
"Kamu kenapa sih tidak bisa menahan diri?" protes Kimberly begitu mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Ternyata kedua orang tua Naura sudah lebih dulu pulang dari tadi.
"Pria tua itu benar-benar sudah keterlaluan, Kak. Aku tidak suka dia bilang mama kita anak yang pembangkang," Kendrick tidak mau disalahkan.
"Tapi, kamu jangan lupa, pria tua itu, kakek kamu sendiri,"
"Jadi apa karena dia kakek kita, kita tidak bisa buka suara? apa kita harus diam saja? Kak, justru ini saatnya buat dia tahu, kalau semua hal di dunia ini, tidak harus patuh padanya. Buat dia menyadari kalau apa yang dilakukannya itu sudah salah,"sahut Kendrick.
"Sudahlah, Ken. Sebaiknya kita pergi dari sini saja dulu. Kita bicarakan hal ini di tempat lain saja," Naura buka suara,menengahi perdebatan dua kakak beradik itu.
Kimberly akhirnya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah Kakek Surya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit sudah mulai berganti warna menjadi jingga. Pertanda sebentar lagi malam akan menyapa. Lampu -lampu di jalanan sudah mulai dinyalakan untuk menerangi jalanan.
Chika menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar yang tidak lain adalah rumah kedua orang tuanya. Sementara Edward sudah lebih dulu diantarkan pulang olehnya ke kediaman Kimberly.
"Dari mana saja kamu seharian ini?" tegur seorang wanita setengah baya yang merupakan mamanya Chika.
"Lho Ma aku kan tadi sudah bilang sama Bibi untuk kasih tahu mama kalau aku akan jalan-jalan dengan Tasya. Apa Bibi tidak bilang ke Mama?" Chika menautkan alisnya.
"Bibi ada bilang. Tapi Mama tidak menyangka kalau kamu akan pergi seharian, Chika," terlihat dari raut wajah mamanya Chika kalau wanita paruh baya itu sedang kesal.
"Maaf, Ma!tapi kan biasanya juga seperti itu. Mama tahu sendiri kan kalau aku sudah keluar dengan Tasya dan Naura, pastikan seharian,"
"Iya, tapi mama benar-benar tidak enak sama Nak Rio tadi. Dia menunggumu cukup lama lho,"
"Rio? buat apa dia ke sini? aku kan tidak ada janji dengan dia?" Chika melangkah dan menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Dia tahu kalau kamu pulang dari London, Nak. Jadi dia mau ngajak kamu jalan-jalan sekaligus makan malam. Dia baru saja pulang, eh dia pulang kamu malah nyampe di rumah," terang mamanya Chika.
Chika mengembuskan napas dengan berat dan memilih untuk meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk dikirimkan ke Edward, guna mengabari kekasihnya itu kalau dia sudah sampai di rumah.
"Kenapa sih kamu selalu acuh tak acuh jika mama membicarakan tentang Rio? kamu tidak suka ya?" kening mamanya Chika berkerut, menyelidik.
"Aku rasa Mama sudah tahu jawabannya, tanpa harus aku ucapkan sama sekali," sahut Chika santai.
"Kenapa kamu bisa tidak menyukainya? Rio itu tampan,mapan dan dia pria yang baik. Apa yang kurang dari dia?" mamanya Chika mendaratkan tubuhnya duduk di samping Chika.
"Kurangnya, aku tidak bisa mencintainya, Ma. Dia mungkin baik di depan Mama dan Papa. Tapi, di belakang dia itu sama sekali tidak baik Ma. Lagian sekarang aku mau kasih tahu Mama kalau sebenarnya aku sudah punya seseorang yang aku cintai," ucap Chika sembari menggigit bibirnya.
Mata wanita paruh baya itu membesar mendengar pengakuan putrinya.
"Kamu sudah punya pacar? kenapa tidak ngomong sama Mama? dan kenapa kamu tidak membawanya ke rumah?" tanya wanita itu dengan beruntun.
"Maaf,Ma.Aku hanya sedikit takut mama tidak menyetujui hubunganku dengannya, karena sebenarnya dia bukan orang Indonesia. Dia pria Inggris,Ma," tutur Chika dengan sangat hati-hati.
