
Riana menggulung kembali rambutnya yang tergerai, dia akan memakai helm kembali dan melanjutkan perjalanan mereka.
Sesudah lampu hijau menyala, Riana kembali melajukan motornya secara cepat.
Pria di dalam mobil mewah yang merupakan pimpinan di sebuah perusahaan besar menyuruh supirnya, "Ikuti motor sport yang berwarna merah itu !"
Supir lalu memperhatikan motor berwarna merah yang berjalan dengan kecepatan tinggi di depan mobil mereka, " Motor itu kecepatannya di atas seratus kilometer perjam, Bos."
Pria itu membentak, "Aku bilang ikuti ! Mobil ini yang tidak mampu atau kamu ? Bila kehilangan jejaknya maka kamu juga kehilangan pekerjaan kamu !"
Asisten pria itu yang duduk di sebelahnya sambil memperhatikan gadget berkata, "Sudah ikuti saja."
Supir itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tidak tertinggal dengan motor merah yang berada di depan mereka.
Tak lama mobil itu berhenti, "Bos, mereka berhenti di depan rumah itu."
Pria itu memperhatikan, "Rumah Kevin, apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan Kevin ?" Dia bertanya dalam hati.
"Angga, sejak kapan Kevin kembali ke Indonesia ?" Pria itu bertanya kepada asisten yang juga merupakan sahabat yang duduk di sebelahnya.
Angga menoleh, lalu ikut melihat ke arah rumah Kevin, "Aku baru mendengarnya tiga hari yang lalu dan belum sempat memberitahukannya kepada kamu."
Pria itu mengangguk, "Ada urusan apa wanita itu dengan Kevin ?"
Angga mengikuti pandangan sahabatnya itu, "Sepertinya aku mengenal wanita itu, lalu apa urusan kita mengikuti dia ?"
"Cerewet sekali kamu, cari tahu tentang wanita itu !" Pria itu membentak Angga
Angga memperhatikan ke arah rumah Kevin, "Kurang jelas aku melihatnya dari sini, tapi nanti aku akan mencari tahu."
Riana melepaskan helmnya dan membantu Nadia turun dari motornya.
Nadia melihat sebuah rumah mewah di hadapan mereka, "Kita sudah sampai, Riana ?" tanya Nadia.
"Iya." sahut Riana singkat.
__ADS_1
Mereka lalu menekan bel yang terdapat di pinggir pagar rumah mewah tersebut.
Tidak lama seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan maksud tujuan mereka datang ke rumah itu.
Setelah Riana menjelaskan maksud kedatangannya kepada pelayan tersebut, barulah Nadia dan Riana di perbolehkan untuk masuk di kawal oleh petugas keamanan yang berada di rumah tersebut.
Rumah yang luasnya dua kali kampus Riana.
Setengah jam berlalu.
Keluar juga seorang laki-laki yang seumuran mereka, "Apakah benar kalian ini teman Theo, seperti yang dikatakan oleh pelayan saya ?" Laki-laki tersebut bertanya kepada mereka berdua
Riana hanya menganggukkan kepalanya.
Laki-laki itu menarik nafas berat, "Perkenalkan aku Kevin, teman dekat Theo." Laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Mereka menyambut uluran tangan laki-laki itu sebagai tanda perkenalan. Laki-laki yang ternyata bernama Kevin itu.
Riana menjelaskan maksud kedatangan mereka kepada Kevin, "Theo sudah lama tidak mengubungi aku dan dia pun tidak bisa untuk di hubungi, padahal dia berjanji akan menghubungi aku. Danu memberikan alamat ini agar aku bisa terlepas dari rasa penasaran yang ada dan spekulasi tentang Theo yang mengganggu waktu tidurku, barangkali kamu bisa membantu aku agar bisa bertemu dengan Theo atau sekedar mengetahui kabar tentang dirinya."
"Theo sempat bercerita tentang kamu, Riana. Namun tampaknya kalian tidak berjodoh." Sahut Kevin pelan.
"Maaf, memang itu kenyataannya. Aku bisa memberitahukan tentang kabar Theo, namun tidak bisa mengantarkan kamu untuk bertemu dengan dia."
Riana sudah tidak sabar, "Ya sudah, kalau begitu beri tahu di mana keberadaan Theo."
Kevin terdiam.
Riana sabar menunggu Kevin berbicara.
