
Ranto masih berusaha menjinakkan Riana yang sedang marah. Ini tampaknya lebih sulit daripada tugas Gegana yang menjinakkan bom.
Ranto mengusap rambut Riana yang masih berada dalam dekapannya, "Maafkan aku, ya. Aku berjanji akan menyayangi semua yang kamu sayangi. Akan menjadikan semua yang kamu sayangi sebagai bagian dari dirimu yang aku cintai. Maafkan aku ya ?"
Riana menggeleng,"Tidak, sebelum kamu meminta maaf kepada mereka semua yang kamu pecat."
Ranto menarik nafas, seumur hidupnya belum pernah dia meminta maaf kepada para karyawan yang dipimpinnya, "Baiklah, semua aku lakukan demi kamu, sayang."
Angga yang melihat semua itu hanya bisa tersenyum kecil, "Riana, bos kecil. Kamu memang sesuatu."
Ranto melepas dekapannya lalu melihat para karyawan yang sedang menundukkan kepala karena takut akan tragedi siang hari ini.
Ranto menggenggam erat tangan Riana, "Aku meminta maaf kepada kalian atas apa yang terjadi. Aku tidak akan pernah memecat kalian karena kalian adalah teman kekasih hatiku ini yang juga sekarang menjadi temanku. Terima kasih sudah menemani kekasih yang aku sayangi ini makan siang sambil berpetualang seperti bolang, bocah petualang."
Angga menahan tawa mendengar permintaan maaf Ranto yang agak aneh itu.
Mereka mengangkat kepala mereka dengan senyum sumringah, setengah tidak percaya bos mereka yang galak itu mengatakan hal yang langka.
Mereka menjawab kompak, "Terima kasih, Bu Riana."
Angga yang mendengarnya, "Eh..?"
Ranto melihat mereka satu persatu, "Mengapa kalian berterima kasih kepada kekasihku? Aku, orang yang tidak jadi untuk memecat kalian."
Pak Suminto mulai mempunyai keberanian sedikit untuk menjawab Ranto, "Tapi tadi Bu Riana yang memberi perintah kepada kami. Jadi pimpinan grup kami adalah Bu Riana. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban kami untuk berterima kasih kepada pimpinan kami yang sudah menyelamatkan kami semua."
Ranto menatap Kinan yang menundukkan kepalanya kembali, "Kamu berbohong dengan mengatakan kamu yang berinisiatif?"
Kinan hanya bisa mengangguk, "Maafkan saya, Bos. Saya hanya tidak mau Bu Riana menerima hukuman dari Bos."
Ranto sekarang menatap Riana, "Jadi, kelinci kecilku, kamu pemimpin mereka yang mengajarkan sebuah pemberontakan kecil terhadap aku untuk menemani kamu sedikit berpetualang hari ini?"
Riana mengangguk, kali ini dia tidak takut karena merasa bertanggungjawab akan keselamatan para anggota grupnya, "Aku yang memberi perintah. Dan aku yang bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi."
Ranto tersenyum melihat ulah kekasihnya itu yang merasa dirinya di medan perang hanya untuk memberontak urusan makan siang, "Jadi bolang yang cantik serta hobi berpetualang, kamu siap menerima hukuman atas apa yang kamu lakukan bersama anggota kamu ?"
Riana berat menjawabnya, namun tidak mungkin dia tidak bertanggungjawab. Tadi dia sudah berjanji di depan seluruh anggota grup "Pemberontak Bos Galak" itu.
Sedikit menarik nafas Riana mengatakannya, "Siap, laksanakan."
Angga menatap para karyawan yang berada di ruang tersebut secara tajam lalu memberi tanda untuk menundukkan kepala.
Angga sendiri menundukkan kepalanya melihat gadget sambil menyelesaikan tugas yang dia miliki.
Ranto sebenarnya menyukai pemberontakan kecil yang Riana buat hari ini.
Ranto membantu merapihkan rambut Riana yang sedikit berantakan karena Ranto terlalu semangat dalam memberi hukuman yang setimpal atas petualangan Riana disertai dengan pemberontakan kecil yang dipimpin oleh kekasihnya yang cantik tersebut.
Para karyawan sudah keluar dari ruangan di antar Angga lalu memasuki ruang rapat untuk di briefing perihal tutup mulut dan tidak melakukan share drama Korea yang sudah mereka tonton.
Ranto sedang membuka kemeja dan kaos yang dikenakan untuk menggantinya dengan yang bersih. Riana mengambilkannya di lemari yang terdapat di ruang istirahat.
