Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 06 ( Pertengkaran )


__ADS_3


Hari-hari Riana di lalui dengan penuh kesedihan. Riana sedang dalam tahap melupakan Theo.


Hari ini Riana sedang berkumpul di aula kampusnya, Nadia tidak ikut.


Nadia sedang mengikuti syuting salah satu film di televisi berlogo ikan hiu. Dia di jemput oleh rombongan orang-orang film tersebut, jadi Riana tidak ikut.


Sebenarnya dunia mereka berdua sangatlah berbeda.


Riana menyukai dunia kampus dan pendidikan. Sedangkan Nadia menekuni dunia akting.


"Riana, akhirnya datang juga kamu ? " Tanya ketua senat yang paling tersohor seantero jagat kampus.


Dia bernama Seno Aji Darma Perkasa Adiguna, Sang Ketua Senat. Berwajah tampan, kekayaan orang tua berlimpah, tubuh seperti atlet renang, soal kepintaran tidak perlu ditanyakan.


"Ya, Pak Ketua. Aku siap membela kebenaran dan menegakkan keadilan." Sahut Riana sambil tersenyum kecil.


"Riana, kamu memang penyemangat buat aku, senyuman kamu itu satu energi buat aku." Batin Seno Aji.


Seno Aji termasuk salah satu pengagum Riana. Mahasiswa manis yang mandiri, rada jutek, selalu asal bicara bila bercanda dengan teman namun menjaga tata krama bila berhadapan dengan orang yang lebih tua.


Mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang mumpuni. Salah satu wanita yang berhasil membuat dunia Seno Aji jungkir balik.


"Riana, mengapa kamu membawa spanduk dengan tulisan yang seperti itu ?" Tanya Seno ketika melihat spanduk yang di bawa oleh Riana.


TURUNKAN HARGA MIE AYAM DI KANTIN


Itu tulisan spanduk yang di bawa Riana. Tidak ada hubungannya dengan acara demonstrasi yang akan segera dimulai. Riana memang ada-ada saja.


Riana tersenyum manis di depan Seno Aji. Kalau sudah begitu siapa yang mau marah.


"Seno Aji, mie ayam Mang Deden di kantin itu adalah kesukaannya Pak Udin, setiap ke kantin beliau selalu makan mie ayam. Jadi bila harganya turun aku juga yang di untungkan. Aku jadi bisa membeli mie ayam itu. Bila harga mie ayam masih dua puluh ribu , maka aku sulit untuk membelinya." Ujar Riana.


Seno yang mendengarnya hanya tersenyum saja, "Apapun yang kamu katakan, Riana menurut aku adalah benar walau tidak masuk akal sekalipun."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan traktir kamu mie ayam Mang Deden setiap hari." Kata Seno cari kesempatan untuk mengajak Riana makan siang. Susah sekali untuk mengajaknya.


"Aku masih bisa mencari uang Seno Aji, jangan terlalu kasihan kepadaku, nanti bisa berubah menjadi cinta." Jawab Riana sambil tertawa kecil.


Seno pun menghela nafas, "Bukan kasihan tapi aku sudah mencintai kamu, Riana."


Riana hanya tersenyum menanggapi Seno Aji, "Penggemar kamu banyak, nanti bisa repot bila kita bersama."


Seno ingin menjawabnya, namun sebagai ketua senat dia harus mengatur rekan mahasiswa yang akan berdemonstrasi.


Para mahasiswa mulai memenuhi aula dan lapangan. Mereka memakai almamaternya masing-masing untuk menunjukkan identitas diri.


Tidak memakai almamater maka tidak boleh mengikuti demonstrasi. Takut akan ada selundupan pendemo.

__ADS_1


Demonstrasi di mulai.


"Turunkan Pak Udin !" Mereka mulai berteriak menyuarakan aspirasinya.


"Cari rektor yang bermartabat !"


"Pak Udin tidak layak menjadi rektor kampus kita !" Mereka mulai emosi.


"Genit dan colek-colek adalah bentuk pelecehan yang hakiki !!"


"Pak Udin tidak boleh di calonkan menjadi rektor baru !"


Dan masih banyak lagi.


Mereka meneriakkan aspirasi mereka dengan damai, karena mereka tahu bahwa mereka adalah kaum intelektual.


Setelah beberapa lama, datanglah pejabat-pejabat kampus, mereka bermaksud menemui wakil mahasiswa untuk membicarakan negosiasi agar kampus kembali damai.


"Tenang..tenang ! Para rekan mahasiswa dan mahasiswi, kita akan berdialog. Silahkan siapkan wakil kalian." Ucap salah satu pejabat yang berwenang.


Suasana hening sesaat.


Mereka sibuk menentukan siapa saja yang akan mewakili mereka untuk berdialog dengan para pejabat kampus.


