Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 41 ( Permulaan Sakit Di Hati )


__ADS_3

Ranto menarik nafas, merasa kesal dengan kekasihnya yang membela Seno bahkan mempertaruhkan cintanya, "Bantuan apa yang kamu butuhkan, Seno!"


Seno menatap kosong ke depan, "Bantu aku mengungkapkan fitnah yang dilakukan oleh keluarga Lala kepada kami! Bantu aku untuk melawan mereka semua! Bantu aku untuk menghancurkan keluarga Lala dan sekutunya! Aku sudah tidak dapat menahannya lagi atas penghinaan yang terjadi terhadap keluarga kami."


Ranto menatap sinis Seno, "Jadi, kamu sudah mengetahui bila dibalik kehancuran keluarga kamu ada campur tangan keluarga Lala yang sangat mencintai kamu?"


Seno tersenyum getir, "Bahkan kamu juga sudah mengetahui penyebab keluarga aku hancur."


Ranto menatap Riana, "Karena kamu berada di dekat Riana, maka siapapun orangnya aku akan mencari tahu."


Seno menatap Ranto, "Jadi, maukah kamu membantu aku?"


Ranto terdiam, sambil berpikir.


"Tidak! Aku tidak mau membantu kamu. Bila kamu terbebas dari jerat keluarga Lala maka pasti akan menyusahkan hubungan aku dengan Riana. Kamu pasti tidak bisa berhenti untuk mencintai kekasihku itu."


Seno mengacak rambutnya, "Memang benar aku tidak akan bisa berhenti mencintai Riana, tapi untuk kali ini bantulah aku, hanya kamu yang bisa membantu aku."


Ranto ingin menarik Riana pergi, namun Riana tidak mau, "Sudah aku katakan, bantu Seno atau berhenti mencintaiku!"


Ranto mengangkat tubuh Riana ke punggungnya, "Kamu memang harus dipaksa, Riana!"


Seno memegang tangan Ranto, "Bantulah aku kali ini, aku mohon!"


Ranto yang sedang menggendong Riana segera menepis tangan Seno, "Terlalu mahal harga yang harus kamu bayar agar aku mau melakukannya untukmu! Kamu tidak akan sanggup memenuhi syarat dariku!"


Ranto menutup mulut Riana yang berteriak-teriak.


Seno terdiam.


Ranto segera berlalu pergi sambil menggendong Riana di pundaknya.


Setelah tiba di depan kelas, Ranto menurunkan Riana dengan hati-hati, "Kamu nakal hari ini, Riana!"


Riana cemberut, "Aku bukan karung beras!"


Ranto tertawa kecil, "Kamu yang memaksa aku untuk melakukannya."


Riana segera duduk di kursi favoritnya, "Pergilah! Aku malas melihatmu."


Ranto duduk di samping Riana, "Karena Seno?"


Riana diam tidak menjawab.


Ranto menarik nafas, "Terlalu banyak resiko yang harus aku tanggung bila membantu Seno, tolong mengertilah!"


Riana masih diam.

__ADS_1


Ranto mengusap tangan Riana namun Riana menepisnya.


Ranto menatap kekasihnya yang sedikit menunduk tidak mau melihat ke arahnya, "Bila aku membantu Seno, sama saja aku membuat diriku kehilangan kamu, Riana!"


Riana masih diam.


Dosen sudah datang.


Ranto menarik nafas dalam-dalam, "Membantu Seno sama dengan menghancurkan aku. Apa kamu tega, Riana?"


Riana menoleh menatap Ranto. Dia ingin meminta penjelasan, namun dosen sudah akan memberikan materi.


Ranto bangkit dari duduknya, "Aku pergi. Lagipula kamu membenciku demi Seno. Sudah terlihat siapa yang kamu sayangi!"


Riana hanya terdiam, namun rasa sakit mulai menjalari tubuhnya, jantungnya berdetak tidak beraturan. Riana seperti tidak bisa bernafas melihat kepergian Ranto.


Dosen yang melihat Riana pucat segera menghampiri, "Kamu tidak apa-apa, Riana?"


Riana mengangguk, "Iya, Pak. Saya baik-baik saja."


Ranto segera menarik para bodyguard yang menjaga Riana, "Tidak perlu menjaganya lagi. Dia ingin hidup bebas."


Mereka pergi menuju ke kantor Ranto.