Riana melihat Ranto yang sedang membuka kaosnya sehingga tampaklah dengan jelas tubuh atletis Ranto di penglihatan Riana. Bulu dada Ranto yang tampak indah di mata Riana harus membuatnya menelan ludah.
Ranto yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Riana, "Kenapa sayang, kamu menginginkan diriku ?"
Riana mengangguk tanpa disadarinya. Tubuh dan hati Riana yang kadang tidak sinkron telah mengkhianatinya dan membuatnya malu.
Ranto tersenyum kecil lalu menarik Riana dalam pelukan tubuhnya yang belum mengenakan kaosnya yang baru.
Riana mengusap bulu dada Ranto yang membuat pemiliknya gusar, "Jangan lakukan itu, Riana!"
Riana menatap Ranto, "Kenapa?"
Ranto tersenyum mendengar Riana yang masih polos perihal ini, "Nanti aku bisa khilaf."
Riana menutup wajah dengan tangannya, "Maafkan aku."
Ranto mengusap rambut Riana, "Setelah kita menikah, kamu boleh melakukan apa saja terhadapku sesuka hatimu. Jadi, kapan aku boleh menikahi kamu, Riana?"
Riana merasa terjebak dalam hal ini, "Aku sedang menuju untuk membuat skripsi, aku masih ingin mewujudkan cita-cita aku dulu."
Ranto menatap Riana, "Aku akan membantu kamu membuat skripsi. Aku juga akan membantu kamu dalam mewujudkan cita-cita kamu."
Riana tersenyum senang mempunyai kekasih yang pengertian terhadap dirinya, "Benarkah?"
Ranto memeluk Riana lagi, "Bayarannya yaitu menikahi aku. Secepatnya kita harus menikah! Aku sudah tidak sabar untuk memiliki dirimu."
Riana terdiam berpikir ternyata dia mempunyai kekasih yang suka memaksakan kehendak dan galak namun satu hal yang pasti adalah Riana sudah terlalu jauh jatuh ke dalam lingkaran cinta pria itu.
Setelah Ranto selesai bersiap dia menyuruh Riana untuk ikut dengan dirinya, "Ayo, Riana. Kita harus menghadiri acara seminar."
__ADS_1
Riana menolak, "Aku masih banyak memiliki tugas kuliah yang belum aku selesaikan. Besok adalah batas waktu untuk mengumpulkan tugas itu."
Ranto yang sebenarnya sudah menyuruh Angga untuk menyelesaikan tugas Riana tersenyum, "Nanti aku luangkan waktu untuk membantu kamu mengerjakannya, sekarang kita harus pergi ke acara tersebut."
Riana berpikir sejenak, "Lalu bagaimana soal bayarannya?"
Ranto tertawa kecil, "Ternyata kamu memikirkannya, apakah kamu menyukainya, Riana ?"
Riana cemberut, "Sudahlah, aku bisa mengerjakannya sendiri! Aku tidak bisa menemani kamu."
Ranto mengambil jas yang sudah disiapkan, "Aku tidak menerima penolakan, Riana!"
Riana mengalah, sudah terlalu banyak dia mendapatkan hukuman hari ini, "Baiklah, tapi aku mau berganti pakaian dulu ya."
Ranto mengangguk, "Ambillah di lemari pakaian itu."
Riana mandi sebentar lalu mengganti kemeja Ranto yang dia pakai dengan yang baru.
Riana hanya memoles tipis wajahnya dengan bedak dan mengaplikasikan lipstik di bibirnya yang merah. Menyisir rambut panjangnya yang tergerai indah.
Sesudah itu dia mengambil tasnya, "Ayo, kita berangkat. Aku sudah siap."
Ranto yang sedang menunggu Riana bersiap sambil membaca email terpana melihat kekasihnya yang terlihat lebih cantik, "Kamu memakai lipstik, Riana?"
Riana tersenyum, "Bukankah kita harus menghadiri seminar? Di sana akan ada banyak orang. Nanti kamu malu bila membawa aku yang biasa saja."
Ranto mendekati Riana, "Hapus lipstik itu, Riana!"
Riana mundur menjauh, "Aku tidak mau!"
Ranto memegang tangan Riana, "Masih tidak mau?"
Riana menggeleng, dia hendak pergi namun tangannya dipegang erat oleh Ranto, "Aku yang harus menghapusnya!"
Riana masih cemberut ketika sudah berada di dalam lift bersama Ranto dan Angga.
Angga yang melihat Riana hanya tersenyum, "Mengapa wajah kamu di tekuk seperti itu, Riana?"
