
Seno Aji turun dari tempat duduknya, dia menekuk kakinya satu dan yang lainnya di gunakan untuk menopang dirinya.
Seno Aji menggenggam tangan Riana. Seno Aji mengeluarkan sekotak kecil cincin berlian yang indah dari dalam kantong celananya.
"Maukah kamu menikah denganku ?" Seno Aji bertanya penuh kesungguhan.
Riana kaget. Sungguh ini di luar dugaannya.
Seno Aji tersenyum manis kepada Riana, "Soal Lala dan keluargaku tenang saja. Kita akan kawin lari untuk sementara waktu. Bila nanti keadaan sudah membaik, maka aku akan memperbaikinya."
Riana sangat bingung, dia memang menyukai Seno Aji namun hanya sebagai seorang sahabat.
Riana juga banyak di bantu oleh Seno Aji dalam hal apapun. Orang tua Seno Aji juga sangat baik kepada Riana bila dia datang berkunjung ke rumah Seno Aji.
Riana tahu Seno Aji dalam keadaan terpuruk.
"Seno..."
Seno menatap Riana dalam-dalam, "Hanya kamu yang aku inginkan dalam hidup ini, Riana."
"Hanya kamu." Seno Aji mengulangnya dengan sedih. Dia tahu Riana hanya menyukainya bukan mencintainya.
Seno memberikan kotak cincin berlian itu ke tangan Riana.
"Pikirkanlah, bila kamu mau menikah denganku maka aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu seumur hidupku. Aku masih mempunyai tabungan untuk kita memulai hidup baru. Untuk anak-anak kita."
Riana melihat ke dalam manik mata Seno Aji yang hampir mengeluarkan air mata.
Seno tersenyum lirih, "Pikirkanlah, Riana. Berjanjilah untuk memikirkannya."
Riana mengusap dengan lembut air mata Seno Aji yang sedari tadi di tahannya.
Namun.
Lala melihatnya dan mendatangi mereka penuh dengan kemarahan, "Seno Aji!"
Riana dan Seno Aji langsung menoleh. Bahkan beberapa mahasiswa yang masih banyak di kampus pun ikut melihat ke arah mereka.
Lala melepaskan genggaman tangan Seno Aji dan Riana dengan kasar.
Lala menatap Seno Aji, "Kamu melupakan janji kamu, Seno!" Lala mengingatkan.
Seno menggeleng, "Aku tidak bisa menikah dengan kamu Lala. Maafkan aku. Aku akan berusaha membayar segala bentuk hutang keluarga aku. Tapi bukan dengan menikahi kamu."
Lala marah sekali mendengar hal itu, "Apa karena wanita ini?" Lala bertanya sambil menunjuk Riana.
Seno mengangguk, "Dalam hidupku hanya mencintai Riana. Hanya ada nama Riana dalam hatiku. Percuma kita menikah karena tak akan pernah ada cinta di dalamnya untuk selamanya."
Perkataan Seno Aji benar-benar membuat marah Lala.
Lala menarik tangan Riana dengan kasar. Lalu Lala lanjutkan dengan mendorong Riana sampai terjerembab ke tanah.
Darah segar menetes di dahi Riana setelah kepalanya sedikit terbentur pot tanaman yang ada di taman itu.
__ADS_1
Lala berjongkok di samping Riana, lalu di tariknya keras-keras rambut Riana yang belum sempat bangkit.
Seno Aji yang ingin menolong Riana di tahan oleh sejumlah bodyguard Lala yang selalu di bawa kemana-mana.
Seno Aji yang mempunyai kemampuan karate sekalipun tak berkutik ketika di tahan oleh beberapa bodyguard Lala dengan level kemampuan beladiri sama dengan Seno.
Riana lalu di seret ke dalam mobil oleh para bodyguard Lala atas perintah bosnya.
Satpam kampus yang melihat kejadian itu segera mencari pertolongan, dia tahu dirinya tidak akan mampu menolong korban seorang diri, "Aku harus menolong Non Riana, dia anak baik yang selalu membantu aku."
Satpam itu berujar seorang diri sambil berlari-lari kecil mencari siapa saja yang kira-kira mempunyai kekuatan dan kekuasaan lebih.
Karena dia sadar yang akan di hadapi adalah anak-anak yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan lebih.
Satpam itu menghubungi kantor kepolisian melaporkan tindakan yang terjadi.
Satpam itu sambil menelepon tak sengaja melihat Ranto, yang sedang mencari Riana.
"Nak, kamu temannya Non Riana, bukan? Sepertinya saya pernah melihat kalian berjalan bersama ?"
Ranto terdiam, dia heran kenapa satpam kampus menanyakan tentang dirinya dan Riana.
