Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 08 ( Sudah Mencintaimu )


__ADS_3


Setelah bernegosiasi dengan beberapa kali mendapatkan kegagalan, akhirnya Angga mendapatkan master karate yang mau mengajarkan orang dewasa.


Mendapatkan master badminton untuk menjadi guru privat Ranto lumayan mudah.


Hal ini di karenakan Ranto juga sudah mencapai level yang mumpuni dalam bidang olahraga badminton.


Walaupun begitu tetap ada kesulitannya yaitu untuk mengatur waktu latihan Ranto yang super padat dengan jadwal bisnis.


Keinginan Ranto yang ingin mengalahkan Seno terlalu besar.


Angga geleng-geleng kepala membayangkan kelakuan Ranto.


Hanya tinggal menyelesaikan persoalan followers.


Ranto itu keinginannya foto di media sosial bagus lalu postingan mendapat banyak perhatian dari netizen tapi paling susah untuk berfoto ria.


Angga memijit keningnya, "Bila seperti ini rasanya lebih baik aku mengerjakan proyek di luar kota yang jauh sekalian."


Angga masih pusing menghadapi rengekan fotografernya yang protes Ranto tidak mau di foto hari ini.


"Dodi, jangan pulang ! Kamu harus berhasil mengambil gambar Ranto." Ujar Angga.


Dodi, sang fotografer memasang muka kesal, "Kalau Angga sudah bicara seperti ini aku bisa apa. Aku pasti kalah. Bisa marah besar, Ola istri kesayangan aku di rumah bila tidak membantu Angga, karena mereka adalah sahabat dekat. Dan aku mendapatkan Ola juga karena bantuan Angga. Mau tidak mau memang harus mau."


Dodi mengalah, "Baiklah. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Mungkin bila Ranto tidak mau, aku akan mencoba strategi secara tersembunyi. Aku harus di beri izin untuk terus mengikuti Ranto kemana saja dia pergi. Jadi apapun kegiatan Ranto, aku akan mengambil gambarnya. Nanti aku akan memilihkan gambar yang terbaik."


Angga tersenyum senang.


"Kamu yakin, Dodi ?" Tanya Angga sekali lagi, sebab bila followers Ranto tidak bertambah maka Angga yang tidak bisa tidur.


"Aku rasa netizen sekarang lebih menyukai foto tentang kehidupan yang sebenarnya." Jawab Dodi mencoba untuk meyakinkan Angga.


Angga mengangguk tampak setuju dengan pernyataan Dodi.


Dodi menambahkan, "Bukankah kamu pernah mengatakan bila postingan foto kaki Ranto yang memakai sendal jepit saja banyak mendapatkan tombol like dari netizen ?"


Angga menjawab, "Iya, itu bahkan foto yang di ambil secara tidak sengaja."


"Itu dia, kita ambil strategi seperti itu. Susah sekali mengatur Ranto untuk pengambilan gambar. " Dodi sudah mendapatkan ide keren menurutnya.


Klien Dodi kali ini memang merepotkan, harus menerapkan strategi-strategi tertentu. Seperti mau berperang saja.

__ADS_1


Dodi tersenyum sendiri, "Jangan lupa katakan kepada Ola kalau aku ini membantu kamu mati-matian. Meninggalkan semua jadwal pemotretan aku dengan para artis terkenal hanya demi membantu teman Ola."


Angga tersenyum, " Rupanya dia masih cari-cari perhatian pada istri sendiri. Padahal Ola juga sudah cinta berat sama Dodi. Dasar pasangan aneh."


"Kamu adalah Naruto zaman milenial, yang membantu semua orang." Angga berkata sambil tersenyum.


Dodi mengangguk, "Akulah Naruto."


Angga tertawa terbahak-bahak.


"Deal, Naruto!" Jawab Angga.


Dodi ikut tertawa.


😜😜😜


Angga rasanya lelah sekali menyelesaikan pekerjaan dalam rangka menyenangkan hati Ranto.


"Baiklah. Langkah pertama menjadi pemuja cinta sejati. Bersaing dengan Seno pasti akan menarik perhatian Riana. Karena kehidupan Seno itu tidak jauh-jauh dari hidup Riana. Semua yang dilakukan Seno adalah untuk membuat Riana terpesona, semua orang juga mengetahui hal itu. Dan aku yakin Ranto melakukan ini semua hanya untuk menarik perhatian Riana." Angga berbicara sendiri.


