Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 38 ( Selalu Khawatir )


__ADS_3


Ranto masuk ke apartemen bersama Riana. Dia mengajak Riana ke unit miliknya. Mereka lalu beristirahat sambil bermesraan di depan televisi.


Angga masuk, "Bos! Ada yang tidak mau menghapus rekaman drama Korea kalian!"


Ranto menoleh, "Apa kamu sudah mencoba untuk bernegosiasi?"


Angga menjawab, "Sudah. Namun dia tidak takut. Dia bilang Riana sangat indah."


Ranto kesal, "Panggil sekarang juga team pengacara kita, perintahkan untuk mengajukan somasi langsung!"


Angga segera menghubungi team pengacara.


Riana masih menyandarkan bahunya di pelukan Ranto, "Kenapa, Sayang?"


Ranto mencium rambut Riana, "Ada yang merekam kegiatan kita memakai gadgetnya tadi di ruang fitness center dan tidak mau menghapusnya."


Riana berpikir sejenak, "Panggil saja orangnya ke sini! Mungkin dia akan berubah pikiran."


Ranto menolak, "Tidak bisa, Riana! Nanti dia malah menyukai kamu!"


Riana meminta melihat rekaman kamera pengawas di fitness center yang sudah Angga minta dari pihak pengelola.


Angga memperlihatkan kepada Riana wajah pria yang tidak mau menghapus rekaman kegiatan Riana dan kekasihnya.


Riana memperhatikan, "Coba kamu zoom Angga, handphone merek apa yang dia gunakan untuk merekam?"


Ranto yang memeluk Riana dari belakang bertanya, "Untuk apa?"


Riana tersenyum, "Aku mau lihat tipe gadget yang digunakannya, apakah berkualitas tinggi atau rendah."


Ranto mengusap rambut Riana, "Ada-ada saja kamu, tapi tidak mengapa. Angga, perbesar gambar gadget pria itu!"


Riana melihat dengan jelas dan merekam dalam ingatannya. Tak lama dia menulis sesuatu di chat grup petualang yang Riana pimpin.


Angga dan Ranto bersiap menerima team pengacara yang akan datang.


"Riana, sebaiknya kamu ganti pakaian kamu itu dengan ini!" Ranto menyerahkan kemejanya untuk Riana.


Riana bangkit dari duduknya, "Baiklah, aku mandi di sini ya!"


Ranto menggodanya, "Aku ikut ya!"


Riana langsung berlari ke arah kamar mandi.


Angga hanya tertawa melihat pasangan ini.


Team pengacara sudah tiba, Pram nama ketuanya.


Angga mewakili Ranto mengulang pembicaraan masalah mereka kepada Pram, "Jadi, bagaimana? Apa bisa langsung kita ajukan somasi?"


Pram berpikir sejenak, "Hanya sebuah rekaman di tempat fitness aku rasa tidak perlu."


Ranto menggebrak meja, "Aku memerintahkan kamu bersama team kamu untuk somasi pria itu !"


Pram heran mengapa Ranto seperti itu, "Memangnya rekaman apa yang penting di tempat fitness seperti itu?"


Angga menjawabnya, "Rekaman kegiatan Bos."


Pram tertawa kecil, "Sudah aku katakan, itu tidak perlu sampai somasi hanya sebuah kegiatan di tempat seperti itu sudah biasa. Tapi mengapa pria itu tidak mau menghapusnya?"


Lalu Pram melihat Riana yang keluar dari kamar mandi dengan rambut panjangnya yang masih basah, kemeja yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya dipakai tidak dikancingkan bagian atasnya sehingga sedikit memperlihatkan dadanya yang indah.


Wajah Riana yang cantik, tersenyum pada Pram begitu melewatinya. Pram langsung menelan ludah melihat Riana.


Riana langsung memeluk Ranto.


Ranto mengusap rambut Riana yang basah, "Pakai yang benar kemeja kamu!"


Cemburu sudah membakar tubuhnya hanya karena melihat Pram tidak berkedip melihat Riana.


