
Riana masih histeris, hatinya terasa sakit sekali, seperti ada yang menghantam tepat di jantungnya, terasa tajam serta perih menerima kenyataan ini.
Rasanya seperti dunia ini terasa berhenti sesaat, di dalam dada Riana terasa penuh sehingga tidak dapat bernafas, sakit tepat di jantung Riana menimbulkan perih tidak terkira, membuatnya tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri tegak.
Riana terkulai lemas di bantu Nadia dan Kevin, air mata jatuh di pipinya dengan deras dan tak mampu ia kendalikan.
Riana tidak dapat bicara, bibirnya terasa rapat. Rasanya lebih sakit daripada saat Riana di buang oleh keluarganya.
Riana tidak pernah merasakan kasih sayang sebuah keluarga.
Dia harus berjuang sendiri untuk meraih pendidikan, orang tua dan keluarganya sibuk sendiri dengan dunia mereka.
Riana keluar rumah untuk mencari pendidikan yang lebih baik untuk masa depan dirinya. Sambil berjuang mencari sesuap nasi.
Dia sering kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa di beli.
Riana semakin kacau, dia merasa dunia ini runtuh. Nadia sedih, "Riana, sabar ya." Ucapnya sambil ikut meneteskan air mata.
"Nadia, tolong bantu aku mengangkat Riana ke dalam. Sepertinya kita perlu memanggil dokter." Ujar Kevin.
Kevin menghubungi dokter keluarganya.
"Nadia, nanti tolong temani Riana terus ya, hibur dia, jangan tinggalkan untuk sementara waktu. Tampaknya dia terlalu shock. " Kevin berpesan kepada Nadia.
Nadia mengusap-usap kepala Riana dengan sayang.
"Apa Riana terlalu mencintai Theo ? " Tanya Kevin.
Nadia menghela nafasnya sambil memandang Kevin, "Aku tidak pernah punya cinta seperti dirinya, aku belum pernah mencintai dan melihat orang yang mencintai orang lain seperti dirinya. Bertahun-tahun Riana mencintai Theo dalam diam, sampai akhirnya dia dan Theo sama-sama mengetahui isi hati mereka. Aku rasa Riana terlalu jatuh dalam cinta. Sampai hari ini Riana mendapati kenyataan yang membuatnya jatuh sampai ke dasar jurang."
Tidak lama dokter yang di panggil sudah datang dan memeriksa Riana. Dokter mengatakan kalau Riana sebenarnya secara fisik tidak ada yang perlu dikhawatirkan, namun perlu pendampingan untuk sementara.
Lama mereka menunggu Riana merasa lebih baik.
"Aku ingin pulang, Nadia." Riana berkata setelah terdiam beberapa waktu. Matanya bengkak. Tampaknya Riana sudah kembali dari dunia kesedihannya.
"Tampaknya kacamata hitam milikku akan berfungsi untuk beberapa bulan." Canda Riana sambil tersenyum getir.
"Kalian yakin akan pulang? " Tanya Kevin.
Nadia menoleh melihat Riana yang mengangguk, "Kalau Riana yakin, maka aku juga yakin. Dia tak akan mau kalau aku terluka." Ujar Nadia sambil tersenyum pada Riana yang disambut acungan jempol.
__ADS_1
Mereka lalu pamit.
Sepanjang perjalanan, Nadia selalu memeluk Riana, untuk sekedar menguatkannya. Nadia tahu sebenarnya Riana hancur.
Sesampainya mereka di rumah, Riana langsung mandi dan lanjut merebahkan tubuh ke kasur kesayangannya.
Nadia sudah selesai membersihkan diri, dia melihat Riana yang terdiam sambil memegang dadanya. Tak menangis.
" Aku tahu kamu memang seperti itu, Riana. Mencintai dalam diam. Menangis pun dalam diam." Batin Nadia.
Dipeluknya tubuh Riana, "Riana, kamu yang kuat ya, masih banyak yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini."
Riana mengangguk sambil tersenyum kecil.
Nadia tersenyum senang, " Aku belum mencapai cita-cita aku jadi artis terkenal. Bahkan kita belum menyelesaikan kuliah kita. Kalau kamu terpuruk nanti siapa yang akan menjadi manajer aku ?"
Riana tertawa kecil, "Baik, aku siap menadi manajer artis dengan bayaran termahal."
