Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 37 ( Khawatir )


__ADS_3


Angga menahan Ranto yang panik ketika melihat kekasihnya sedang berenang menyelamatkan seorang anak yang terseret arus sungai yang airnya agak penuh karena hujan yang mengguyur, " Lihatlah! Riana sudah berhasil menarik anak itu ke tepian. Ayo, kita hampiri."


Ranto dan Angga serta para pengawal berlari menghampiri Riana yang baru saja keluar dari sungai menyelamatkan anak kecil yang akan tenggelam karena terpeleset.


Roni kepala pengawal Angga berteriak sambil lari duluan, "Amankan keadaan!"


Para pengawal bergegas memecah kerumunan orang yang mengelilingi sungai ingin melihat proses penyelamatan itu, sebagian ada yang merekamnya, "Kapan lagi kita mendapatkan rekaman video bidadari turun dari langit."


Dan diiyakan sebagian rekannya.


Ranto segera membantu Riana yang ingin menggendong anak tersebut menjauh dari sungai, "Letakkan anak itu Riana ! Biar aku yang menggendongnya."


Riana terkejut mendengar suara kekasihnya, "Iya."


Ranto kemudian mengangkat anak itu ke tempat yang kering.


Orang tuanya sudah menunggu, "Terima kasih, Riana. Bila tidak ada kamu, kami tidak tahu bagaimana nasib anak kami ini. Sekali lagi terima kasih banyak."


Riana hanya tersenyum, tubuhnya menggigil kedinginan.


Ranto segera melepas jas yang dikenakannya dan di berikan untuk menutupi tubuh Riana yang basah kuyup kedinginan.


Ranto langsung menggendong Riana menuju mobilnya yang terparkir di depan perkampungan padat penduduk itu.


Angga menyuruh Kinan, Susi dan karyawan lainnya naik mobil bersama para pengawal.


Sesampainya di lobi, Ranto dengan segera membawa Riana ke ruangannya.


Di ruang khusus, Ranto menyuruh Riana untuk segera mandi dan berganti pakaian dengan pakaian miliknya, "Cepat mandi dan ganti pakaian kamu!"


Riana mengangguk lemah. Kepalanya sedikit pusing karena kehujanan di tambah harus berenang di sungai yang cukup dalam.


Ranto memerintahkan Angga untuk membelikan Riana celana jeans baru.


Riana sudah berganti pakaian dan duduk di sofa. Angga segera keluar ruangan karena sepertinya akan ada perang dunia di dalam.


Ranto mulai memecahkan gelas keramik mewah ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


Suara barang-barang yang di lemparkan ke lantai terdengar sampai ke luar ruangan.


Kinan, Susi, Pak Hadi dan karyawan lain yang ingin meminta maaf kepada Ranto dan membela Riana segera ditahan oleh Angga, "Mereka berdua bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Beri mereka waktu. Dan siapkan diri kalian karena akan segera disidang."


Riana diam saja melihat kekasihnya yang sedang melampiaskan kemarahan dengan melemparkan barang-barang.


Ranto menatap Riana, "Tidak bisakah membuatku tidak mengkhawatirkan dirimu!"


Riana menundukkan kepalanya, "Maaf.


Ranto kembali membanting vas bunga yang ada di meja, "Tidak bisakah duduk diam dan menunggu aku bekerja disini!"


Riana mengulang ucapannya, "Maaf."


Pajangan keramik dari negara Rusia hadiah dari rekan bisnis yang harganya ratusan juta juga tidak luput dari sasaran amarah Ranto.


Dilemparkannya pajangan itu hingga pecah terkena tembok, "Tidak bisakah membuat jantungku baik-baik saja saat mendengar berita tentang dirimu yang sedang dalam bahaya, Riana!"


Riana diam lalu tetap mengulang kalimat yang diucapkan oleh dirinya, "Maaf."


Ranto mengambil lagi sebuah hadiah bola kaca yang indah dari negara Belanda edisi terbatas yang harganya setengah milyar dan memecahkannya ke tembok, "Tidak bisakah tidak membuat duniaku berhenti sesaat saat melihat dirimu dalam bahaya, Riana!"


Riana menyeka sedikit air matanya di pelupuk mata, "Maaf" Jawab Riana lirih.