Di tengah suasana yang sepi karena sedang berunding, Riana berteriak, "Turunkan harga mie ayam Mang Deden !"


Membuat semua orang menoleh kepadanya.


Perkataan Riana membuat rekan-rekan mahasiswa tertawa dan geleng-geleng kepala.


Salah satu mahasiswa pascasarjana yang sedang lewat mendengarnya.


"Si cantik ikut demonstrasi, aspirasinya yang aneh. Untung cantik."


Laki-laki yang beberapa waktu lalu bertabrakan dengan Riana di kampus dan sedikit bertengkar.


Laki-laki itu menghampiri Riana yang berada di tengah kerumunan mahasiswa.


"Khusus perwakilan mahasiswa, wanita yang satu ini tidak boleh ikut !" Perintahnya.


Rekan mahasiswa menoleh semua karena laki-laki itu berkata lantang.


Riana ingat laki-laki itu, "Kenapa memangnya ? Apa urusan saudara turut campur!" Emosi rasanya di dada Riana ingat laki-laki tampan rasa sambel ayam geprek.


"Jelas ya ! Yang namanya mahasiswa kaum intelektual, lalu kamu ini apa ? Hal apa yang kamu suarakan ?" Laki-laki itu mendekati Riana sampai mendekati kata tidak ada jarak.


Riana kesal lalu menjawab, "Itu juga merupakan bentuk aspirasi, Pak !"


"Cantik tapi tidak berkualitas sebagai mahasiswa !" Ledek laki-laki itu sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Karena terlalu kesal dan emosi yang sedang tak stabil, Riana menarik baju laki-laki itu, "Maksudnya apa, Pak ?"


"Bisa sopan tidak ?" Laki-laki itu juga mulai kasar memegang tangan Riana dengan kencang.


"Kamu yang tidak mempunyai sopan santun, ikut campur saja !" Riana menatap laki-laki itu dari jarak mereka yang terlalu dekat.


Rekan-rekan mahasiswa berusaha memisahkan mereka berdua.


Riana dan Ranto sama-sama saling memegang tangan satu sama lain dengan kencang. Dan saling menatap marah.


Memisahkan macan sedang bertengkar memang susah.


Seno Aji lalu datang, tadi dia sedang berusaha menetapkan wakil-wakil mahasiswa yang akan berdialog, "Sabar, Riana." Ucapnya lembut kepada Riana.


Seno menatap laki-laki itu, dia kesal Riana di perlakukan kasar. Seno mengenalnya, "Lepaskan tangan kamu dari Riana, Bos ! Bos Ranto Binsar Wiratama !"


Ranto tersenyum sinis, "Ketua Senat Yang Terhormat ! Tentu aku lepaskan tangan wanita ini, tapi asal kamu tahu bahwa dialah yang pertama kali melakukannya !"


Seno emosi mendengar Ranto berkata seperti itu, "Rupanya kamu meminta untuk di beri pelajaran !"


Seno tidak peduli lagi siapa Ranto yang merupakan rekan bisnis keluarga Seno.


Seno menarik pakaian Ranto lalu seketika pukulan melayang ke muka Ranto. Sebagai lawan Ranto tidak tinggal diam, dia juga melawan sehingga berubah menjadi baku hantam.


Suasana ricuh. Semua menjadi bertambah panas.


Riana berteriak berusaha memisahkan Seno dengan Ranto, mahasiswa lain yang melihatnya malah ikut memberikan semangat.


Ada yang berteriak menyemangati perkelahian itu, ada juga yang berteriak memojokkan Pak Udin.


Bahkan ada yang merusak fasilitas kampus.


Para pejabat kampus yang tadinya sedang menunggu perwakilan mahasiswa menjadi bingung, mereka tidak menyangka demonstrasi damai akan berubah seperti ini.


Mereka segera berdiskusi tanpa perwakilan mahasiswa lalu sepakat untuk mengganti Pak Udin dengan calon lain yang lebih berkompeten.


Pak Udin memang sudah sering di laporkan namun bukti yang ada masih kurang. Mereka bersepakat demi pendidikan yang lebih baik.


Apalagi para mahasiswa sepertinya benar-benar marah.


Padahal. Ini ulah Riana.


"Tenang, para rekan mahasiswa.!" Ujar salah satu pejabat lewat pengeras suara, "Kami akan langsung mengganti calon rektor kalian dengan calon lain yang lebih baik dan lebih berkompeten. Kami akan menambah kualifikasi calon rektor dengan syarat yang lebih ketat."


Para mahasiswa dan mahasiswi menyambut pengumuman itu dengan riuh dan tepuk tangan.


"Dan satu lagi...."


Pejabat yang lain menambahkan, "Pak Udin, lewat !"

__ADS_1


Makin kencang tepuk tangan para mahasiswa dan mahasiswi..


Follow me 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2