"Walaupun dia bukan orang Indonesia, dia tidak seburuk yang orang-orang tua pikiran. Dia sangat menghormati wanita, Ma. Sebenarnya dia tadi mau minta ikut ke sini, tapi aku menolaknya dengan alasan mama dan papa lagi di luar kota," Chika menundukkan kepalanya.
"Apa? jadi pria itu sekarang ada di Indonesia?" mamanya Chika terkesiap kaget.
"Jadi seharian ini kamu tidak jalan-jalan dengan Tasya tapi dengan pria bule itu?" lanjut wanita paruh baya itu lagi.
Chika kembali kembali mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya. "Aku memang benar jalan-jalan dengan Tasya. Tapi dengan pasangan masing-masing, karena Edward dan David tidak tahu tempat-tempat di sini," bantah Chika dengan cepat.
"Emm, Edward dan David? yang mana di antara mereka pacarmu?" alis Wanita paruh baya itu sedikit naik ke atas.
"Edward,Ma. Dia benar-benar pria yang baik. Mereka juga mahasiswa S2 di Oxford, Mereka 3 orang bersahabat sama seperti aku,Tasya dan Naura. Mereka pernah menyelamatkan kami dari preman-preman yang hendak melecehkan kami. Dan selama aku menjalin hubungan dengannya,dia sama sekali tidak pernah bersikap kurang ajar, Ma." tutur Chika menjelaskan mencoba meyakinkan Mamanya itu.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana dengan Rio?"
"Ma, sumpah demi apapun, aku tidak pernah menyukai Rio. Dia itu pria yang suka gonta-ganti wanita. Dia itu hanya terlihat baik di depan Mama dan papa saja. Aku tidak bohong,Ma!"
Wanita paruh baya itu terdiam untuk beberapa saat. Kemudian wanita itu menghela napasnya dengan sekali hentakan sembari menatap Chika.
"Kalau kamu sudah berkata seperti itu, apa yang bisa mama katakan lagi. Kamu yang akan menjalankan hidupmu kan? mama dan papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Itu saja. Kalau menurutmu Edward pria yang baik untukmu, Mama sih terserah saja. Tapi,mama ingin bertemu dengan dia dulu, agar Mama bisa menilai dia," ucap mamanya Chika, diplomatis.
"Serius,Ma?" raut wajah Chika berbinar dan mamanya menganggukkan kepala mengiyakan.
"Ok,Ma.Besok aku akan ajak dia ke sini," Chika benar-benar terlihat ceria.
"Jadi sekarang dia menginap di mana? apa dia menginap di hotel?" mamanya Chika kembali buka suara.
"Tidak Ma. Dia tinggal di rumah Kak Kimberly Kakaknya Kendrick yang kebetulan bekerja sebagai diplomat di Indonesia," Chika akhirnya menjelaskan siapa Kendrick, yang merupakan kekasih Naura dan memiliki darah Indonesia juga.
"Jadi, Kendrick itu anaknya Dewi putrinya Om Surya?" wanita paruh baya itu terlihat kaget.
"Iya, Ma. Mama kenal Tante Dewi?"
Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.
"Tentu saja Mama kenal. Dia itu salah satu sahabat Mama. Mama sangat merindukannya. Besok kamu sekalian ajak Kendrick juga ke sini. Mama mau tanya-tanya tentang Dewi," ucap wanita itu lagi dengan sangat antusias.
"Oh ya, bagaimana dengan keluarga pacarmu itu? apa mereka juga sudah menerimamu? Edward sudah mengenalkanmu ke keluarganya kan?" tanya mamanya Chika lagi.
Tenggorokan Chika tiba-tiba tercekat, karena tiba-tiba dia teringat kalau Edward sama sekali belum pernah membawanya ke rumah pria itu untuk dikenalkan kepada keluarga.
"Su-sudah dong, Ma!" sahut Chika, terpaksa berbohong.
__ADS_1
"Oh, baguslah kalau begitu. Mama tenang sekarang. Oh ya, untuk urusan Rio biar nanti Mama yang akan bicara dengannya. Sekarang kamu masuk kamar,mandi dan istirahat," pungkas wanita itu sembari berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
Tbc