Ranto melihat kekasihnya yang sedang kedinginan namun tetap duduk menghadapi Ranto untuk bertanggung jawab, "Apa kamu siap bertanggung jawab atas semua ini?"


Riana mengangguk.


Ranto lalu menghampiri Riana dan menghukumnya sambil memeluk erat Riana yang kedinginan, menyeka air mata yang hampir jatuh dari mata kekasih kesayangannya itu.


Riana menyukai kehangatan yang diberikan saat dirinya kedinginan, dia melingkarkan tangannya ke leher Ranto tidak melepas kehangatan yang ditawarkan oleh kekasihnya itu.


Sudah tidak ada suara bantingan barang. Para karyawan yang berdiri menunggu di depan pintu ingin masuk dan membela Riana namun dihalangi oleh Angga dan para pengawal yang menjaga.


Lama keheningan yang terjadi di dalam ruangan, Angga tersenyum kecil kepada para karyawan yang merupakan grup petualangan Riana, "Kalian tenang saja, mereka berdua sudah berhasil menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri."


Ranto menatap Riana lalu mencium kening Riana, "Aku sangat mencintai dirimu, Riana. Jangan membuat lagi diriku khawatir, Riana!"

__ADS_1


Riana mengangguk sambil tersenyum, "Maaf."


Ranto hanya bisa mendekap erat Riana, dia tidak tahu harus berkata apa saat membayangkan kejadian tadi saat melihat Riana berenang di sungai berarus deras yang airnya sedang penuh sambil membawa tubuh seorang anak kecil.


Riana, wanita kekasih kesayangannya yang tak memikirkan keselamatan dirinya sendiri untuk membantu orang lain.


Ranto mencium tangan Riana lalu menghubungi Angga agar membawa semua karyawan anggota grup Riana untuk masuk karena mereka harus disidang.


Ranto menghampiri Angga dan mengatur siasat menghadapi Bolang Cantik yang merupakan kekasihnya.


Angga memberi sebuah saran dan Ranto langsung menyetujuinya, "Siapkan sekarang juga!"


Angga segera keluar untuk menyiapkan peperangan melawan Bolang Cantik yang cerdas itu.


Para karyawan masuk, lalu memberi salam. Mereka berdiri di dekat pintu dengan berbaris.


Ranto berdiri mendekati mereka, "Kalian tahu apa kesalahan kalian!"


Mereka mengangguk, "Memberontak."


Ranto berpikir sejenak, "Benar, dan kalian mengecoh para pengawal yang aku tempatkan untuk melindungi Riana!"


Mereka terdiam.


Ranto kembali berbicara, "Seandainya terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan terhadap kekasih hatiku apakah kalian sanggup bertanggung jawab!"


Mereka diam.


Ranto ingin melanjutkan persidangan ini, namun Riana berdiri menghampiri Ranto, "Aku yang mengajak mereka dan memerintahkan mereka semua. Aku juga sudah menerima hukuman darimu apakah tidak ada kata maaf untuk mereka?"


Ranto luluh hatinya, "Baiklah! Bubarkan diri kalian lalu kemas barang-barang milik kalian dan bersiap sore ini juga untuk pergi dari sini!"


Riana bingung, "Sayang?"


Ranto memeluk Riana, "Kenapa?"


Riana cemberut, "Aku pikir kamu memaafkan mereka!"


Ranto tersenyum, "Iya, benar."


Riana ingin melepaskan pelukan Ranto, dia marah anggota grupnya di pecat oleh Ranto karena ulah dirinya, "Jangan peluk aku!"


Riana kesal Ranto mencium pipinya, "Kamu memecat anggota grup milikku!"


Ranto tertawa kecil, "Siapa yang mengatakan kalau aku memecat mereka?"


Riana memukul pelan tangan Ranto yang memeluk erat dirinya, "Kamu! Tadi kamu menyuruh mereka untuk berkemas dan pergi dari sini!"


Ranto tidak mau melepaskan dekapannya, "Kinan, Susi dan Pak Syarif akan tetap menjalankan jabatan mereka seperti yang sekarang namun akan menerima kenaikan gaji. Lalu anggota grup kamu yang lain akan menerima kenaikan jabatan dan gaji. Aku menyuruh berkemas karena mereka harus segera menuju gedung baru tempat perusahaan yang baru milikmu. Bagaimana, apa kamu senang, sayang?"


