
Ketika Ranto datang menjemput Riana di unit apartemennya, Riana sudah rapih. Dia memakai kemeja Ranto dan menggerai rambutnya yang panjang.
Ranto langsung mencium pipi Riana begitu mereka bertemu.
"Kamu ini." Riana protes.
Ranto mengecup tangan Riana, "Kenapa, Riana sayang, aku salah?"
Riana merasa senang Ranto mengakui kesalahannya, "Iya, kamu salah !"
Ranto tertawa kecil, "Ayo kita berangkat, kamu bilang mau datang pagi-pagi ke kampus."
Mereka berangkat dengan empat bodyguard, dua akan mengawasi Riana dan dua lagi akan melindungi Ranto.
Ranto membawa sendiri mobilnya, sedangkan para bodyguard mengikutinya dari belakang dengan kendaraan mereka sendiri.
"Riana, nanti kamu tidak boleh pergi tanpa izin dari Jojo. Kamu mengerti ?"
Riana terdiam, "Bahkan ke toilet?"
Ranto mengulang kata-kata yang diucapkan oleh Riana, "Bahkan ke toilet."
Ranto mengeluarkan sejumlah uang dan kartu ATM lalu memberikannya kepada Riana.
"Untuk apa?" Tanya Riana.
"Untuk kamu. Soal bisnis keripik, kamu tidak usah menanganinya sendiri. Aku sudah menugaskan Angga untuk memberi pekerjaan kepada ibu-ibu sekitar kampus untuk mengerjakannya. Kamu hanya tinggal duduk diam menunggu hasil yang masuk ke rekening kamu." Ranto menginjak rem untuk berhenti di lampu merah.
Ranto kembali berbicara, "Aku juga sudah mengirim staf khusus yang bertugas di bagian keuangan penjualan keripik kamu."
"Aku jadi tidak punya kesibukan!" Riana protes.
"Tenang, sepulang kuliah kamu akan diantar Jojo ke kantorku untuk menemani aku bekerja di kantor. Bila aku ada jadwal kuliah maka kita akan pergi bersama."
Riana menggulung rambutnya ke atas sehingga menampakkan lehernya yang jenjang, "Kesibukan macam apa yang seperti itu?"
Ranto yang melihatnya memberhentikan mobil di tepi jalan. Mereka sudah memasuki wilayah jalan tol.
Ranto mendekap tubuh Riana dengan erat, mencium tangan Riana dengan lembut. Mengusap penuh kasih dan sayang rambut Riana yang harum.
Menikmati pagi hari bersama Riana.
Para bodyguard yang berada di kendaraan mereka bertanya-tanya, "Bos Ranto kenapa berhenti ya ?"
"Iya, ini sudah lebih dari sepuluh menit. Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka." Sahut Jojo.
"Sebaiknya kita turun dan melihatnya !" Seru rekan Jojo sesama bodyguard.
Dua bodyguard turun dan menghampiri mobil Ranto.
Mereka melihat dari kaca mobil samping namun tidak terlihat karena kacanya di berikan pelapis kaca yang berwarna hitam pekat dan hanya bisa melihat dari arah dalam.
Lalu mereka ke depan dengan maksud melihat Ranto dari arah kaca depan mobil yang tidak diberi pelapis kaca.
Dan terlihat Bos Ranto sedang sibuk memeluk kekasihnya sambil bercengkrama yang diselingi dengan canda dan tawa di antara mereka.
__ADS_1
Para bodyguard langsung balik badan melihat itu.
Ranto yang merasa terganggu segera mengakhiri aktivitasnya, lalu mengusap wajah Riana dengan lembut, "Sebentar ya."
Ranto keluar mobil, "Ada apa ?"
Salah satu bodyguard memberanikan diri berbicara, "Kami pikir Bos sedang dalam masalah."
Ranto marah kepada mereka, "Lain kali berpikir yang benar !"
Mereka menjawab kompak, "Baik, Bos."
Ranto kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.
"Kita sarapan dulu ya. Ini masih terlalu pagi." Ranto berkata sambil tersenyum.
Riana tidak ingin protes. Bisa repot bila protes.
Sesampainya dekat kampus Ranto segera menyuruh Jojo untuk mengambilkan buku Riana di rumah yang berada di samping kampus. Kuncinya ada sama ibu pengawas.
Riana dan Ranto turun dari mobil bersamaan, pandangan penghuni kampus langsung tertuju kepada mereka berdua.
Riana yang memakai kemeja Ranto menjadi fokus pembicaraan mereka.
Seno juga melihatnya, dia mengepalkan tangannya merasa cemburu.
Ranto menggandeng tangan Riana dengan erat sambil berjalan menuju koridor, "Ingat ! Seno dan pria lain tidak boleh mendekati kamu !"