Riana masih berusaha duduk mengikuti perkuliahan pagi itu, namun rasa sakit di jantungnya semakin terasa, seperti ada yang meremukkan hatinya sampai hancur. Air matanya mengalir tanpa terasa karena sakit di hatinya mengingat ucapan Ranto yang pergi meninggalkannya begitu saja karena marah.


Dosen langsung menghentikan perkuliahan.


Lalu sebagian dari mereka membawa Riana ke ruang kesehatan dimana terdapat dokter umum yang berjaga.


Riana akhirnya sadar, dia berusaha bangkit dari tempat tidur.


Dokter Dian menahannya, "Sebaiknya kamu beristirahat, saya membuat surat agar kamu melakukan pemeriksaan lanjutan."


Riana menerima surat itu, "Baiklah, Dok. Saya mengerti, namun ada yang harus saya selesaikan segera."


Dokter Dian mengangguk, "Hati-hati."


Riana melangkah keluar, dia harus menemui kekasihnya untuk meminta maaf.


Sementara itu...


"Kamu datang juga di kantor ini, aku senang sekali bisa melihatmu." Sisil tersenyum cerah melihat kedatangan Ranto.


Ranto tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam ruangannya.


Sampai di ruangannya dia mulai membanting semua barang-barang yang terlihat olehnya.

__ADS_1


Semua berkas dilemparkannya ke lantai.


Para bodyguard segera melaporkan kepada Angga.


Angga segera berlari masuk ke dalam ruangan Ranto setelah menerima laporan.


Ruangan sudah berantakan, terlihat sahabatnya sedang membanting barang sambil meneriakkan nama kekasihnya.


"Sudahlah. Kita bisa mengatasi persoalan, jangan seperti ini!" Angga mencoba menenangkan Ranto.


Ranto lalu duduk di kursi, penampilannya sudah berantakan, "Kekasihku bahkan meminta diriku menyerahkannya kepada pria lain!"


Angga terdiam, "Apa maksud kamu? Riana mencintai kamu, Ranto!"


Ranto menggeleng, "Dia mencintai Seno!"


Angga menarik nafas, "Kamu hanya salah paham terhadap Riana."


Ranto membuka dasi yang dikenakannya, "Riana memaksa aku membantu Seno Aji agar terbebaskan dari jerat keluarga Lala. Bila itu terjadi maka tidak akan ada pernikahan diantara Seno dan Lala. Jadi, Seno akan terus mencintai Riana dengan bebasnya tanpa memikirkan diriku!"


Angga mengerti sekarang, "Mungkin Riana itu berhutang jasa dengan Seno yang selalu menjaganya selama ini sebelum ada kamu."


Ranto menggebrak mejanya, "Tapi tidak seharusnya dia mengorbankan cintaku begitu saja!"


Angga mengambil kursi yang terbalik untuk duduk, "Apa yang Riana katakan kepadamu sehingga membuat ada gempa besar sampai 8 skala Richter di kantor mewah ini?"


Ranto memejamkan matanya mengingat peristiwa tadi, "Bantu Seno atau berhenti mencintainya."


Lalu karena masih kesal dilemparkannya barang-barang yang masih tersisa.


Angga menarik nafas dalam-dalam, "Riana selalu membantu orang lain tanpa diminta. Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi orang lain. Apakah kamu tidak mengingat saat Riana berenang di sungai yang besar karena menyelamatkan anak kecil."


Ranto terdiam, dia mengingat kelakuan kekasihnya yang diluar perkiraan.


Angga kembali melanjutkan, "Apakah Seno meminta bantuan kamu dihadapan Riana?"


Ranto membuka jas yang dikenakannya, "Bahkan Seno hendak bersujud di depanku!"


Angga berdiri menghampiri sahabatnya itu, "Itulah jawabannya. Mengapa kekasihmu sampai rela mengorbankan cinta kalian. Dia ingin membantu Seno. Aku yakin bila kamu tidak melakukannya maka dia akan berusaha sekuat tenaga membantu Seno, apapun caranya walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri."


Ranto diam mencoba mencerna semua yang diucapkan oleh sahabat terbaiknya itu.


Angga menyingkirkan barang yang menghalanginya berjalan, "Keluarga besar Lala bukan hal mudah untuk dihadapi. Apalagi oleh Riana dan Seno. Bisa hancur mereka berdua. Apa kamu lupa bila Riana adalah Bolang sejati?"


Ranto membanting berkas dihadapannya, "Riana!"


Angga menepuk pundak sahabatnya, "Kamu tidak akan sanggup untuk kehilangan wanita cantik itu!"

__ADS_1


Follow me 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2