
"Lalu aku harus melakukan apa?" Ranto membanting tumpukan berkas yang masih tersisa.
"Kita persiapkan pasukan untuk melawan Lala." Angga memberi usul.
"Kamu pikir kita sedang berperang?" Ranto tertawa kecil.
"Pasukan tim pengawal yang harus ditambah, lalu pasukan penghancur perusahaan dalam semalam, ditambah pasukan tim pengacara bila ada masalah hukum." Angga mengetikkan sesuatu di gadgetnya.
"Itu artinya aku membantu Seno?" Ranto bersandar pada kursinya dengan malas.
"Tepat sekali." Angga mengacungkan jempolnya.
Ranto menarik nafas panjang, "Kehilangan Riana?"
Angga menggeleng, "Tidak! Bila kamu menjaganya dengan baik maka dia akan tetap bersama denganmu. Aku menilai dia wanita yang setia."
Ranto memejamkan matanya, "Seno lawan yang tangguh. Cintanya besar sekali. Terkadang aku merasa kalah dalam hal mencintai Riana."
Angga tersenyum kecil, "Aku akan selalu membantu mengalahkan lawan yang menghadang."
Ranto melihat ke arah sekelilingnya, "Bereskan semuanya termasuk ruangan ini, sekarang! Aku ingin beristirahat sejenak."
"Baiklah!" Angga segera memanggil office boy untuk membersihkan ruangan.
"Kalian jangan bersuara!" Ranto memerintahkan office boy yang sedang membersihkan ruangan yang hancur itu.
Para office boy hanya bisa mengangguk.
Sementara itu..
Riana memesan taksi online untuk sampai di kantor kekasihnya yang sedang marah itu.
Selama berada dalam kendaraannya, Riana selalu memegang dadanya, "Kenapa sangat sakit ya?"
Supir taksi online menoleh, "Ada apa, Mba?"
Riana tersenyum lalu menggeleng, "Tidak apa-apa, Pak."
Supir pun melanjutkan perjalanan.
Riana membuka fitur rekaman di dalam gadgetnya, "Saya mau merekam sesuatu, nanti bapak fokus saja menyetirnya ya."
Supir mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Riana memulai rekamannya, "Hari ini aku bertengkar dengan kekasihku. Dia tampak marah sekali hingga pergi meninggalkan aku begitu saja. Aku sebenarnya mengerti kekhawatiran dirinya yang takut Seno akan terus mengejar diriku bila tak jadi menikah dengan Lala. Namun apakah cintaku padanya masih perlu dipertanyakan lagi. Aku mencintai dirinya melebihi apapun."
Riana menarik nafas, sakit di dadanya semakin terasa, dia meminum air putih yang dibawanya. Riana bergumam pelan, "Sakit sekali."
Riana memejamkan matanya sebentar, "Ini sakit sekali rasanya menghujam jantungku, melebihi sakitnya saat Theo meninggalkan aku. Rasanya aku jatuh cinta terlalu dalam dengan kekasihku yang galak itu. Dia segalanya bagiku."
Supir itu menoleh melihat Riana, dia nampak khawatir namun Riana memberi tanda agar supir itu tidak bicara.
Riana melanjutkan rekamannya, "Tubuhku rasanya melayang saat kekasihku berkata yang menyakiti hatiku. Rasanya aku tak mau ditinggalkan oleh dirinya. Dadaku sakit, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Bahkan aku merasa tidak dapat bernafas. Sayang... jangan sakiti aku..jangan pernah berkata akan meninggalkan diriku."
Riana mengakhiri rekamannya, dia sudah berada di depan kantor kekasihnya itu.
Di lantai atas, Sisil nampak melangkah mendekati Ranto yang tertidur pulas di kursinya. Jas yang dikenakannya tadi sudah dilepas, kemejanya nampak berantakan tidak terkancing dengan rapi. Rambutnya berantakan tak karuan.
Sisil menggigit bibirnya, menikmati keindahan pujaan hatinya dari jarak dekat. Tangan Sisil perlahan membelai wajah Ranto yang nampak tidak sadar akan perlakuan Sisil.
Sisil membuka kancing bajunya sendiri. Sisil melepas blazer yang dikenakannya. Menyisakan tank top yang ketat. Sisil sangat memuja pria tampan itu namun tidak pernah sekalipun dirinya dilihat.
Sisil mendekati Ranto. Dia duduk di atas meja tepat dihadapan Ranto. Membelai wajah pria yang dipujanya.
