
Ranto melihat berkas-berkas somasi yang di buat oleh Pram, "Sepertinya kita akan memiliki kasus hukum dari rekaman fitness center, kamu siapkan semuanya, Pram !"
Pram mengangguk, "Baik, Pak. Saya akan menyiapkan semuanya bersama rekan-rekan."
Riana yang duduk di pojok sofa terdiam. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Ranto melihat Riana, "Jangan berpikir untuk berpetualang lagi, Riana !"
Riana menggeleng, "Tidak, aku memikirkan kamu."
Angga tersenyum mendengar Riana yang sedang merayu sahabatnya itu.
Ranto sebenarnya senang, namun dia tidak mau terkecoh oleh Riana, "Terakhir kamu bergelayut mesra di tanganku membuat aku hampir kehilangan kamu! Jangan mencoba merayu aku!"
Riana kesal.
Ranto mendekat, "Jangan cemberut! Katakan apa yang kamu pikirkan? Sepertinya aku harus mengikuti petualangan kamu supaya bisa memastikan kalau semua akan baik-baik saja."
Riana tersenyum, "Benarkah?"
Ranto menarik Riana ke dalam dekapannya, "Apapun untuk kamu, Riana."
Angga tertawa, "Sepertinya Riana sudah menyihir kita semua agar kita menuruti kemauannya."
Ranto merangkul Riana dengan mesra, "Riana, benar apa yang dikatakan oleh Angga, kamu itu penyihir."
Riana menambahkan, "Apakah aku penyihir yang cantik, Sayang?"
Ranto menggenggam tangan Riana, "Tentu saja. Kamu yang nomor satu."
Riana tertawa kecil mendengar kekasihnya yang merayu dirinya.
Riana menanyakan satu hal, "Sayang, apakah perusahaan kamu adalah yang terbesar satu negara ini?"
Ranto mengangguk, "Nomor satu dan terbaik!"
Riana memeluk kekasihnya yang tampan itu, "Bisa membuat bangkrut perusahaan orang dalam waktu satu malam?"
Ranto senang Riana manja seperti ini, "Aku memiliki Angga Bondowoso. Tidak kalah dengan Bandung Bondowoso yang bisa membuat seribu candi dalam waktu satu malam."
Riana mengecup pipi Ranto, "Apakah kamu mencintai aku dan mau melakukan segalanya untukku?"
Ranto berpikir, "Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Riana!"
Riana memeluk Ranto dengan erat mendengar suara Ranto yang membentaknya.
Ranto melihat kekasihnya yang ketakutan, "Maafkan aku, Riana. Aku hanya takut kamu akan membahayakan dirimu."
__ADS_1
Riana mengangguk, "Aku tahu."
Ranto tidak tega melihat Riana, "Dengar sayang, aku mencintaimu dan bersedia melakukan apapun untuk dirimu."
Riana senang, "Terima kasih, sayang."
Ranto menatap Riana, "Jadi, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa berpetualang bersama?"
Riana mengecup bibir Ranto, "Buat pria itu bangkrut dalam waktu semalam."
Ranto tersenyum, "Kelinci kecilku sedang berubah menjadi singa."
Angga tertawa, "Bukankah kalian seperti berjodoh."
Ranto mengecup tangan Riana, "Tapi sekarang agak sulit Riana, walaupun aku bisa membuatnya bangkrut dalam semalam namun kita akan terkena masalah karena rekaman itu akan beredar. Aku tidak masalah namun bagaimana dengan kamu?"
Riana tertawa kecil, "Aku tidak takut!"
Ranto memegang tangan kekasih cantiknya itu, "Sayang,..."
Riana memeluk Ranto, "Bukankah aku ini Bolang Cantikmu?"
Ranto menatap ke dalam mata Riana, "Kamu memang Bolang Cantikku."
Mereka saling menatap penuh cinta. Apa daya buat Angga yang hanya mengontrak.
Riana mengusapkan kepalanya ke dada Ranto, "Aku memiliki rekaman kita! "
Ranto terkejut, "Apa maksud kamu, Riana?"
Riana memasukkan tangannya ke belakang pinggang Ranto, "Aku menyuruh Kinan untuk membeli gadget yang sama persis dengan milik pria itu, lalu aku dan Kinan menukarnya saat dia membuatkan kami minuman. Jadi gadget yang dia pegang sekarang adalah gadget yang aku baru beli dengan menyuruh Kinan. Gadget baru tanpa ada kartu dan tanpa ada memori."