Riana melihat ke arah anggota yang berdiri di hadapannya, "Biarkan aku berkoordinasi dahulu dengan mereka."


Ranto melepas pelukannya, "Siasat apa yang ingin kamu lakukan, Bolang Cantikku yang selalu memberontak?"


Riana berbisik di telinga Ranto, "Rahasia."


Angga yang sudah menyelesaikan semua berkas masuk kembali ke ruangan Ranto, "Ingin melakukan apa, Bolang Cantikmu itu?"


Ranto melihat ke arah Riana, "Tampaknya dia tahu maksud dan tujuan kita. Dia terlalu cerdas untuk kita hadapi. Kita harus bersiap akan siasat baru dari kekasih cantikku itu."


Riana segera menuju ke arah anggota grup "Pemberontak Bos Galak" yang dia pimpin, lalu Riana berbicara dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh kekasihnya itu, "Apakah kalian setuju dengan usulan kekasihku itu?"


Mereka bingung menjawabnya, "Sebenarnya kami senang naik jabatan dan naik gaji namun bila kami ditempatkan di perusahaan baru maka sulit bagi kita untuk berpetualang bersama lagi."


Riana mengangguk, "Benar, aku tahu bahwa kekasihku itu bermaksud menjauhkan kalian dari aku. Sebaiknya kalian menerima tawaran ini karena ini baik untuk masa depan kalian. Kita akan tetap berpetualang dengan agenda rutin. Waktu dan tempat nanti aku chat di WhatsApp. Bagaimana?"


Mereka mengangguk, "Kami siap menjalankan perintah!"


Lalu mereka berpelukan tanda akan segera berkemas dan pergi.


Angga dan Ranto menoleh mendengar mereka bersuara sekeras itu.


Angga tertawa kecil, "Tampaknya mereka terlalu setia dengan Bolang Cantik, mengalahkan kesetiaan mereka kepada kamu yang notabene adalah bos mereka yang sesungguhnya."


Ranto tersenyum bangga, "Aku rasa dia mempunyai bakat menjadi pemimpin berkharisma yang dicintai anggotanya dan bersedia mati untuk dirinya."


Angga menyerahkan berkas-berkas mereka kepada Ranto, "Mengalahkan dirimu."

__ADS_1


Ranto mengulang perkataan Angga, "Benar mengalahkan diriku. Aku seperti anggota grupnya yang mencintai dirinya dan rela berkorban apa saja untuk bersama dirinya."


Riana menghampiri Ranto dan Angga, "Mereka sedang bersiap."


Ranto tersenyum kecil, berhasil menjalankan siasat untuk menjauhkan Riana dari mereka.


Bila tidak ada pasukan, maka Bolang Cantiknya akan duduk manis menunggu di sampingnya serta melupakan ide-ide petualangannya.


Sedikit berjinjit Riana berbisik ke telinga kekasih yang sangat dia cintai itu, "Aku tahu maksudmu, namun itu tidak akan pernah menghentikan aku untuk berpetualang, sayangku yang tampan !"


Ranto tersenyum kecil, lalu membalas bisikan Riana dengan bisikan juga ke telinga Riana, "Aku tunggu petualangan dan pemberontakan kamu, dan aku akan selalu mematahkannya, Riana! Bolang Cantikku!"


Riana kesal lalu ingin melepaskan tangannya dari leher kekasihnya itu namun ditahan oleh Ranto, "Aku akan membuat kamu selalu di sampingku tanpa bisa berpetualang, Bolang Cantikku !" Ranto tersenyum kecil.


Riana tertidur di dekapan Ranto saat mereka pulang dari kantor menuju apartemen, "Selamat tidur, Bolang Cantikku."


Hari ini adalah hari libur, Riana bangun pagi lalu berolahraga di ruangan itu dengan melihat video di internet.


Setelah lelah Riana mengambil minum sambil membuka chat grupnya. Dia tertawa-tawa sendiri membaca chat dari teman-teman petualangannya.