Riana malas menjawabnya, "Tidak."
Angga lalu melihat sahabatnya yang sedang menggenggam tangan Riana, "Apa yang sudah kamu perbuat sehingga Riana menjadi kesal seperti itu?"
Ranto menoleh ke arah Riana, "Kamu masih ingin memakai lipstik, Riana sayang?"
Angga langsung mengerti apa yang sudah terjadi.
Ranto dan Riana bergandengan tangan keluar lift. Mereka lalu menaiki mobil menuju ke acara seminar itu.
Acara seminar masih belum di mulai, Ranto menyuruh Angga dan para bodyguardnya untuk menjaga Riana. Dia harus ke belakang panggung untuk menyiapkan diri tampil sebagai pembicara karena panitia seminar mengundangnya secara khusus.
Setelah mendapat posisi tempat duduk yang tepat di depan panggung, Angga melanjutkan pekerjaannya yang sekarang bertambah banyak, yaitu mengurus dua perusahaan.
Prioritas utama Angga adalah perusahaan baru itu yang harus berkembang dalam waktu singkat.
Tamu undangan sudah mulai memasuki tempat seminar itu akan berlangsung, pesertanya adalah para pengusaha muda yang baru berkecimpung di dunia bisnis. Ranto akan membagi pengalamannya dalam berbisnis kepada mereka karena Ranto adalah pengusaha muda terbaik.
Beberapa di antara pengusaha itu ada yang wanita namun mayoritas adalah pria.
Para pengusaha muda itu terpana melihat Riana yang sedang duduk di sebelah Angga.
Baru kali ini mereka melihat wanita dengan tampilan sederhana tanpa make up yang tebal namun terlihat sangat cantik dan elegan. Rambut panjang Riana yang tergerai indah menambah kekaguman mereka.
Tiba-tiba Angga berpamitan dengan Riana, dia harus mengecek ke belakang agar semua keperluan Ranto sudah siap. Dia tidak mau ada yang salah. Bodyguard di tempatkan di dekat Riana.
Rio sebagai seorang pengusaha muda menghampiri Riana yang tampak duduk sendiri, "Hai, apa kabar? Bolehkah berkenalan? Aku Rio."
Riana tersenyum lalu menyambut uluran tangan Rio, "Aku Riana."
Lalu Rio meminta panitia memindahkan posisi duduknya ke dekat Riana, semula panitia tidak mau karena Ranto secara khusus meminta mengosongkan posisi di sekitar Riana. Namun Rio memaksa mereka.
Datang lagi Bara dan beberapa temannya yang juga pengusaha, "Bolehkah kita berkenalan ?"
Riana bingung mesti berbuat apa, "Aku, Riana." Dengan terpaksa Riana harus menerima perkenalan dari mereka.
Riana tampak menghubungi Ranto namun tidak di angkat. Berkali-kali Riana melakukannya. Bahkan Riana sampai mengirim pesan yang cukup banyak.
Mereka mengambil telepon Riana lalu mengirimnya ke nomor mereka sehingga bisa memiliki nomor telepon Riana yang cantik itu.
Bodyguard Jojo yang di tempatkan di dekat Riana segera menghubungi Angga, dia sudah berusaha berbicara baik-baik agar mereka menjauhi Riana.
Namun karena mereka adalah pengusaha yang membawa bodyguard juga maka Jojo dan rekan-rekannya takut akan terjadi keributan yang akan membuat malu Bos mereka.
Angga yang sedang mengecek keamanan di belakang panggung mengangkat telepon, "Ada apa?"
__ADS_1
Lalu dia mendengarkan laporan bodyguard itu, seketika wajahnya terlihat panik. Ini bisa lebih dari perang dunia ke dua.
Ranto yang siap keluar untuk menjadi pembicara bertanya, "Ada apa , Angga?"
Angga menoleh, "Riana..."
Dan Ranto langsung berlari keluar untuk melihat keadaan Riana.
Ranto melihat Riana sedang di kelilingi oleh para pengusaha muda itu. Seketika emosi langsung memuncak "Ada apa kalian disini?"
Riana dan para pengusaha muda yang tidak tahu bila Riana adalah kekasih Ranto langsung menoleh, "Kita sedang berkenalan dengan Riana yang cantik ini."
Bara yang mengenal Ranto sebagai seniornya langsung ingin menyalami Ranto namun ditepisnya.
Ranto marah, "Kalian tahu bila wanita cantik ini adalah kekasihku!" Dan bila kalian masih menggodanya maka aku pastikan kalian akan langsung berhadapan dengan aku!"