💠💠


Hari-hari Ranto sekarang bertambah sibuk dengan jadwal kegiatan olahraga. Sudah mengurus perusahaan itu melelahkan, lalu jadwal kuliah yang lumayan menguras konsentrasi.


Sekarang ada jadwal latihan badminton yang bertambah padat serta jadwal latihan karate.


Demi misi untuk mendapatkan followers melebihi Seno yang membuat harga dirinya jatuh sewaktu baku hantam. Karena semua orang termasuk Riana membela Seno, ketua senat.


"Semua baik-baik saja, Bos ?" Tanya Angga ketika dia memasuki ruangan bosnya yang sedang melamun.


"Hem." Jawaban dari Ranto yang padat, singkat namun tidak jelas.


Angga menjelaskan jadwal bosnya, "Besok kita harus ke GOR untuk mengikuti lomba olahraga badminton tingkat kotamadya."


"Hem." Jawab Ranto sambil merapihkan berkas di meja yang sudah selesai di tandatangani.


Angga memaklumi sikap Ranto, "Bos sudah siap? Bos harus menang di tingkat kotamadya ini, agar kita bisa menjadi wakil dalam mengikuti lomba tingkat selanjutnya."


"Hem." Ranto tampak enggan menjawab semua ocehan Angga.


Angga tetap menjelaskan lagi walaupun seperti di acuhkan oleh Ranto, "Kita akan bertemu dengan Tomi yang merupakan teman dekat Seno di lomba badminton itu."


Ranto masih acuh. Seperti tak tertarik.

__ADS_1


Angga tahu apa yang akan membuat sahabat sekaligus bosnya itu tertarik, "Biasanya Riana akan hadir memberi semangat untuk Tomi karena mereka itu pernah satu klub badminton dan satu SMA."


Ranto menoleh, "Benarkah ?"


Angga tersenyum, "Di mana ada Riana, maka di sana ada Seno juga. "


Dan seketika Ranto tersenyum sinis, "Kita lihat saja, aku pasti menang agar mereka merasa sia-sia dan menyesal datang melihat pertandingan sahabatnya itu. Dan mereka akan lihat sendiri bagaimana aku menang."


Angga mengingatkan, "Jangan terlalu emosi di sana Bos!"


Ranto menoleh, "Maksudnya?"


"Bukankah kamu katakan saat bertengkar dengan Riana membuat kamu menjadi baku hantam dengan Seno ? Yang aku tahu Seno akan memusuhi semua orang yang menyakiti Riana, pujaan hati Seno." Jelas Angga panjang lebar.


Seketika Ranto melempar berkas-berkas yang tadi sudah di tata oleh dirinya sendiri.


Berantakan lagi.


Angga menyesal sudah mengatakan hal itu.


Ranto meninggikan suaranya, "Belum bertemu saja aku sudah kesal dengan wanita itu. Dia penyebab semua ini ! Belum kenal saja sudah merepotkan."


Angga diam saja.


Ranto melanjutkan amarahnya, "Apa alasan teman-teman di kampus bisa menjadikan mereka idola?"


Meja menjadi sasaran amarah Ranto.


"Sudah terkontaminasi otak mereka semuanya oleh Riana dan Seno."


Angga hanya bisa diam saja. Malas kalau menanggapi si bos yang sedang marah.


Marahnya bos sama dengan menjatuhkan dirinya ke dalam kerepotan yang hakiki.


"Riana cantik dan Seno tampan, Bos. Dan sepertinya Bos cemburu dengan kedekatan mereka berdua."


Ranto terlihat tidak suka, "Cemburu ? Riana bahkan bukan kekasih aku, Angga. Bagaimana aku bisa cemburu ?"


Angga tersenyum, "Justru karena itu, kamu ingin menjadi kekasih Riana namun Seno selalu menghalangi."


Ranto melihat ke arah jendela ruangannya, "Aku hanya senang melihat kecantikannya. Dan juga senyum khas yang Riana miliki, bukan mencintainya apalagi ingin menjadikannya kekasih. Dia wanita keras kepala dan suka membantah."


Angga tersenyum, "Sentuh dada kamu jika berdekatan dengan Riana, rasakan sesaat. Jika jantung kamu terasa berdetak kencang maka kamu sudah jatuh cinta kepada dirinya. Namun jika tidak merasakan apapun, maka itu hanya sekedar kagum."

__ADS_1


♥️♥️💘💘♥️♥️


Follow me 📝 ✍️ dee.reeana.24


__ADS_2