
Dokter berpeluh keringat keluar dari ruang IGD.
Ranto mengusap air matanya, "Riana."
Angga mewakili Ranto yang tak bisa berkata-kata, "Bagaimana, Dok?"
Dokter tersenyum kecil, "Sudah bisa kami tangani, namun untuk sementara sebaiknya Tuan jangan berbicara dahulu. Tampaknya pasien merespon dalam alam bawah sadarnya ketika mendengar suara Tuan Ranto."
"Maksudnya, Dok?" Angga tidak mengerti.
"Jantung pasien langsung berdetak kencang ketika mendengar suara Tuan Ranto."
Penjelasan dokter itu membuat Ranto terkejut, "Tidak mungkin, Dok! Jangan bercanda dengan saya!"
Dokter mengangguk, "Untuk sementara hasil observasi kami adalah pasien menderita broken heart sindrom."
Ranto tidak terima penjelasan dokter tersebut, dia mendorongnya hingga ke ujung tembok, "Riana tidak mungkin sakit yang berat!"
Angga meminta maaf, "Maafkan dia, Dok. Dia sedikit terkejut."
Dokter yang sudah mengenal Ranto mengangguk, "Tidak apa, Tuan Angga. Saya cukup mengerti."
Dokter itu lalu berkata, "Tuan Ranto tetap boleh menemuinya, namun untuk sementara jangan berbicara terlebih dahulu. Untuk selanjutnya setelah pasien sadar maka pelan-pelan kita akan melakukan terapi. Nanti saya akan memberi pengarahan apa saja yang harus dilakukan."
Ranto segera masuk dan memeluk Riana yang terpejam.
Pria itu hanya menahan tangisnya.
Angga yang menyusul masuk ke dalam segera memeluk sahabatnya itu, "Sabar. Kita bisa melaluinya dengan baik. Percaya bahwa Tuhan membantu orang baik seperti Riana."
Ranto mengangguk. Dia menciumi tangan Riana tanpa henti.
Angga membuka tas Riana karena ponselnya berdering, "Seno yang menghubungi. Aku sudah matikan."
Ranto mengambil ponsel itu dari tangan Angga.
Ranto melihat ponsel milik kekasihnya itu, ada foto dirinya di bagian wallpaper dan layar kunci.
Dia tersenyum kecil merasa senang, "Lihat Angga, dia mencintaiku. Semua galeri di ponsel ini berisi foto diriku. Semua diambilnya secara diam-diam. Harusnya aku berfoto bersama dengannya. Dia suka dengan foto diriku."
Angga tersenyum melihat sahabatnya yang sudah bisa tersenyum.
Ranto membuka lagi fitur lain,"Angga, ini rekaman masih baru dibuat."
Angga memindahkan kursinya dan melihat dari dekat ponsel Riana, "Iya, rekaman itu tampaknya sebelum tiba di kantor."
Ranto memutar rekaman menggunakan headset miliknya. Tak lama dia terkejut. Dia menangis terisak memeluk Angga.
__ADS_1
Angga mengambil headset itu lalu memutar ulang rekaman yang dibuat oleh Riana.
Angga hanya bisa menghela nafas, "Kamu penyebabnya."
Ranto mengusap air matanya, "Aku penyebabnya."
Angga memanggil Ranto agar keluar sedikit dari ruang rawat Riana, "Aku melihat Riana didepan pintu ruangan kamu. Dia hanya berdiri sambil menutup mulutnya menahan tangis. beberapa kali dia menyeka air matanya dengan pandangan fokus ke dalam ruangan."
Angga menaruh tangannya di bahu sahabat kesayangannya itu, "Aku menghampiri dan melihat apa yang sebenarnya dilihat oleh Riana."
Ranto menoleh, "Apa yang dilihat Riana? Apakah Sisil?"
Angga bingung mengatakannya, "Sisil sedang membelai dan mencium wajahmu yang terpejam dengan pakaian berantakan dan juga pakaianmu yang agak terbuka."
Ranto langsung memukul tembok di depannya, "Sisil! Kirim wanita jahat itu ke neraka! Sekarang!"
Angga memijit pelipisnya, "Soal proyek dengan pamannya?"
Ranto berusaha menahan emosinya, "Biarkan saja dia yang membatalkan. Aku sudah mendapatkan investor asing untuk membangun sebuah proyek besar di luar kota untuk perusahaan baru kita."
Angga mengangguk, " Aku pecat Sisil sekarang juga. Aku sudah menyuruh bagian personalia untuk melakukannya. Aku segera siapkan berkasnya, bila memang kita menunggu Pak Hadi paman Sisil untuk membatalkan proyek kita bersama dia."
"Bila Riana sudah sembuh maka aku sendiri yang akan mengurus Sisil menuju ke neraka!" Ranto mengepalkan tangannya.
