Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 20 ( Kamu Milikku )


__ADS_3


Riana terbangun di sebuah kamar yang minimalis namun berkesan elegan.


Di dominasi warna hitam dan sedikit warna putih serta tidak memiliki banyak perabotan di dalam kamar.


Riana sedang berusaha keluar kamar, namun langkah kakinya sedikit sakit akibat di cengkeram erat oleh anak buah Lala yang menyisakan memar saat dia mencoba menendang mereka.


Riana melangkah keluar sambil berpegangan pada tembok.


Sedikit-sedikit akhirnya sampai juga Riana keluar dari kamar tersebut.


Bau masakan tercium harum dengan aroma yang sangat terasa. Riana melihat Ranto sedang memakai celemek dan celana pendek serta sebuah kaos berwarna hitam yang tampaknya adalah warna kesukaannya selain warna putih.


Riana tidak berkedip melihatnya, seorang bos besar terlihat sedang memegang spatula dengan sangat lihai.


Ranto mematikan kompor masih tak menyadari kedatangan Riana di ruangan itu.


Dia lalu meletakkan semangkuk sayur yang baru saja selesai dimasak dengan hati-hati.


Baru saja mau melangkah mencuci tangan, Ranto melihat Riana yang sedang berjalan hendak mengambil air minum sambil memegang kakinya yang masih sakit. Dia terlihat berjalan pelan.


Ranto menghampiri Riana dengan sigap dan berkata sambil memegang tangan Riana penuh kelembutan, "Bila mau minum kamu bisa memanggil aku."


Riana menggeleng, "Aku masih bisa berjalan, sakitnya hanya sedikit saja."


Ranto memapah Riana untuk duduk di kursi makan yang hanya ada dua di dalam apartemennya itu.


"Kamu makan ini ya, biar cepat mempunyai tenaga baru."


Riana melihat masakan yang menggunggah selera.


Ranto mengambilkan nasi dan sayur. Dia langsung menyuapi Riana.


Riana sedikit cemberut sesudah makan, Ranto terus memaksa untuk menyuapinya, "Aku bukan anak kecil."


Ranto tertawa kecil mendengar Riana protes seperti itu.


Lalu Ranto membuat rambut Riana yang halus itu berantakan. Riana mengajukan protes dengan memajukan bibirnya.


Ranto bertanya, "Bagaimana, apa kamu suka hasil masakan aku ?"


Riana mengangguk, "Enak. Tak menyangka bisa seenak ini hasil masakan kamu."


Ranto tersenyum, "Kamu bisa makan masakan aku setiap hari dan aku tidak keberatan untuk memasaknya asal kamu selalu menjadi milikku."

__ADS_1


Riana menarik nafas berat.


"Kenapa ?" Ranto bertanya lembut.


Riana menatap Ranto, "Kita ini bagai bumi dan langit. Perbedaan yang ada sangat banyak. Tidak ada persamaannya sama sekali. Bagaimana orang-orang seperti kita bisa bersatu ?"


Ranto memegang tangan Riana, "Perbedaan bisa membuat kamu membenci lawan namun perbedaan juga bisa membuat kamu mencintai lawan."


Riana terdiam, lalu Ranto melanjutkan, "Kita di ciptakan memang berbeda gunanya adalah untuk saling melengkapi."


Riana tersenyum manis, "Terimakasih atas semua bantuan kamu. Aku banyak merepotkan. Bila kamu tidak datang maka masa depanku akan berakhir di sana."


Menetes air mata di pipi Riana ketika dia mengingat kejadian itu.


Ranto yang melihat air mata jatuh di pipi Riana langsung mengusapnya lalu di belainya rambut Riana dengan sayang.


Mereka saling menatap, Ranto langsung merengkuh tubuh Riana dalam dekapannya.


"Tidak ada yang boleh menyakiti kamu sedikitpun. Bahkan menyentuhmu seujung kuku. Aku akan selalu ada untuk melindungi kamu. Karena kamu tahu apa ? Kamu adalah milikku. Hanya milikku."


Riana malah terisak mendengar Ranto berkata seperti itu. Selama ini Riana melakukan semua sendiri tanpa ada yang mengacuhkannya.


Hanya Nadia sahabatnya yang kini sudah sibuk dengan dunia karirnya dan Seno Aji yang bahkan tak mau berbagi cerita dengan dirinya tentang masalah yang ada sampai berujung pada pertunangannya dengan Lala yang sekarang membawa masalah untuk Riana.


