
Riana dan Kinan berpamitan segera pulang. Bodyguard Jojo tidak lupa menemani.
"Kinan, kamu lebih baik pindah ke apartemen aku ya! Aku kesepian di sini." Riana meminta Kinan untuk bersama dengan dia.
"Tapi, Bu Riana..."
"Stop! Aku tidak menerima bantahan, Kinan." Riana memotong kata-kata yang akan Kinan ucapkan.
Kinan cemberut, "Bu Riana sekarang seperti Bos Ranto."
Riana tertawa, "Kamu benar, Kinan. Aku sudah mirip dengan kekasihku yang galak itu. Aku tidak mau tahu, malam ini kamu tidak boleh pulang. Kamu di sini saja. Soal pakaian, tidak perlu khawatir."
Kinan bisa apa, "Baiklah, Bu Riana."
Ketika pagi menjelang, Angga menjemput Kinan yang akan pergi ke perusahaan baru.
Angga melihat Kinan tampak lebih cerah, "Baru satu hari tinggal bersama Riana, kamu tampak lebih cantik, Kinan."
Kinan hanya diam tersipu malu. Angga memang selalu menggodanya dari dulu.
"Kak Angga, aku tidak di antar ke kampus?"
Riana baru saja memakai sepatunya.
Angga menarik nafas, "Lima menit lagi kekasih hatimu akan turun."
Riana bergegas menuju lift, diikuti Kinan dan Angga. Tak lupa Jojo dan beberapa pengawal yang di belakangnya.
Pintu lift terbuka, tampak kekasih Riana itu sedang sibuk dengan gadgetnya, matanya fokus menatap layar gadget sambil sesekali mengetikkan sesuatu, rutinitas bisnis hari Senin sudah dimulai.
Angga dan Kinan masuk ke dalam lift tersebut, namun berbeda dengan Riana yang hanya cemberut kesal di depan lift karena tidak diperhatikan oleh Ranto.
Pintu lift akan menutup, dengan cepat Ranto menarik Riana ke dalam lift sambil langsung mendekapnya. Tangan kirinya saja yang memegang gadgetnya.
"Kenapa tadi kamu tidak segera masuk, Riana?" Ranto bertanya dengan masih memeluk Riana.
Riana hanya menarik nafas.
Ranto tersenyum kecil, "Maaf, aku tadi sibuk membalas email dari rekan bisnis. Dia akan mengajak berinvestasi di luar kota."
Riana masih diam.
Ranto mendekap tubuh Riana makin erat sampai Riana merasa sesak, "Lepas!" Riana memberontak.
__ADS_1
Ranto menahannya, "Bicara atau hukuman?"
Riana tetap diam, membuat Ranto tersenyum senang. Tampaknya hukuman buat Bolang akan terjadi.
Angga menarik Kinan agar menjauhi mereka berdua yang sedang sarapan pagi itu. Angga lalu mendekap Kinan yang terbelalak melihat pasangan itu, "Tutup mata kamu, Kinan!" Suara Angga pelan sedikit berbisik.
Angga menutup mata dan telinga Kinan dengan tangannya agar tidak melihat dan mendengar sesuatu.
"Bagaimana? Masih tidak mau bicara dengan aku?" Ranto sedikit berbisik di telinga Riana.
Riana mencubit pinggang Ranto, "Rasakan itu!" Dan dia langsung berlari ke arah mobil yang sudah disiapkan ketika pintu lift sudah terbuka.
Ranto tertawa kecil, "Rasanya setiap hari aku bisa jatuh cinta kepadamu."
Angga meledek Ranto sambil berjalan menarik Kinan keluar dari lift, "Bagaimana rasanya dicubit, Bos?"
Ranto hanya tersenyum, "Membuat aku ingin cepat-cepat menikahinya."
Angga dan Kinan akan naik mobil terpisah dari mereka. Ranto harus mengantarkan Riana ke kampus terlebih dahulu.
"Angga, kamu sudah menyiapkan sekretaris baru di perusahaan yang lama menggantikan Kinan?" Sebelum masuk mobil Ranto bertanya kepada Angga.
Angga mengangguk, "Bos lupa? Sisil keponakan Pak Hadi yang ditugaskan untuk mewakilkan pamannya itu. Kita harus berhati-hati. Aku akan mengatur agar tidak semua pekerjaan penting dan semua email bisnis dia tangani. Hanya pekerjaan soal proyek yang kita lakukan bersama pamannya saja."
Ranto terlihat tidak suka, "Percepat proyeknya! Aku tidak menyukai wanita itu ada di perusahaan aku. Dia seperti ingin memangsa."
