Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 27 ( Hukuman )


__ADS_3


Mereka mulai memasuki apartemen Ranto. Angga segera turun untuk memberi arahan tugas kepada para bodyguard.


Ranto turun sambil menggandeng tangan Riana. Tak jarang dia mencium tangan Riana yang berada dalam genggamannya.


Sampai di dekat pintu apartemen Ranto, Riana melihat Jojo. Dia langsung melepas genggaman tangan Ranto dan berlari memeluk Jojo yang juga tidak menolak ketika Riana memeluknya.


"Jojo, apakah perut kamu sudah membaik ?" Tanya Riana ketika mereka sudah melepas rindu.


"Sudah, Non Riana. Terima kasih atas jasanya. Karena Non Riana yang meminta kepada Bos, maka saya bisa bekerja kembali." Jawab Jojo sambil tersenyum.


"Jojo, kamu tenang saja. Bila Bos memecat lagi maka aku akan rekrut menjadi staf penjualan keripik milikku." Riana menepuk bahu Jojo yang kekar.


Ranto sudah berada di samping Riana lalu dia dengan cepat langsung memeluk pinggangnya, "Kalau kamu menerima pelukan dari Riana lagi seperti itu, aku tidak akan memecat kamu namun aku langsung mengirim kamu ke Kalimantan tanpa akses balik ke Jakarta !"


"Maaf, Bos. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Jojo tampak ketakutan.


Riana cemberut, "Aku yang pertama berinisiatif untuk memeluknya, kenapa Jojo yang kamu marahi ?"


Ranto mencium tangan Riana, "Dia membuka tangannya untuk menerima pelukanmu. Itu kesalahannya !"


"Iya, Non. Saya yang salah." Jojo tidak mau memperpanjang urusan dengan Ranto.


"Ayo kita masuk, Riana sayang !" Perintah Ranto, dia tidak mau berlama-lama mengurusi hal itu.


Sampai di dalam, Riana duduk di sofa dan menunggu Ranto yang sedang mandi.


Selesai mandi Ranto langsung menghampiri Riana dan menaruh kepalanya di pangkuan Riana, "Aku lelah sekali, Riana."


Riana mengusap rambut Ranto yang masih basah. Tidak lama Ranto langsung tertidur.


Angga masuk membawa pesanan makanan untuk Ranto dan Riana. Angga sudah menyelesaikan tugasnya.


Angga melihat Ranto yang tertidur di pangkuan Riana, sedangkan Riana sibuk memainkan gadgetnya.


"Riana, kita makan dulu ya. Biarkan saja dia tidur di sofa."


Angga membantu Riana mengganti pangkuan Riana dengan bantal.


Mereka berdua lalu makan, "Memangnya tidak masalah bila kita makan duluan?" Tanya Riana.


Angga tertawa pelan, "Tenang saja, aku sudah biasa mendengarnya marah-marah. Lagipula kapan lagi bisa makan berdua dengan kamu, adik manis."


Riana tersenyum, "Bisa saja Kak Angga."


"Aku pesan makanan yang tidak ada rasa pedasnya, karena seperti yang kamu katakan, hari-hari dengan Ranto saja sudah serasa memakan sambel."


Riana menyenggol tangan Angga, "Dasar Kak Angga ini, kalau orang yang bersangkutan mendengarnya bisa kena hukuman kamu."


Angga mencubit pipi Riana, "Tenang saja adikku sayang, sambel pedas masih tidur."


Mereka tertawa berdua.


"Hem.."

__ADS_1


Suara Ranto yang sudah berada di belakang mereka.


"Kamu sedang apa Angga ? Pakai segala acara cubit pipi Riana."


Angga langsung berhenti tertawa, "Maaf, teman. Aku tidak sengaja."


Ranto tersenyum sinis, "Seperti itu kamu bilang tidak sengaja, lalu kamu Riana ?"


Kali ini Riana yang menoleh, "Kenapa ?"


Ranto mendekat, "Kamu tertawa berdua dengan Angga dan meninggalkan aku makan duluan !"


"Maaf, aku lapar sekali. Tak tahan godaan makanan yang di bawa oleh Kak Angga." Riana membantah membela diri, tak mau kena hukuman lagi.


"Kak Angga ?" Tanya Ranto.


Tanpa bersalah Riana mengulanginya, "Iya, Kak Angga."


Ranto mendekap Riana dari belakang, "Kamu bahkan mempunyai panggilan yang bagus untuk Angga, sedangkan aku kamu panggil Sambel Ayam Geprek ?"


"Eh, itu..." Riana bingung bagaimana menjawabnya.


Angga tersenyum seperti tahu situasi, "Aku mau tidur dulu, Bos. Sedang malas menonton drama Koreanya." Ujarnya sambil masuk kamar yang berseberangan dengan kamar Ranto di apartemen mewah dan besar itu.