Riana terdiam terpaku di depan pintu melihat kejadian itu. Dia memegang dadanya yang terasa semakin sakit. Air matanya menetes tanpa diperintah. Kakinya terasa lemas tak bertenaga melihat kekasihnya sedang bersama wanita lain. Mereka terlihat berantakan, sepertinya Riana berpikir terlalu jauh.
Angga yang melihat Riana hanya berdiri di depan ruangan Ranto segera menghampiri, "Riana, mengapa tidak masuk?"
Angga melihat ke arah dalam dan langsung terkejut melihat Sisil yang sedang membelai Ranto dengan mesranya. Ketika menoleh lagi ke samping, Angga melihat Riana terkulai lemas, "Riana!" Angga berteriak sambil menahan tubuh Riana agar tidak terjatuh ke lantai.
Ranto yang mendengar Angga berteriak memanggil nama kekasihnya langsung tersentak.
"Sisil!" Ranto menyingkirkan Sisil yang duduk di hadapannya dan langsung berlari ke depan pintu.
"Riana! Apa yang terjadi, Angga!" Ranto langsung mendorong Angga yang ingin menggendong Riana, "Biar aku saja!"
Ranto langsung menggendong Riana ke lantai bawah tempat praktek dokter khusus perusahaan.
"Bagaimana, Dok?" Ranto bertanya sambil menggenggam tangan Riana.
Dokter paruh baya itu memijit keningnya, "Tampaknya harus segera di bawa ke rumah sakit."
Ranto mencium tangan Riana, "Dia hanya pingsan, Dok!"
Dokter itu menggeleng, "Detak jantungnya masih sangat kencang, saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan."
Ranto langsung menggendong Riana, "Siapkan semuanya, Angga!"
Ranto berjalan lebih cepat dari yang seharusnya.
__ADS_1
Angga sibuk menghubungi semuanya, rumah sakit yang akan mereka tuju, semua dokter spesialis sudah dihubungi juga dan harus siap sedia saat mereka tiba. Semua alat dan obat-obatan harus lengkap dan tersedia.
Sepanjang perjalanan Ranto memanggil terus nama kekasihnya itu, "Riana! Bangunlah!"
Angga melihat sahabatnya begitu khawatir.
Ranto mengusap air mata yang menetes dari mata Riana yang terpejam, "Riana! Bangunlah!"
Dipeluknya tubuh langsing wanita kesayangannya itu.
Setibanya di rumah sakit, dokter sudah siap menyambut kedatangan mereka.
Riana masuk ruang IGD pada siang itu juga.
Setelah lewat dua jam, ketua tim dokter mulai menemui Ranto, "Pasien sudah lewat masa kritisnya. Kalian bisa melihatnya sekarang."
Ranto terkejut, "Kritis?"
Dokter muda itu membuka sarung tangannya, "Tadi dia masuk sudah dalam kondisi kritis. Untunglah Anda membawanya dengan cepat. Ada masalah dengan jantungnya. Sesuatu yang mengejutkan sudah menimpanya dan membuat irama denyut jantungnya berdetak lebih cepat daripada normalnya. Apa dia baru saja mengalami sesuatu?"
Ranto terdiam namun melihat Angga.
Angga memijit keningnya, "Dia baru saja bertengkar dengan kekasihnya lalu tak lama kemudian dia melihat kekasihnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Apakah itu bisa menjadi penyebabnya, Dok?"
Dokter mengangguk, "Ya, bisa jadi dia stress berat. Kita akan observasi lagi."
Angga mengerti, "Jadi, kami boleh menemuinya, Dok?"
"Silahkan. Namun pasien belum sadar. Beberapa dokter berjaga di depan ruangan." Dokter itu melangkah pergi.
Ranto segera masuk menemui Riana yang masih tidak sadarkan diri.
Angga juga menyusulnya. Angga melihat sahabatnya itu sedang mengusap lembut tangan kekasihnya sambil mengusap air matanya sendiri.
Angga duduk di samping Ranto, "Riana, bangunlah. kami tidak memaafkan diri kami jika harus kehilangan dirimu yang cantik ini."
Alat monitor pasien bereaksi normal.
"Riana, bangunlah sayang." Ranto mengusap lembut rambut Riana, "Aku mencintaimu." Ranto berbisik di telinga Riana.
Seketika alat monitor pasien berbunyi kencang.
Beberapa dokter yang berjaga di depan ruangan segera bersiap. Alat monitor pasien yang dilengkapi fitur network memungkinkan alat ini terhubung dengan suatu jaringan sehingga tenaga kesehatan dapat melihat hasil pasien monitor dari jauh.
Follow me ✍️ dee.reeana.24
__ADS_1