Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 35 ( Marah )


__ADS_3


Riana turun dari apartemen Ranto. Dia sangat kesal sekali dengan Ranto yang sudah tidak percaya kepada dirinya. Riana bahkan tidak melakukan apa-apa yang mengundang para pria untuk mendekati dirinya.


Tidak ada bodyguard yang mengawasinya karena tadi dia langsung ke atas tempat unit apartemen Ranto.


Riana menghubungi Desma dan meminta izin bermalam di tempat kost yang Desma tempati.


Dirinya lalu berusaha menyelesaikan tugas kuliah setibanya di kost Desma namun belum juga selesai sampai dia harus begadang sampai pagi.


Pagi hari Riana yang belum mandi di tegur oleh Desma, "Riana, kamu belum mandi juga? Bukankah kamu ada kelas pagi ini?"


Riana dengan muka lelahnya dan rambut di gulung ke atas melihat Desma yang sudah rapih akan berangkat kuliah, "Aku belum selesai mengerjakan tugas ini, Desma.


Tenggat waktu mengumpulkannya hari ini. Pak Toto sudah memberi peringatan untuk mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikannya akan langsung di beri nilai E. Bisa hilang bea siswa aku, Desma." Riana setengah putus asa bercerita dengan Desma.


Desma memeluk Riana, "Biasanya kamu tidak pernah telat mengerjakan tugas?"


Riana membuka kacamatanya, "Aku sibuk mengurus orang galak, Desma. Sudahlah, sebaiknya kamu berangkat. Tolong minta izin kepada dosen pagi ini, katakan aku sakit kepala nanti siang baru aku akan ke kampus untuk menyerahkan tugas. Itupun jika selesai."


Desma tersenyum, "Baiklah. Aku berangkat dulu ya. Jaga tempat kost aku baik-baik, satpam cantik!"


Riana tersenyum, "Dasar!"


Ranto malas bangun pagi, dia sedang tidak ada mood setelah bertengkar dengan Riana.


Angga sudah pergi ke kantor dan meletakkan USB berisi tugas Riana di jas milik Ranto.


Angga menghubungi Ranto karena harus meminta tanda tangan sahabatnya itu, namun tidak diangkat.


Angga menyuruh bodyguard untuk menyiapkan mobil karena harus kembali ke apartemen.


Angga memasuki apartemen dan menuju kamar Ranto, terlihat olehnya Ranto masih tidur, "Bos, kamu tidak mengantar Riana kuliah. Dia ada kelas pagi ini."


Ranto langsung bangun mendengar nama Riana, "Iya, namun aku bertengkar dengannya semalam."


Angga meletakkan berkas di atas meja, "Karena acara seminar itu?"


Ranto mengangguk, "Iya, Riana sudah menggoda para pria itu di belakang aku, dan itu melukai harga diriku."


Angga tersenyum, "Aku tahu Riana bukan wanita seperti itu. Aku yakin tanpa harus menggoda para pria, Riana sudah banyak mendapatkan perhatian di luar sana. Kamu tahu sahabat, Riana kekasihmu itu sangat cantik. Dia terlihat anggun dan mengagumkan. Senyum yang dia miliki sangat istimewa dengan lesung pipinya. Hanya dia yang memiliki senyuman manis seperti itu. Bahkan hanya memakai kaos dan celana jeans saja, Riana terlihat menarik perhatian. Aku saja tidak berkedip bila melihat dirinya tersenyum dan tertawa. Dan kali ini kamu salah, cobalah lihat perilaku Riana sehari-hari secara baik. Nanti baru kamu tahu mengapa banyak orang yang menyukainya."


Ranto menghela nafas mendengar nasihat dari Angga.


Angga mengambil pulpen, "Mengapa kamu tidak angkat telepon dari aku?"


Ranto melihat ke gadgetnya, "Aku mode hening suaranya sejak sebelum seminar."


Ranto melihat notifikasi di gadget nya yang banyak sekali, panggilan dari Riana sampai 100 dan pesan 20. Waktu panggilannya kemarin saat sebelum seminar.


Ranto membuka pesan dari Riana saat sebelum seminar berlangsung, "Tolong aku ! Disini banyak yang mengganggu."


