
Sesuai saran Desma salah seorang teman Riana di kampus, maka hari ini Riana berangkat ke kampusnya agak siangan.
Jadi dosen tiba Riana pun tiba. Tak sempat lagi dirinya akan bertemu Seno.
Baru saja kakinya akan berbelok ke arah kampus, ada yang menarik tangannya.
Riana terkejut, "Kamu ?"
Ranto tersenyum sinis, "Ganti baju yang kamu pakai sekarang !"
Riana berontak pelan berusaha melepas tangannya dari genggaman tangan Ranto. Namun dirinya kalah.
Pasrah.
Riana cuma bisa protes, "Aku sudah kesiangan ini, nanti bisa-bisa dosennya yang datang duluan."
Ranto berpikir sebentar, "Baiklah. Pakai ini!" Perintahnya pada Riana sambil melepas kemeja berwarna biru muda yang dikenakannya.
Ini di pinggir jalan.
Riana menggeleng, "Tidak mau!"
Ranto melepas tangannya sebentar dari tangan Riana yang dia genggam. Lalu di pakaikan kemeja yang tadi Ranto lepas ke tubuh Riana.
Ranto yang hanya memakai kaos langsung tersenyum senang, "Kamu cantik sekarang."
Riana cemberut, "Kamu tuh ya selalu memaksakan kehendak."
"Selalu." Jawab Ranto dengan mudahnya sambil menarik tangan Riana untuk mengikutinya menuju kampus.
Sesampainya di kampus.
Karena kampus sudah ramai maka mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Bagaimana tidak, mereka bergandengan erat seolah-olah seperti pasangan yang sedang di mabuk asmara.
Belum lagi kemeja yang Riana pakai adalah kemeja Ranto.
Dan Ranto yang hanya mengenakan kaos tipis berwarna putih yang menampakkan struktur tubuhnya yang atletis.
Para mahasiswi lumayan histeris melihatnya.
Ranto memegang erat tangan Riana seolah tak mau lepas. Padahal Riana kesal sekali.
Ranto mengantar Riana sampai ke depan pintu ruangan yang di tuju oleh Riana.
"Kamu tidak boleh melepas kemeja ini!" Titah Sang Raja.
Riana yang hanya rakyat jelata pun hanya bisa mengangguk lemah.
Ranto melepaskan tangannya, dan mengelus rambut Riana dengan lembut, "Selamat belajar."
__ADS_1
Sekarang Riana merasa seperti bocah SD yang baru masuk sekolah, "Iya, Pak Guru." Riana mengeraskan ucapannya dengan maksud menyindir.
Ranto tersenyum geli mendengarnya, "Good girl!"
Setelah Riana masuk baru Ranto pergi.
Desma yang melihat itu langsung menghampiri Riana, "Wah, langsung tingkat dewa nih pendekatannya. Ini kemeja bosnya Angga itu bukan ? Parfumnya yang ada di kemeja saja wangi maskulin khas laki-laki."
Riana hanya bisa terus menahan kesalnya pada Ranto. Satu kampus memperhatikannya.
Desma tersenyum kecil, "Sepertinya aku harus bertanya kepada Angga, sejauh mana hubungan kalian."
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Ranto itu, Desma. Percayalah." Ujar Riana.
Desma tersenyum, "Melihat kamu memakai kemeja Ranto dan bergandengan tangan lalu bilang tidak ada apa-apa membuat aku lebih percaya sama Angga, maaf ya Riana."
"Hem."
Riana tidak bisa berkata-kata lagi.
Untunglah dosen sudah datang.
😥😥😥
Angga melihat bosnya hanya memakai kaos, "Bos, bukannya tadi sudah rapih dari rumah?"
Ranto malah bertanya balik, "Kamu sudah membuat rancangan untuk proyek kita yang baru, Angga?"
"Sudah."
Angga meledek, "Aku rasa ini ada hubungannya dengan kemeja kamu yang hilang kembali hari ini, Bos."
Ranto tersenyum, "Riana cantik sekali bila memakai kemeja milikku."
Angga tersenyum sinis, "Jadi hari ini pakai kaos nih, Bos?"
"Tidak. Aku memakai jas." Jawab Ranto tegas.
"Jas?" Angga kebingungan.
"Iya, ada di mobil. Kamu ambilkan sana!" Ranto memerintah dengan seenaknya. Padahal kelas sebentar lagi akan di mulai.
"Tapi...." Angga bermaksud protes, namun langsung di potong pembicaraannya oleh Ranto.
