
Pagi ini Ranto kesal sekali karena Angga memaksanya ikut melakukan kunjungan ke proyek di luar kota.
Itu artinya tidak bertemu Riana si kelinci manis itu.
Rasanya itu julukan yang tepat untuk Riana kesayangan.
Ranto jadi tersenyum-senyum sendiri memberikan julukan untuk Riana.
"Kenapa Bos, senyum-senyum saja sendiri dari tadi ?" Angga bertanya sambil menyetir mobil kesayangan Bos.
Membuyarkan lamunan Ranto yang sedang bermain di taman bersama kelinci kesayangannya.
Ranto hanya tersenyum sinis kepada Angga.
Angga geleng-geleng kepala, "Untung sahabat ."
"Sesampainya di sana kita langsung meninjau lokasi." Perintah Ranto.
"Baik, Bos." Angga menjawabnya.
"Sorenya langsung balik." Perintahnya lagi.
"Eh.." Angga menoleh.
"Apa Bos ? Sore kita kembali ke rumah ?" Tampaknya telinga Angga sekarang agak bermasalah.
"Hem." Ranto menjawab dengan irit.
"Kita tidak membawa supir Bos. Bodyguard juga membawa mobil mereka sendiri. Aku terlalu lelah untuk membawa kendaraan selama satu hari pulang pergi. Jadi kita akan menginap terlebih dahulu di hotel. Lagipula aku sudah reservasi hotel.
Panjang sekali perkataan Angga untuk membujuk Ranto.
"Untuk urusan supir tenang saja ada aku." Ucap Ranto sambil melihat gadgetnya.
" Kelinciku, bahkan pagi ini aku sudah rindu padamu." Ranto berkata dalam hati sambil mengusap foto Riana di gadgetnya yang dia ambil saat Riana menonton televisi.
"Kita bergantian, Bos ?" Angga bertanya dengan nada tak yakin.
"Hem."
Angga menganggu kesenangan Ranto yang sedang memikirkan Riana.
"Bos sehat ?" Angga bertanya dengan nada heran.
"Hem."
"Tapi Bos sepertinya sudah lama tidak mengendarai kendaraan sendiri Bos ? Apa SIM ( Surat Izin Mengemudi - baca ) Bos masih aktif ?" Angga bertanya sambil setengah meledek.
Ranto tersenyum sedikit menaikkan ujung bibirnya, "Ini lihatlah ! Bahkan kamu tidak mempunyai SIM seperti ini."
Ranto berkata sambil mengeluarkan SIM dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Angga yang sedang menyetir.
"What...?!"
Angga terkejut.
Ranto tertawa terbahak-bahak, "Bagaimana ? Kamu punya yang seperti itu ?"
Berganti sekarang Ranto yang meledek Angga.
Angga menggeleng lemah.
" Bagaimana bisa Bos mempunyai SIM B2 seperti ini ? SIM ini untuk mengendarai truk gandeng Bos."
Ranto menjelaskan, "Aku belajar dengan supirnya PT Sakti sewaktu kita bekerjasama dengan mereka. Aku iseng saja namun rasanya menyenangkan. Jadi ketika ada waktu luang, aku di pinjamkan truk mereka yang tak terpakai."
Angga mengangguk-angguk mendengarkan penuturan Ranto.
Ranto melanjutkan, "Sesudah cukup mahir aku membuat SIM agar kapan-kapan bisa mengendarai truk besar di jalan raya."
"Jadi Bos mau mengendarai truk besar di jalan raya ?"
" Ya." Jawab Ranto tegas.
Dahi Angga berkerut, "Untuk apa ? Apakah Anda kurang kerjaan, Bos ?" Ucap Angga meledek bosnya sendiri.
"Kamu harus tahu wahai asistenku, bahwa mengendarai kendaraan besar itu membuatku mempunyai kebanggaan tersendiri."
Ucapan Ranto membuat Angga hanya tersenyum kecil.
Hobi yang sedikit luar biasa.
__ADS_1
"Kapan-kapan kamu jadwalkan aku untuk mengendarai truk besar ya !" Titah Sang Raja.
"Kita sewa truk kontainer, Bos ?" Tanya Angga.
" Terserah. Apa tak cukup uang milikku untuk membeli truk kontainer ?"
Angga tertawa, "Mau berapa, Bos ?"
Mereka tertawa bersama.
"Untuk apa membeli truk bila memakainya hanya sebentar." Saran yang baik dari Angga keluar.
"Baiklah. Terserah kamu." Ucap Ranto.
"Bos ?"
Angga bertanya.
" Hem." Jawab Ranto.
"Apa hubungan Bos dengan Riana ?"
Pertanyaan Angga mengagetkan Ranto.
Ranto menoleh ke arah Angga, "Kenapa bertanya ?"
Angga tersenyum.
Ranto waspada, sebab kemarin sewaktu Angga bertemu dengan Riana, mereka saling melempar senyuman.
"Kamu kenal dengan Riana secara dekat ?" Penuh curiga Ranto bertanya kepada Angga.
Angga pun menjawabnya.
"Sewaktu Bos bertengkar dengan Riana, aku adalah orang yang di suruh untuk mencari tahu tentang Riana."
" Benarkah itu." Tanya Ranto tak yakin.
"Susah kalau memiliki Bos yang mempunyai penyakit amnesia."
Ucapan Angga mengundang tonjokan pelan di bahunya.
Mereka tertawa bersama.
