
"Theo, apa kabar?" Riana bertanya ketika bertemu dengan orang yang dia sukai sejak SMP.
Tanpa sengaja mereka bertemu di halte bus,
"Kabar baik, kamu dari mana Riana?" Theo balik bertanya.
"Theo masih manis, bahkan bertambah manis, senyumnya, gayanya." Riana berkata dalam hati.
"Dari rumah teman, kamu mau kemana Theo?"
"Lagi suntuk saja di rumah, mau menemani aku tidak ?"
"Ya Tuhan, ya maulah. Setelah bertahun-tahun aku dapat kesempatan lagi dekat dirimu, Theo ." Batin Riana.
"Bagaimana Riana, mengapa kamu malah melamun?"
Riana diam saja.
"Baiklah, kita ke taman dekat Plasa Cibubur ya?" Ajak Theo.
"Baiklah."
Sesampainya di taman yang lumayan jauh dari tempat pertama tadi mereka duduk di kursi yang tersedia.
Theo duduk dengan santai, "Kamu lelah ya Riana? Maaf ya jadi mengajak kamu mengikuti aku yang sedang Gaje seperti ini."
"Gaje ? Tidak jelas maksud kamu Theo?"
Theo mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu kenapa menjadi lucu seperti ini ?" Riana tertawa.
"Sudah lama ya kita tidak pernah bertemu, kamu bertambah manis, Riana."
"Bisa saja kamu Theo, apa kamu sedang merayu agar di belikan bakso yang di depan itu" Jawab Riana sambil tertawa kecil.
"Harusnya rayuan ini memang untuk kamu dulu Riana."
Jawaban Theo dengan muka serius yang seperti itu membuat Riana berhenti tertawa.
"Maksud kamu apa, Theo?"
"Ya, kamu tahu itu, bukan ?" Theo berbicara sambil menghembuskan nafas berat.
"Jangan bilang dulu kamu suka sama aku Theo?"
Riana mengatakan sambil menahan perasaan bahagianya.
"Menurut kamu, Riana?" Theo malah balik bertanya sambil tersenyum penuh arti.
"Ya Tuhan." Riana berteriak didalam hatinya.
"Aku bahkan yang lebih dulu suka sama kamu Theo." Riana tersipu malu saat mengatakannya.
Theo terdiam mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh Riana.
Satu detik...dua detik...tiga detik....detik ke empat "
"Seperti itu ya, mengapa tidak bilang sayang?" Theo menggoda Riana sampai pipinya memerah.
"Jangan menggoda aku, Theo !"
Mereka lalu bercanda dan tertawa bersama setelah sekian tahun ternyata sama-sama memendam perasaan di hati.
Tidak terasa waktu berlalu, udara dingin mulai dirasakan oleh mereka.
"Riana, sepertinya sudah terlalu malam kita disini. Walaupun aku tidak ingin pulang."
Theo berkata sambil memandang sendu Riana seperti tidak ingin berpisah.
__ADS_1
"Theo, aku juga tidak ingin pulang setelah pertemuan kita ini, rasanya aku masih rindu."
Riana mengatakan itu sambil melihat Theo yang sedang bersedih.
Mereka sama-sama tidak ingin pulang.
Masih banyak yang harus di selesaikan oleh mereka.
Masih ada rindu yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Harusnya dulu kamu bicara bila memang kamu suka sama aku, jadi semua keadaan bisa berbeda Riana."
Theo berkata sambil memegang tangan Riana.
"Sebelum semua terlambat." Sambungnya lagi.
"Theo, aku itu wanita, mana ada muka untuk memulai semuanya." Sahut Riana.
"Ya, aku seharusnya yang mengungkapkan kepada kamu apa yang aku rasakan, tetapi aku pikir kamu hanya menganggap aku teman biasa tanpa punya perasaan lain yang ada di hati." Ujar Theo.
"Maafkan aku Riana." Theo mengucapkan penuh kesungguhan.
"Iya,Theo, maafkan aku juga."
Mereka berdua menarik nafas berat seperti menahan penyesalan yang mendalam.
Theo dan Riana melewatkan masa-masa yang seharusnya mereka lewati dengan senyum indah, tanpa menahan sesak di dada karena mencintai dalam diam.
"Riana, tahukah kamu bila kita membicarakan hal ini pada waktu dahulu mungkin semua akan berubah. Banyak hal berat yang terjadi di hidup aku, terlalu pahit untuk merasakan sendiri."
Theo seperti mau menangis.