"Tidak perlu meledek." Jawab Nadia.
"Aku serius, Nadia idola para netizen." Riana tertawa.
Nadia senang melihatnya Riana bisa tertawa kembali.
"Rasanya seperti mimpi buruk." Sambungnya lagi.
"Ingat, ada aku." Ujar Nadia.
" Ya, tolong bantu aku. Bantu aku menghadapi dunia. Bantu aku mengobati luka hati ini. Bantu aku untuk tetap berdiri menghadapi dunia." Pinta Riana.
"Selalu." Jawab Nadia tegas.
Riana memandang Nadia, "Dan satu lagi."
Nadia menjawab, "Apa ?"
Riana tersenyum, "Tolong lepaskan pelukanmu, aku masih normal, masih butuh kehangatan laki-laki."
Nadia tertawa sambil mencubit pinggang Riana, "Dasar! Aku juga masih normal, masih butuh belaian laki-laki."
Mereka berdua saling mencubit sambil tertawa.
Setelah selesai bercanda, Nadia memandangi sahabatnya itu, " Mudah-mudahan Riana baik-baik saja. Tegar diluar namun rapuh didalam. Aku tahu kamu berpura-pura tertawa dan tersenyum hanya untuk menyenangkan hati aku. Kamu tidak mau aku mengkhawatirkan dirimu yang sedang jatuh. Aku akan menemanimu melewati badai ini. Kamu terlalu sering menderita Riana."
__ADS_1
Riana melihatnya," Tidak usah mencemaskan aku, Nadia." Riana berkata seolah-olah mengetahui apa isi pikiran Nadia.
Nadia berpesan, "Berjanjilah untuk baik-baik saja, Riana."
"Aku akan berusaha, walau sulit menerima kenyataan ini." Riana berkata dengan lemah
"Aku hanya merasa menjadi orang yang bodoh, orang yang tidak tahu apa-apa tentang orang yang aku cintai, orang yang aku harapkan di setiap mimpi aku. Benar kata Theo, harusnya aku dari dulu langsung saja bilang jika aku memang mencintainya atau paling tidak menunjukkan sinyal-sinyal tanda ketertarikan pada Theo, sehingga dia tidak sungkan merubah status kami dari kata pertemanan menjadi sepasang kekasih."
Riana menelan ludah, "Aku terlalu memendam perasaanku pada Theo, mencintainya sepenuh hati dalam diam, dalam duniaku sendiri."
Diam. Keheningan terasa.
Ada nada yang terdengar perih di setiap kata-kata yang dilontarkan Riana.
Kata penyesalan yang terdengar perih.
Riana melanjutkan, "Nanti apabila suatu saat hatiku sudah merasa baikan dan menyukai seorang pria, aku akan memberi sinyal tanda cinta yang jelas, bila perlu aku akan katakan kepada seluruh dunia kalau aku begitu mencintainya."
Riana tersenyum dan tertawa.
"Aku akan jadi penonton yang baik jika memang seperti itu." Nadia mengingatkan.
Riana mengigit bibirnya, "Minggu besok akan ada demo di kampus kita, buat ingin ikut berkumpul di aula kampus sekitar jam 6 pagi."
"Mengapa pembicaraan kita sekarang mengarah ke acara demo ? Apa kamu ingin mengikuti acara demonstrasi semacam itu ?" Nadia bingung.
Nadia menambahkan, " Itu demo besar-besaran, Riana. Demonstrasi menolak Pak Udin yang punya istri dua dan genit sama mahasiswi-mahasiswi cantik itu mencalonkan diri menjadi rektor di kampus kita. Kamu harus siap fisik dan mental. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi walau judulnya itu adalah demonstrasi damai."
Nadia mengingatkan.
"Tenang saja, Nadia. Aku akan menjaga diri. Aku memang perlu ikut berdemonstrasi." Ujar Riana.
Nadia menatap Riana, "Harus?"
"Ya, aku ingin ikut demonstrasi menolak kenyataan hidup aku yang pahit ini." Sahut Riana asal.
Nadia diam.
"Riana, kamu harus semangat."
Riana tertawa, "Iya, semangat ikut demonstrasi barangkali bertemu jodoh."
Mereka tertawa bersama. Berusaha menghilangkan kesedihan.
__ADS_1
Follow me 📝✍️ dee.reeana.24