Ranto langsung menarik Riana ke dalam pelukannya dan di hadapan mereka Ranto langsung menghukum Riana.
Ranto mengusap lembut bibir Riana dengan tangannya, "Jadi, apakah kalian masih ingin menggoda kesayangan aku?"
Mereka langsung menjawab kompak, "Tidak, Bung." dan kembali ke posisi semula mereka duduk.
Ranto memerintahkan Angga membereskan semua. Lalu membawa Riana ke atas panggung untuk duduk di sampingnya. Panitia terpaksa menuruti Ranto sebagai pembicara. Karena kehadiran Ranto sangat penting.
Selama seminar berlangsung Ranto terus menatap Riana, tampaknya dia akan menerima hukuman yang berat.
Ranto berbicara di panggung secara profesional namun matanya tidak lepas menatap ke arah mereka yang sudah menggoda Riana. Mereka menunduk karena tahu harus berhadapan dengan siapa.
Begitu acara selesai Ranto langsung menggenggam tangan Riana dengan erat. Ranto melepas jas dan di pakaikan ke tubuh Riana.
Suara tepuk tangan mengantarkan Ranto menuruni panggung. Para audiens puas dengan materi yang diberikan oleh Ranto sebagai modal pengetahuan untuk mengembangkan bisnis mereka.
Banyak yang menghampiri Ranto langsung untuk sekedar menyapa atau meminta kerjasama.
Buat mereka sangat sulit bertemu Ranto yang mempunyai kesibukan luar biasa sebagai pengusaha muda yang sukses.
Ranto dengan ramah meladeni mereka. Lalu memberi kesempatan kepada mereka untuk bekerjasama dengan perusahaan barunya.
Tentu saja ini hal yang menyenangkan untuk pengusaha baru seperti mereka.
Rio dan kawan-kawan yang tadi menggoda Riana menghampiri Ranto, mereka meminta maaf, "Maaf Bung, kami tidak tahu bila wanita cantik ini ada pemiliknya."
Ranto yang masih kesal mencoba menahannya, "Lain kali aku tidak mau kalian mendekati kesayangan aku !"
Bara mengangguk, "Kami mengerti."
Rekan Bara yang tadi juga ikut menggoda Riana juga meminta maaf, "Maafkan aku juga, Bung bila aku sempat mengagumi milikmu yang indah ini." Ujarnya sambil melihat sedikit ke arah Riana.
Ranto menjawab mereka semua, "Kali ini aku maafkan."
Rio yang baru merintis perusahaan kecilnya tersenyum, "Berarti kami boleh berharap agar bisa bekerjasama."
Ranto mengerti, "Asal kalian jangan mencoba mendekati atau berbicara sedikitpun dengan Riana, maka silahkan menghubungi Angga."
Ranto langsung meninggalkan tempat itu, dia sudah lelah hari ini.
Di mobil, Ranto tertidur dengan memeluk Riana.
Sesampainya di apartemen Riana hendak menuju unitnya namun Ranto menariknya dan mengajaknya ke unit apartemennya di atas
Ranto langsung membuka dasinya, lalu duduk di sofa. Riana hanya diam dari tadi takut Ranto akan marah mengingat apa yang sudah terjadi di seminar.
Angga segera mandi dan masuk kamar, dia tahu dua pasangan kekasih itu akan bertengkar.
Ranto menatap Riana dengan tajam, "Riana, apa kesalahan kamu sore ini?"
Riana menggeleng, "Tidak ada."
Ranto menggebrak meja, "Tidak ada?"
Riana membalas menatap Ranto, dia berani karena tidak merasa bersalah, "Aku tidak memiliki kesalahan sore ini, tidak sedikitpun!"
Ranto tersenyum sinis, "Kamu sudah menggoda mereka, bukan satu pria namun banyak!"
Riana tidak terima, "Aku tidak pernah menggoda siapapun dalam hidupku termasuk Seno ataupun kamu!"
Ranto terhenyak, kekasihnya yang cantik itu marah, tak biasanya dia seperti itu.
Riana bangkit dari posisi duduknya dan ke arah pintu, "Bila memang kamu mencintai aku maka luangkan waktumu untuk mengenal siapa diriku dengan baik, jangan menemui aku sebelum kamu melakukannya!"
Riana meninggalkan Ranto yang terdiam tidak menyangka Riana akan marah seperti itu.
💘♥️💘♥️
__ADS_1
Follow Instagram me 📝✍️ dee.reeana.24