Angga mengingatkan, "Jangan mengotori tangan kamu!"
Ranto mengangguk, "Tenang saja. Aku tahu caranya."
Sudah satu Minggu ini Ranto selalu menemani, kantor dipindahkan ke rumah sakit. Angga sesekali pergi meninggalkan Ranto dan Riana untuk melakukan beberapa bisnis. Perusahaan baru sudah banyak mendapatkan investor.
Ranto tertidur sambil memeluk Riana, mereka berbagi tempat tidur yang sempit itu.
Riana terbangun, dia merasa susah bergerak. Dia menoleh ke samping mencoba bergerak.
Ranto langsung terbangun, "Riana..sayang..maafkan aku.."
Ranto tidak mau melewatkan kesempatan untuk meminta maaf.
Riana merasa sakit di dadanya, namun Ranto langsung memeluknya sesuai arahan dari dokter sebagai bagian dari terapi di samping meminum obat.
Riana langsung merasa nyaman akan dekapan Ranto yang hangat.
Ranto mengusap rambut Riana dengan lembut, "Kamu salah paham terhadap Sisil. Lihatlah rekaman kamera pengawas ini." Ranto membuka ponselnya, dia sudah berkoordinasi dengan para dokter bagaimana cara menyembuhkan Riana.
"Di sana terlihat bila aku tertidur. Jadi wanita jahat itu hanya memanfaatkan situasi yang ada. Harusnya aku lebih waspada lagi. Aku sudah memecatnya. Kamu tidak perlu cemburu lagi." Ranto terus memeluknya.
Riana menghela nafas, "Benarkah?"
Ranto mengangguk, "Aku mencintaimu."
__ADS_1
Riana terdiam, "Kamu tidak ingin meninggalkan aku?"
Ranto menggeleng, "Tidak. Dan tidak akan pernah."
Riana tersenyum, setidaknya rasa sakit di dadanya sedikit berkurang.
Ranto memeluk Riana dengan erat, "Aku mencintaimu. Sangat mencintai kamu. Tidak akan ada wanita lain yang bisa mengisi hatiku selain cintamu. Kamu mengerti!"
Riana mengangguk, Iya. Maafkan aku juga sudah memaksa kamu untuk membantu Seno Aji."
"Diam, Riana. Aku tidak ingin mendengar mulut kamu menyebut nama pria lain selain namaku." Ranto kesal.
Riana terdiam.
Dia memegang dadanya, sakit.
Ranto memegang tangan Riana, "Sakit ya? Aku minta maaf bila bicara terlalu kasar denganmu." Ranto berusaha menahan rasa cemburunya.
Riana mengangguk lemah, "Tidak apa."
Ranto berpikir sebentar, "Aku akan membantu Seno sesuai keinginan kamu. Ini semua kulakukan demi untuk dirimu. Jadi aku harap mengertilah bila aku kalah dalam menghadapi Lala maka tolong jangan tinggalkan diriku."
Riana menggigit bibirnya sendiri, "Kamu tidak perlu menolong Seno. Aku juga khawatir terjadi sesuatu pada kamu. Aku tidak bisa kehilangan dirimu. Sangat tidak bisa."
"Benarkah perasaan kamu seperti itu?" Ranto langsung duduk menatap Riana yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
Riana mengangguk pasti.
"Rasanya sakit saat mendengar kamu ingin meninggalkan aku. Tolong jangan pernah pergi sedetikpun dari sisiku. Hatiku sakit sekali." Riana berkata sambil meneteskan air matanya.
Ranto mendekap Riana.
"Aku mencintai kamu, Riana. Aku juga takut kehilangan kamu. Sedetikpun aku akan selalu di sisi kamu. Menikahlah denganku!" Ranto mengecup tangan Riana, dia harus menikahi Riana secepatnya.
Riana terdiam, "Apa ini sebuah lamaran?"
Ranto mengusap rambut Riana, "Tentu saja."
Riana tersenyum kecil, "Aku mau menikah denganmu."
Ranto mendengarnya walaupun Riana berkata dengan suara yang pelan, "Aku mendengarnya, Riana. Tunggu sebentar!" Ranto mengambil ponsel di meja samping tempat tidur, "Angga, sebaiknya kamu secepatnya datang ke sini!"
Ranto menunggu kedatangan Angga.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Riana ingin bangkit dari tempat tidurnya.
Ranto langsung menggendong Riana, "Berpeganglah padaku."
Riana mencoba untuk menolak, "Aku bisa sendiri."
__ADS_1
Ranto memaksa, "Tidak boleh. Mulai sekarang dan selamanya aku dan kamu tidak boleh terpisahkan walau hanya ke kamar mandi sekalipun."
Follow Instagram : dee.reeana.24