Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 13 ( Mantan musuh )


__ADS_3


Angga bergegas ke parkiran mobil setelah selesai kuliah. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk di kantor, di tambah pekerjaan Ranto yang bisa-bisanya mengambil cuti dadakan.


Baru saja Angga akan pergi keluar dari parkiran mobil tiba-tiba dia teringat akan berkas yang harus di tandatangani oleh Ranto.


"Bisa repot kalau tidak di tandatangani hari ini." Angga bergumam sendiri.


Angga kembali memundurkan mobil mewah itu.


Angga bergegas keluar mobil sambil membawa berkas-berkas itu.


Angga menelpon bosnya berkali-kali, namun tak di angkat.


"Ranto ke mana ya?"


🤔🤔🤔🤔🤔


Sementara itu.


"Riana." Panggil Ranto lembut ketika melihat perempuan itu sedang berjalan keluar dari ruangan.


Ranto sudah mengetahui Riana itu kuliah jurusan apa dan semester berapa. Karena sewaktu bertengkar dengan Riana, dia mencari tahu tentang musuhnya itu kepada Angga orang yang paling serba tahu.


Jadi dia mengetahui harus mencari Riana kemana.


Riana menoleh, "Kenapa?Ada perlu apa kamu mencari aku?"


"Tadi pagi aku sudah mengatakan akan mengantar kekasih aku, masa kamu lupa?" Ranto tersenyum maksimal.


"Kekasih kamu ?Lalu hubungannya dengan aku apa?"


"Tadi pagi kita sudah bersepakat bahwa kita adalah sepasang kekasih sekaligus calon suami istri." Jawab Ranto dengan mudahnya melakukan klaim status hubungan mereka.


Ranto memang seperti itu.


Riana yang mendengarnya menjadi kesal dengan rayuan Ranto yang memaksakan kehendak hatinya.


"Semudah membalik telapak tangan?" Riana mengernyit heran.


"Hem." Jawab Ranto.


Riana kesal, "Kamu itu musuh aku! Berapa kali kita bertemu dan tidak pernah akur. Kita musuh. M U S U H !" Riana mengeja kata terakhirnya.


"Mantan. M A N T A N !" Sahut Ranto tidak mau kalah dia juga mengeja kata-katanya.


Ranto tersenyum lalu melembutkan kata-katanya, "Mantan musuh."


"Terserah." Riana malas menghadapi pria kaya tampan yang galak itu.


"Ayolah." Ranto mengajak Riana sambil menarik tangan Riana dan memegangnya dengan erat agar tidak terlepas.


Harus di pegang erat karena Riana selalu berontak bila di pegang tangannya.


"Kamu bilang tempat sewa kamu di sebelah kampus?" Tanya Ranto ketika mereka sedang berjalan bersama.


"Hem." Sahut Riana.


"Kalau begitu kita makan siang dulu ya di restoran depan kampus." Ajak Ranto.


"Celana aku basah karena tadi kehujanan. Aku harus menggantinya, karena kamu meminjamkan bajunya saja."


Ranto berpikir, "Baiklah, kita makan siang di rumah sewa kamu saja."


"Aku tidak boleh membawa orang yang tidak di kenal !" Riana berkata begitu agar pria kaya tampan yang galak itu tidak jadi untuk mengantarnya.

__ADS_1


Ranto tersenyum, "Tenang saja, aku akan memperkenalkan diriku kepada pemilik rumah sewa kamu agar aku bukan menjadi orang asing lagi."


Riana mengalah, "Tak mau kalah maunya menang terus ya Pak!" Sindir Riana.


Ranto tertawa, "Naluri alami."


Ranto menyentuh pipi Riana lembut.


Riana cemberut, "Apaan sih!"


"Itu contoh naluri alami. Asalnya dari dalam diriku. Entah mengapa rasanya ingin sekali melakukan itu."


"Mana ada yang seperti ini! Itu sih bisa-bisanya kamu saja. Dasar pecinta wanita." Riana sewot.


Ranto tergelak. "Lucu sekali kamu. Jadi gemas aku. Kamu sadar tidak kalau kamu manis?" Tanya Ranto.


"Iyalah aku sadar kalau aku itu manis. Naluri alami." Riana meniru Ranto.


Ranto tersenyum mengiyakan.


"Berarti kamu juga sadar kalau kamu tuh cantik sekali hari ini memakai kemeja milikku ?"


"Kamu sedang merayu aku?" Riana bertanya.


"Aku sudah katakan, naluri alami. Bukan maksud untuk merayu." Ranto membela diri.


"Terserahlah." Riana harus sering mengalah menghadapi pria galak itu.


"Bos!"


Suara Angga sang asisten.


"Kenapa kamu masih disini?" Tanya Ranto begitu Angga sampai di hadapannya setelah terlihat berlari-lari.


"Aku lupa kalau ada berkas yang harus di tandatangani." Ujar Angga sambil menyodorkan setumpuk berkas ke hadapan Ranto.