Ranto memberi peringatan keras kepada Riana.
Ranto menghentikan langkahnya, "Kamu membantah ?"
Mereka yang melihat mereka berdua bergandengan tangan menjadi riuh, ada yang berteriak histeris karena Ranto juga menjadi incaran wanita di kampus.
Seno yang melihat kejadian itu kembali mengepalkan tangannya, tak tahan dengan api cemburu yang membakar dirinya.
Ranto membelai rambut Riana, "Jangan membantah !"
Riana tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ranto pergi setelah memastikan Riana sudah ikut jam mata kuliah pagi dengan Pak Danu.
Saat jam kuliah berakhir, Seno mencoba mendekati Riana namun dihalangi oleh bodyguard. Seno tidak kehilangan akal. Dia segera menghubungi Riana dan membuat janji untuk bertemu.
"Riana, tolong temui aku untuk kali ini. Ada yang ingin aku bicarakan." Seno berbicara melalui sambungan telepon seluler.
"Sepertinya sudah tidak ada yang harus kita bicarakan, Seno. Aku terlalu takut untuk bertemu dengan kamu sekarang." Jawab Riana di ujung teleponnya.
"Riana, aku hanya ingin meminta maaf." Seno mencoba membujuk Riana.
Riana menjawabnya, "Aku bahkan sudah memaafkan kamu, Seno sebelum kamu mengatakannya."
Seno menutup teleponnya, percuma membujuk Riana. Dia harus memakai cara lain.
Dia meminjam jaket bertopi milik temannya. Seno menyamar untuk mengelabui bodyguard Ranto.
__ADS_1
Riana masih di perpustakaan untuk mengerjakan sedikit tugas agar esok tidak menumpuk.
Jojo dan rekannya menunggu di depan pintu perpustakaan.
Seluler Riana berbunyi, panggilan video masuk dari Ranto yang sudah selesai meeting.
"Kamu sedang apa, Riana sayang ?" Ranto bertanya sambil merapihkan jas yang dipakainya.
"Aku sedang di perpustakaan kampus. Ada sedikit tugas yang harus aku kerjakan agar tidak menumpuk." Riana menjawab sambil menaruh ponselnya di buku-buku yang bertumpuk. Dia menjawab telepon yang masuk sambil mengetik di laptop.
"Apakah kamu terlalu sibuk sampai tidak mau menatapku?" Tanya Ranto di kantornya.
Riana menoleh sebentar lalu mengangguk dan kembali fokus dengan laptopnya.
"Tatap aku, Riana!" Ranto mulai kesal.
Riana menghentikan jari jemarinya yang sedang mengetik tugas di laptop.
"Aku sibuk!" Riana menjawab perintah Ranto dengan bantahan.
"Kamu membantahku?" Tanya Ranto melalui sambungan video itu.
Riana membuka kacamatanya, "Tidak, aku hanya sedang sibuk mengerjakan tugas."
"Segera ke sini!" Kamu terus membantahku !" Ranto memerintahkan Riana dengan tegas.
Riana cemberut.
Seno yang akhirnya bisa masuk karena menyelinap di rombongan mahasiswa segera duduk di samping Riana dan menariknya agar mendekat.
"Riana, maafkan aku."
Ranto yang masih berada dalam sambungan video kaget melihat Riana ditarik oleh Seno sehingga mereka sedekat itu.
Seno yang tidak menyadari Riana sedang melakukan sambungan video dengan Ranto segera menggenggam tangan Riana dengan erat, "Maafkan aku." Pinta Seno.
Riana ingin melepasnya namun genggaman tangan Seno terlalu erat, "Aku sudah memaafkan kamu, Seno."
Ranto yang emosi segera menghubungi Angga untuk menyuruh bodyguardnya masuk ke dalam perpustakaan dan menyuruh mereka untuk membawa Riana ke kantor sekarang juga.
Angga membantah, "Bos, tapi pihak kampus memberi izin kepada bodyguard hanya boleh menjaga sampai luar ruangan, tidak boleh masuk ruangan."
"Sekarang pengecualian, Angga. Cepat!" Ranto kesal sekali.
Akhirnya Angga menyuruh kedua orang bodyguard itu untuk masuk perpustakaan.
Seno sedang mencium tangan Riana yang berada dalam genggamannya ketika bodyguard masuk.
"Non, segera ikut kami!"
Bodyguard itu memisahkan Seno dengan Riana dengan kasar. Seno tidak melawan, ini area kampus.
Bodyguard itu segera membawa Riana pergi.
💠💠😎😎💠ðŸ’
__ADS_1
Follow Instagram dee.reeana.24