Ranto terhenyak membaca pesan dari Riana yang meminta pertolongan darinya kemarin saat para pria mengganggunya.


Ranto merasa sangat bersalah sekali, "Kamu benar, Angga. Riana tidak pernah menggoda mereka. Bahkan pertama kali bertemu aku, hanya dia yang marah-marah melawan diriku. Tidak seperti wanita lain saat bertemu diriku yang langsung meminta nomor telepon atau menyebarkan pesona mereka secara sengaja."


Ranto memberikan gadgetnya kepada Angga agar Angga melihatnya, "Dia bahkan meminta pertolongan dari kamu, dan mencoba menghubungi kamu sampai 100 kali."


Ranto mengangguk, "Aku yang salah."


Angga menarik nafas, "Sebaiknya kamu segera meminta maaf kepada Riana, bila masih ingin melihat senyumannya."


Ranto menandatangi berkas yang Angga bawa lalu segera bersiap.


Ranto dan Angga segera turun, mereka ke apartemen Riana. Ranto membuka pintunya namun Riana tidak ada di dalam.


"Mengapa Riana tidak ada di dalam, Jo!" Ranto berteriak kepada bodyguard yang bertugas menjaga Riana.


Empat orang bodyguard yang bertugas menjaga Riana bingung untuk menjawabnya.


Jojo memberanikan diri untuk berbicara, "Bukankah semalam Non Riana pergi ke atas bersama Bos?"


Ranto menarik nafas, "Iya! Tapi dia sudah turun sendiri ke bawah, apakah kalian semua tidak melihatnya?"


"Dari semalam Non Riana tidak pernah turun dari unit milik Bos. Kami pikir Non Riana menginap di atas."


Ranto memukul tembok di hadapannya, "Lihat rekaman kamera pengawas, Angga!"


Angga yang selalu kerepotan dengan tingkah dua insan yang saling jatuh cinta ini segera membuka gadgetnya dan mencari rekaman saat Riana keluar dari unit Ranto.

__ADS_1


Angga berkata, "Riana langsung pergi sesudah bertengkar dengan kamu lewat tangga darurat. Dia naik taksi semalam."


Ranto mengusap wajahnya dengan kasar dan berteriak, "Riana!"


Angga menepuk bahu sahabatnya itu, "Lebih baik kamu cari di kampus. Dia tidak pernah membolos karena dia berkuliah memakai bea siswa. Bila tidak masuk maka bisa mengurangi poinnya untuk penilaian bea siswa."


Ranto mencari Riana di kampus namun tidak terlihat, "Apa dia marah sekali kepada aku, Angga?"


Angga yang diajak untuk mencari Riana terdiam sedang berpikir, "Mungkin."


Ranto berteriak lagi, "Riana!"


Beberapa mahasiswa yang ada di taman menoleh mendengar Ranto berteriak.


Angga menerima laporan bodyguard yang di tugaskan mencari Riana, "Tidak ketemu, Bos. Kami akan mencari lagi."


Ranto duduk di taman bersama Angga, beberapa mahasiswi menggoda mereka berdua. Angga hanya membalasnya dengan senyuman.


Ranto sedikit frustasi, dia merasa bersalah kepada Riana, "Kemana lagi kita harus mencarinya?"


Angga melihat gadgetnya, "Posisi terakhir Riana sesuai GPS pada kemeja kamu sudah di cek oleh Jojo dan tidak ada. Pengawas kos bilang Riana sudah pergi dari pagi. Tampaknya Riana mengganti kemeja kamu dan di letakkan di sana."


Ranto mengusap wajahnya, "Jadi benar dia menginap di sana semalam."


Angga mengangguk, "Riana datang malam hari."


Ranto menarik nafasnya, "Bahkan aku membiarkan dia pergi di malam hari sendiri."


Angga teringat sesuatu, "Hari ini tenggat waktu mengumpulkan tugas kuliah Riana, bukan?"


Ranto mengangguk lemah, dia tidak bersemangat, "Iya, dia meminta aku membantunya."


Angga tersenyum lebar, "Sebaiknya kamu merapihkan diri jangan seperti ini, Riana akan datang sebentar lagi. Dia tidak akan mau kehilangan bea siswanya. Bukankah Riana orang yang bertanggung jawab?"


