Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 21 ( Mengawasi )


__ADS_3


Ranto sedang berada di ruang kerjanya bersama Angga.


"Bagaimana laporan dari bodyguard yang aku tempatkan untuk mengawasi kelinci kecilku ?"


Angga tersenyum sambil membereskan beberapa berkas kerjasama perusahaan mereka dengan PT Angin yang baru saja menjadi rekan bisnis.


Angga menjelaskan kepada Ranto hasil kerja satu orang bodyguard yang di tugaskan menjaga Riana.


"Beres Bos. Dia melaporkan bahwa Riana baik-baik saja. Berkegiatan seperti biasa, menjual keripik lalu berbelanja bahan-bahan untuk membuat keripik stok yang baru. Tidak lupa Riana pergi ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan tugas kuliah. Sesekali melakukan kerja kelompok bersama teman-temannya. Hanya beberapa kali Seno mencoba mendekatinya. Namun berhasil di halangi oleh Jojo."


"Jojo?" Tanya Ranto


Angga mengangguk, "Itu nama bodyguard yang kita tempatkan untuk mengawasi Riana."


Ranto merenggangkan dasi di lehernya, "Apa Riana selalu memakai pakaian milikku ?"


"Sebentar." Ujar Angga sambil membuka gadget miliknya untuk melihat hasil laporan bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Riana.


"Ini." Angga menunjukkan beberapa foto Riana saat di kampus memakai pakaian milik Ranto.


Angga melanjutkan, "Ini.. dan ini.."


Ranto tersenyum senang.


Angga geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya dalam memperlakukan wanita kesayangannya.


Ranto bergumam, "Cantik...dia cantik sekali."


Ranto memandangi foto Riana di gadget milik Angga.


Angga sengaja menutup gadget miliknya karena Ranto terus-menerus melihat foto Riana.


Ranto yang tersadar dari lamunannya karena Angga yang tiba-tiba menutup gadgetnya langsung mendorong Angga dengan pelan.


Angga hanya tertawa-tawa merasa puas berhasil mengerjai sahabatnya itu.


"Ini sudah aku kirim filenya ke gadget milikmu. Sekarang kamu bisa memandangi dengan puas foto Riana."


Angga menyelesaikan pengiriman ke handphone milik Ranto.


Ranto tersenyum senang, "Kerja bagus."


Angga tersenyum sambil mengacungkan jempol miliknya ke arah dirinya sendiri dengan maksud menyombongkan diri atas pekerjaaan yang sudah di lakukan.


"Tapi lebih bagus lagi bila foto Riana kamu hapus juga dari galeri milikmu!"


Ranto masih saja cemburu dengan Angga.


"Ya..ya..ya." Angga menjawab malas.


"Apa kamu sudah memperingatkan wanita jahat itu agar tidak menganggu apalagi menyentuh Riana?" Tanya Ranto sambil sibuk melihat proposal dari salah satu rekan bisnisnya yang baru saja di ajukan.

__ADS_1


"Sudah. Aku sudah peringatkan Lala untuk menjauhi Riana. Tapi tampaknya dia tidak takut dan malah marah-marah mengumpat soal Riana. Dia tidak percaya saat aku katakan bila berurusan dengan Riana maka akan berurusan dengan kamu."


Ranto memperbaiki duduknya, "Apa dia tidak tahu bahwa Riana adalah milikku?"


"Tampaknya Lala belum mengetahui hal itu. Karena setahu dia hanya Seno Aji yang selalu dekat dengan Riana. Tidak ada laki-laki lain selain Seno."


Ranto mengusap mukanya dengan kasar, "Tangguhkan kerjasama yang akan kita lakukan dengan perusahaan milik kakeknya itu. Kalau saja bukan karena aku mengenal saudara ipar dari ibunya perempuan tak punya hati itu maka aku tak akan pikir panjang lagi untuk membatalkan semua kerjasama kita dengan perusahaan mereka. Apalagi menerima proposal mereka yang baru. Rasanya aku geram sekali."


Ranto memukul meja dengan tangannya begitu berbicara soal Lala.


Hampir saja perempuan jahat itu membuat Riana kehilangan masa depannya.


Angga meminta pengarahan dari Ranto, "Bila pihaknya Lala bertanya soal penangguhan kerjasama maka apa yang harus aku jawab?"


"Bilang saja mereka sudah mengusik kesenangan aku."


"Perusahaan mereka lumayan kuat dan tidak mengandalkan kerjasama dengan perusahaan kita saja Bos !" Angga mengingatkan.


Ranto tersenyum sinis, "Buat perusahaan yang bekerjasama dengan kita dan juga merupakan rekanan perusahaan itu menekan mereka. Bila perusahaan keluarga Lala mengajukan kerjasama lagi yang baru kepada perusahaan-perusahaan yang merupakan rekanan kita, maka sebaiknya kamu tekan sedikit agar rekanan kita tidak akan merealisasikan proposal yang sudah di ajukan oleh perusahaan milik keluarga wanita ular itu."


"Sebenarnya kita bisa langsung menghancurkan mereka Bos." Ujar Angga.


"Kamu yakin semudah itu ? Jangan meremehkan perusahaan raksasa seperti mereka." Nasehat Ranto.


