Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 48 ( Praktek Biologi )


__ADS_3


Angga dan Kinan tertawa bersama di ruangan mereka, kini mendekati waktu makan siang.


"Kinan, nanti aku akan datang ke rumah orang tua kamu bulan depan, bagaimana menurut kamu?" Angga mengusap dengan lembut rambut Kinan.


Kinan mengangguk, "Boleh, nanti aku bicarakan terlebih dahulu dengan orang tua aku."


Angga tersenyum senang.


Kinan menarik nafasnya, "Tapi..." Kinan bingung untuk mengatakannya kepada Angga.


Angga menangkap maksud Kinan, "Bicaralah, kita akan mencari jalan keluar bila memang ada masalah."


"Papa aku orang yang tegas, sudah banyak pria yang melamar aku dan semuanya di tolak, itulah sebabnya sampai saat ini aku masih sendiri." Kinan menjelaskan duduk permasalahannya.


Angga tertawa geli, merasa lucu kepada dirinya sendiri, "Jadi, aku pria yang kesekian yang melamar kamu?"


Kinan tersenyum kecil, "Aku tidak pernah berpacaran, mereka itu menyukai aku dan langsung mengutarakan niatnya kepada Papa."


"Hanya aku yang menjadi pacar kamu?" Angga menginginkan jawaban yang menyenangkan dari Kinan.


Dan Kinan mengangguk.


"Berarti aku akan berhasil lolos dari audisi calon menantu Pak Raharja?" Angga bertanya dengan antusiasme yang tinggi.


Kinan menggeleng, "Aku tidak tahu. Namun aku akan membela kamu mati-matian untuk menghadapi Papa dan meloloskan kamu dari audisi calon menantu idaman Pak Raharja."


Angga memeluk Kinan, "Aku belum pernah memohon kepada seseorang, namun kali ini aku akan mengalahkan ego diriku sendiri, yaitu memohon kepada kamu untuk membantu aku mengalahkan Papa kamu dalam audisi itu."


"Tidak perlu memohon, aku akan langsung melakukan semua itu." Kinan menyukai saat Angga memeluknya.


Tak lama Angga melepas pelukannya, "Kita belum menikah, jadi pelukannya kita akhiri sampai di sini. Aku takut khilaf."


Kinan tertawa kecil.


Angga mengajak Kinan untuk turun ke bawah, "Kita makan siang dulu. Nanti kita bisa bekerja kembali."


Kinan mengikuti langkah Angga namun terhenti ketika berada dekat ruangan bos mereka, "Angga, aku akan mengajak Bu Riana untuk makan siang bersama kita, tampaknya akan menyenangkan bila makan bersama-sama." Seusai mengatakan itu, Kinan langsung menuju ke arah ruangan bos besar.


"Jangan, Kinan! Mereka sedang makan siang bersama. Bila kamu masuk maka mereka bisa marah karena belum sempat menghabiskan makan siang mereka.

__ADS_1


Kinan yang tidak mengerti maksud perkataan Angga yang sebenarnya tetap melanjutkan langkahnya.


"Kinan!" Angga membentak Kinan.


"Angga?" Kinan merasa sedih.


Angga menarik tangan Kinan menuju tembok, "Berjanjilah untuk tidak berteriak."


Kinan malas menjawab Angga.


Akhirnya Angga mendekati Kinan dan berbisik ke telinga Kinan, "Mereka sedang makan siang bersama dengan cara mempraktekkan teori-teori ilmu biologi di atas ranjang, kamu mengerti sekarang?"


Kinan malu mendengarnya, "Baiklah, lebih baik kita segera pergi dari sini."


Angga senang, sekarang Kinan lah yang menarik tangannya sekuat mungkin untuk menjauh dari ruangan laboratorium biologi penuh cinta itu.


Sementara itu di dalam laboratorium biologi yang dimaksud....


"Sayang, aku lelah sekali." Riana berbaring sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Kita tidak makan siang dulu?" Tanya Ranto sambil menangkap tangan istrinya yang menjelajah ke arah dadanya yang tidak ditutupi oleh pakaian.


Riana menggeleng, "Kamu menangkap tanganku!" Riana berusaha melepaskan tangannya


Riana langsung mengerti, "Bahkan kita melakukannya dari pagi hingga siang seperti ini, kamu membuat aku tidak berdaya."


Ranto hanya tertawa, "Maafkan aku, Riana. Aku hanya teramat mencintai kamu."


Riana membuka selimut yang menutupi tubuh mereka yang tidak berpakaian, "Aku mau membersihkan diri dulu."


Ranto berdiri lalu menahan tangan Riana. Dia menggendong istri tanpa pakaiannya ke kamar mandi, "Aku akan membantu kamu. Bukankah tadi kamu katakan bila kamu lelah?" Ranto bertanya sambil mendorong pintu kamar mandi dengan kakinya.