"Nak.." Pak satpam yang sudah mau memasuki usia pensiun itu kembali bertanya.
Ranto menjawab, "Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?"
Ranto yang selalu penuh kewaspadaan.
Pak satpam menjelaskan secara cepat, "Non Riana di bully oleh salah satu anak kampus sini juga beserta para bodyguardnya. Ketua senat kampus ini pun tidak berdaya menghadapi mereka."
Satpam itu mengangguk mengiyakan.
"Lalu tadi Non Riana di seret ke dalam mobil."
Ranto panik seketika.
Ranto segera menghubungi Angga yang tadi mengantarkannya ke kampus untuk berbalik arah kembali ke kampus.
"Angga, cepat balik ke kampus. Posisi bahaya!"
Beruntungnya Ranto karena Angga memaksa mengantarkan ke kampus bersama beberapa orang bodyguard baru karena hari ini adalah hari pergantian bodyguard untuk Ranto yang di datangkan dari agensi langganan mereka.
Para bodyguardnya itu sedang mempelajari kegiatan calon bosnya yang baru.
Angga yang menerima telepon tanda bahaya segera memutar balik kendaraannya di ikuti kendaraan para bodyguard itu yang berjumlah 10 orang, terdiri dari orang-orang pilihan berkualitas tinggi. Soal loyalitas tidak perlu di ragukan lagi.
Angga menelpon ketua tim bodyguard itu yang berada tepat di belakang kendaraannya.
"Tampaknya hari ini ujian masuk untuk menjadi bodyguard yang berkualitas. Tunjukkanlah bahwa kalian memang benar-benar bodyguard yang berkualitas tinggi."
Mobil Angga kembali memasuki area kampus.
Beruntungnya Angga belum begitu jauh mengemudikan kendaraannya, "Bos kalian sedang dalam keadaan bahaya."
Angga mengingatkan mereka, "Bila kalian hadapi dengan baik dan tidak menimbulkan kekacauan yang bisa membuat reputasi nama baik bos terancam, maka kalian akan langsung di terima sebagai bodyguard selama dua kali kontrak sekaligus. Kontrak ketiga akan langsung menjadi bodyguard tetap. Bagaimana, siap rekan-rekan?"
__ADS_1
"Siap!"
Mereka menjawab dengan tegas dan kompak.
Soal masa depan cerah, maka mereka akan kompak.
💰💰💰💰💰
Angga bersiap di mobil menjemput bosnya bersama para bodyguard itu.
Angga takut sekali ketika sahabatnya itu mengatakan dalam posisi bahaya.
🆘🆘🆘
Ranto segera masuk ke dalam mobil, Angga yang sudah menunggu langsung tancap gas mengikuti arahan bosnya.
GPS yang di taruh di kemeja bosnya sangat berguna sekarang.
Riana masih memakai kemeja milik Ranto.
Angga terlihat senang, "Syukurlah Bos tidak apa-apa. Aku pikir Bos yang posisinya dalam bahaya."
Ranto yang sibuk melihat posisi GPS Riana menoleh, "Bila Riana terluka maka aku juga terluka, apa itu yang di sebut tidak apa-apa?"
Angga langsung terdiam melihat bosnya marah seperti itu, "Maafkan aku, Bos."
Ranto masih marah, "Cepat! Mengapa mobil ini jalannya seperti odong-odong. Apa perlu membeli mobil baru?"
Angga melihat spedometer, "Odong-odong mana yang jalannya 200 km/jam?"
😜😜🤔🤔😜😜*
Tak lama mereka tiba di tempat yang di tunjukkan oleh GPS yang masih aktif.
Angga memerintahkan ketua tim bodyguard untuk mengatur strategi. Lawan mereka juga bukan lawan yang mudah.
Setelah menyusun strategi selama lima menit, maka mereka langsung bergerak sesuai arahan ketua tim.
Lala sedang menarik rambut Riana, "Aku tidak suka jika milikku di ambil orang. Dan kamu harus tahu bahwa Seno Aji adalah milikku sekarang. MILIKKU!"
Riana mengangguk lemah, "Iya. Seno Aji milikmu. Hanya milikmu."
Lala tertawa keras, tubuh Riana terjatuh ke lantai sampai kepala terbentur.
Lala memerintahkan para bodyguardnya, "Urus dia ! Terserah mau di apakan. Jangan sampai mati. Buat dia menderita dan menyesal sudah di cintai oleh Seno."
Lala berlalu pergi sambil tersenyum jahat.
Para bodyguard Lala senang melihat seorang gadis cantik yang akan mereka urus.
Salah seorang di antara mereka berujar, "Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita."
Seketika teman-temannya tertawa jahat.
💠💠😘😘💠💠
__ADS_1
Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24