
Riana saat ini sedang menikmati makan siangnya bersama Ranto.
Karena makanan yang di pesan terlalu banyak maka yang beruntung adalah para tetangga Riana dan Bu Ratmi.
Riana hanya memakan nasi dan ayam gulai saja. Menu lainnya tidak di makan. Kenyang rasanya.
Banyak sekali menu makan siang kali ini, ada cumi asam manis, tahu asam pedas, udang goreng teriaki, ketoprak, bakso malang, soto ayam, soto daging, soto babat, di tambah ada ayam geprek.
Riana sebenarnya menyukai menu ayam geprek, namun di hadapannya ada pria rasa ayam geprek. Galaknya level dua puluh.
Riana tersenyum geli bila memikirkannya.
Ranto memanggil Bu Ratmi untuk mengajak para tetangga untuk berkumpul.
"Silakan di makan ya ibu-ibu, ini selagi masih hangat." Ranto memberikan makan siang kepada ibu-ibu tersebut.
"Kapan lagi makan enak." Seru Bu Rika yang hobi bercanda.
"Sudah baik tampan pula." Seru Bu Noni tersenyum genit.
"Sering-sering mampir ke sini mas tampan." Celoteh Bu Ratmi.
Dalam sekejap habis.
Bocah-bocah melihat ibu-ibu berkerumun...
"Ada artis nih. Ayo kita kumpul !"
"Bang tampan, kita kehabisan ya? Edo bertanya.
"Iya Bang, kita juga mau makan siang enak." Seru anak lainnya.
Ranto tersenyum bingung, "Kenapa jadi banyak seperti ini ya?"
Riana tertawa kecil.
"Karena makanannya sudah habis, bagaimana kalau Om beri uang untuk jajan saja ya ?" Ranto memberikan penawaran yang menarik.
"Setuju...."Jawab mereka kompak.
Kalau urusan rupiah memang harus kompak.
Ranto mengeluarkan dompetnya. Rupiah berwarna merah di bagikannya satu-satu kepada anak-anak yang sudah membentuk barisan.
"Terima kasih Om tampan, besok ke sini lagi ya." Seru mereka bersama-sama.
Dalam sekejap Ranto menjadi idola ibu-ibu dan anak-anak.
Ranto mengangguk sambil tersenyum.
Sedangkan Riana hanya geleng-geleng kepala.
Dasar bocah.
😜😜😜😜😜
Riana beristirahat sambil menonton TV.
" Kamu tinggal sendiri di sini ?"
Riana menoleh, "Tidak, aku berdua dengan temanku."
"Satu kampus ?"Tanya Ranto.
"Hem."Jawab Riana.
"Harusnya sudah pulang bukan ?"
"Selain kuliah, Nadia sedang sibuk meniti karir menjadi seorang artis."Jawab Riana menjelaskan tentang sahabatnya.
"Kenapa kamu tidak mengikuti jejaknya?" Tanya Ranto lagi.
"Kamu bertanya seperti wartawan saja." Riana protes mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari Ranto.
Ranto tertawa renyah, "Menurut aku kamu juga cocok menjadi seorang artis."
Ranto mendekatkan posisi duduknya ke samping Riana, "Kamu cantik." Ranto berkata lembut.
Riana menoleh.
"Dan manis." Sambung Ranto sambil menaruh rambut Riana ke samping telinga.
Riana terdiam karena Ranto menatapnya begitu intens.
__ADS_1
"Sekarang sudah menjadi raja gombal kamu?" Ujar Riana untuk menutupi kegugupannya.
Ranto menggeleng.
"Ini sudah sore, jadi lebih baik kamu pulang." Riana menjauh dari Ranto.
Bisa makin kacau hati Riana menghadapi pria galak yang sekarang menjadi calon raja gombal.
"Jangan usir aku!" Pinta Ranto.
"Baiklah, kamu menginap sampai pagi ya!" Riana tersenyum lebar.
"Mau." Jawab Ranto
"Nanti datang Pak RT yang akan mengusir kamu, mau ?"
Riana tersenyum sinis sekarang.
"Kamu seperti itu, Riana?" Ranto kesal.
"Bukankah kamu yang tidak mau pulang sekarang?" Riana masih memaksa Ranto agar segera pulang.
"Ya sudahlah. Aku pulang sekarang. Daripada Pak RT mengusir aku."
Ranto mengalah. Dia menuju ke arah pintu.
"Tapi jangan lupa!"
Riana bingung, "Apa?"
"Pakai baju aku ketika ke kampus! Nanti aku kirimkan." Titah sang calon raja gombal.
"Ada-ada saja." Sahut Riana sambil geleng-geleng kepala.
"Aku tidak mau tahu ya. Besok aku lihat !" Ranto berkata sambil tersenyum meninggalkan Riana yang berdiri di teras.
Riana bingung harus bagaimana menghadapi pria tampan itu.
🤔🤔🤔
Angga menghubungi Ranto yang sedari tadi telepon selulernya tidak aktif.
