Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 44 ( Menikah )


__ADS_3


Angga tiba di rumah sakit dengan membawa setumpuk berkas untuk ditandatangani oleh Ranto. Sahabat kesayangannya itu memang selalu merepotkan.


Angga masuk ke ruangan, "Tandatangani berkas ini. Semuanya."


Ranto yang sedang memegang tangan Riana melepasnya untuk sejenak dan segera mengambil pulpennya, "Kamu buka semua berkasnya!"


Ranto menoleh ke samping, dilihatnya Riana sedang melamun dan memegang dadanya.


"Kamu tidak apa?" Ranto bertanya sambil menarik Riana ke dalam dekapannya.


Riana menatap ke arah mata Ranto, "Jangan lepaskan!"


Ranto mengusap rambut Riana, "Baiklah."


Ranto sudah selesai mengerjakannya, "Angga, kamu sudah tidak ada pekerjaan lagi?"


Angga tersenyum kecil, "Tidak ada. Khusus hari ini aku akan mengajak Kinan menonton di bioskop sesuai keinginannya."


Ranto menggeleng, "Tidak perlu. Kamu dan Kinan sebaiknya mengurus pernikahan aku dengan Riana. Aku mau besok pagi kami menikah."


Angga tertawa kecil, "Ini hari Jum'at dan sudah malam. Mana ada Kantor Urusan Agama yang buka 24 jam? Itu bukan restoran cepat saji!"


Ranto mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk dari dompetnya, "Ini milikku. Ambil Kartu Tanda Penduduk milik Riana di tas kecil itu!"


Riana menahan Angga yang akan mengambil tas miliknya, "Sayang, kenapa secepat ini?"


Ranto memaksa mengambil tas milik Riana, "Kamu sudah menjawab lamaran dariku tadi! Kita harus menikah secepatnya. Aku mau kamu menjadi milikku seutuhnya sebelum aku membantu Seno."


Riana memberikan tas itu, "Baiklah. Tapi berikan aku kesempatan untuk mencapai cita-cita aku."


Ranto mencium tangan Riana, "Tenang saja, aku akan membebaskan kamu melakukan semua hal yang kamu suka."


Riana tersenyum senang, "Benarkah?"


Ranto tersenyum kecil melihat Riana, "Tentu saja tapi harus selalu berada di sisiku."


Riana menarik tangannya dari genggaman Ranto, "Bebas tapi selalu berada di sisimu? Kebebasan macam apa yang seperti itu?"


Ranto membuka gadgetnya mencoba menghubungi rekan bisnisnya agar mereka datang di hari pernikahannya besok pagi.


"Riana, jangan lupa tambahkan cita-cita satu lagi dalam hidup kamu mulai dari sekarang." Ranto mengingatkan.

__ADS_1


Riana menatap kekasihnya itu, "Apa?"


Ranto menghampiri dan mengusap helai demi helai rambut Riana, "Cita-cita menjadi ibu dari anak-anakku."


Riana mencubit Ranto, "Itu bukan cita-cita."


Ranto mengusap tangan Riana dengan lembut, "Lalu apakah itu sebuah keinginan?"


Angga hanya tertawa kecil melihat mereka berdua.


Ranto melihat ke arah Angga yang hanya duduk bersantai, "Angga, cepatlah kerjakan! Besok pagi aku harus menikah! Jangan lupa gaun untuk Riana dan pakaian untukku! Aku mau sempurna semuanya besok pagi! Aku sudah mengirimkan undangan via email dan chat kepada rekan-rekan bisnis kita. Mereka akan datang besok pagi."


Angga tersentak, "Sudah mengirimkan undangan?"


Ranto meneruskan kegiatannya menghubungi rekanan bisnis sambil menjawab pertanyaan Angga, "Tentu saja."


Angga menarik nafas berat sambil bangun dari duduknya, "Sebaiknya kamu mengirim aku ke Antartika saja, mungkin itu lebih baik daripada menjadi Angga Bondowoso yang membuat acara pernikahan dalam waktu semalam."


Ranto tidak memperdulikan Angga, dia tahu sahabatnya itu adalah orang yang bisa diandalkan.


Angga membuka gadgetnya lalu memperlihatkan kepada Ranto beberapa gambar cincin berlian yang dirancang khusus untuk pernikahan, "Pilihlah! Aku memberikan ini sebagai hadiah untuk pernikahan kalian. Dari semenjak kalian saling mengenal aku sudah menyiapkan dana untuk membelinya."


