
"Pagi mba Riana. Mau berangkat kuliah ya ?" Sapa Bu Ratmi.
Riana tersenyum, "Iya, Bu."
Bu Ratmi berpesan, "Jika mas tampan datang, jangan lupa untuk undang saya ya !"
" Eh..?!" Riana menjadi bingung.
"Ibu-ibu lain juga berpesan bila di undang lagi mereka siap dan bersedia."
Riana hanya bisa tersenyum, "Pria tampan rasa sambel ayam geprek sudah menjadi idola ibu-ibu disini."
"Iya Bu, permisi ya saya mau berangkat dulu ke kampus." Riana mengakhiri obrolan.
"Iya, mba Riana."
😊😊😊
Riana menyusuri jalan dan tak lama tiba di kampus.
Ini enaknya tinggal di sebelah kampus.
Riana menghirup udara pagi dan menikmati matahari yang baru mulai bersinar.
"Riana!"
Suara Seno.
Riana menoleh melihat Seno yang berlari-lari menghampiri dirinya.
"Hai, Seno." Sapa Riana setelah Seno tiba di hadapannya.
Seno tersenyum senang, "Hai juga Riana, apa kabar ?"
"Kabar baik." Jawab Riana.
"Beberapa hari kita tidak bertemu, aku jadi rindu sama kamu, Riana." Seno mengucapkan dengan jelas agar Riana membalasnya.
Riana hanya tertawa kecil, "Ya."
Seno cemberut, "Jadi, apa kamu juga rindu sama aku, Riana ?"
Riana ingin menjawabnya, "Aku.."
"Seno!" Lala memanggil Seno dengan keras dan memotong kata-kata yang akan di ucapkan oleh Riana.
Riana dan Seno menoleh.
"Seno, kamu kemana saja sih? Beberapa hari ini aku cari-cari tak pernah ada. Kalau aku hubungi lewat telepon di angkat ya, Seno kesayangan."
Lala mengucapkan itu sambil bergelayut mesra di lengan Seno.
"Seno, penggemar kamu bertebaran dimana-mana. Apalah arti diriku ini yang cuma seekor nyamuk malaria." Batin Riana.
Seno berusaha melepaskan tangan Lala yang merusak suasana.
"Seno, aku duluan ya. Mau hitung-hitungan keripik yang sudah laku terjual dengan Pak Koli di kantin." Riana pamit kepada Seno sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Seno yang ingin menahan Riana di tarik tangannya oleh Lala, "Kamu sudah janji dengan papa aku, Seno!"
Seno hanya bisa menghela nafas menahan kesal.
😣😣😣
Riana hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat tingkah laku para penggemar Seno Aji.
Ya salah satunya Lala, yang tadi sudah bergelayut mesra dengan Seno di hadapan Riana.
"Riana." Desma memanggil Riana yang sudah selesai hitung-hitungan keripik yang laku dengan Pak Koli di kantin.
Riana menoleh sambil memasukkan uang pendapatannya ke dalam tas.
"Ada apa, Des ?" Tanya Riana.
"Sebaiknya kamu lebih hati-hati bila ada Seno dekat-dekat dengan kamu ?" Ujar Desma langsung mengingatkan Riana.
Riana keheranan, "Memangnya kenapa, Des? Dari dulu aku dekat dengan Seno."
Desma mendekatkan diri lebih rapat dengan Riana, "Masalahnya adalah Seno itu sekarang tunangannya Lala. Dan Lala itu over protektif betul dengan Seno."
Riana tertegun, "Sejak kapan Seno Aji bertunangan dengan Lala?"
Desma mengunyah roti yang di bawanya dari rumah, "Kemarin sesudah acara demonstrasi di kampus kita. Aku di undang oleh Lala, padahal aku bukan teman akrabnya. Mungkin Lala mau menunjukkan kepada kamu secara tidak langsung melalui aku kalau Seno itu sudah menjadi calon suaminya."
Riana terdiam, "Aku tidak di beri tahu oleh Seno. Biasanya hal apapun tentang dirinya maka dia akan memberitahukan kepada aku tanpa ada jeda waktu."
Desma tersenyum sambil mencubit pipi Riana.
"Kalau soal pelajaran kamu cerdas, giliran soal percintaan kamu nol besar. Kalah sama aku." Ujar Desma sambil sedikit menyombongkan dirinya sendiri.
Riana mengacungkan dua jempolnya untuk Desma, "Kamu yang terbaik."
"Riana, aku serius soal yang tadi."
Riana berhenti tertawa, "Iya, aku mengerti. Aku juga pernah dua kali di marahi oleh penggemar Seno Aji yang bernama Noni dan Cintya."
Desma menarik nafas, "Iya, aku tahu soal yang itu. Dan sepertinya bila dengan Lala maka kamu akan menjadi bulan-bulanan dia saja.
Riana tersenyum sedih, "Padahal kamu tahu kan bila aku bukan kekasih Seno Aji ?"
Desma mengangguk, "Satu kampus juga tahu kamu bukan kekasihnya, melainkan Seno hanya penggemar berat kamu."
