, tentu saja menarik perhatian para pengunjung.


"Kak, kami mau makan sambel, bukan makan bebek, ayam, burung dan ikan apa namanya itu?" bisik David yang hampir membuat Kimberly tertawa. Kimberly yakin, kalau David berpikir kalau Sambal itu adalah makanan yang langsung dimakan tanpa campuran apa-apa.


"Di sini juga ada sambal, Vid." ucap Kimberly dengan mimik wajah yang meyakinkan. Sedangkan Kendrick yang sudah tahu niat kakaknya yang ingin mengusili kedua sahabatnya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jangan lupakan Edward yang mengrenyitkan keningnya karena merasa ada yang tidak beres.


"you, you mau eat eat what Mbak bule dan mas bule?" tanya pemilik warung itu dengan takut-takut karena sama sekali tidak tahu menggunakan bahasa inggris. itu saja kata eat, baru dia cari di google.


"Mau pesan, ayam goreng, tahu serta tempe aja ya, Pak. Nasinya nasi uduk saja." jawab Kimberly, dengan bahasa Indonesia yang fasih. Membuat bapak pemilik warung itu, melongo sekaligus menyesal, karena sudah susah-susah mencari bahasa Inggris makan di google. Bukan merasa sayang dengan waktu yang termakan, tapi lebih ke arah sayang paket internetnya.


"Saya mau sambal," ucap David dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Karena sama seperti si bapak tadi, David juga belajar dari google.


"Ya, kalau mau makan pecel lele ya pasti pakai sambal, tong. Kalau gak pakai ya gak enak," cerosos bapak itu dengan cepat yang membuat David bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.


Kimberly dan Kendrick mengulum senyum berusaha untuk menahan tawa, melihat ekspresi kebingungan David.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pesenan mereka pun datang.


"Mana yang namanya sambal? apa kah ini?" David menunjuk ke arah sayur kol mentah dan daun kemangi.".


"Bukan, tapi ini." tunjuk Ken.


"What? jadi ini yang namanya samb


? apa ini cabai semua? jadi aku hanya memakan cabai saja malam ini?" David, tersentak kaget.


"Sudah ku duga, pasti ada yang tidak beres!" celetuk Edward yang membuta tawa Kimberly dan Kendrick pecah.


"Kalian coba dulu! makannya pakai nasi ini, rasanya sangat enak dan kalian pasti suka." ucap Kendrick sambil makan dengan lahap.


Melihat Kendrick dan Kimberly yang makan dengan lahap, membuat David dan Edward saling silang pandang sejenak dan langsung menyerbu makanan yang tersaji di depan mereka.


Mereka makan dengan lahap, walaupun berkali-kali harus minum air putih, membuat bapak pemilik warung, menatap dengan tatapan yang sendu. Bukan karena kasihan dengan dua pemuda itu, melainkan karena merasa sayang dengan air putih yang habis oleh kedua orang itu.


Sang pemilik warung terlihat meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Tolong antarkan dua galon air minum lagi! takutnya gak cukup sampai jam 12 malam nanti. Ada orang yang baru datang dari gurun pasir, kasihan mereka kehausan," ucap pemilik warung itu, dengan suara yang dipelankan agar tidak terdengar oleh ke empat orang bule itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2