Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 47 (Menghadapi Badai )


__ADS_3


Riana sudah selesai mandi pagi ini, tak lupa suaminya yang mulai nakal itu membantunya di kamar mandi. Durasi mandi Riana menjadi bertambah lama.


"Riana, kamu sebaiknya tidak ikut dalam acara penyerahan perusahaan kepada keluarga aku. Di sana akan ada banyak saudara aku yang akan berkata dengan ucapan yang tidak enak kepada kamu." Ranto memakai jas dibantu oleh Riana.


Riana menggeleng, "Aku mau ikut."


Ranto memeluk Riana, lalu membelai wajah wanita cantik itu, "Aku tidak mau seorangpun menyakiti kamu, Riana."


Riana menatap penuh cinta suaminya itu, "Pegang tanganku dan aku akan sanggup menghadapi badai seberapapun beratnya."


Ranto tidak sanggup berkata-kata lagi menghadapi istrinya itu, "Baiklah! Pegang tanganku dan jangan lepaskan apapun yang terjadi nanti. Jangan pernah pergi dari sisiku."


Angga sudah menunggu di lobi bersama Kinan.


Ranto berbicara sebentar dengan Angga sementara Kinan menemani Riana.


"Angga, kamu sudah siapkan tenaga medis untuk berjaga-jaga?" Ranto tampak khawatir.


"Sudah siap. Mereka sudah menunggu di sana beserta dokter pribadi Riana yang kemarin menanganinya. Rumah sakit sudah menyiapkan peralatan bila memang harus ke sana." Angga meyakinkan sahabatnya itu.


Ranto melihat istrinya yang sedang tertawa bersama Kinan, entah apa yang dibicarakan oleh mereka, "Aku tidak bisa menahannya untuk tidak bisa ikut hari ini. Keluarga aku pasti akan mengintimidasi Riana. Aku takut, Angga. Aku takut kehilangannya."


Angga juga tampak khawatir, "Kita tahu kawan, kita tak pernah bisa menahan Riana. Bila memang dia memaksa ikut, berarti dia sudah menyiapkan diri."


"Baiklah. Kita segera berangkat." Ranto tidak mempunyai pilihan.


Sepanjang perjalanan, Ranto memegang tangan Riana dan memeluknya, "Jangan membuatku khawatir, Riana! Kamu tahu aku selalu takut kehilangan kamu."


Riana memegang jas yang Ranto pakai, "Aku pasti kuat hari ini, Sayang. Jangan lepaskan tanganmu ini!"


Ranto mencium tangan Riana, "Tak akan aku lepas dan jangan mencoba untuk melepaskan tangan ini, Sayang!"


Tiba di perusahaan tersebut, mereka sudah ditunggu di ruang rapat.

__ADS_1


"Papa." Ranto berusaha menyapa ayahnya. Namun tidak dihiraukan.


Begitu pula dengan paman-paman yang lainnya. Mereka memasang wajah tidak suka.


"Sudah papa katakan untuk tidak mendekati wanita! Kamu sudah mempunyai jodoh sendiri yang kami tentukan!" Pak Bondan membentak anaknya itu.


"Jodoh di tangan Tuhan, papa tidak berhak menentukan. Aku merasa Riana adalah jodoh untukku." Ranto berusaha menahan emosi berbicara dengan orang tua yang hanya tinggal sendiri tanpa mamanya yang sudah tiada.


"Papa bisa mencarikan wanita yang lebih baik darinya walaupun tidak lebih cantik darinya!" Pak Bondan tampaknya mengakui kecantikan Riana.


" Aku tidak mau, karena hanya dia yang aku mau. Aku akan memiliki banyak anak darinya, tidak dengan wanita lain." Ranto melihat Riana yang mulai bersedih mendengar papanya tidak menyukai Riana.


"Baiklah! Silahkan tanda tangan surat penyerahan perusahaan ini kepada papa. Keluarga kita tidak menginginkan wanita kamu itu menikmati kekayaan ini. Papa yakin dia akan menyesal telah menikah dengan kamu dan meninggalkan kamu yang sudah miskin. Dia pasti hanya membutuhkan harta kamu saja, yakinlah dengan Papa!" Pak Bondan terus berkeras dengan pasangan ini.


Ranto menarik berkas yang berada di depannya, dan dihadapan pengacara, dia menandatangani pengalihan perusahaan itu. Dengan begitu maka Ranto sudah tidak mempunyai hak dan kewajiban lagi dengan perusahaan tersebut.


