
Riana berada di ruang VVIP. Tampaknya dia belum memesan makanan.
Riana membuka halaman galeri di gadgetnya, tampak sekarang olehnya foto Ranto yang dia ambil diam-diam saat Ranto sedang duduk di kantor, lalu di geser foto itu untuk melihat foto Ranto yang sedang marah dengan para bodyguardnya. Riana juga melihat foto Ranto saat sedang berbicara dengan Angga.
Riana tersenyum melihat foto-foto Ranto, dia memegang dadanya yang berdetak kencang hanya dengan melihat foto pria galak itu.
Riana merasa benar-benar jatuh cinta dengan pria galak itu, pria yang selalu mengaturnya, pria yang selalu memaksakan kehendaknya dan pria yang akan memberi hukuman indah untuk Riana bila dia membantah.
Rasanya Riana akan terus membantah bila berdekatan dengan pria galak itu.
Tangan Riana masih memegang gadget. Kepalanya di atas meja bertumpu pada kedua tangannya.
Tidak terasa Riana ketiduran saat melihat foto-foto Ranto.
Ranto dan Angga masuk ke ruangan VVIP. Mereka mendapati Riana sedang tertidur,
Angga langsung duduk di samping Riana.
Ranto merasa kesal dengan ulah sahabatnya itu, namun dirinya harus menjawab telepon yang masuk dari rekan bisnisnya.
Angga berusaha mengambil gadget yang berada di tangan Riana secara perlahan. Tidak terkunci. Terlihatlah apa yang terakhir kali Riana lihat.
Angga memberikan gadget itu kepada Ranto yang baru saja duduk di sebelah kanan Riana setelah menerima telepon dari rekan bisnisnya.
"Lihatlah !" Angga bicara perlahan agar Riana tidak terbangun.
Ranto melihat gadget Riana yang sekarang berada di tangannya, "Foto diriku?"
Angga tersenyum, "Dia melihat foto kamu sampai tertidur."
Ranto melihat jelas, "Ini foto aku yang diambil Riana secara diam-diam?"
Angga mengangguk, "Sepertinya begitu."
Ranto tersenyum senang, "Dia cinta kepadaku, Angga!"
Angga senang melihat senyum lebar di wajah Ranto, "Iya, dia cinta kepadamu dalam diam. Tidak mau menunjukkan banyak padahal dia memiliki banyak cinta untuk kamu."
Setelah mengirim foto itu ke gadget miliknya, Ranto segera mengembalikannya ke tangan Riana yang masih tertidur secara perlahan.
Ranto mengecup pucuk kepala Riana, dia merasa sangat sayang dengan Riana. Lalu Ranto mendekap erat tubuh Riana sehingga membuat Riana terbangun.
"Sudah selesai pekerjaannya?" Tanya Riana sambil menyembunyikan gadgetnya, dia takut Ranto akan melihat apa yang tadi dilakukannya. Walaupun sebenarnya sudah terlambat tanpa dia sadari.
Ranto masih mendekap tubuh Riana, "Sudah. Maaf membuat kamu lama menunggu."
Riana menggeleng, "Tidak apa."
Angga bertanya kepada Riana, "Mengapa tidak memesan makanan duluan, Riana?"
"Aku selalu malas bila makan sendirian."
Ranto menatap Riana dari arah samping, "Kenapa tidak bilang? Sekarang kita pesan yang banyak ya." Lalu Ranto memanggil pelayan untuk menyediakan makan siang mereka.
"Kalian sudah baikan ?" Tanya Riana kepada Ranto dan Angga.
"Sudah. Demi kamu." Ranto mengatasnamakan Riana.
Angga tersenyum sinis, "Dasar !"
Riana tampak senang, "Aku senang mendengarnya."
Ranto memeluk Riana, "Tapi kamu jangan dekat-dekat dengan Angga ! Dia sedikit nakal."
Angga mendengarnya, "Bukankah yang nakal itu kamu ?" Pertanyaan yang Angga tujukan untuk Ranto.
Tak lama gadget milik Ranto berdering. Ranto melihat ke arah layar yang langsung membuat wajah Ranto terlihat serius.
"Aku mau keluar sebentar, menjawab telepon ini. Kalian makan saja duluan ya !" Ranto mencium kening Riana sambil berlalu pergi.
Riana mengangguk.
Tak lama pelayan mengetuk pintu ruangan VVIP dan membawakan makanan.
"Ranto menyuruh kita makan duluan, Riana." Ujar Angga.
"Tidak menunggu ?" Tanya Riana.
"Tadi Ranto sudah menyuruh makan duluan, kamu mau menerima hukuman bila membantah?" Tanya Angga sambil mengacak rambut Riana.