"Aku yakin seribu persen. Aku mengetahui kelemahan mereka yang bilamana aku ungkapkan ke hadapan publik maka tunggu dalam waktu satu bulan maka mereka akan menyesali telah mengenal seorang Angga." Angga menyombongkan dirinya di depan Ranto.


Ranto tersenyum sinis, "Kamu tahu tidak bila perusahaan keluarga Lala hancur lalu Seno Aji akan bisa keluar dengan mudah dari jerat keluarga mereka."


Ranto menghadap jendela menatap cakrawala yang terbentang di hadapannya.


"Aku baru tahu bila Seno Aji itu di paksa menikah dengan Lala oleh keluarganya."


Angga terlihat bingung.


"Apa ada yang tidak aku ketahui, Bos ?"


"Banyak." Ranto tertawa kecil.


Sebelum melanjutkan Ranto menghela nafasnya terlebih dahulu.


"Keluarga Seno terlibat hutang yang sangat banyak dengan keluarga Lala. Bahkan jika keluarga besar Seno yang kebanyakan pejabat itu menggabungkan kekayaan mereka maka itu belumlah cukup untuk membayarnya."


Angga menghampiri lebih dekat sahabatnya itu, "Bagaimana keluarga Seno bisa seperti itu. Mereka adalah keluarga kaya raya yang tidak mungkin berhutang kepada siapapun."


Ranto sedikit menoleh ke arah Angga berdiri.


"Bisa. Karena pada dasarnya mereka hanya terjebak dalam jerat kelicikan keluarga Lala. Mereka melakukan itu hanya untuk mendapatkan Seno."


Angga mulai mengerti, "Maksud Bos, mereka sengaja di jatuhkan lalu berhutang harta dan berhutang budi kepada keluarganya Lala."


Ranto mengangguk.


Angga bertanya lagi kepada Ranto, "Apakah karena Lala sangat mencintai Seno dan menginginkan agar Seno Aji menjadi miliknya?"

__ADS_1


Ranto menghela nafas lalu tertawa kecil.


"Jawaban yang tepat."


Angga geleng-geleng kepala, "Cinta itu berat."


Ranto tersenyum sinis, "Kamu salah, yang benar adalah rindu itu berat."


Angga terkekeh. "Itu kata Dylan, Bos "


Mereka tertawa berdua di ruangan kedap suara itu.


"Satu hal lagi yang mau aku tanyakan Bos."


"Apa ?" Jawab Ranto.


Angga menarik nafas terlebih dahulu, "Darimana Bos mengetahui hal ini yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya ?"


Ranto memukul bahu Angga pelan sambil berkata, "Rahasia."


Angga tak terima, di pukulnya lagi bahu sahabatnya itu. Dan mereka melanjutkan bercanda mereka seperti bocah melepas kerinduan.


"Rasanya aku kalah sepuluh kosong dari seorang Ranto." Angga berpura-pura memelas.


Ranto tertawa.


Lalu Angga mengeluh, "Hilanglah predikat aku sebagai Angga yang serba tahu."


Ranto melempar kertas kecil yang di bulatkan seperti bola kepada Angga, "Keluarga Lala adalah keluarga licik, aku sebenarnya malas berurusan dengan mereka dari sewaktu pertama kali menekuni dunia bisnis."


Angga mengiyakan, "Banyak rekan-rekan kita juga mengeluhkan hal yang sama."


Ranto memberikan pemikirannya, "Kita harus mempertimbangkan matang-matang bila ingin berhadapan dengan mereka. Jangan sampai lengah sedikitpun. Bahkan bila mereka telah bertekuk lutut di hadapan kita maka jangan berikan celah sedikitpun untuk mereka bisa bergerak dan membalaskan dendam kepada kita."


"Bila Lala dan keluarganya sudah jatuh maka selamatlah Seno dan keluarganya, bukan begitu ?" Angga menimpali.


Ranto merapihkan jas yang di pakainya, "Iya. Bahkan mereka mungkin akan membalas apa yang telah mereka rasakan selama ini kepada keluarga Lala jika mereka mengetahuinya."


Angga bertanya lagi kepada Ranto, "Sebenarnya bagaimana cara mereka menjatuhkan keluarga Seno ? Pada dasarnya mereka adalah keluarga yang sulit untuk di jatuhkan."


Ranto menjelaskan detilnya kepada Angga, "Ayah Seno berhutang budi kepada keluarga Seno karena ayahnya jatuh bangkrut bahkan berhutang berkali kali lipat dari jumlah kekayaan mereka. Dan ayah Seno juga di tuduh melakukan penggelapan pajak."


Angga bergidik, "Jahat sekali mereka hanya demi memenuhi keinginan Lala. Apakah Bos mau kita menjatuhkan keluarga Lala sekarang juga ?"


Ranto mengernyitkan dahinya sambil tersenyum sinis, "Sama artinya kita membantu Seno Aji."


Angga mengangguk, "Seno nanti akan berhutang kebaikan kepada kita."


Ranto menimpuk kepala Angga dengan pulpen yang ada di tangannya, "Kamu harus memperbaiki otak dulu ! Itu sama artinya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Seno Aji untuk menganggu Riana kesayangan aku !"


💠💠😘😘💠💠


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24

__ADS_1


__ADS_2