Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 51 ( Betapa Berat Mencoba Mengerti )


__ADS_3


Riana tak habis pikir dengan suami kesayangannya itu yang telah memberikan hadiah 'beberapa' mobil mewah untuk dirinya.


Selama mengenal pria kaya raya itu, bahkan Riana tidak pernah meminta suatu barang pun. Bagaimana bisa suaminya memberikan hadiah begitu mahal, bahkan perusahaan saja sudah ats namanya.


"Sayang, apa aku salah memberikan hadiah kecil berupa mobil mewah? Itu tanda kalau aku begitu mencintai kamu, Riana." Ranto sedang berusaha membujuk istrinya itu.


Tampaknya Riana terlalu terkejut.


Ranyo tersenyum seolah mengerti, "Baiklah, aku akan menambah hadiahnya. Sepertinya ada beberapa mobil lagi yang aku sudah pesan, tapi aku belum cocok dengan warnanya. Aku mau warna putih sesuai dengan warna kesukaan kamu, Sayang."


Seolah-olah Ranto adalah suami yang paling peka dengan maksud istrinya itu.


"Apa?"


Rupanya pendengaran Riana sudah mulai berkurang.


"Sebentar ya." Ranto menghubungi dealer mobil built up dengan edisi terbatas, "Ya, sesuai yang tadi siang saya pesan. Tapi saya mau menambahkan dengan yang berwarna merah satu, biar istri saya bisa ikut meramaikan HUT negara kita. Merah dan putih. Ya... Jadi semuanya 10 mobil ya.. Dan ingat! Saya mau yang terbaik."


Ranto menutup teleponnya.


Tersenyum manis ke arah Riana, istrinya itu..


Berharap mendapat kejutan di atas ranjang sebagai rasa terima kasih istrinya.


Tapi.....


Riana malah melemparkan bantal dan selimut kepada dirinya. Sambil berkata....


"Tidur di sofa!"


Ranto menarik nafasnya, "Aku salah apa lagi? Sangat berat mencoba untuk mengerti kaum wanita."


Ranto berpikir sedikit saja, "Aku tahu, rupanya Riana tidak cukup bila mobilnya hanya warna putih dan merah. Besok aku harus ke dealer langganan aku langsung dan memesan secara khusus 12 mobil dengan 12 warna yang berbeda. Riana kesayangan aku itu pasti akan senang menerimanya. Aku akan semangat bekerja untukmu sayang, agar aku bisa memberikan hadiah 'kecil' untuk kamu!" Ranto berteriak ketika mengucapkan kalimat terakhirnya agar istrinya yang berada di dalam kamar mendengarnya dan merasa bahagia punya suami yang peka seperti dirinya.


PEKA...


Riana berteriak di dalam kamar untuk meluapkan kekerasan dirinya.

__ADS_1


Riana sedang memikirkan bagaimana cara mengendarai hadiah kecil dari suaminya yang memberikannya 'beberapa' mobil mewah.


Bahkan ketika maksud Riana protes karena membeli terlalu banyak mobil, suami kesayangannya itu malah menambah pesanan, Riana tertawa kecil merasa geli sendiri, "Dasar suami kaya raya yang tidak peka."


Riana bahkan tidak tahu bahwa Ranto memesan lebih banyak mobil lagi.


Sementara itu Angga terkejut dengan jumlah tabungan Ranto yang selama ini dipegang dan diatur oleh Angga berkurang banyak.


Banyak sekali. Luar biasa. Hanya sehari.


Angga menanyakannya pagi ini ke Ranto langsung.


Riana memberi izin kepada Angga untuk langsung masuk ke dalam unit apartemen mereka berdua.


"Ada urusan apa sampai kamu datang sepagi ini, Angga? Ini bahkan masih jam 3 pagi." Riana masih agak mengantuk.


"Sedikit urusan darurat, Riana." Angga melihat Riana yang masih saja terlihat cantik saat bangun tidur dan memakai baju tidur berupa celana pendek ketat dan kaos yang terlalu besar diukuran tubuhnya. Kaos milik suami kesayangannya.


"Baiklah, kamu masuk dan bangunkan sendiri. Aku masih malas berbicara dengannya." Riana menunjukkan tempat tidur suaminya yang baru dan tanpa banyak bicara, Riana langsung masuk ke kamar tidur lagi.


