
Setelah urusan selesai mereka segera pergi dari hotel itu. Riana harus segera sampai rumah karena besok ada jadwal kuliah.
Sepanjang perjalanan Ranto tidak pernah melepas genggaman tangannya bersama Riana.
Mereka duduk di kursi belakang, sedangkan Angga duduk di kursi pengemudi.
Beberapa bodyguardnya mengikuti mobil mereka dari belakang.
Sisanya beserta beberapa staf hotel sedang berada di kantor polisi untuk menyerahkan anak buah Lala yang membuat keributan di hotel. Mereka tidak melupakan hukum yang ada di negara ini.
Ranto mengelus rambut Riana yang berada dalam pelukannya. Rasanya senang sekali mendapatkan Riana.
Ranto bertanya kepada Riana, "Mengapa kamu tidak menghubungi aku bila sedang butuh bantuan atau ingin pergi keluar kota?"
Riana menjawab pertanyaan tersebut, "Aku tidak mempunyai nomor telepon kamu."
Ranto terdiam sebentar sambil menahan gejolak dalam dada, "Benar. Hanya aku yang mempunyai nomor telepon kamu "
Riana menatap Ranto untuk sesaat, "Rasanya aku tidak pernah memberikan nomor telepon kepada kamu ?"
Ranto tertawa kecil sambil menghirup aroma rambut Riana yang harum, "Aku tahu segalanya tentang dirimu."
"Curang." Riana protes.
Ranto mengecup tangan Riana lembut, "Mengapa kamu sebut aku curang?"
"Aku bahkan tidak tahu apapun tentang dirimu." Jawab Riana.
Ranto mendekap tubuh Riana erat, "Memeluk dirimu rasanya menyenangkan sekali."
Riana menatap Ranto, "Benarkah?"
Ranto tersenyum, "Tentu saja itu benar, karena aku mencintai kamu dan kamu harus mengetahui segala hal tentang aku!"
Sambil berkata seperti itu Ranto mengeluarkan handphone miliknya dan menekan sejumlah angka.
Bunyi telepon milik Riana berdering.
"Kamu simpan nomor aku yang baru saja masuk." Ujar Ranto.
Riana mengangguk.
Ranto mengusap rambut Riana, "Riana, apa sebaiknya kamu untuk sementara tidak berkuliah dulu karena Seno Aji pasti masih akan mengejar kamu?"
Riana membantahnya, "Aku bisa menghindari Seno Aji, lagipula ada Jojo yang akan menjagaku."
"Jojo?" Ranto lupa dengan bodyguard yang sudah dia pecat.
"Iya, bodyguard kamu yang bertugas untuk menjaga aku." Sahut Riana.
"Sudah aku pecat." Sahut Ranto singkat.
"Apa?" Riana terkejut.
Riana langsung melepas pelukan Ranto, "Kamu memecat Jojo?"
Ranto mengangguk, "Dia tidak becus menjaga kamu sehingga Seno Aji bisa membawamu tanpa sepengetahuan dirinya. Dia malah sibuk pergi ke toilet karena sakit. Harusnya dia segera lapor ke Angga untuk mencari rekan pengganti sementara menggantikan tugasnya menjaga dirimu."
__ADS_1
Riana mulai sedih, dia menganggap Jojo seperti kakaknya sendiri, "Kamu memecat Jojo?" Riana bertanya dua kali.
Ranto mulai gusar, dia berusaha memegang tangan Riana namun Riana menepisnya.
Riana tampak marah, "Berhenti, Pak!"
Bodyguard yang merangkap supir secara refleks memberhentikan mobil.
Ranto dan Angga masih dalam mode bingung.
"Buka pintunya!" Riana memerintahkan supir untuk membuka kunci pintu otomatis mobil mewah itu.
Riana langsung turun begitu pintu mobil sudah tidak terkunci.
Begitu turun, Riana langsung berjalan meninggalkan mobil.
Ranto ikut turun mengejar Riana.
Setelah jarak mereka dekat, Ranto langsung memegang tangan Riana dengan erat, "Kamu kenapa ? Aku bisa mencarikan bodyguard lain yang lebih baik untuk menjaga kamu."
Ranto tidak mengetahui apa-apa tentang Jojo dengan Riana, "Hanya seorang bodyguard yang menjaganya aku pecat saja dia marah dan bisa pergi."
Riana menoleh masih marah, "Aku maunya Jojo! Bila tidak kamu pekerjakan kembali Jojo maka aku tidak mau dekat-dekat dengan kamu."
Riana memberontak ingin melepas tangannya dari genggaman Ranto.
"Baiklah, aku akan memanggil kembali Jojo sesuai permintaan kamu, asal kamu jangan marah ya!" Ranto melembutkan perkataannya membujuk Riana.
"Kamu jahat, Ranto!" Riana tetap dalam mode marah.