Ranto mengusap dengan lembut tangan Riana, "Masuklah ke kamar. Aku sedang menerima tamu."


Riana memeluk Ranto dengan mesra, "Aku rindu kamu, Ranto."


Ranto tersenyum kecil, "Riana, jangan membantah! Aku posesif seperti ini karena sangat mengkhawatirkan kamu dan sangat mencintai kamu."


Riana membantah, "Tidak! Aku yang sangat sangat sangat mencintai kamu, sayang!"


Ranto tersenyum, "Kamu membantah, Riana!"


Angga hanya tersenyum kecil melihat tingkah pasangan itu yang selalu menganggap dunia hanya milik mereka berdua. Angga hanya mengontrak.


Ranto merapihkan kemeja yang dipakai oleh Riana. Dikancingkan dengan rapat kemeja itu sehingga di protes oleh Riana, "Aku tidak bisa bernafas, Sayang!"


Ranto mencubit pipi Riana, "Di sini laki-laki semua, Riana!"


Riana membaca chat di grup WhatsApp dan seketika tersenyum lebar membayangkan petualangan baru yang lebih menantang.


Ranto melihatnya, "Ada apa?"

__ADS_1


Riana meminta izin kepada kekasihnya yang galak itu, "Temanku mau datang ke unit apartemen aku. Dia sudah menunggu di bawah."


Ranto terdiam, "Aku ikut."


Riana memeluk lengan kekasihnya dan bergelayut mesra, "Dia teman wanita sayang, kamu mau mendengarkan ocehan kami?"


Ranto berpikir sebentar, "Hanya di lingkungan apartemen saja ya! Aku tidak mau kamu jauh-jauh!"


Riana tersenyum, "Hanya di lingkungan apartemen ini saja, aku janji!"


Ranto memeluk Riana, "Jangan lama-lama bermainnya. Dan satu lagi, Jojo menemani di samping kamu. 2 meter jarak kalian!"


Riana cemberut, "Baiklah!"


Riana keluar di antar Jojo dengan jarak 2 meter.


Pram menarik nafas sesudah Riana keluar dari unit apartemen.


Angga tersenyum melihat Pram, "Jadi, bagaimana Pram? Bos hanya tidak mau kekasihnya yang cantik terekspos di media."


Pram tersenyum kecil, "Indah dan cantik."


Ranto sedikit mendengar Pram bergumam, "Apa yang baru saja kamu katakan!"


Pram mengalihkan pembicaraan, "Baiklah, kita panggil dulu dia kemari. Bila masih tidak mau maka sekarang juga aku buatkan somasi. Aku siapkan dulu surat-suratnya."


Riana turun menemui Kinan yang berpakaian ala Riana. Dia sangat mengagumi Riana. Rambutnya digerai sehingga dari belakang mereka terlihat seperti adik kakak.


Riana langsung memeluk Kinan yang memakai topi agar Jojo tidak mengenali.


Riana memberi tanda agar Kinan melakukan aksinya sesuai perintah di chat grup.


Kinan memegang perutnya, "Riana, aku sakit perut. Dimana toilet terdekat?"


Riana panik, "Ayo, aku antar."


Mereka langsung ke toilet wanita di lantai dasar, "Jo, kamu mau masuk juga?"


Jojo menggeleng, "Tidak. Aku di sini saja. Dan tolong jangan berulah, Non Riana."


Riana tersenyum, "Iya, Jo. Aku tidak berulah tapi hanya berpetualang membantu orang lain."


Mereka sudah di dalam toilet, Riana dan Kinan loncat dari belakang toilet yang memiliki konsep taman terbuka.


Mereka menuju lobi apartemen dan menanyakan tentang seseorang yang ada di gadget Riana kepada seorang petugas keamanan.


Setelah mendapat informasi mereka langsung menuju lantai 8 untuk menemuinya.


Angga mengangkat telepon, "Apa! Bagaimana bisa, Jo!"