"Hem." Ranto senang Angga paham.


"Jadi ?" Ranto menggantung pertanyaannya.


Riana berusaha keluar dari dekapan Ranto, "Jadi apa?"


Setelah malam menjelang, Riana meminta di antar pulang. Dia tidak ingin menginap di apartemen Ranto.


"Kamu menginap di sini saja, Riana." Pinta Ranto sambil melihat gadget untuk memeriksa pekerjaan esok hari.


"Kalian ini laki-laki semua." Riana menjelaskan alasannya.


"Aku ini kekasihmu, bukan laki-laki asing!" Ranto tetap tak bergeming.


"Kekasih namun bukan suami!" Riana tidak mau kalah.


Ranto tersenyum, "Itu artinya kamu mau segera menjadi istriku."


Riana cemberut kesal.


Ranto segera mendekati Riana yang sedang duduk di sofa, "Sabar sayang, aku akan langsung menikahi kamu selesai mengerjakan proyek kali ini."


"Siapa yang minta di nikahi?" Riana menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Ranto, bisa bahaya.


Ranto menarik Riana dengan segera sebelum Riana makin jauh, "Kamu."


Riana ingin protes, "Eh.. Kapan..."


Ranto tidak memberi kesempatan kepada Riana untuk melanjutkan perkataannya.


Ranto memeluk Riana erat, "Aku mencintai kamu, Riana. Aku ingin segera memiliki dirimu. Aku katakan sekali lagi bahwa aku akan segera menikahi kamu. Jantung ini tidak pernah berhenti berdetak kencang bila berada di dekat dirimu."

__ADS_1


Pelukannya terasa erat mendekap Riana.


Angga keluar kamar setelah beristirahat sebentar untuk mengisi energi tubuhnya.


Angga melihat kedua kekasih itu sedang beradegan romantis di depan televisi tanpa mendengar langkah kakinya.


Angga langsung menuju ke arah dapur kecil untuk mengambil minum.


Suara gadget yang sedang Angga bawa tidak sengaja berbunyi. Tanda ada panggilan masuk.


Nama Neni tertera di kontak pada layar yang menyala. Malas Angga mengangkat telepon dari wanita berambut pendek itu yang selalu mengganggunya.


Ranto mengakhiri aktivitasnya, "Kamu selalu mengganggu ya, Angga !"


Angga tertawa kecil, "Selalu."


"Maafkan Angga yang selalu mengganggu kita ya, Riana." Ranto berkata menyindir Angga.


Ranto mengecup tangan Riana. Sekali tidak cukup untuk Ranto, "Bila kita menikah, tidak perlu mengundang Angga."


Angga yang mendengarnya tersenyum sinis.


"Saat kalian bulan madu, aku akan selalu menguntit!" Angga mengancam dengan maksud bercanda.


"Angga, unit apartemen yang berada di lantai lima apakah sudah di bersihkan?" Tanya Ranto.


"Hari ini jadwal untuk membersihkannya, kenapa memangnya Bos?" Angga bertanya sambil duduk di sofa depan mereka. Pilihan yang salah.


"Riana akan mengisinya." Sahut Ranto.


"Kapan aku bilang seperti itu?" Riana protes, Ranto selalu memaksanya.


"Ini adalah sebuah keharusan bukan permintaan, Riana ! Lebih dekat kamu dengan aku itu artinya lebih baik! Aku lebih bisa mengawasi kamu. Di tempat tinggal kamu yang lama terlalu berbahaya. Masalah dengan Seno dan wanitanya belum selesai." Ranto memaksa karena khawatir dengan Riana.


"Tapi, tempat ini terlalu jauh dari kampus." Riana mencoba mengubah keputusan Ranto.


"Aku yang akan mengantar kamu kuliah. Bila aku tidak ada jadwal kuliah sekalipun, kamu tetap aku antar." Ranto tidak bisa di bantah.


"Jadi ?" Angga bertanya kepastian.


"Aku mau mengantar Riana ke bawah, tugaskan Jojo untuk berada di depan unit Riana. Siapkan rekannya, aku mau minimal ada dua bodyguard yang mengawasi Riana."


Riana kembali protes, "Kenapa dua sih !"


Ranto menoleh kepada Riana, "Mau menurut atau hukuman?"


Riana menarik nafas lemah, "Aku seperti burung dalam sangkar."


Ranto tersenyum menanggapinya.


Riana masih mencoba protes, "Aku tidak..."


Ranto segera menarik kepala Riana dengan lembut, "Rupanya kamu suka hukuman dari aku ya."


💠💠😜😜😘😘🙏🙏💠💠

__ADS_1


Follow Instagram me 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2