Ranto menoleh, "Benarkah Riana akan datang ke sini?"


Angga mendorong Ranto agar duduk dengan tegak, "Siapkan USB tugas itu. Aku letakkan di kantong jas kamu ini."


Ranto mengambil USB itu, "Bila Riana tidak datang juga?"


Angga memukul Ranto, "Itu salah kamu!"


Tak lama salah satu bodyguard memberi kabar bahwa Riana sudah memasuki kampus.


Angga senang mendengarnya, "Siapkan diri kamu. Bolang cantik kamu sudah memasuki area kampus."


Ranto tersenyum cerah lalu merapihkan pakaian yang dikenakannya, "Apakah aku terlihat tampan, Angga?"


Angga melihat, "Kamu sudah tampan tapi..."


Ranto menepuk bahu Angga, "Tapi apa..."


Angga tersenyum, "Tapi harus kalah dengan seorang bolang cantik. Kita harus berpetualang seperti ini hanya untuk menunggu dirinya. Siapkan dirimu karena dia pasti masih marah."


Ranto mengangguk, "Aku kalah telak, Angga. Bahkan sedetik saja dia pergi aku sudah tidak dapat mengendalikan diri aku sendiri. Aku sudah jatuh cinta terlalu jauh dengan dirinya tanpa dia harus menggoda aku."


Angga tersenyum kecil, "Bila memang seperti itu siapkan dirimu menghadapi bolang cantik itu karena dia tidak akan segan untuk mematahkan hatimu seperti pria-pria yang mengejarnya sampai lelah."


Ranto melihat Riana berjalan di koridor, dari jauh saja Riana terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai indah, meski hanya memakai kaos di bagian dalam dan kemeja yang terbuka lalu celana jeans yang sobek di bagian dekat lutut. Hidungnya yang mancung serta kulitnya yang mulus menambah kecantikan dirinya. Belum lagi lesung pipi yang akan semakin terlihat saat dia tersenyum.


Tampak oleh Ranto beberapa mahasiswa sedang menggoda Riana dan Riana hanya berjalan lurus tanpa menghiraukan mereka. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.


Bahkan ada yang mengikutinya dan berusaha mengajak bicara Riana yang tampak terburu-buru.


Riana yang berjalan sambil mengetikkan sesuatu di gadgetnya tidak sadar bila kekasihnya memperhatikan dari jauh.


Juno, anak fakultas kedokteran yang tidak kalah tampan dengan Ranto memperhatikan Riana yang sedang sibuk dengan gadgetnya.


Juno yang sudah lama menyukai Riana merasa mempunyai kesempatan emas.


Sudah tidak ada lagi Seno yang selalu ada di samping Riana.


Juno lalu secara sengaja menabrak Riana, "Maaf, Riana."


Riana langsung mengambil beberapa tumpuk makalah yang jatuh.


Juno mengulurkan tangannya untuk membantu Riana bangun sambil mengeluarkan jurus tebar pesona di depan Riana.


Riana tidak memperdulikan uluran tangan Juno dan tidak menatapnya. Dia bangkit sendiri lalu segera berlalu pergi dari Juno.

__ADS_1


Semua itu tidak lepas dari pandangan Ranto, dia senang Riana tidak memperdulikan pria lain selain dirinya.


Riana kesulitan membawa tumpukan makalah sambil mengetik pesan untuk dosennya yang sedang menunggu kedatangan Riana.


Rifki yang melihatnya segera menawarkan bantuan, "Aku bantu ya, Riana."


Riana menoleh sebentar lalu menjawabnya dengan ramah, "Terima kasih atas tawarannya."


Lalu Riana segera berlalu sambil merapihkan rambutnya yang tertiup angin.


Ranto melihat semua tingkah laku Riana dalam memperlakukan orang lain, baru dia sadari perkataan Angga memang benar adanya.


Riana tidak perlu menggoda para pria karena mereka datang sendiri untuk menaklukkan hati Riana.


Riana menghentikan langkahnya ketika melihat Ranto yang berdiri tidak jauh dari posisinya.


Riana masih kesal dengan kekasihnya itu, dia juga sedang terburu-buru harus menemui dosen untuk menyerahkan beberapa tugas kuliah.