Ranto tidak mau tahu, "Masih ada waktu 5 menit bila kamu berlari mulai dari sekarang !"
Angga bisa apa.
Segera Angga berlari menuju parkiran mobil.
😋😋😋
Siang tiba, Riana pun bergegas untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Dirinya menyusuri koridor dan berjalan sambil bermain gadget. Riana hanya memperhatikan gadgetnya.
Rupanya banyak pesanan keripik. Untunglah Riana sudah membuat stok keripik yang banyak.
Nadia mengambil cuti kuliah karena harus keluar kota untuk ikut syuting sinetron stripping.
Jadi Riana sekarang harus pandai-pandai mengatur keripik jualannya agar tidak menganggu kuliah sehingga cepat meraih cita-citanya.
Tiba-tiba Seno Aji sudah ada di hadapannya, "Riana."
Riana melihat tangannya yang sudah berada di genggaman Seno Aji, Riana takut Lala akan melihatnya. Bisa repot nanti.
"Lepas, Seno. Aku tidak mau orang salah paham." Begitu yang Riana katakan kepada Seno Aji sambil berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Aku mau bicara pada kamu, serius!" Seno Aji agak meninggi nada bicaranya tak seperti biasa.
"Bicara mengenai apa ?" Tanya Riana.
Seno Aji menatap Riana sambil tetap menggenggam tangannya.
"Riana, sebenarnya aku benar-benar serius dengan semua pernyataan perasaan aku yang mencintaimu. Aku hanya ingin mengetahui sebenarnya bagaimana dengan perasaan kamu, Riana ?"
Riana bingung mau mengatakan apa kepada Seno Aji, "Seno Aji, sekarang apa pentingnya mengetahui perasaan aku. Bukankah kamu sudah bertunangan dengan Lala dan akan segera menikah ?"
Kata-kata Riana mengejutkan Seno Aji, dia pikir Riana tidak mengetahui perihal Lala dan dirinya.
"Darimana kamu tahu mengenai hal ini, Riana ?" Tanya Seno Aji.
"Desma. Dia di undang langsung oleh Lala. Padahal Desma bukan temannya." Riana menjelaskan darimana dia mengetahuinya.
Riana agak sedih, "Bahkan hal penting seperti itu saja kamu tidak memberitahukan kepada aku, Seno Aji. Aku bukanlah orang penting buat kamu."
Seno Aji memegang tangan Riana, "Bukan seperti itu, Riana. Aku di paksa oleh keluargaku untuk bertunangan dengan Lala."
Seno berhenti sejenak, "Papaku berhutang budi banyak kepada mereka. Papaku di tuduh melakukan korupsi yang merugikan banyak pihak. Sehingga harusnya berakhir di penjara dan membayar ganti rugi yang akan membuat keluarga kami hidup dalam kemiskinan tujuh turunan. Bahkan bila di bantu oleh keluarga besar sekalipun."
Riana tercekat mendengarnya, lalu Seno kembali menjelaskannya, "Papa Lala membantu keluargaku dengan menyewakan satu tim pengacara yang sangat mahal dan handal untuk membebaskan papaku dari berbagai tuntutan. Mereka tak ingin dibayar dengan apapun seperti yang sudah di tawarkan oleh keluarga aku."
Seno menatap Riana dengan perasaan sedih, " Keluarga Lala juga yang membayar ganti rugi ke berbagai pihak seperti apa yang di tuduhkan kepada papaku."
Seno Aji berat sekali untuk melanjutkannya, "Aku merasa papaku tidak melakukan hal yang di tuduhkan itu. Aku tahu papa bukan orang yang seperti itu."
Seno menuntun Riana untuk duduk di kursi yang ada di taman, "Keluarga Lala ingin keluarga kami membayarnya dengan menikahkan anaknya dengan aku. Dan dengan sangat terpaksa keluargaku menerimanya."
Riana merasa kasihan dengan Seno Aji yang sedang mempunyai masalah yang berat.
Seno menyingkirkan rambut Riana yang jatuh di dahi, "Padahal aku maunya hanya kamu, Riana. Kamulah satu-satunya calon istri impianku. Hanya kamu yang aku mau untuk melahirkan anak-anakku. Hanya kamu, Riana."
Riana mendengar nada kesungguhan di sana, "Seno Aji..."
Seno Aji semakin menggenggam tangan Riana dengan erat, "Aku akan menanggung segala konsekuensinya dari apa yang akan aku katakan ini kepadamu."
💠💠😘😘💠💠
__ADS_1
Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24