Nadia juga sudah mulai gerah untuk tidak ikut terlibat masalah sahabatnya itu, "Tuan Kevin, tidak perlu terlalu lama merangkai kata sehingga membuat kami tidak sabar. Kenyataan yang ada katakanlah." Tegur Nadia.
Kevin menatap Nadia, lalu beralih menatap Riana, "Temannya cantik. Namun lebih cantik Riana yang mempunyai senyuman manis yang khas dan belum pernah aku melihatnya dari gadis lain. Sungguh keputusan yang salah meninggalkan gadis ini yang begitu mengkhawatirkan keadaan diri kamu, Theo." Batin Kevin.
"Sampai kapan kami harus menunggu kamu berbicara ?" Riana menegur Kevin yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Aku hanya berpikir bagaimana cara mengatakan semua hal tentang Theo dengan kamu, Riana." Kevin berbicara.
__ADS_1
"Riana, bersabarlah. Kita ke sini ingin menyelesaikan persoalan kamu untuk mencari tahu tentang Theo." Pinta Nadia.
Riana berkata kembali, "Sebaiknya kamu cepat bicara sekarang !"
Kevin tersenyum mendengar perkataan Riana, "Tampaknya aku mulai mengerti mengapa Theo bisa jatuh cinta dengan Riana. Sekarang aku tahu alasan kamu yang menyayanginya lebih dari diri kamu sendiri dan mengorbankan kebahagiaan kamu untuk hidup bersama dirinya padahal hati kamu mencintainya."
"Aku berharap kamu mendengarkan aku baik-baik dan menyiapkan dirimu." Kevin memandang iba pada Riana.
Kevin menghela nafas lalu mulai menjelaskan kepada Riana, "Tiga minggu lalu Theo sakit, dia ketagihan obat-obatan. Sudah lama dia memakai obat-obatan terlarang untuk mengalihkan luka akan kehidupannya yang tidak sempurna. Aku sudah sering mengingatkannya dan membawanya terapi ke RS.KO ( Rumah Sakit Ketergantungan Obat-baca )."
Riana tersenyum kecut, "Theo pemakai narkoba aktif maksud kamu ?"
Kevin tersenyum kecut.
"Kamu sedang mengarang ?" Riana bertanya.
Kevin menggeleng, "Aku bukan pengarang yang baik."
Nadia memegang tangan Riana, "Riana, kita harus mendengarkan ceritanya dahulu. Kamu yang ingin tahu tentang Theo. Jangan menghakiminya sebelum tahu apa yang terjadi."
Riana mengangguk kecil, "Baiklah, tolong teruskan, aku ingin mendengarnya walaupun sulit menerima kenyataan."
Kevin melanjutkan, "Namun selama satu tahun kemarin aku harus mengurus perusahaan ayahku. Beliau sedang sakit, maka aku harus ke Vietnam dan Singapura, sehingga aku tidak sempat memperhatikan perkembangan terapinya. Aku pikir terakhir aku tinggalkan, Theo sudah mendapatkan surat rekomendasi terbebas dari pengaruh ketergantungan narkobanya. Selama aku menghubunginya, Theo selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Baru saja aku pulang ke Indonesia karena sudah ada orang kepercayaan keluarga kami untuk mengurus perusahaan, namun kenyataan yang ada adalah keadaan Theo memburuk. Aku sudah mencoba membantunya. Bahkan saat terakhir, Theo bercerita panjang lebar tentang dirimu, Riana."
Kevin bersedih, "Dia sangat bahagia. Tak pernah hidupnya sebahagia itu. Kamu mengembalikan hidupnya, Riana. Bahkan Theo bilang akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun juga. Akan menjaga kebahagiaan diri kamu walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri."
Riana makin tidak mengerti, "Apa maksud kamu, Kevin ?"
Kevin tersenyum sedikit, mendengar nada bicara Riana yang mengungkapkan kekhawatiran, "Apakah kamu mencintai Theo, Riana ?"
Riana mengangguk, "Aku mencintai Theo sudah lama namun hanya mencintai dalam diam. Namun saat terakhir bertemu, barulah kami mengetahui isi hati kami masing-masing."
Kevin menatap Riana, "Bolehkah aku yang mendapat kehormatan mendapatkan cinta kamu yang besar itu ?"
Kevin berkata, "Lupakanlah dia lalu mulailah hidup kamu yang baru."
Riana melihat Kevin, "Mengapa kamu berkata seperti itu ?"
__ADS_1
Follow me 📝✍️ dee.reeana.24