Ranto yang sedang duduk bersantai langsung berdiri, "Riana?"


Angga mengangguk.


Ranto mengusap wajahnya dengan kasar, "Bahkan dia sudah berjanji tidak akan keluar dari lingkungan apartemen ini. Riana!"


Pram yang sedang membuat surat ikut terkejut, "Ada apa?"


Angga dan Ranto bersiap, mereka harus cepat. Pram meminta ikut karena ingin tahu.


Riana dan Kinan mengetuk pintu sebuah unit di lantai 8. Tak lama pintu terbuka dan tersenyum senang melihat Riana.


Pria itu menyuruh mereka masuk. Setelah masuk, dia menyuruh Riana dan Kinan duduk.


Sementara dia membuatkan minuman teh untuk Riana dan Kinan.


Riana dan Kinan memulai misi mereka. Kinan mengeluarkan gadget pesanan Riana dan memberikannya kepada Riana.


Lalu Riana berjalan perlahan ke dekat televisi yang terdapat gadget milik pria itu sedang di charge. Riana dengan gerak cepat menukar gadget itu dengan gadget yang di bawa Kinan.


Pria yang bernama Jodi itu yang merupakan seorang pengusaha muda, senang sekali melihat Riana berkunjung ke apartemennya.


Jodi tidak berkedip menatap Riana, "Silahkan di minum dulu! Kalian pasti haus."


Riana yang tidak menyukai teh menolaknya, tapi Kinan yang baru saja mencari ke toko gadget untuk membeli pesanan Riana kehausan, sehingga dia langsung meminum air itu.


Jodi pergi ke dapur lagi mengambilkan cemilan untuk kedua gadis cantik itu.


Kinan meminta izin kepada Riana untuk meminum air teh manis milik Riana. Riana senang saja, "Minumlah, aku tidak haus."


Jodi melihat gelas untuk para gadis sudah kosong.


Riana berpamitan, "Kami ke sini hanya ingin meminta baik-baik rekaman itu tapi bila kamu tidak mau, ya tidak apa-apa. Kalau begitu kami pamit ya."


Jodi mengantar mereka ke pintu, namun kemudian dia malah mengunci mereka dari dalam.


Jodi menyeringai, "Aku sangat menyukai kamu, Riana. Pertama kali aku melihat kamu, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Belum pernah aku melihat wanita secantik dirimu. Izinkan aku memiliki kamu seutuhnya."


Kinan ingin membantu melepaskan tangan Riana yang dicengkeram erat oleh Jodi namun Kinan terjatuh karena pusing.


Rupanya Jodi mencampur obat ke dalam minuman tadi.

__ADS_1


Riana berteriak, "Lepaskan!"


Jodi makin kuat mencengkram tangan Riana, "Kamu milikku sayang, aku berjanji akan bertanggung jawab menikahi kamu !"


Jodi tertawa senang, "Sekali dayung dua gadis aku dapatkan."


Riana yang melihatnya mencoba menyadarkan Kinan, "Sadar Kinan, dia orang jahat!"


Jodi mencoba mencium Riana, namun Riana menggigit Jodi. Secara refleks Jodi memukul Riana hingga dia terjatuh dan terbentur tembok. Riana mencoba bangkit. Dia harus melindungi Kinan.


Para pengawal segera ke lantai 8, setelah Angga memberikan posisi terakhir Riana yang terlacak lewat GPS yang terpasang di kemeja Ranto yang di kenakan oleh Riana.


Ranto dan Angga, segera memerintahkan para pengawal untuk mendobrak pintu unit apartemen yang cukup kuat itu.


Mereka mendobraknya, terlihat oleh Ranto Jodi sedang berusaha mencengkeram tangan Riana sementara Kinan terus memeluk Jodi.


"Amankan Riana!" Seru Ranto.


Jojo langsung menghajar Jodi karena berani memegang tangan kekasih majikannya.


Ranto memeluk Riana, keningnya terlihat memar, "Kamu nakal, Bolang!"