Angga melihat Ranto yang sedang meringkuk di sofa. Tubuhnya yang tinggi tentu saja tidak akan bisa tidur dengan nyenyak di sofa kecil itu.


Angga tampak merasa bersalah, "Aku membeli sofa kecil agar Ranto mudah menangkap Riana saat sedang bermesraan. Ternyata malah seperti ini."


Ranto yang mendengar suara Angga bangun, posisi tidur yang kurang nyaman membuatnya cepat bangun, "Ada apa?"


Angga langsung pada intinya, "Untuk apa uang yang banyak itu kamu gunakan? Membuat usaha atau...."


Ranto merenggangkan tubuhnya yang sangat pegal, "Aku membeli hadiah kecil untuk istriku."


Angga terkejut, "Hadiah kecil apa bisa sebanyak itu uangnya berkurang?"


"Kamu tadi parkir mobil di parkiran khusus untuk aku?" Ranto mengambil air minum di lemari pendingin.


"Memang harus di mana lagi? Tapi aku tak bisa parkir di tempat biasa karena sudah terlalu penuh dengan deretan mobil mewah yang ....."


Angga ingin melanjutkan kalimatnya, namun otaknya langsung 'connect'.


"Jangan katakan bila deretan mobil mewah yang baru itu adalah hadiah kecil untuk Riana!"

__ADS_1


Angga yakin tebakannya benar.


Ranto mengangguk sambil tersenyum tanpa rasa bersalah, "Bagaimana hadiah kecil dari aku untuk Riana? Bagus bukan ide aku. Tampaknya sekarang aku sudah tidak memerlukan kamu sebagai orang kepercayaan pribadi. Siap-siap saja membuat surat pengunduran diri kamu, Angga."


Tebakan yang tepat dari Angga.


"Kamu pecat aku, maka kamu akan dipecat oleh Riana sebagai suaminya!"


Angga balik mengancam bos besar yang juga sahabatnya itu.


Ranto tersenyum sinis, "Mana mungkin?"


Tak lama terdengar Riana yang membuka pintu kamar tidur, wanita cantik itu tampak membawa beberapa barang milik suaminya.


Angga hanya tertawa, tampaknya dia sudah tahu akan apa yang terjadi.


Ranto terkejut , "Sayang, apa suami kamu ini sudah boleh masuk kamar? Apa hukuman untuk aku yang tidak peka ini sudah berakhir?"


Riana tersenyum manis kepada suaminya, "Maafkan aku yang menghukum diri kamu, Sayang.


Ranto tersenyum manis, " Aku sudah maafkan."


Lalu Riana berkata lagi, "Sayangku...... Aku cintaaaa sekali kepada kamu. Kamu memang suami idaman bagi.........." Riana menggantungkan kalimatnya.


Ranto berdiri membuka tangannya meminta hadiah pelukan, sambil meneruskan kalimat istrinya itu, "Bagi kamu...."


Senyum manis Riana berubah menjadi senyuman sinis, "Bagi perempuan matre!"


Riana melempar lebih banyak bantal dan beberapa pakaian ke arah suaminya itu, "Dan kamu masih belum mengenal diriku! ISTRIMU!" Riana menegaskan kata terakhirnya.


Ranto yang bingung itu malah bertanya, "Maksud kamu apa, Sayang? Apa jumlah mobil yang aku berikan sebagai hadiah kecil untuk kamu masih kurang? Rekening milikku masih terlalu penuh untuk sekedar membeli satu pabrik mobil, Sayang."


"Aku bukan perempuan matrealistis! Aku benci sama kamu!" Riana masuk kamar dengan membanting pintu.


Ranto mengacak rambutnya, "Apa salah aku, Angga?


Angga tidak berhenti tertawa melihat kejadian acara live drama Korea, namun bukan adegan romantis.


"Sudah aku katakan, bila kamu memecat aku maka kamu juga akan dipecat oleh Riana akibat ide kamu yang kelewatan itu!" Angga tak tahan menahan tawanya sambil melihat prihatin ke arah sahabat sejati yang sering merepotkan dirinya itu.

__ADS_1


Dan kali ini tampaknya Angga harus turun tangan untuk membantu menyelamatkan sahabatnya itu dari hukuman Riana.


Menyelamatkannya dari ide-ide luar biasa pria yang memberikan mahar perkawinan kepada istrinya sebuah perusahaan elit.


__ADS_2