Riana mengangguk, "Bantu aku menggosok punggung, aku malas sekali."


Ranto menurunkan tubuh Riana dengan hati-hati, lalu menyalakan air dan membantu Riana untuk mandi.


"Riana, bagaimana kalau kita menyatukan DNA kita masing-masing?" Ranto bertanya sambil mengusap tubuh istrinya dengan sabun.


Riana mengernyitkan keningnya, "Maksudnya apa, Sayang?"


Ranto langsung masuk ke dalam bathup, "Seperti ini." Dan dia langsung mempraktekkan ilmu biologi tentang penyatuan DNA yang bisa menghasilkan keturunan yang berbeda.

__ADS_1


Selesai makan siang, Angga kembali mengerjakan tugasnya, dia melihat ada beberapa berkas yang harus ditandatangani.


Angga bergegas menuju ke ruangan bos besar, terlihat di sana sepasang pengantin baru itu baru selesai makan siang dengan rambut yang basah.


"Tampaknya kalian suka dengan tempat yang aku desain khusus untuk menikmati hari sambil bekerja." Angga duduk di kursi tamu yang tersedia.


Ranto mengacungkan jempolnya sambil mendekap istrinya, "Kamu yang terbaik, Angga!"


Angga tertawa kecil, "Ini beberapa berkas kerjasama kita dengan rekan bisnis." Angga menyerahkan setumpuk berkas, "Tampaknya siang ini ada rapat dengan mereka, aku harap kamu bersiap-siap. Mereka akan membantu kita menghancurkan perusahaan Lala dalam semalam asalkan kita mau bekerjasama dengan mereka."


Riana terkejut, "Jadi, kamu akan membantu Seno, Sayang?"


Ranto tersenyum kecil kepada istrinya itu, "Siapkan hadiah yang besar untuk suami kamu, Riana, karena aku akan mengerahkan semua kemampuan aku untuk melakukan semua ini. Dan aku akan menerima resiko yang besar bila gagal dalam mengerjakannya."


Riana langsung memeluk suami kesayangannya itu, " Lakukanlah dengan benar, karena aku takut kehilangan dirimu. Masalah hadiah, aku akan menyiapkan dengan sebaik mungkin."


Ranto mengambil tangan istrinya, "Sebaik mungkin dan sebanyak mungkin." Dia mencium tangan istrinya penuh kelembutan.


Angga mengajak Ranto untuk bersiap, "Kamu mengajak Riana atau tidak dalam rapat kali ini?"


Ranto menggeleng, "Kamu bertugas menjaga Riana, aku akan rapat dan menyelesaikan semuanya. Untuk sementara sembunyikan dia, aku takut bila dia nanti menjadi sasaran dari keluarga Lala yang marah perusahaan milik mereka kita hancurkan."


"Riana, kamu bersama Kinan dan aku menunggu suami kamu di ruang aku saja." Angga mengajak Riana.


Ranto segera bersiap menghadapi perusahaan keluarga Lala bersama rekanan bisnisnya yang dia percaya.


Mereka rapat sampai dengan hari menjelang sore. Ranto tersenyum sumringah, tampaknya keberhasilan menghadapi keluarga Lala dan membebaskan Seno dari jerat keluarga mereka akan berhasil.


"Dimana istriku, Angga" Ranto bertanya ketika memasuki ruangan Angga.


Angga menunjuk ke arah ruangan tempat biasanya dia beristirahat, "Riana sedang bersama Kinan. Mereka tertidur setelah saling bercanda, tampaknya kamu tidak membiarkan istri kamu itu untuk tidur sehingga dia kelelahan."


"Aku terlalu menginginkan Riana, Angga. Mungkin besok aku akan memberikan dirinya waktu untuk beristirahat." Ranto memasuki ruangan, terlihat Kinan baru saja bangun


Ranto memberi isyarat kepada Kinan agar bangun dan tidak bersuara, wanita kekasih Angga itu hanya mengangguk tanda mengerti.


Ranto mengangkat tubuh Riana, dia membawa Riana dengan hati-hati menuju mobil mewahnya.


Sesampainya di mobil, Riana yang mencium aroma tubuh suaminya itu terbangun, "Sayang..."


Ranto hanya tersenyum dan mencium kening istrinya dengan rasa sayang, "Maafkan aku, Riana. Aku sudah membuat kamu terlalu lelah melayani kemauan diriku ini."

__ADS_1


Riana kembali ke dekapan pria itu, dia menyukai aroma tubuh suami kesayangannya itu. Sepanjang jalan Riana tersenyum di dalam dekapan hangat pria tampan bertubuh atletis itu.


__ADS_2