Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 11 ( Dalam Pelukan Cinta )


__ADS_3


Pagi yang cerah di Vietnam.


Lain di Vietnam lain di Indonesia.


"Hujan turun deras sekali. Bagaimana ini ?" Tanya Riana kepada diri sendiri.


Riana harus membungkus ulang keripik yang akan di titipkan di kantin kampus agar tidak terkena air hujan.


Setelah semuanya selesai Riana segera berkemas karena dia juga ada jadwal kuliah pagi mata kuliah manajemen operasional dengan dosen Pak Heru yang cukup galak


Tapi tidak cukup galak bila dibandingkan pria tampan rasa sambel ayam geprek itu.


Memakai payung Riana keluar gang menuju kampusnya.


Sementara itu.


Angga sedang bersama bosnya menuju kampus. Dia juga berkuliah di tempat yang sama dengan bosnya jadi Angga tidak hanya mengantar.


Sebagian bodyguard mengikuti mereka melalui kendaraan mereka yang berjalan tepat di belakang mobil Ranto.


Bekerja bersama. Kuliah bersama.


Mereka memang sahabat sejati.


Angga bertanya, "Bos?"


Dijawab, "Hem."


Seperti biasa.


Angga berbicara lagi, "Payung hanya ada satu yang kecil, jadi lebih baik kamu saja yang duluan masuk. Aku tunggu di mobil menunggu hujan reda sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor. Setelah agak reda aku akan menyusul, lagipula ini masih terlalu pagi."


"Hem." Jawab Ranto seadanya.


Dan ketika tiba di kampus.


Angga berpesan, "Hati-hati Bos!"


Ranto menoleh, di balasnya pesan Angga dengan senyuman kecil namun sinis, "Aku bukan bocah!"


Angga tertawa melihat sahabat yang sekaligus menjadi bosnya itu.


Ranto agak setengah berlari karena payung yang di bawa terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya. Hujannya terlalu lebat.


Ranto tidak sengaja menabrak seseorang yang juga memakai payung. Karena terlalu keras maka barang yang di bawa orang itu berserakan di tengah guyuran hujan.


"Kamu tidak apa ?" Tanya Ranto lembut pada perempuan berpayung merah yang payungnya tadi terlepas dari pegangannya saat bertabrakan dengan Ranto dan menjadikannya basah kuyup dalam sekejap.


"Tidak apa." Jawab perempuan itu lirih menahan sakit karena bertabrakan.


Riana memunguti keripik jualannya yang berserakan basah terkena guyuran air hujan.


Perempuan itu. Ranto memperhatikan.


"Manis sekali perempuan ini. Rambutnya yang tergerai basah menambah kecantikan dirinya." Batin Ranto.


Dan setelah Ranto memperhatikan dengan baik, " Kamu? Riana!"


Riana yang sedang memunguti keripik jualannya hanya mendongak malas. Dia sudah tahu berhadapan dengan pria tampan rasa sambel ayam geprek, begitu Riana menjulukinya sekarang.

__ADS_1


Namun dia sudah lelah berdebat terus bila bertemu pria yang galak itu, lagipula di tengah hujan lebat ini dirinya kedinginan.


Ranto meninggalkan perempuan berpayung merah itu begitu mengetahui jika dia adalah Riana.


Namun hatinya menyuruh lain.


Ranto berbalik.


Ranto ikut memunguti keripik yang masih banyak tercecer.


Riana yang melirik Ranto hanya kebingungan melihat tingkah musuhnya itu, "Pria galak sedang khilaf tampaknya." Ujarnya dalam hati.


Mereka berjalan beriringan menuju koridor kampus. Riana yang kebasahan dan kedinginan meletakkan keripiknya.


Riana melihat Ranto, "Taruh saja di sini keripiknya! Terima kasih."


Ranto menaruh keripik itu di lantai yang bersih. Di lihatnya Riana yang sedang merapihkan payung, "Kamu mau bawa ke mana keripik ini ?"


"Kantin." Jawab Riana singkat.


"Apa keripik ini jualan kamu?" Tanya Ranto baik-baik.


"Hem." Jawab Riana seadanya lagi. Kalau terlalu banyak bicara dengan pria galak ini bisa repot.


Ranto menjadi teringat kelakuannya bila di tanya oleh Angga.