Riana menggeleng.
Merekapun makan bersama tanpa Ranto.
Sudah tiga puluh menit berlalu.
"Kak Angga, mengapa Ranto lama sekali? Apa ada pekerjaan yang belum selesai ?" Riana bertanya sambil memainkan gadgetnya.
"Seharusnya tidak lama karena biasanya semua pekerjaan masuknya ke gadget milikku." Angga mencoba menghubungi Ranto.
Riana tersenyum menanggapi penjelasan Angga.
Angga menatap Riana, "Jangan tersenyum dengan pria lain selain sahabatku, Riana!"
__ADS_1
Riana bingung, "Memangnya kenapa, Kak Angga, ?"
Angga mendekati Riana lalu mengusap rambut Riana, "Karena senyum kamu bisa membuat peperangan besar yang akan menghancurkan dunia !"
Riana tertawa, "Bisa saja, Kak Angga ini hobinya selalu bercanda."
Angga menggeleng, "Aku tidak sedang bercanda, Riana."
Riana memasang ikat rambut di belakang rambutnya, "Apa maksud, Kak Angga?"
Angga menghela nafasnya, "Jangan tersenyum kepada pria lain dan jangan mengikat rambut kamu tinggi-tinggi seperti itu!"
Riana tersenyum kecil, "Kak Angga ini aneh, mungkin salah makan siang. Mengapa juga aku tidak boleh melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan selama ini ?"
Angga membisikkan sesuatu ke telinga Riana, "Kamu cantik sekali ketika melakukan semua itu, bisa-bisa sahabat aku itu harus bersaing demi mengalahkan pria lain yang menyukaimu."
Tak lama Ranto masuk dengan wajah yang terkejut, "Kamu sedang apa, Angga?"
Angga terkejut begitu pula dengan Riana yang langsung ingin menjauh dari Angga namun malah ditarik mendekat oleh Angga, "Kak Angga, lepas !"
Angga tertawa, dia menaruh tangannya di bahu Riana, "Kenapa Riana sayang, kamu takut akan menerima hukuman sahabat aku itu?" Ujarnya sambil melihat ke arah Ranto yang sudah memasang wajah marahnya.
Ranto berteriak, "Lepaskan tangan kamu dari Riana, Angga !"
Riana ketakutan melihat Ranto berteriak namun Angga malah menarik Riana yang membuatnya makin ketakutan.
Ranto menghampiri mereka, lalu menarik Riana agar terlepas dari Angga. Ranto langsung mendekap Riana yang ketakutan.
Angga memijit keningnya, "Riana ketakutan melihat kamu berteriak seperti itu! Jangan lakukan lagi!"
Ranto berwajah marah, "Kamu yang mengawalinya !"
Angga membela diri, "Aku tidak melakukan apa-apa dengan Riana kesayangan kamu itu, aku hanya sedang mengatakan agar dia tidak melakukan hal-hal yang membuat posisi kamu bisa terancam sebagai kekasihnya."
Ranto segera duduk bersama Riana yang berada dalam pelukannya, "Maafkan aku ya sudah berteriak, aku hanya cemburu melihat kamu dengan Angga yang iseng itu. Aku terlalu mencintai kamu, Riana. Aku tidak tahan bila melihat kamu dekat sedikit saja dengan pria lain sekalipun itu dengan Angga."
Riana mengangguk, "Iya, maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri."
Ranto menatap Riana, "Aku cinta sekali kepada kamu, Riana."
Angga tertawa melihat pasangan itu, "Cinta kalian itu sama besarnya."
Ranto menoleh ke arah Angga, "Diam kamu, Angga !"
Angga tertawa kecil melihat sahabatnya itu takut sekali kehilangan Riana, "Aku hanya berkata kepada Riana agar dia tidak tersenyum dengan pria lain selain dirimu. Dan tidak menaikkan rambutnya dengan posisi seperti itu ." Angga menunjuk ke arah kepala Riana.
Ranto melihat ke arah yang Angga tunjuk, "Benar, kamu jangan tersenyum dengan pria lain, Riana ! Juga jangan menaikkan posisi rambut kamu seperti ini !" Ranto berkata sambil membuka ikatan rambut Riana.
"Aku hanya melakukan hal yang sehari-hari aku lakukan ,mengapa kalian melarangnya ? Aku tidak mau ! Aku sudah terbiasa melakukan itu lagipula semua itu adalah hal kecil.
Tiba-tiba Angga mengambil gadgetnya ketika Ranto mengatakan soal bantahan.
Riana mengurai rambutnya lalu membuang ikat rambut yang tadi dipakainya ke tempat sampah yang terdapat di pojok ruang VVIP.