Angga melanjutkan pertanyaannya yang tadi tidak di jawab oleh Ranto.
"Dengan Riana maksud kamu ?" Tanya Ranto.
"Betul sekali, Bos." Angga mengangguk yakin.
"Tak ada ." Jawab Ranto mantap.
"Benarkah ? Lalu mengapa Bos memberikan kemeja itu untuk dipakai oleh Riana."
Ranto sedikit terkejut namun mampu mengendalikan dirinya di hadapan Angga.
"Kamu memperhatikan ?"
Angga mengiyakan, "Bos ini bagaimana. Riana itu terlihat cantik memakai kemeja kepunyaan Bos. Ya jadinya pandanganku teralihkan kepadanya."
Dan seketika bahu Angga mendapatkan hadiah berharga dari Ranto untuk kedua kalinya.
"Sakit Bos!" Seru Angga pura-pura kesakitan.
"Lain kali tidak usah memperhatikan Riana !" Titah pria yang galak itu.
Angga meledek, "Pacar bukan, suami juga bukan. Tapi sudah merasa memiliki."
"Riana kekasihku !" Tegas Ranto.
"Sejak kapan, Bos ? Bukankah kalian selalu bertengkar." Tanya Angga bingung.
Ranto tersenyum, "Sejak Riana memakai pakaian milikku."
"Bagaimana bisa begitu, Bos ? Biasanya juga bila bertemu seperti kucing garong sedang bertengkar rebutan ikan."
Angga mengingat setiap pertemuan Ranto dengan Riana.
"Sudahlah ! Banyak bertanya kamu !" Ranto mulai malas bicara.
"Bukan begitu, Bos. Seno Aji saja yang tampan, kaya dan cerdas, tak pernah di terima cintanya oleh Riana." Ujar Angga yang serba tahu.
Ranto jadi teringat Seno, bodyguard abal-abal yang selalu melindungi Riana.
__ADS_1
"Followers media sosial milikku apa sudah melebihi Seno ?"
Angga menjawab dengan senyum yang merekah.
"Tenang saja, Bos. Sudah jauh melebihi Seno. Jangan takut terlewati."
Bagaimana tidak banyak followersnya, semua karyawan kantor pusat dan beberapa kantor cabang yang tersebar di berbagai daerah adalah followers sejati.
Ranto memuji, "Kerja bagus! Walaupun aku tidak tahu apa yang kamu lakukan."
Angga tertawa, "Yang pasti sekitar dua atau tiga bulan uang di rekening agak sedikit berkurang."
Ranto menoleh, "Eh..?!"
Ranto bertanya lagi, "Soal lomba bagaimana ?"
Angga membelokkan setir dengan sangat hati-hati.
"Kita akan ikut turnamen yang sejajar dengan Seno namun berbeda cabang olahraganya saja."
Ranto senang, "Kamu memang bisa aku andalkan. Terima kasih, Angga. Sahabatku."
Angga tersenyum bangga bisa melakukan sesuatu untuk sahabatnya yang galak itu.
"Tenang saja Dude, sebut namaku tiga kali bila kamu mempunyai masalah."
Ranto tertawa kecil, "Apakah akan selesai semua masalah bila menyebut nama kamu ?"
Angga ikut tertawa, "Tidak juga."
Mereka tertawa terbahak-bahak bersama.
"Kita makan di restoran dulu ya, Bos ?" Tanya Angga setelah beberapa saat. Mereka hampir tiba di lokasi.
"Boleh. Tempatnya yang nyaman ya !" Pinta Ranto.
Angga mengangkat jempol tangan kirinya.
"Siap."
Lalu Angga terdiam sesaat.
"Bos ?"
Ranto yang sedang sibuk membaca email yang masuk ke gadgetnya menjawab, "Hem."
Angga melirik, "Apa kamu benar-benar jatuh cinta dengan Riana ?"
Ranto menjawab, "Mungkin."
"Apa kamu tidak mengerti perasaan sendiri ?"
Angga tersenyum geli.
"Aku ingin Riana ada selalu di dekatku, ingin mendekapnya. Aku juga ingin mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa Riana adalah milikku dan tak ingin ada orang lain yang menyentuhnya." Ranto menjelaskan tentang perasaannya.
Angga berucap sambil menginjak rem karena mobil mereka sudah sampai di sebuah restoran, "Itu cinta, Bos !"
Ranto tersenyum senang.
"Kamu siap bertempur dengan Seno habis-habisan ?" Angga bertanya sekaligus mengingatkan.
Ranto menyipitkan matanya, "Maksud kamu ?"
"Seno adalah pecinta sejati. Dia menyukai Riana tanpa memperdulikan para wanita yang mengejarnya. Cintanya terlihat begitu besar untuk Riana. Pandangannya tidak teralihkan sedikit pun." Angga memberitahukan Ranto tentang Seno.
"Dan Seno adalah petarung sejati dalam artian dia tidak akan mundur sampai batas kemampuannya habis."
Angga takut Ranto kalah bersaing dengan Seno yang gigih.
Ranto berkata, "Angga yang terhormat."
"Ada apa, sahabat ?"
Ranto bertanya pelan, "Benarkah kamu adalah sahabat aku ?"
"Seribu persen." Angga menjawab tegas
Ranto menghela nafas, "Tolong bantu aku mengalahkan petarung itu !"
" Eh..!?!?"
💠💠😘😘💠💠
__ADS_1
Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24