"Aku sedang baik hari ini. Jadi aku bantu bawa ke kantin." Ranto berkata sambil mengangkat kembali keripik itu, di tambah dengan keripik yang diletakkan Riana di lantai.


Semua Ranto yang membawanya.


"Tidak usah." Riana menolak.


"Aku tidak pernah menerima penolakan!" Jawab Ranto tegas.


Sesampainya di kantin Ranto menaruh keripik itu di meja.


"Terima kasih." Ujar Riana singkat sambil tersenyum manis sedikit.


Ranto terhenyak. Dia suka dengan senyuman manis yang Riana miliki.


Dunianya terasa berhenti berputar. Tidak ada angin yang berhembus. Yang ada hanya suara hujan dan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.


Perasaan apa ini.


Riana menghela nafas lalu langsung berbalik badan hendak ke toilet dahulu.


Namun Riana merasakan ada tangan yang menariknya dan memeluknya.


Riana memberontak karena Ranto memeluknya di kantin yang sepi itu.


Hanya ada para penjual makanan yang sudah berdatangan dan merapihkan dagangannya.


"Sebaiknya kamu diam." Perintah Ranto.


Setelah beberapa lama.


"Bagaimana? Terlalu nyaman pelukanku?" Tanya Ranto setengah meledek Riana.


Riana kesal dan mendorong Ranto.


Ranto tersenyum, "Sebaiknya kamu memakai jas milikku." Ujarnya sambil memakaikan Riana jas miliknya yang sudah di lepas dari tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak perlu." Sahut Riana ingin pergi dan menghalau tangan Ranto yang ingin memakaikan jas tersebut ke tubuhnya.


"Yakin ?" Tanya Ranto tersenyum penuh arti.


Riana mengangguk.


"Kemeja kamu yang berwarna putih itu akan lama keringnya dan tampaknya mulai hari ini para pria akan menjadikan warna merah seperti yang terlihat menonjol di balik kemeja kamu itu sebagai warna favorit mereka."


Riana mencerna ucapan Ranto dan seketika langsung menutup area depan tubuhnya dengan kedua tangannya.


Tidak berhasil menutupi karena ukuran yang di dalam lebih besar di bandingkan ukuran tangannya.


Masih terlihat.


Ranto tersenyum sambil memakaikan jas miliknya ke tubuh Riana.


Riana tidak menolak lagi. Pasrah.


"Daripada harus beramal kepada semua pria di kampus hari ini." Pikir Riana.


Setelah selesai.


Ranto menatap Riana.


Riana sedikit gugup di tatap dalam-dalam oleh pria yang berada tepat di depannya.


" Kenapa pria galak baik sekali hari ini. Senyumnya indah bila di lihat dari dekat. Rambutnya yang sedikit basah membuatnya terlihat keren. Sikapnya yang baik pagi ini seperti malaikat tidak bersayap yang turun sewaktu hujan datang."


Jantung Riana berdetak tidak teratur.


Kembali berdetak tidak teratur setelah sekian lama hanya ada nama Theo yang membuatnya berdebar.


"Terima kasih." Ujar Riana.


Ranto tersenyum mengangguk, "Indah.." bisik Ranto di telinga Riana sambil melirik ke arah dalam tubuh Riana yang menonjol di lapisi warna merah tadi.


Riana pun ikut melihat ke arah mata Ranto melihat.


"Buaya darat!"


Seketika Riana berteriak sambil ingin memukulkan tangannya ke tubuh Ranto.


Namun Ranto malah memeluk Riana erat tidak ingin melepaskan sambil tersenyum.


Ranto mengusap pipi Riana yang basah karena habis terkena tetesan rambutnya yang masih basah.


"Pantas saja Seno mengejar kamu tidak kenal lelah."


Ranto melepas pelukannya takut Riana merasakan kalau jantungnya berdetak kencang.


Ranto tersenyum, "Aku akan mengambilkan cadangan kemeja milikku di mobil. Baju kamu terlalu basah untuk di pakai sampai siang nanti. Kamu tunggu di sini ya." Ujarnya lembut pada Riana.


Riana hanya bisa mengangguk.


Ranto pun meninggalkan Riana menuju ke arah parkiran mobil.


Riana yang masih berada di kantin sedang memegang jantungnya yang masih berdetak kencang.


"Perasaan apa ini ?" Tanya Riana didalam hatinya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


Follow Instagram 📝✍️


dee.reeana.24


__ADS_2