
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Daryanti turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, demikian juga dengan Dion. Sementara Surya hanya bisa mengembuskan napas dan tidak berniat memarahi istri dan putranya itu sekarang.
Dari arah pintu terlihat seorang wanita setengah baya berlari menyambut Daryanti dan Dion. Wanita itu tidak lain adalah istrinya Dion.
"Mas kalian sudah pulang?" sapa wanita paruh baya itu.
Dion tidak menjawab sama sekali, tapi pria itu justru menatap istrinya dengan tatap curiga.
"Apa kamu yang memberitahukan papa masalah kami yang akan menemui Dewi?" tukas Dion dengan tatapan menyelidik.
Wanita paruh baya itu sontak menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah merah sang suami.
"Kamu diam, berarti iya. Kenapa kamu tidak bisa tutup mulut? kamu kan tahu sendiri kalau mama sangat ingin bersama dengan putrinya dengan waktu yang cukup lama? tapi gara-gara kamu semuanya jadi kacau," Dion mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak berniat untuk memberitahukan papa masalah Dewi yang kembali dari London. Tapi, tadi Papa sepertinya sudah curiga dan Papa bertanya padaku, kamu dan mama mau kemana? aku sudah mengatakan kalau kamu hanya ingin menemani Mama belanja sesuatu. Tapi, Papa benar-benar tidak percaya dan memaksaku untuk berterus terang. Kamu kan tahu sendiri bagaimana wajah papa kalau marah, makanya aku tanpa sengaja bicara yang sebenarnya," ucap wanita itu dengan gugup dan dengan kepala yang masih menunduk.
__ADS_1
Dion menghela napasnya, tidak bisa melanjutkan marahnya lagi, karena dia bisa membayangkan bagaimana posisi istrinya saat papanya bertanya dengan nada dingin dan tatapan mengintimidasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kamu keluar tanpa izin dariku?" tanya Surya begitu hanya mereka berdua yang berada di dalam kamar.
Daryanti tidak menjawab sama sekali. Wanita tua itu, hanya terduduk dengan tatapan kosong.
"Ma, kenapa kamu diam? kamu tidak punya mulut untuk menjawab?" Surya mulai hilang kesabaran, merasa diacuhkan oleh istrinya sendiri.
Daryanti sontak menoleh ke arah Surya. Tatapan wanita itu tidak terlihat seperti biasanya. Kini wanita tua itu menatap sang suami dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Surya terdiam tidak membantah ucapan sang istri.
"Kamu memang suamiku, dan setiap aku ingin melangkah, aku memang harus izin padamu, tapi suami yang bagaimana dulu? untuk seorang suami yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri, aku rasa aku tidak harus izin padamu," lanjut Daryanti kembali, hingga membuat Surya tercengang. Batu kalo ini wanita yang dinikahinya berpuluh tahun itu, berkata keras seperti itu.
__ADS_1
"Ma, ini benar-benar kamu? kamu terlihat seperti bukan Daryanti yang kukenal,"
"Daryanti yang bagaimana yang kamu maksud? Daryanti yang selalu tersenyum bahagia, yang selalu nurut padamu, begitu?" nada suara Daryanti terdengar sinis.
"Sebenarnya Daryanti yang kamu kenal sudah sejak lama mati. Sejak kamu memisahkannya dengan putri yang dia lahirkan dengan penuh perjuangan karena keegoisanmu. Daryanti yang ada bersamamu sejak dulu, itu hanyalah tubuhnya saja, tidak dengan jiwanya. Aku bertahan di sisimu karena berharap ada sebuah keajaiban yang membuat kamu berubah pikiran dan membawa kembali putriku, tapi ternyata semuanya sia-sia. Hati kamu benar-benar sudah jadi batu," Daryanti berhenti berbicara sejenak karena napasnya sudah tersengal-sengal ditambah dengan air mata yang terus mengalir. Sementara Surya tetap terdiam seribu bahasa, tidak tahu mau mengucapkan kata-kata untuk membalas ucapan istrinya itu.
"Aku mau tanya, apa kamu pernah melihat keceriaan lagi di wajahku semenjak Dewi pergi? ahhh sudahlah ... kamu mungkin tidak memperhatikannya atau sama sekali tidak memperdulikannya. Karena hatimu sudah benar-benar tertutup dengan egomu yang besar. Kamu terlalu bangga dengan dirimu, yang selalu dituruti perintahnya,sampai kamu lupa, kalau tidak semua orang itu harus patuh," ucap Daryanti lagi, sembari menyeka air matanya.
"Aku tahu kalau sebagai seorang istri harus menghormati suaminya, tapi seorang suami jangan lupa kalau mereka juga harus mengasihi istrinya. Kamu dulu berjanji akan membahagiakanku,apa begini caramu membahagiakanku? kamu sudah memisahkan seorang ibu dengan putrinya, seorang kakak dengan adiknya, apa kamu mengira aku dan Dion bahagia dengan itu? Apa kamu mengira dengan kemewahan yang kami berikan, bisa menutupi semua kesedihan karena kehilangan seorang putri dan kakak?" Daryanti kali ini benar-benar sudah tidak terkendali lagi. Wanita itu meluapkan semua beban yang menghimpit hatinya selama ini.
"Ma, aku __"
"Ahhh sudahlah! kamu jangan melakukan pembelaan lagi. Aku sudah tidak mau mendengarnya lagi. Cukup sudah, Pa! aku capek! yang penting sekarang, aku sudah cukup tenang. Aku sudah siap kalau Tuhan memanggilku untuk kembali, karena aku sudah melihat putriku walaupun hanya sebentar," Daryanti menyela ucapan Surya yang sepertinya hendak membela diri. Kemudian, wanita tua itu merebahkan tubuhnya membelakangi Surya.
Surya diam seribu bahasa. Benar-benar shock dengan keberanian istrinya saat mengungkapkan uneg-unegnya.
__ADS_1
Sementara di luar kamar, seorang laki-laki paruh baya, yang tidak lain adalah Dion, tidak bisa menahan air matanya mendengar semua ungkapan hati Daryanti, Mamanya.
Tbc