"Bila ada agenda rapat yang bukan mengenai proyek itu, jangan biarkan Sisil menanganinya! Usahakan kamu membuat rapat di luar kantor! Lebih baik seperti itu." Ranto memberikan arahan kepada Angga sebelum masuk mobil.
Angga mengacungkan jempol ke arah sahabatnya itu, "Siap! Laksanakan!"
Mobil mereka berpisah arah.
Di dalam mobil Ranto menggenggam tangan Riana, "Sebentar lagi akan ada banyak badai yang akan menghampiri untuk menggoyahkan cinta kita, apa kamu akan selalu mencintai aku, Riana?"
Riana merasakan kegelisahan kekasih yang tampan itu, "Selalu dan selamanya mencintai kamu."
Ranto memeluk Riana, "Berjanjilah untuk melakukan itu, Riana! Jangan pernah pergi dari sisiku walau apapun yang akan terjadi."
Riana ikut melingkarkan tangannya di tubuh Ranto, "Aku janji."
Ranto mencium kening Riana, "Hari ini badai kecil mulai datang, aku harap kamu mengerti."
Ranto menggenggam erat tangan Riana menuju ke dalam kampus sambil sesekali menciumnya sehingga membuat histeris para mahasiswi yang menyukai Ranto ketika berpapasan dengan mereka.
Dewi dan Nila salah satunya, "Genggam tangan kita juga, Kakak Ranto."
__ADS_1
Ranto tersenyum kecil saja menanggapinya.
Ranto langsung terdiam dan mengeratkan genggaman tangannya begitu melihat Seno ada di depan mereka.
Ranto berbisik kepada Riana, "Ingat! Kamu milikku, Riana!"
Riana mengangguk, "Aku tahu."
Begitu jarak mereka dekat dengan Seno maka Ranto langsung menghalangi Seno yang tidak pernah berhenti menatap Riana, "Riana milikku, Seno! Berhentilah menatapnya seperti itu!"
Seno tidak mau mendengarkan perintah Ranto dia tetap berusaha menatap Riana walau Ranto menghalangi pandangannya, "Riana itu cintaku!"
Bodyguard yang mengikuti mereka berdua langsung memasang badan melindungi Ranto dan Riana.
Ranto memberi tanda kepada para bodyguard agar sedikit memberi ruang sehingga dia bisa berbicara dengan Seno.
"Sebenarnya apa lagi yang ingin kamu bicarakan, Seno?" Ranto bertanya sambil menyembunyikan Riana di belakangnya.
Seno menarik nafas, "Aku selalu menginginkan Riana! Namun kali ini bolehkah aku meminta bantuan kamu secara baik-baik, Tuan Ranto?"
Ranto tersenyum sinis, "Aku tidak mau!"
Riana yang mendengar Seno meminta bantuan kepada Ranto langsung keluar dari balik tubuh Ranto, "Bantuan apa, Seno Aji?"
Ranto terlihat tidak suka, "Jangan berusaha membantu Seno, Riana!"
Riana menepis tangan Ranto yang ingin menariknya, "Bantuan apa yang kamu butuhkan, Seno Aji?" Riana tetap bertanya hal yang sama.
Seno tersenyum mendengar Riana masih memperdulikan hidupnya, "Kamu memang wanita yang baik hati, Riana. Bahkan setelah aku pernah membuat kamu marah karena perbuatan aku yang khilaf itu."
Ranto memaksa Riana menjauhi Seno, "Tidak perlu omongan yang tidak penting, Seno!"
Seno, "Aku hanya meminta bantuan kamu sekali seumur hidup aku. Keluargaku orang yang mengingat balas jasa, maka bila kamu membantu aku seumur hidup aku akan berusaha membantumu."
Ranto tetap menolak, "Aku sibuk!"
Seno tetap berusaha, "Tapi ini kulakukan demi keluargaku. Haruskah aku bersujud memohon kepadamu?"
Riana langsung memegang tangan Seno yang ingin bersujud di hadapan Ranto, "Jangan seperti ini, Seno Aji!"
Riana menatap marah kepada Ranto yang tidak mau membantu Seno, "Apakah seperti ini pria yang aku cintai?Tidak mau membantu orang lain yang bahkan meminta pertolongannya secara langsung!"
Ranto merasa kesal, "Jadi, mau kamu apa, Riana!"
Riana membantu Seno untuk berdiri, "Bantu Seno atau berhenti mencintaiku!"
__ADS_1
Follow me 📝✍️ dee.reeana.24