"Bos, ada di mana sekarang?"
"Di rumah."
"Meninjau proyek?" Tanya Ranto.
"Iya. Bulan lalu Bos yang minta untuk di jadwalkan setiap bulan untuk meninjau proyek kita yang berada di kota Bandung." Jelas Angga.
"Aku sepertinya tidak bisa. Kamu sajalah." Jawab Ranto dengan mudahnya.
"Aku ?" Angga tak habis pikir.
"Kenapa?" Tanya Ranto.
"Tapi kamu tidak ada jadwal kegiatan di sini. Lalu mengapa tidak mau ?"
"Aku sibuk !" Jawab Ranto singkat.
"Sibuk apa ?" Angga masih terus bertanya.
"Tanya terus, seperti wartawan saja kamu."
Ranto meniru Riana secara tidak sadar.
"Tapi, Bos ?"
Protes yang akan Angga ucapkan sudah di potong bosnya, "Aku bosnya ! Ingat itu Angga !"
Angga terdiam. Kesal.
"Kamu dengar !" Ranto juga kesal.
"Hem." Jawab Angga yang sudah tertular Ranto.
"Sudahlah,.bicara dengan kamu mengganggu mood baikku."
Ranto berkata sambil mematikan sambungan teleponnya dengan sang asisten yang tampaknya sedang kesal juga dengan bosnya.
Sementara di sisi Angga.
"Dasar Bos, seenaknya saja membatalkan ini dan itu. Biasanya gila kerja. Mesti bagaimana ini !"
Angga berteriak kesal di parkiran mobil.
__ADS_1
Satpam menghampiri, "Ada apa Pak Angga ?"
Angga menghela nafas menghilangkan kekesalannya.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Aku hanya ada yang terlupa."
"Lupa apa, Pak Angga ? Biar saya suruh office boy yang mengambilkannya dari kantor." Sahut satpam tersebut sok tahu.
"Lupa diri" Sahut Angga meninggalkan satpam tersebut.
😣😣😣
Tok...tok...
Suara pintu Riana di ketuk.
Rana membukakan pintu.
"Ada apa ya, Pak ? Cari siapa ?"
Bapak itu tersenyum, "Cari Bu Riana."
"Ya, itu saya sendiri."
Bapak tadi tersenyum lagi. Murah senyum sekali bapak ini.
"Bos saya kirim ini semua. Katanya jangan lupa di pakai !"
Riana melihat pakaian dalam jumlah banyak dan di lapisi plastik.
"Tapi saya tidak bisa terima, Pak." Riana berusaha baik-baik dengan bapak itu walaupun hatinya sedang kesal.
Benar-benar pria galak semaunya sendiri.
Senyum si bapak hilang.
"Waduh Bu, bagaimana dengan nasib saya.
Kasihan anak istri saya di kampung bila saya di pecat oleh Bos." Cemas si bapak.
"Di pecat ?" Tanya Riana.
"Kata Bos, bila ibu tidak menerima ini maka saya harus siap-siap pulang kampung." Setengah menangis bapak tua itu berkata kepada Riana.
"Apa ?"
"Tolonglah saya Bu, anak saya ada delapan. Masih ada yang kecil-kecil. Anak saya yang nomor tiga akan menikah bulan depan dan butuh biaya besar. Belum lagi yang kecil-kecil masih bersekolah." Menangis si bapak di hadapan Riana.
Riana tidak bisa berkata-kata.
"Iya sudah, bapak tidak perlu menangis lagi. Ini semua saya terima."
Senyum si bapak datang kembali teringat bonus uang yang di janjikan Bos Ranto bila Riana menerima kirimannya.
"Cepat sekali bapak tersenyum." Riana ikut tersenyum.
"Saya senang tidak jadi di pecat, Bu."
"Oh. Ya sudah, terima kasih ya Pak. " Riana mengakhiri obrolan.
"Iya, Bu."
Bapak itu langsung pergi.
Riana menghela nafas melihat kiriman pria galak itu.
Baru saja Riana melangkahkan kaki ke dalam rumah.
"Sebentar Bu Riana.."
Riana menoleh, "Ada apa lagi, Pak ? Kenapa kembali lagi ?" Tanya Riana.
"Bila ibu mau di kirimkan sesuatu oleh Bos saya lagi, tolong bilang agar menyuruh saya saja."
Riana terdiam bingung, "Tadi bukankah bapak ketakutan di pecat oleh Bos ?"
"Iya. Tapi ibu orang yang baik. Jadi tolong terima apapun yang di berikan Bos bila saya yang di suruh mengantarkannya ke sini." Pinta bapak tua itu.
"Dengan begitu bapak bisa terus bekerja di tempat Bos ya ?" Tanya Riana menebak.
Si bapak itu mengangguk, "Tolong ya, Bu!" Pintanya.
"Baiklah, bila itu bisa membantu bapak sekeluarga." Riana tidak tega.
Senyum si bapak lebar membayangkan bonus rupiah yang banyak.
__ADS_1
💠💠😘😘💠💠
Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24