Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Mencintaimu Selamanya


__ADS_3


Mereka sudah sampai ke gedung tempat pernikahan.


Riana terkejut melihat tamu yang datang, "Sayang, kenapa banyak sekali tamunya? Kamu katakan akan mengadakan pernikahan ini secara sederhana."


Ranto tersenyum, "Ini pernikahan sederhana. Bila mengadakan secara besar maka gedung ini tidak akan cukup. Ayolah masuk! Aku tidak sabar lagi ingin memeluk kamu dan membuat anak yang banyak dengan kamu, Riana."


Riana hanya bisa tersenyum kecil melihat kekasihnya berkata seperti itu.


Ranto memegang tangan Riana, saat ini mereka saling berhadapan, "Riana, aku mencintaimu sepenuh hati. Kamu adalah cinta dan hidupku. Aku harap kamu menjaga cinta ini."


Riana tersenyum menatap kekasih yang sebentar lagi menjadi suaminya itu, "Aku juga mencintai kamu sepenuh hati, tidak perlu kamu ragukan lagi besarnya cintaku. Selalu dan selamanya aku akan mencintai kamu selalu."


Ranto tersenyum senang dan mencium tangan Riana dengan lembut.


Tiba mereka di hadapan penghulu.


"Pak, tolong jangan banyak bicara! Saya mau cepat dinikahkan dengan kekasih saya ini. Saya sudah tidak sabar ingin memilikinya."


Penghulu yang menerima banyak hadiah dari Angga karena mau dipanggil mendadak itu langsung tersenyum kecil, "Pantas saja saya dipanggil mendadak tengah malam. Ternyata pengantinnya sudah tidak sabar ingin merasakan malam pertama."


Para tamu undangan yang kebanyakan terdiri dari rekan bisnis tertawa kecil melihat Ranto, mereka sudah tahu akan sifat Ranto bila menginginkan sesuatu.


Pernikahan berlangsung secara khidmat dan cepat.


Rupanya pengantin pria memang sudah tidak sabar.


Mas kawin berupa sebuah perusahaan besar multinasional, beberapa rumah di kawasan elit serta seperangkat berlian bermacam bentuk diserahkan oleh pria tampan itu kepada kekasihnya.


Ranto membawa Riana untuk menemui beberapa rekan bisnisnya secara langsung, di sana tidak ada kursi pelaminan. Ranto tidak menginginkan hal itu, dia ingin menemui rekan bisnisnya satu persatu agar mereka merasa akrab.


"Istrimu sangat cantik, Bung!" Seru salah satu rekan bisnisnya kepada Ranto dan Riana.


Ranto tersenyum, "Tentu saja, satu dari yang terbaik."


Ranto mengenalkan Riana kepada semua rekan bisnisnya. Ranto berharap Riana dapat mempunyai teman baru. Ranto hanya mengundang rekan bisnis yang terbaiknya untuk pesta privat ini.


Pesta pernikahan usai.


Riana merasa lelah sekali. Dia merasa harus beristirahat.


Ranto menggendong Riana dari dalam gedung saat pesta berakhir, semua tamu undangan bertepuk tangan riuh ketika melihat mereka berdua.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar, Riana." Ranto mencium kening Riana yang berada dalam gendongannya.


"Aku lelah sekali , Sayang." Riana mengalungkan tangannya di kekasih halalnya itu.


"Baiklah, kita akan tidur saja." Ranto menurunkan Riana di kamar apartemen baru milik mereka berdua.


Riana meminta tolong membuka pakaiannya, "Sayang, ini susah sekali."


Ranto membantu untuk membukanya. Tampaknya itu adalah perintah yang salah dalam situasi mereka saat ini.


Ranto membantu membuka gaun mahal itu secara perlahan dari atas sampai ke bawah, lalu pengait tubuh Riana yang berwarna merah seolah menantang dia untuk meraihnya dan memiliki sepasang gunung kembar yang ada dibaliknya.


"Riana, tidurnya besok saja ya?" Ranto bertanya dengan suara menahan gairah.


Riana yang tidak mengerti bertanya, "Kenapa memangnya? Aku lelah sekali malam ini."


Ranto mencium pipi Riana dengan lembut, "Kita berpetualang ke gunung dulu ya sambil menikmati dinginnya malam."


Riana menjawabnya dengan asal, "Malam seperti ini kamu mau naik gunung?"


Ranto hanya mengangguk sambil memandang gunung kembar milik Riana tanpa berkedip. Dia menelan ludah melihat keindahan pemandangan yang ada.


Riana seketika itu juga jadi mengerti tentang artian gunung yang dimaksud oleh kekasih halalnya itu, "Kamu ini!"


Riana mencubit Ranto, "Aku mau tidur!"


Ranto menarik tangan Riana yang ingin beranjak pergi dari hadapannya dan membawa pergi gunung indah yang sekarang sudah halal untuknya, "Aku sedang ingin berpetualang seperti kamu, Riana!"