Riana mendengar pintu unit apartemen di buka, "Ada apa, Sayang?"


Ranto melihat Riana berpakaian olah-raga dengan pakaian agak ketat sehingga memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah.


Kakinya yang panjang, tubuhnya yang ramping, lehernya yang jenjang terlihat karena rambutnya yang di gulung ke atas serta wajahnya yang berkeringat menambah poin di mata Ranto apalagi dadanya yang nampak berisi.


Celana Ranto langsung terasa sesak melihat Riana.


Riana tahu arah pandangan kekasihnya, "Buaya darat!"


Ranto langsung memeluk Riana sambil tertawa, "Tampaknya besok kita harus menikah!"


Riana mencubit pinggang kekasihnya itu, "Rasakan itu! Kekasih yang suka memaksa!"


Ranto berpura kesakitan agar disayang-sayang oleh Riana. Namun Riana malah menambah cubitannya.


Ranto menyerah, "Tadinya aku ingin mengajak kamu olahraga di taman namun bila melihatmu seperti ini bisa membuat iman para pria goyah."


Riana memberi minum kepada kekasihnya itu, "Aku mengenakannya hanya saat berolahraga di rumah, tidak pernah keluar."


Ranto yang sudah berpakaian olahraga berpikir, "Kita olahraga di fitness center yang ada di bawah saja ya ! Tampaknya sepi hari ini, karena sedang musim olahraga sepeda."


Riana menaruh gelas bekas minumnya ke meja, "Ayolah. Aku ingin merasakan olahraga berdua dengan orang yang aku sayang."


Ranto tersenyum, "Pastinya menyenangkan, Sayang."


Mereka memasuki ruangan fitness center yang ada di lantai dasar apartemen tersebut.


Hanya ada dua orang pria, Ranto tidak begitu khawatir. Para pengawal juga berolahraga sambil menjaga mereka.


Ranto sedang membantu Riana dengan alat olahraga shit-up nya, sesekali Ranto mengelap keringat Riana dengan lembut sambil mengecup bibirnya yang merah, "Semangat, Riana!"


Riana senang sekali akhirnya dia bisa merasakan berolahraga berdua kekasih yang menurut cerita teman-temannya romantis, "Iya, sayang. Aku suka berolahraga ditemani kamu." Riana membalas kecupan Ranto secara sekilas.


Sekarang mereka menaiki treadmill, sambil berolahraga mereka saling melempar senyum manis dan saling menatap. Dunia mereka terlihat indah walaupun itu hanya untuk sesaat.


Tempat fitness itu mulai ramai dengan para pria yang menatap dan memperhatikan Riana yang sedang berolahraga. Kecantikan Riana rupanya sudah mengundang mereka untuk berolahraga di fitness center itu.


Yang tadinya hanya lewat, langsung memakai pakaian olahraga untuk sekedar melihat Riana.


Angga yang baru masuk ke fitness center heran karena pengunjungnya ramai, biasanya hari libur seperti ini tempat itu sepi karena sedang musim olahraga sepeda.


Angga tersenyum melihat arah pandangan para pria itu terlihat fokus ke Riana yang sedang berolahraga menemani Ranto.


Angga langsung menuju ke arah mereka berdua yang tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian, "Kamu yakin mengizinkan Riana berolahraga di sini?"


Ranto menoleh mendengar suara sahabatnya itu, "Kenapa memangnya, aku membawa para pengawal untuk selalu waspada."


Angga menaiki treadmill yang ada di sebelah Ranto, "Lihatlah ke sekeliling kamu! Apa kamu tidak cemburu melihat pandangan para pria itu?"


Seketika Ranto langsung mengarahkan pandangannya ke sekeliling mereka dan benar saja, itu membuat darah di dalam tubuh Ranto mendidih, "Ayo kita pulang, Riana!"


Riana menolak, "Aku suka alat ini, nanti saja ya!" Riana tidak menyadari dirinya diperhatikan satu ruangan.


Ranto kesal, "Kamu membantah, Riana!"


Angga nampak kesal, karena dia dan para pengawal harus melakukan razia gadget pagi ini dan briefing singkat mengenai hukum.

__ADS_1


♥️💘♥️💘♥️


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2