Belum lagi ada satu tugas yang belum selesai. Bila bertemu dengan pria galak itu bisa repot.


Riana langsung berbalik arah mencari jalan lain selain koridor itu. Dia akan lewat samping dekat parkiran.


Angga yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa kecil, "Kejar Riana, Bos! Taklukkan Bolang cantik yang sedang marah!"


Ranto segera berlari mengejar Riana yang berjalan cepat menghindari dirinya.


Di area parkiran Ranto berhasil menangkap Riana. Ranto langsung memegang tangan Riana dengan erat agar tidak kabur lagi. Bolang cantiknya memang lincah.


Riana kesal, "Lepas!"


Ranto tersenyum, "Tidak akan!"


Riana lelah berusaha melepas tangannya yang di pegang erat oleh Ranto, "Mau apa lagi? Mau marah-marah silahkan tapi lepaskan dulu tangan aku!"


Riana tidak berhasil membuat Ranto melepaskan tangannya sekarang Ranto malah memeluknya dan berkata dengan lembut, "Aku mohon maafkan aku, Riana. Aku salah sudah berbicara seperti itu kepada kekasih hatiku. Aku hanya sangat cemburu, aku tidak mau seorang pria lain mendekati dan mendapatkan hatimu."


Riana berusaha melepas pelukan itu namun Ranto malah mendekapnya erat.


Ranto menatap Riana, "Aku tidak bisa mengendalikan diriku bila jauh sebentar saja dari dirimu. Aku cinta kepadamu, Riana. Tolong, maafkan aku!"


Riana menatap Ranto, "Aku masih marah kepada kamu!"


Ranto mengangguk, "Iya, aku tahu. Salah aku besar sekali. Bila belum bisa memaafkan aku tolong izinkan aku tetap berada di sisi kamu. Aku akan buktikan bila cintaku sangat besar kepada kamu. Dan aku akan mencoba memperbaiki diriku agar lebih baik dalam mencintai kamu."


Riana menghela nafas, "Aku butuh waktu sendiri."


Ranto menggeleng, "Tidak bisa, kamu harus selalu di sisi aku walaupun kamu sedang marah!"


Riana protes keras karena Ranto menarik tangannya, "Dasar! Pria galak suka memaksa, semau hati sendiri, cemburuan, suka memberi hukuman seenaknya! Mengganggu hidupku yang damai!"


Ranto tertawa kecil mendengar Riana marah-marah, lalu Ranto menghentikan langkahnya, "Semua umpatan kamu untukku terdengar sangat indah, Riana sayang." Ranto langsung menghentikan umpatan yang keluar dari mulut Riana.


Angga yang mendengar laporan dari bodyguard segera ke arah parkiran mobil, "Sungguh merepotkan. Aku harus cepat-cepat membeli pulau untuk mengasingkan mereka berdua."


Angga melihat kerumunan mahasiswa, dia segera memerintahkan kepada para bodyguard untuk melakukan razia gadget.


Ranto mencium kening Riana, "Aku rindu kepada kamu, Riana."


Riana teringat dia harus terburu-buru bertemu dengan dosennya, "Aku marah sama kamu! Kamu dengar!"


Ranto mengecup tangan Riana dengan lembut, "Aku tahu dan aku minta maaf."


Riana langsung pergi karena gadgetnya bergetar tanda telepon masuk dari dosennya.


Angga segera menghampiri Ranto yang hanya diam menatap Riana, "Mengapa tidak kamu kejar?"


Ranto merapihkan jas miliknya yang sedikit berantakan, "Dia katakan masih marah kepada aku, Angga."


Angga tersenyum melihat sahabatnya itu, "Cinta memang terkadang membuat kita terlihat bodoh. Wanita memang seperti itu, bujuk terus jangan pernah menyerah atau kamu mau ada pria lain yang mencari kesempatan ini?"


Ranto menggeleng, "Aku akan berusaha mendapatkan maaf dari kesayanganku."


Angga tersenyum mendengarnya, "Dia hanya sedang marah namun tidak akan berhenti mencintaimu."


Ranto mengerti, "Aku akan mengejarnya, aku akan ikut berpetualang kali ini menuruti semua keinginan Bolang cantikku."


♥️💘♥️💘


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24

__ADS_1


__ADS_2