Ranto tersenyum lalu memeluk bahu sahabatnya, "Kamu yang terbaik."


Riana terdiam melihat gambar sederet berlian besar yang indah, "Sebaiknya tidak perlu, kasihan Kak Angga. Ini pasti sangat mahal harganya."


Ranto tersenyum mendengarnya, "Kalau begitu lebih baik semuanya."


Riana menahannya, "Sayang..."


Ranto tidak peduli, "Kita menikah hanya sekali, Riana. Jangan khawatirkan Angga, aku juga sering memberikannya hadiah yang lebih mahal daripada itu semua."


Ranto memberikan gadget itu kepada Angga, "Aku mau semua yang ada disini!"


Angga tidak terkejut, "Aku sudah menduganya. Bila aku menikah nanti maka aku akan membalasnya!"


Ranto tertawa, "Apakah rekening kamu tidak sanggup untuk membayarnya?"


Angga tersenyum sinis, "Ini hanya recehan saja!"


Ranto dan Angga tertawa bersama.


Ranto bertanya lagi kepada Angga, "Jadi, bagaimana?Soal hadiah ini."

__ADS_1


"Apapun untukmu, Bung!" Angga segera menghubungi pihak penjual berlian itu.


Angga juga tidak lupa menghubungi Kinan untuk membantunya. Mereka harus begadang semalaman untuk mewujudkan keinginan Ranto yang terlalu merepotkan.


"Riana, kamu tidur saja. Aku akan menyiapkan pernikahan untuk kita secara sederhana, namun bila kamu mau maka kita akan mengadakan pesta sesudah kita menikah." Ranto tersenyum kepada calon istrinya itu.


Riana menggeleng, "Aku hanya sedikit terkejut. Jadi tidak bisa tidur."


Ranto mengusap rambut Riana, "Aku akan menemani."


Ranto memaksa Riana untuk tidur, "Aku sudah menghubungi orang tua kamu. Mereka tidak bisa datang jadi hanya diwakilkan saja."


Pandangan Riana langsung kosong, "Mereka bahkan tidak ingin melihat aku menikah, selalu tak menganggap aku ada." Riana langsung menangis terisak.


Ranto memeluk Riana, "Ada aku Riana. Aku berjanji akan selalu menjaga kamu dan menyayangi kamu sepenuh hati. Selamanya."


Ranto mengusap rambut Riana, "Orangtuaku juga tidak hadir. Mereka belum bisa menerima pernikahan dadakan ini. Aku harap kamu mengerti posisi aku. Aku hanya ingin menikahi kamu dengan atau tanpa izin siapapun."


"Bila mereka tidak menerima aku, lalu bagaimana dengan pernikahan kita nanti?" Riana menanyakan hal yang sulit.


Ranto memegang tangan Riana, "Aku percaya bahwa Tuhan sudah menuliskan takdir dan jodoh aku. Dan aku yakin jodoh aku itu adalah kamu. Aku selalu berharap kita berjodoh sampai rambut kita memutih. Aku mencintai kamu, Riana."


Riana menatap Ranto, "Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan diriku ini apapun yang terjadi."


Ranto tersenyum, "Aku berjanji."


Riana menunduk sedih, "Aku takut akan sepi. Aku takut kesepian. Aku takut orang yang aku sayangi meninggalkan diriku sendiri. Aku akan tersesat tanpa tahu arah."


Ranto memeluk Riana, "Aku akan selalu menemani."


Ketika menjelang pagi hari, make up artis datang untuk memoles wajah Riana.


Riana memakai gaun yang dibeli secara mendadak boleh Kinan dan Angga dengan sedikit paksaan dan rayuan kepada seorang desainer terkenal.


Ranto tersenyum melihat Riana, "Ayolah, kita segera ke gedung pernikahan. Aku sudah tidak sabar ingin membuatmu menjadi milikku seutuhnya."


Angga yang melihat Ranto terlalu antusias hanya tertawa kecil, "Sabar, kamu ini terlalu terlihat mencintai Riana. Memalukan."


Ranto tidak perduli, "Aku tidak sabar ingin memiliki keluarga kecil dengan anak yang banyak bersama Riana."


Angga menepuk bahu sahabatnya, "Perlakukan Riana dengan baik dan penuh cinta saat nanti dia menjadi istrimu."


Ranto tersenyum kecil, "Ingatkan aku bila aku tidak baik terhadap Riana."

__ADS_1


Angga mengangguk, "Kita saling mengingatkan."


__ADS_2