Riana memegang tangan Theo untuk menguatkannya.
Riana tidak mengetahui masalah apa yang sedang dihadapi Theo. Dari dulu Theo selalu seperti itu.
"Apapun yang kamu hadapi sekarang, kamu harus kuat Theo! Kamu itu adalah lelaki tangguh yang aku kenal." Riana mencoba menguatkan.
Theo menggeleng.
"Aku baik-baik saja, Riana."
"Beri tahu aku bila kamu sedang ada masalah. Barangkali aku bisa meringankan beban yang ada."
Riana menawarkan bantuan.
"Iya, terima kasih Riana, kamu selalu baik kepadaku. Ini akan menjadi penyesalanku yang tidak pernah mencari kamu setelah kita lulus sekolah." Ujar Theo.
"Sudahlah Theo, semua sudah berlalu, lagipula kita sekarang sudah bertemu dan sudah mengetahui apa isi hati kita masing-masing".
Hening sesaat.
Riana bertanya sekali lagi, "Benarkah kamu tidak mau membicarakan masalah yang sedang kamu hadapi?"
Theo tersenyum, "Aku sudah bilang bahwa aku baik-baik saja, Riana. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kondisi aku."
Riana menarik nafas, "Apa yang kamu katakan tidak seperti yang terlihat. "
Theo hanya tersenyum kecil, "Bagaimana dengan kamu Riana, apa kamu baik-baik saja ?"
"Aku baik-baik saja." Jawab Riana pelan.
"Yakin ?" Theo bertanya sambil menyentuh lengan Riana.
Riana hanya bisa mengangguk.
"Baiklah. Walaupun tidak seperti yang terlihat." Theo meniru perkataan Riana sambil melepaskan pegangannya dari lengan Riana.
"Itu adalah perkataan aku, Theo." Ucap Riana mengingatkan.
Theo mengangguk sambil tersenyum, "Aku pinjam dulu kata-kata kamu."
__ADS_1
Mereka tertawa bersama.
"Kamu itu belum mengajukan pinjaman." Riana memasang wajah cemberut.
"Baiklah. Sekarang aku mau mengajukan pinjaman hati." Theo mencubit pipi Riana.
"Theo!" Riana menjadi risih dan malu.
Pertama kali di cubit pria.
"Riana, kamu itu sudah menarik perhatian aku semenjak pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah."
Theo bercerita masa lalu.
"Benarkah ?" Riana bertanya setengah tak percaya.
"Iya. Kamu itu seperti memiliki medan magnet khusus hati ini, sehingga pandangan aku langsung tertuju sama kamu."
"Ini bukan saatnya pelajaran IPA ya Theo." Ucap Riana sambil tersenyum manis.
"Memang bukan. Namun pelajaran cinta." Ucap Theo menggoda Riana.
Riana menganggukkan kepalanya, "Ya..ya."
Riana tersenyum, "Sekarang saya mengerti Pak Guru."
Riana bertingkah seperti murid.
"Mau aku beri nilai bagus tidak untuk pelajaran ini?" Theo menawarkan kepada Riana.
"Boleh, bagaimana caranya?"
Theo membuat berantakan rambut Riana yang lembut.
"Tolong simpan baik-baik rasa cinta kamu. Aku juga akan menyimpan rasa cinta aku untuk kamu disini, tepat disini." Ucap Theo sambil menunjuk ke arah dadanya.
"Mengapa harus kita simpan Theo ? Sudah terlalu lama aku simpan rasa ini." Protes Riana.
"Aku juga. Hati ini sudah terlalu diisi oleh nama kamu, Riana. Hanya nama kamu."
Theo berkata lirih.
Riana terdiam tidak mengerti.
Theo tersenyum.
"Tetap tersenyum ya, Aku sayang sama kamu Riana. Kamu juga sayang dengan diriku, bukan ?"
Riana mengangguk.
"Ya, aku sayang sama kamu, Theo."
"Baiklah, aku antar kamu pulang ya."
"Iya, Theo."
"Riana, senyum kamu manis ." Ucap Theo.
"Dari dulu" sahut Riana sambil tertawa kecil.
"Bila kamu tertawa bertambah manis."
"Sudah Theo, kamu itu menggoda terus bisanya."
"Jangan jauh lagi, Riana." Pinta Theo.
"Iya."
Mereka lalu bergandengan tangan dengan erat seperti tidak mau di pisahkan lagi oleh waktu.
Instagram 📝✍️ dee.reeana.24
__ADS_1