Saudara dari keluarga Ranto semuanya tertawa senang, sangat sulit mengambil perusahaan ini dari tangan Ranto dan kali ini demi wanita itu dia mau melakukannya dengan sukarela.


"Baiklah! Aku pergi dulu, bila papah sudah merestui kami maka silahkan hubungi kami. Rumah kami senantiasa terbuka lebar untuk papa, tapi tidak untuk paman-paman!" Ranto berkata dengan tegas.


Pak Bondan hanya diam, sebenarnya dia ingin memeluk anak dan menantu barunya itu walaupun dia bukan wanita yang dipersiapkannya. Namun keegoisan mengalahkan hatinya.


Paman Rian juga mengatakan hal yang sama, "Kami tidak akan meminta pertolongan kamu, mungkin sebaliknya, kamu yang akan meminta pertolongan kami!" Dia berkata dengan nada yang mengejek.


"Papa..." Riana mencoba mencium tangan mertuanya itu namun ditepis oleh Pak Bondan, "Jangan memanggil aku dengan sebutan Papa, kamu tidak pantas untuk menyebutnya!"


Ranto menarik tangan Riana agar menjauh dari papanya, "Ayo, Riana! Mereka tidak membutuhkan itu."


Ranto pergi dengan Riana dari perusahaan tersebut, sebagian karyawan merasa sedih harus berpisah dengan bos mereka yang galak namun loyal dalam memberikan bonus.


Ranto memeluk Riana dalam mobil, "Sabar, Riana. Papa hanya malu mengakui keegoisannya, nanti perlahan papah akan merestui kita. Aku yakin itu."


Riana hanya mengangguk, "Beratnya mencintai kamu."


Ranto tersenyum, "Aku senang hari ini kamu baik-baik saja, aku bahagia Riana."

__ADS_1


Riana mencubit tangan suaminya itu, "Hari ini kamu resmi miskin dan hanya kamu yang bahagia merasakan hal itu."


Ranto tertawa sambil mendekap Riana, "Tampaknya kamu menyukai pria miskin, Riana. Sikap kamu lebih lembut dan ..." Ranto menggantungkan kalimatnya.


"Apa?" Riana penasaran.


"Kamu lebih bergairah melihat pria miskin, Sayang. Bukankah begitu?" Ranto menggoda istrinya itu.


Riana tersenyum kecil mengingat perilakunya saat kemarin memberikan tanda terima kasih, "Apakah aku sedikit nakal?"


Ranto mendekap erat Riana, lalu berbisik, "Sangat nakal, Sayang...Dan aku suka."


Ranto memulai pemanasan kecil di dalam mobil dengan istrinya itu.


Nampak supir mobil itu membalikkan spion kecil yang berada di tengah mobil agar tidak melihat keadaan di belakang. Dia memasang headset agar tetap fokus menjalankan mobil itu.


Ranto mengajak Riana pergi ke perusahaan barunya, "Turunlah, Sayang. Kita sudah sampai."


Riana turun lalu memandang kagum melihat sebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi di hadapannya, "Ini perusahaan baru kamu, Sayang?"


"Bukan." Ranto menjawab sambil menarik tangan Riana untuk memasuki gedung yang sangat megah itu, "Ini perusahaan baru milik kamu, Sayang." Ranto mencium tangan istri cantiknya itu.


"Aku lupa bahwa kamu hanyalah seorang pria miskin, Sayang." Riana meledek suaminya itu.


Ranto tersenyum kecil, "Jadikanlah aku kesayangan kamu, aku hanyalah seorang suami yang miskin."


Riana berhenti melangkah, "Aku akan selalu menjadikan kamu sebagai kesayangan aku, apakah kamu senang, Sayang?"


Ranto memeluk Riana di lobi gedung itu, "Aku selalu bahagia bila bersama kamu, Riana."


Angga dan Kinan berjalan mendahului mereka yang sedang berpelukan.


"Bila kalian mau, aku sudah menyiapkan sebuah ruangan untuk kalian, agar bisa menikmati bulan madu sambil bekerja. Daripada kalian di sini dan membuat aku repot harus melakukan razia gadget!" Angga tertawa kecil melihat kebahagiaan pengantin baru itu.


Ranto langsung menggendong Riana, "Cepat tunjukkan ruangan itu, Angga! Aku sudah tidak sabar untuk bekerja bersama Riana membuat keponakan yang lucu untuk kamu, Angga."

__ADS_1


Riana masuk ke dalam leher suami tampannya itu, "Kamu membuat aku malu."


Follow : dee.reeana.24


__ADS_2