Riana tersenyum sedikit, "Tolong Kinan, dia meminum minuman yang di campur obat."


Mereka melihat Kinan yang tak henti memeluk seorang pengawal Ranto.


Ranto memerintahkan Angga, "Kamu tolong pegang Kinan, Angga! Obati dia!"


Angga lalu memegang Kinan. Dan kini Kinan beralih memeluk Angga sangat erat hingga membuat Angga sesak nafas, "Jangan terlalu erat memelukku!"


Jodi yang sudah babak belur tertawa.


Pram juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Ranto sudah kesal sekali, namun di tahan oleh Angga, "Sudah Bos! Kita bisa repot bila rekaman tersebar luas. Riana akan cepat terkenal oleh keluarga kamu."


Ranto ingin menggendong Riana keluar dari unit Jodi, namun Riana menolak, "Masih ada yang harus aku urus!"


Ranto kesal sekali, "Kamu membantah, Riana!"


Riana merapihkan rambutnya yang berantakan, "Iya, aku terpaksa membantah kamu! Kinan sahabat aku, maka aku harus memberi pelajaran langsung pada pria kurang pelajaran itu!"


Lalu dia menepis tangan Ranto dan menghampiri Jodi, "Jo, aku tidak mau tangan aku kotor memegang pria seperti ini, maukah kamu melakukan sesuatu untuk aku?"


Jojo langsung menjawab, "Apapun untuk Non Riana."


Riana tersenyum manis, "Aku kesal sekali dengan pria seperti dirinya! Lakukan sesuatu setelah aku keluar pintu!"


Ranto, Angga dan Pram apalagi para pengawal yang mendengar itu terkejut, tidak menyangka wanita baik hati seperti Riana memberi perintah seperti itu.


Jodi tersenyum sinis, "Kamu tidak akan berani, Cantik!"


Lalu Riana melihat ke arah Angga, "Angga, minta rekaman unit pria ini agar kita bisa memilikinya dan Jojo tidak terlihat melakukan apapun kepada dirinya!"


Angga secara refleks mengikuti perkataan Jojo, "Apapun untuk kamu, Riana!"


Riana memeluk Kinan, "Kinan, aku sudah membayarkan sakit hati kamu kepada pria kurang pelajaran seperti itu, maafkan aku yang melibatkan kamu."


Kinan tersenyum lemah.


Riana memerintahkan Angga kembali, "Angga! Kamu bawa Kinan ke unit aku!"


Angga menjawab, "Siap, laksanakan!"


Mereka keluar dari unit Jodi, tidak lama mereka mendengar suara Jodi yang berteriak kesakitan.


Ranto menggendong Riana, dia tahu kekasih cantiknya hari ini lelah setelah berpetualang.


Sesampainya di unit Riana, Ranto duduk di sofa lalu memerintahkan Riana untuk duduk.


Namun Angga memberi tanda kepada Pram agar lebih baik ikut dirinya daripada duduk bersama pasangan itu.


Ranto menghela nafas, emosi mulai melanda dirinya melihat warna merah di tangan Riana bekas cengkeraman tangan Jodi. Lalu dilihat lagi kening Riana yang lebam.


Ranto melempar kursi kecil ke arah tembok, "Kamu selalu membuatku khawatir, Riana!"


Riana tahu dirinya bersalah, apalagi mengingat Kinan, "Aku tahu."


Ranto menggebrak meja, "Kamu selalu membuat jantungku berdetak kencang saat mencari keberadaan dirimu!"


Riana pasrah menjawabnya, "Aku tahu."


Ranto membanting semua perabotan mewah yang ada di depannya, "Kamu selalu membuat duniaku berhenti sesaat saat mendengar kamu dalam bahaya!"


Riana menjawab, "Aku tahu."


Ranto langsung memeluk Riana, "Tolong, aku mohon kepadamu untuk menghentikan petualangan kamu, Riana!"


💘♥️💘♥️


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24

__ADS_1


__ADS_2