Riana mencubit kecil tangan Desma, "Bisa saja kamu."
"Memang benar bukan? Seno selalu mengejar-ngejar kamu dan mengatakan seribu kata cinta yang manis." Desma mengucapkan dengan sedikit kesal.
Lalu Desma melanjutkan, "Dengan kelakuan Seno yang seperti itu kepada kamu, menyebabkan kamu di jadikan bulan-bulanan oleh para wanita penggemar garis kerasnya Seno Aji."
Riana hanya bisa tersenyum kecil dan sedih, "Iya, berapa kali aku bilang untuk menjaga jarak sebatas teman. Padahal aku selalu menganggap dia adalah kakakku yang selalu bisa melindungi aku. Lalu bagaimana soal Lala ya ? Aku tak punya keberanian untuk menghadapi dia." Riana bertanya dengan Desma. Barangkali dia mempunyai solusi.
Desma memberi saran, "Kamu cukup menghindar saja dari Seno Aji sebisa mungkin sampai mereka menikah."
Riana hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, "Itu lebih sulit di bandingkan dengan mengerjakan tugasnya Pak Romli."
"Iya. Seno itu tak mengerti bahwa dengan sikapnya terhadap kamu itu juga menambah beban kesulitan untuk dirimu, Riana." Ujar Desma.
"Ya sudah Des, sebisa mungkin aku akan menghindari Seno Aji." Ujar Riana.
__ADS_1
Desma tersenyum senang, dia takut Riana akan di permalukan oleh Lala dan teman-temannya.
"Ayolah, kita ada kelas !" Desma mengajak Riana.
Riana mengangguk, "Iya, ayo Desma! Tapi sebelum itu kamu mau ya membantu aku untuk sebisa mungkin menghindari Seno."
Desma memasang jempolnya untuk Riana, "Siap. Aku akan membantu kamu sampai Seno menikah dengan Lala tiga bulan lagi."
Riana terkejut, "Tiga bulan lagi mereka akan menikah ?"
"Begitu berita yang kemarin di umumkan di acara pesta pertunangan antara Seno dan Lala." Desma menjelaskan.
"Ya, sudahlah. Aku benar-benar tak di anggap sahabat oleh Seno. Dia bahkan tidak memberitahukan kepada aku tentang jalinan hubungannya dengan Lala sampai tiba-tiba bertunangan." Riana tersenyum kecut.
"Sabar saja, Riana. Stok persediaan laki-laki di kampus ini banyak. Satu hilang dua terbilang."
Desma tersenyum geli.
"Mengapa urusannya menjadi stok laki-laki?" Riana mencubit pinggang Desma sambil melangkah keluar dari kantin.
"Setelah Seno tidak mengejar-ngejar kamu, aku yakin akan banyak daftar laki-laki yang akan mengejar kamu. Mereka selama ini merasa tidak enak dengan Seno Aji jika harus bersaing untuk mendapatkan kamu." Desma mensejajarkan langkah kakinya dengan Riana.
"Seperti kemarin..." Desma menggantungkan kalimatnya.
"Kemarin?" Tanya Riana penasaran dengan kalimat yang di gantungkan oleh Desma.
"Kemarin ada yang sedang berdua di kantin kampus pagi-pagi, apalagi sedang hujan lebat.
Desma menggoda Riana.
"Kamu mengintip ya?" Tanya Riana.
Desma menggeleng, "Bukan mengintip, hanya tak sengaja melihat. Siapa dia Riana ? Bukankah kamu tidak mempunyai pacar, tapi kenapa bisa bermesraan dengan laki-laki tampan."
"Siapa yang bermesraan ?" Riana masih mencoba mengelak.
Desma tidak peduli, "Wajahnya seperti familiar buat aku, tapi siapa ya ?"
Desma memegang jidatnya seolah-olah sedang berpikir keras, "Angga ...ya Angga, anak mahasiswa pascasarjana yang super tampan dan keren itu. Dia bosnya Angga bukan ?"
Riana tertawa kecil, "Otak kamu itu langsung menyambung bila berhubungan dengan yang tampan."
Desma ikut tertawa, "Angga laki-laki idaman aku, Riana. Jelaslah aku tahu. Jadi benar bukan, dia itu bosnya Angga ?"
Riana menyahut malas, "Hem."
Desma tersenyum senang, "Kamu pintar Riana, memilih berlian di antara emas. Jangan di lepas. Pepet terus."
Riana tertawa, "Ada-ada saja kamu, Des."
Desma merapihkan rambutnya sambil berjalan, "Kamu sama bosnya, aku sama Angga."
"Iya, terserah kamu saja Des, mau bilang apa."
"Ih, kalau di beri tahu kamu selalu begitu. Eh... itu sepertinya Pak Eko dosen kita. Cepat Riana !"
Desma menarik Riana untuk berlari bersama setelah melihat Pak Eko yang hampir tiba di kelas.
Terpaksa mereka berlari bersama.
__ADS_1
💠💠😘😘💠💠
Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24