Riana bangkit lalu mengambil sesuatu yang dia letakkan di dekat televisi, "Ini, gadget miliknya. Coba lihatlah!"
Ranto mengambilnya dan menyuruh Angga membukanya.
Angga terpana, "Ini memang milik Jodi."
Ranto menatap Riana, "Kamu membahayakan dirimu hanya untuk mengambil gadget miliknya, Riana!"
Riana mengusap air matanya yang akan menetes, "Aku terlalu mencintaimu, Sayangku. Sangat, sangat mencintai kamu. Aku tidak mau kamu terlibat masalah hanya karena aku!"
Ranto menarik Riana ke dalam dekapannya, "Maafkan aku, seharusnya aku yang melakukannya."
Riana menggeleng, "Pria itu tidak akan membukakan pintunya bila kamu yang datang."
Ranto mengusap wajah Riana, "Aku sangat mencintaimu."
Angga tertawa kecil, "Sudahlah, kalian itu sama-sama saling mencintai."
__ADS_1
Ranto menghentikan tawa Angga, "Segera hubungi rekan bisnis yang berhubungan dengan pria kurang pelajaran itu! Buat mereka menyetujui untuk menarik saham maupun kerjasama dengan perusahaannya! Kamu dengar Angga!"
Angga tersenyum kecut, "Siap, Bos!"
Ranto menambahkan, "Dalam semalam, Angga!"
Angga tertawa sambil berlalu pergi ke ruang kerja dalam apartemen itu, "Akulah Angga Bondowoso!"
Riana masuk ke kamar Angga diantar oleh Ranto, dia ingin melihat keadaan Kinan, "Kinan, apa keadaan kamu sudah lebih baik? Maafkan aku yang melibatkan kamu dalam bahaya."
Kinan tersenyum sambil bangkit dari tempat tidur Angga, "Aku sudah lebih baik, Pak Angga membantu aku tadi. Jangan merasa bersalah dengan kejadian tadi, aku mengagumi kamu, Riana. Sehingga membuat diriku ingin mengikuti segala jenis petualangan yang kamu tawarkan kepadaku. Aku merasa seperti seorang lady Sherlock saat sedang berpetualang bersama kamu, Riana."
Mereka berdua berpelukan, Riana senang anggota grupnya itu sudah lebih baik.
"Apakah kamu wanita normal, Kinan?" Ranto menanyakan hal yang aneh.
Kinan melepas pelukannya bersama Riana, "Saya masih normal, Bos."
Ranto menarik Riana menjauh dari Kinan, "Kalau begitu jangan memeluk kesayanganku terlalu lama!"
Riana mencubit tangan kekasihnya itu, "Bahkan kamu cemburu dengan wanita!"
Ranto mencium tangan Riana, "Aku cemburu dengan siapa saja yang dekat dengan kamu, Riana."
Angga masuk ke kamarnya setelah melihat Ranto sedang berada di sana, "Aku sudah memastikan perusahaan Jodi hanya cukup sampai di sini. Rekan bisnis sudah setuju untuk mengikuti perintah kita, tinggal tunggu besok pagi."
Ranto mengacungkan jempol, "Kamu memang benar Angga Bondowoso!"
Riana ikut tersenyum, "Kak Angga yang terbaik!"
Ranto kesal mendengar Riana memuji sahabatnya itu, "Tidak ada yang lebih hebat dari aku, Riana!"
Riana menjawabnya, "Ya, kamu yang terhebat."
Ranto menatap Riana, "Jangan pernah memuji pria lain selain aku, Riana!"
Riana mengecup pipi kekasihnya yang berisik itu, "Iya, aku tahu. Tapi kenapa Kinan keadaannya cepat membaik, Sayang ? Memangnya bagaimana cara menghilangkan pengaruh obat itu dengan cepat?"
Kinan yang mendengar pertanyaan Riana langsung menunduk menahan malu.
Ranto menatap ke arah Angga tajam,lalu membelai rambut Riana, "Sebaiknya kamu tidak perlu tahu. Kamu itu masih di bawah umur!"
Riana menghentakkan kakinya kesal, "Aku sudah besar!"
Ranto menahan tangan Riana yang ingin beranjak pergi, "Benarkah kamu sudah besar?" Ranto melihat ke arah dada Riana yang memang nampak indah.
Riana melihat ke arah mana tatapan kekasihnya itu, "Buaya!"
Follow me 📝✍️ dee.reeana.24
__ADS_1