Ranto menarik Riana ke dalam pelukannya, "Iya, aku jahat. Maaf ya."
Ranto merenggangkan pelukannya, "Kita naik mobil lagi ya."
Riana menggeleng, "Jojo?"
Ranto mengusap wajahnya kasar, "Iya, aku janji akan memanggilnya kembali sekarang juga."
Ranto mengajak Riana menuju ke mobil mereka.
Angga yang melihat drama Korea seperti tadi hanya bisa tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.
Mereka lalu jalan kembali.
"Kamu jahat, Ranto!" Riana mengulang perkataannya dan menepis tangan Ranto yang ingin memeluk Riana di dalam mobil yang sedang melaju.
"Iya, iya, aku jahat. Maaf ya." Terus saja jawaban yang sama keluar dari Ranto.
"Angga, telepon Jojo suruh menunggu di apartemen!" Ranto menyuruh Angga.
Angga masih belum mengerti, "Bukankah kamu sudah memecatnya?"
Riana yang sudah berada dalam pelukan Ranto kembali marah, "Kamu jahat, Ranto!"
"Iya, aku jahat." Ranto menenangkan Riana dengan mengusap bahu Riana agar tetap terus dalam pelukannya.
"Kamu dengar Angga! Suruh Jojo untuk menunggu di apartemen. Bilang kepadanya aku tidak jadi memecatnya!" Ranto meninggikan volume suaranya.
Angga menarik nafas, "Sebentar, Bos."
__ADS_1
Angga segera menghubungi atasan Jojo untuk memberitahukan kabar ini.
Tak lama, atasan Jojo menghubungi Angga dan mengatakan jika Jojo sudah mengetahui mengenai kabar ini dan langsung menuju ke apartemen Ranto.
"Bos, mereka sudah memberi kabar jika Jojo sedang dalam perjalanan menuju ke arah apartemen." Angga melaporkan kepada Ranto.
"Kamu sudah mendengarnya sayang Riana? Jojo sedang menuju ke apartemen dan akan menunggu kita di sana." Ranto mengelus tangan Riana.
Riana tersenyum senang, "Baiklah, kamu yang terbaik yang paling baik hati."
Ranto tertawa kecil sambil mencubit pipi Riana pelan, "Tadi kamu katakan aku ini jahat."
Riana mengusap tangan Ranto, "Iya, memang tadi kamu jahat karena memecat Jojo seenaknya sendiri."
Ranto menarik nafasnya, "Itu karena dia lalai dalam pekerjaannya, Riana sayang."
Riana menjelaskan, "Jojo lalai karena diriku. Aku memberinya ayam geprek dengan sambel yang levelnya terlalu pedas. Saat aku mau makan ayam geprek itu tiba-tiba aku teringat seseorang yang level mulutnya seperti sambel ayam geprek. Jadi Jojo dengan senang hati menawarkan kalau dia saja yang memakannya. Kami seperti kakak dan adik."
Ranto mengangguk, "Jadi, itu alasan mengapa aku tidak boleh memecatnya?"
"Iya, itu kesalahanku." Riana mengakui kesalahannya.
Angga yang mendengar cerita Riana ikut bertanya, "Jadi, siapa orang yang level mulutnya seperti sambel ayam geprek?"
Riana gelagapan, "Eh, itu..."
Ranto ikut bertanya, "Iya, siapakah dia Riana sayang ? Sampai membuat kamu mau makan saja menjadi teringat akan dirinya.".
Riana tidak menjawab, "Gawat ini! Aku keceplosan."
Angga tertawa terbahak-bahak. Dia sudah mengerti siapa orang yang Riana maksud dalam cerita tadi.
"Orang yang kamu maksud itu Seno?" Ranto mulai tidak menyukai pembicaraan ini.
Riana menggeleng.
Angga yang masih tertawa menimpali, "Sejak kapan Seno mulutnya pedas seperti sambel ayam geprek?"
Ranto mengernyitkan dahi, "Lalu siapa orangnya?"
Riana yang sedang di peluk oleh Ranto mempererat pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di balik lengan Ranto.
"Kamu" Jawab Riana lirih.
Angga pun makin tertawa keras.
"Kamu memang sesuatu, Riana."
Ranto membentak Angga, "Diam kamu, Angga!"
Angga memegang perutnya merasa geli, "Memang mulutmu rasanya seperti sambel ayam geprek, Bos!"
Riana makin masuk ke dalam pelukan Ranto takut dimarahi.
Ranto sebenarnya menyukai Riana yang manja seperti itu, "Aku harus menghukum kamu, Riana."
Riana tidak mau keluar dari pelukan Ranto, "Maaf."
Riana menyenderkan kepalanya di bahu Ranto dengan mobil yang masih melaju.
__ADS_1
💠😘😘😘💠 follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24