Ranto tertawa melihat Riana yang protes seperti itu, "Kenapa kamu membuang ikat rambut itu, Riana sayang ? Nanti aku tidak akan bisa memberi hukuman kepada dirimu."
Riana mencubit pinggang kekasih itu, "Rasakan itu ! Selalu seenaknya saja kepada diriku yang tidak berdaya menghadapi pria tampan namun galak seperti dirimu !"
Ranto berpura-pura kesakitan terkena cubitan Riana.
Angga yang mendengar perkataan Riana bertanya, "Pria tampan namun galak ?"
Riana yang lupa tidak memakai rem dalam berbicara langsung menutup mulutnya. Tanda dia merasa bersalah.
Ranto baru sadar, "Itu panggilan kesayangan untuk aku, Riana ?"
Riana diam saja tidak menjawab.
Ranto memeluk Riana, "Aku tahu kamu sangat mencintai aku, Riana. Jadi, biarkan pria tampan namun galak ini memeluk dirimu dan mencintai kamu dengan seluruh hidupku."
Angga tertawa kecil, "Tapi intinya kamu itu galak !"
Ranto mencium pipi Riana, "Tidak mengapa, yang penting dia mengakui bila dia mengagumi ketampanan wajahku, bukan begitu, Riana sayang ?"
Riana mengangguk, "Ya."
Angga bertanya, "Tadi siapa yang menghubungi sampai lama seperti itu ?"
Ranto menjawabnya hanya dengan senyum kecil kepada Angga. Lalu Ranto menatap Riana, "Aku cinta sama kamu, Riana."
Riana melihat nada kesedihan di sana, "Mengapa ungkapan cinta kamu terdengar sedih ?"
Ranto menggeleng dan mengulangi perkataannya, "Aku cinta sama kamu."
Ranto mencium tangan Riana dengan lembut, "Berjanjilah akan selalu menerima cintaku walau apapun yang akan terjadi. Tidak perlu kamu meragukan lagi cintaku ini. Seluruh hatiku hanya tertuju kepadamu. Aku benar-benar mencintai kamu. Aku sangat menyayangimu, Riana sayang. Berjanjilah, aku mohon."
Riana yang mendengar itu menjadi gusar, "Apa yang terjadi ?"
Ranto menatap Riana lalu memeluknya, "Aku akan mempertaruhkan seluruh hidupku selamanya hanya untukmu, kamu harus percaya kepadaku, Riana !"
"Ya, aku percaya." Riana mengusap bahu Ranto secara lembut.
Mereka berpelukan cukup lama.
Ranto melepas pelukannya kepada Riana, lalu menggenggam tangan Riana seperti tidak ingin melepasnya.
__ADS_1
"Kamu tidak makan siang ?" Riana bertanya sambil menatap Ranto.
"Nanti saja, kita pulang saja ya. Aku lelah sekali." Ranto mengusap lembut rambut Riana.
"Kamu tidak ingin bercerita apa yang terjadi kepadaku ?" Tanya Riana.
Ranto tersenyum, "Jangan khawatir, Riana. Yang penting kamu percaya bahwa aku sangat mencintai kamu."
Riana menarik nafas, "Baiklah. Kita pulang."
Angga segera menyuruh bodyguard yang menunggu di luar restoran untuk menyiapkan mobil.
Selama di perjalanan Ranto hanya memeluk Riana tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Pelukannya terasa erat sekali.
Ranto mengantar Riana ke apartemennya yang sudah diberikan untuk di tempati oleh Riana.
Ranto memeluk Riana sambil mengusap rambut Riana, "Beristirahatlah !"
Riana tersenyum, "Iya. Kamu juga."
Ranto membalas senyuman Riana dengan kecupan di kening, "Jangan pernah tersenyum dengan pria lain selain aku, Riana !"
Riana menjawab singkat, "Ya."
Ranto tersenyum senang Riana tidak membantahnya, "Baiklah, lekas masuk dan kunci pintunya. Bodyguard akan ada di depan sini untuk menjaga kamu."
Riana lalu masuk sesuai dengan perintah.
Ranto naik lift dengan bodyguardnya yang menemani.
Angga sedang merapihkan berkas untuk esok hari, dia tidak mau pekerjaannya menumpuk. Angga melihat Ranto memasuki unit apartemen dengan langkah gontai berbeda saat tadi berada di depan Riana.
"Katakan kepada aku, sebenarnya apa yang terjadi ? Berita apa yang kamu dengar di telepon tadi siang saat kita sedang berada di restoran ?" Angga bertanya terlalu banyak.