Ranto membantu langkah Riana menuju sofa.


Riana mengangguk.


Ranto duduk di sebelah Riana sambil mendekap erat tubuh Riana. Dia menatap wajah Riana dari dekat lalu mengusap sisa air mata di sudut mata wanita itu.


"Aku sayang sama kamu. Mulai sekarang dunia harus mengetahui bahwa kamu memang milikku."


Ranto membelai rambut Riana. Ranto suka sekali menghirup harumnya rambut Riana.


Ranto menarik nafas panjang menahan rasa ingin memiliki Riana. Tangannya mengusap bibir Riana dengan perlahan.


"Bos, sedang apa ?"


Pertanyaan dari Angga yang datang tiba-tiba ke apartemen Ranto membuyarkan semuanya.


Ranto melirik kesal kepada Angga yang datang tiba-tiba dan langsung duduk di hadapan mereka berdua.


"Pertanyaan bodoh seperti itu harus aku jawab ?"


Angga tertawa kecil, dia berhasil menganggu Ranto yang sedang bersama Riana.

__ADS_1


"Kamu sudah kenal dengan Angga ?" Ranto bertanya kepada Riana.


"Sudah. Kak Angga ini pernah membantu aku sewaktu pertama kali masuk kampus. Saat itu aku di bully oleh Kak Irul dan teman-temannya. Lalu Kak Angga lah yang membantu aku. Bahkan semenjak mereka di ancam oleh Kak Angga, mereka tidak berani lagi mengganggu aku."


Riana menjelaskan tentang bagaimana dia mengenal Angga dengan nada penuh kebanggaan.


Seolah-olah Riana mengenal Angga sebagai seorang pahlawan.


Angga yang mendengarnya merasa senang, ternyata Riana masih mengingatnya.


Padahal itu berlangsung sudah lumayan lama.


Bagaimana Irul tidak takut dengan Angga, ayah Irul adalah karyawan di perusahaan Ranto bagian staf administrasi.


Bila Irul macam-macam dengan Angga dan Ranto maka tamatlah riwayat pekerjaan ayahnya dan tidak akan mendapat rekomendasi untuk melamar pekerjaan di perusahaan manapun.


Bisa-bisa Irul hanya makan nasi, itupun di bagi-bagi bersama ketiga adiknya.


Angga tersenyum-senyum mengingat peristiwa itu.


Andai saja Angga tidak terlalu sibuk dengan mengurus bayi besarnya yang bernama Ranto, maka dari dulu dia sudah mendekati Riana yang Angga kenal dulu sebagai adik tingkat yang manis.


Riana terlihat sangat manis saat pertama kali Angga melihatnya menginjakkan kaki di kampus.


Ranto yang memperhatikan interaksi mereka merasa kesal, hanya dia yang boleh menjadi pahlawan Riana.


"Riana, lebih baik kamu beristirahat ya agar bisa lebih segar. Kamu pakai saja kamar aku dulu." Ranto mencari-cari alasan agar mereka berdua tak saling berbicara.


Riana yang tidak tahu apa-apa bicara, "Aku sudah tidak apa-apa, tubuhku sudah lebih baik hanya pikiranku saja masih teringat hal-hal yang tidak enak."


"Bila kamu terus disini maka pikiran kamu akan lebih banyak tidak enaknya karena melihat Angga." Ranto sudah tidak dapat menutupi rasa cemburunya.


Riana membantah Ranto, "Tidak, aku malah senang melihat dan berbicara dengan Kak Angga sekaligus ingin berterimakasih dengannya. Bukan begitu Kak Angga ?"


Angga yang mengerti kecemburuan Ranto malah semangat menambahkan apa saja agar Ranto semakin terbakar api cemburu.


"Iya, aku juga senang bertemu dengan kamu lagi. Aku tidak menyangka kamu mengingat diriku yang jomblo ini."


Ranto mengernyitkan dahi, "Apa maksud Angga malah mempromosikan dirinya jomblo kepada Riana, menyebalkan sekali."


Ranto segera ambil langkah cepat, di tariknya tubuh Riana dalam pelukannya di hadapan Angga lalu di ciumnya pipi Riana.


Ranto ingin menunjukkan kepada Angga bahwa dirinya sudah memiliki Riana.


Angga yang melihat tingkah Ranto seperti anak-anak yang takut kehilangan mainannya hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


💠💠😘😘💠💠


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2