"Berkas kerjasama kita dengan PT Maju Jaya temannya PT Mahligai." Sahut Angga setengah bercanda


"Sejak kapan mereka berteman?"


Angga hanya cengengesan.


Angga melihat ke arah tangan Ranto, "Kenapa tangan kamu memegang tangan Riana. Kalian jadi tampak seperti sepasang kekasih. Atau kalian mau bertengkar lagi di luar kampus ya?"


Ranto tersenyum lalu mencium tangan Riana "Bagaimana menurut pemikiran kamu bila aku seperti ini dengan Riana?"


Angga tersenyum,"Besok aku akan mengurus surat-surat di KUA."


Ranto tersenyum senang dengan sahabatnya yang selalu mengerti, "Boleh."


Riana melotot sambil mencubit tangan Ranto, "Seenaknya saja!"


Ranto tersenyum menatap Riana, "Macan harus aku taklukkan dulu."


Angga tertawa melihat pasangan mantan orang yang musuhan itu.


"Ya sudah." Ranto menuju sebuah mobil lalu menyuruh Angga meletakkan berkasnya di atas kap mobil tersebut.


Angga meletakkan pulpen di depan Ranto.


"Bos, bukannya susah tanda tangan kalau tangan satunya sibuk bekerja?"


Ranto melihat Angga yang sedang melirik ke arah tangan Ranto yang masih memegangi Riana, "Kamu itu asisten aku !Ya kamu yang pegang kertasnya agar aku bisa tandatangan dengan baik !"


"Baik, Bos." Angga mengalah karena tak berhasil menyuruh bosnya.

__ADS_1


Riana menghela nafas melihat kejadian itu, "Pantas ketika bertengkar dengan aku selalu pedas mulutnya. Kasihan asistennya itu.


Riana tersenyum kepada Angga untuk sekedar memberikan semangat menghadapi bos ayam geprek level 20 ini.


Angga membalas senyuman Riana.


Ranto yang tak suka melihat kejadian tersebut langsung kesal.


Dia melihat Angga yang sedang menatap Riana tanpa berkedip.


"Bug" Bunyi kap mobil yang di gebrak sedikit oleh Ranto sehingga mengagetkan Angga dan Riana.


"Cepat kamu ke kantor, nanti banyak pekerjaan yang terbengkalai !" Ranto memerintah.


"Baik, Bos."


Ranto segera menarik tangan Riana lagi untuk mengikutinya berjalan menjauhi Angga.


Angga lalu segera merapihkan berkas tadi sambil mengingat senyuman manis Riana yang tadi tampak cantik memakai kemeja putih namun kebesaran di tubuh wanita itu.


Sebentar.


Angga mengingat sesuatu.


"Tak mungkin Ranto berbaik hati memberikan kemejanya apalagi sama Riana yang jelas-jelas adalah musuhnya." Gumam Angga sambil melihat ke arah bosnya berlalu.


🤔🤔🤔


Riana kesal karena Ranto memperkenalkan diri kepada ibu pemilik rumah. Apalagi ibu pemilik rumah tampak menyukai perkenalan Ranto dan bahkan menyuruhnya untuk sering-sering mampir ke tempat itu.


Mantan musuh Riana itu memang sesuatu.


"Riana, kamu tidak suruh kawan kamu ini masuk?" Tanya Bu Ratmi sang pemilik rumah ketika melihat Ranto tidak di persilahkan masuk oleh Riana.


"Iya Bu, saya sedang bersih-bersih tempatnya dulu. Malu berantakan." Alasan Riana.


Ranto tersenyum.


"Ternyata kamu orang yang suka membuat banyak alasan ya." Katanya sambil memasuki ruangan Riana.


Riana malas menanggapi Ranto, "Aku ganti celana dulu. Sebentar ya!"


" Hem." Kata Ranto sambil melihat-lihat sekeliling ruangan Riana.


Riana sudah selesai berganti celana. Namun dia tidak berganti baju.


Tampaknya Riana menyukai baju itu walau terlihat terlalu besar bila di pakai oleh dirinya.


"Aku sudah memesan makanan untuk makan siang kita." Ujar Ranto.


"Kenapa kamu tidak bertanya dulu apa makanan kesukaan aku? Jangan bilang itu termasuk naluri alami " Protes Riana.


Ranto tersenyum, "Aku tidak tahu apa makanan yang kamu suka. Jadi aku pesan cukup banyak berbagai macam menu. Sebentar lagi akan tiba pesanannya."


Riana lelah bicara dengan Ranto. Selalu kalah.


"Mulai besok aku akan mengirimkan baju-baju aku kesini. Dan kamu harus memakainya bila sedang berkuliah." Titah Ranto.


Seperti raja saja.


"Baju aku juga banyak. Lagipula untuk apa aku harus memakai baju kamu ?" Riana menolak.


"Agar satu kampus tahu bahwa kamu adalah milikku."


💠💠😎😎💠💠

__ADS_1


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2