Ranto melepaskan dasi miliknya, "Aku di perintahkan untuk menemui jodohku dan menikahinya sesegera mungkin."
Angga menarik nafasnya, "Sudah aku katakan, tradisi di keluarga kamu akan menghambat kisah cinta yang kamu ukir dengan Riana."
Ranto menaruh tubuhnya di sofa, "Aku mencintai Riana, tidak bisa mencintai wanita lain. Hatiku ini hanya tertuju kepada Riana. Tolonglah aku, Angga !"
Angga mendekat lalu memeluk sahabatnya itu yang sedang rapuh, "Aku akan menolong kamu !"
Ranto mengusap air mata yang berlinang di sudut matanya.
Angga yang melihatnya merasa sedih. Baru saja sahabatnya itu merasakan cinta yang indah dengan Riana sekarang mereka akan menghadapi badai besar, "Sabar, aku akan mencari jalan keluarnya."
Ranto tersenyum tipis, "Jangan sampai Riana mengetahuinya terlebih dahulu !"
Angga mengangguk, "Aku akan memperketat penjagaan untuk Riana, akan banyak keluarga besar kamu yang akan menyingkirkannya agar dia jauh dari kamu."
Ranto menimpalinya, "Lindungi dia dengan seluruh kemampuan kamu,Angga ! Sebab bila dia terluka maka aku yang akan sakit."
Angga menjawab dengan tegas, "Apapun untuk kamu, Bung !"
Ranto menaruh kepalanya di senderan sofa, "Apakah aku kini terlihat seperti Seno Aji yang terlalu mencintai Riana namun terhalang keluarga ?"
Angga menoleh ke arah sahabatnya, "Iya, kalian sama persis. Aku kasihan dengan Riana."
Ranto menggeleng, "Aku memang sama seperti Seno yang memuja cinta Riana setengah mati namun tidak bisa memiliki, namun aku masih bisa mengubah segalanya. Aku mencintai Riana dan harus memilikinya untuk menghabiskan masa tua bersama dirinya."
Angga menepuk bahu Ranto untuk menguatkannya, "Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kamu mewujudkannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat kamu bahagia."
Mereka berpelukan, "Terima kasih, sahabat !" Ranto terharu memiliki sahabat seperti Angga.
Angga mengambilkan minuman untuk Ranto agar lebih tenang, "Minumlah dulu !"
Ranto mengambilnya, "Bahkan sekarang pekerjaan kamu bertambah menjadi asisten rumah tangga."
Angga tertawa kecil lalu memuji dirinya sendiri, "Angga yang serba bisa."
Ranto mengacungkan jempolnya untuk Angga.
Angga melanjutkan pekerjaannya membalas beberapa email yang masuk dari rekanan perusahaan.
Ranto memejamkan matanya sambil menaruh tangannya di kepala, "Apa yang harus aku lakukan, Riana !" Ranto berteriak keras tanda dia sedikit stres memikirkan masalah ini.
Angga menoleh, melihat sahabatnya yang sedang kesusahan, "Bagaimana bila kamu menikahi Riana secara resmi. Bila kalian sudah resmi menikah maka keluarga kamu tidak akan dapat lagi menikahkan kamu dengan wanita lain, bila memang nantinya kamu di paksa untuk tetap menikahi wanita yang merupakan calon jodoh kamu maka Riana tetap istri resmi dan dialah yang berhak atas perusahaan dan semua aset kamu. Jadi bila kamu miskin maka calon jodoh kamu itu aku jamin tidak akan mau menikah dengan kamu walaupun wajahmu tampan."
Ranto mendengarkan saran Angga dengan serius, "Iya, aku adalah pria tampan yang miskin."
Angga tersenyum, "Bagaimana ?"
Ranto sedikit berpikir, "Dengan wajahku yang tampan ada kemungkinan wanita itu masih mau menikah dengan aku. Karena wajahku ini tampan sekali."
Angga melempar bantal yang terdapat di sofa ke wajah Ranto, "Narsis !"
Ranto menyingkirkan bantal itu, "Aku serius, Angga !"
Angga mengambil bantal yang tadi jatuh ke lantai, "Jadi, maksudnya adalah wajah kamu harus berubah menjadi jelek saat menemui wanita calon jodoh kamu itu ?"
Ranto tersenyum, "Iya. Bila perlu jadwalkan aku operasi plastik."
Angga kembali melempar bantal yang masih dipegangnya ke wajah Ranto, "Operasi plastik itu agar bertambah bagus wajahnya bukan untuk memperburuk ! Harus di mana aku mencari dokter yang seperti itu ! Merepotkan !"
__ADS_1
Follow on Instagram 📝✍️ dee.reeana.24