Riana berusaha berontak dari dekapan kekasih halalnya itu, "Berpetualang membuat anak maksud kamu!"


Gairah Ranto sudah tak tertahankan lagi, dia langsung menggendong Riana menuju kasur, "Anak yang banyak, Riana sayangku!"


Mereka menghabiskan malam yang panjang tanpa sempat tertidur. Mereka menyelesaikan petualangannya saat hari mulai pagi dengan senyuman di bibir masing-masing.


"Aku mencintai kamu, Riana." Ranto mencium sayang pipi Riana mengakhiri sesi petualangannya hari itu.


"Aku tidak! Kamu membuatku tidak bisa tidur!" Riana cemberut.


Ranto tersenyum kecil, "Tidurlah sekarang, nanti malam kita berpetualang lagi."


Ranto segera membungkam mulut Riana agar tidak bisa melakukan protes akan hal terakhir yang diucapkannya baru saja.


Pagi ini Angga sudah memerintahkan Kinan agar menemaninya sementara di perusahaan lama, ada setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan di sana sebelum pemindahan kekuasaan.

__ADS_1


Keluarga besar Ranto yang sudah mengetahui tentang pernikahan mereka marah besar dan memaksa mengambil perusahaan bonafit itu.


"Kinan, cepatlah! Kita harus membawa berkas-berkas ini ke perusahaan baru. Ini adalah hak Ranto dan dia berhak mendapatkan ini setelah sekian lama membesarkan perusahaan yang dulu kecil dan hampir bangkrut ini." Angga melemparkan setumpuk berkas ke hadapan Kinan.


Kinan cemberut, "Aku tahu! Tapi kita sudah tidak tidur dua malam ini, tenagaku terkuras habis."


Angga berpikir, "Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi sudah aku pindahkan ke perusahaan baru dan sisanya kamu tahu sendiri, Kinan.. Jadi aku tidak bisa memerintahkan mereka yang ada di sini untuk mengerjakan semua hal penting ini, aku harap kamu mengerti."


Kinan mengangguk, "Ini sampai besok kita mengerjakannya, aku takut keluarga besar Bos Ranto akan segera datang besok pagi sesuai jadwal. Kita membutuhkan bantuan."


Angga memejamkan mata, "Siapa yang bisa membantu kita namun dengan tingkat kesetiaan tinggi terhadap kita serta kemampuan yang bagus?"


Kinan menghampiri Angga dan memperlihatkan grup chat 'Pemberontak Bos Galak' dengan pimpinan Riana, "Bagaimana kalau dengan mereka?"


Angga tertawa, "Bila Bos mengetahui kalian memberi nama grup ini seperti itu maka bisa habis kalian! Dan ingat! Aku tidak mau membantu kalian!"


Kinan tersenyum sinis dengan Angga, "Tenang saja, kami tidak membutuhkan bantuan kamu! Nama grup ini diberikan oleh Bu Riana langsung. Jadi apakah Bos Ranto sanggup melawan pimpinan kami?"


Angga malah tambah tertawa, "Bisa tidur di luar dan melewatkan jatah makan malamnya bersama kekasih yang sudah halal untuk dimakan."


Kinan ikut tertawa.


Angga berpikir sebentar, "Baiklah, panggil mereka ke sini sekarang juga."


Kinan menghubungi mereka dan mereka segera menyanggupi dengan langsung menuju ke sana.


Kinan tersenyum puas, "Mereka sedang menuju ke sini."


Angga ikut tersenyum sambil menarik setumpuk lagi berkas proyek besar, "Ini proyek baru di luar kota, kamu jaga baik-baik dan pisahkan. Siang ini juga kita harus menyelesaikan semuanya. Aku ingin beristirahat nanti malam."


Kinan melihat sekilas berkas itu, "Angga, kamu sekarang beristirahat di mana? Bukankah kamu sebelumnya selalu ikut Bos ke apartemen miliknya?"


Angga tersenyum, "Bagaimana kalau aku menumpang di apartemen kamu, Kinan? Setidaknya ada yang akan memasak untukku."


Kinan melempar spidol yang berada di dekatnya, "Aku bukan istrimu!"


Angga tertawa, "Kalau begitu bagaimana kalau kita menjadi suami istri?"


Pertanyaan Angga membuat Kinan malu, "Mana ada lamaran seorang pria seperti itu? Lagipula selama ini kita tidak ada hubungan apa-apa."


Angga menghampiri Kinan sambil membawa setumpuk berkas baru, "Kalau begitu kita akan membuat di antara kita ada hubungan yang khusus langsung sebagai suami istri, bagaimana Kinan sayang?"


Kinan mencubit Angga dengan keras, "Jangan bercanda dan jangan menggodaku!"

__ADS_1


__ADS_2