
Ranto terus memegang tangan Riana yang sedang terbaring di kamar hotel.
Dokter yang tersedia di hotel tersebut telah datang untuk memeriksa Riana.
Seno sudah pergi karena di halangi oleh para bodyguard Ranto untuk menemui Riana.
Lala juga sudah pergi. Tidak lupa Ranto memberikan ancaman.
Ranto mengelus tangan Riana dengan lembut, "Riana, bangunlah sayang! Kamu sudah aman sekarang, jangan takut lagi!"
Angga yang melihat sahabatnya berbicara dengan orang yang sedang pingsan menjadi malas mendengarnya, apalagi banyak kalimat rayuan yang membuat jiwa jomblo Angga merasa ingin memberontak keluar.
Angga meminta izin kepada Ranto, "Bos, aku keluar dulu untuk memeriksa jadwal kita yang banyak di batalkan."
"Hem." Jawab Ranto singkat tanpa menoleh, dia masih sibuk merapihkan rambut Riana helai demi helai.
Angga protes, "Dengan orang pingsan kamu banyak bicara, dengan orang sadar kamu sedikit bicara! Untung sahabat!"
Angga melangkah pergi keluar sambil geleng-geleng kepala. Angga memainkan gadgetnya untuk menyesuaikan jadwal pekerjaan yang tertunda.
Angga juga menemui pengelola hotel yang merupakan rekan bisnis perusahaan Ranto untuk membicarakan kekacauan yang terjadi dan meminta maaf.
Bila ada kerugian yang timbul maka tidak segan Angga akan membayar biaya ganti rugi akibat kekacauan yang sering dilakukan oleh bosnya.
"Riana, bangun sayang. Sudah ada aku disini. Kamu aman sekarang." Ranto terus saja berbicara kepada Riana yang masih pingsan.
Perlahan Riana membuka kedua matanya. Riana melihat Ranto sedang memegang tangannya.
Mereka saling menatap.
Ranto langsung menciumi tangan Riana yang berada dalam genggaman tangannya. Dia senang melihat Riana sadar dari pingsannya.
Riana menarik tangannya, "Kenapa kamu cium tanganku?"
Ranto tersenyum, "Aku senang kamu cepat sadar, kamu sudah membuat aku khawatir."
Riana terdiam sambil menatap Ranto, "Terima kasih telah menolongku."
"Itu sudah menjadi keharusan." Jawab Ranto.
Riana mengernyitkan dahinya sedikit, "Keharusan?"
Ranto mengelus rambut Riana, "Keharusan sebagai seorang kekasih."
Riana protes, "Sejak kapan aku adalah kekasihmu?"
"Sejak dadaku berdebar kencang saat sedang menatap kamu." Ranto berkata penuh kesungguhan.
"Mana bisa seperti itu ?" Riana tertawa kecil tidak percaya akan pemikiran Ranto yang dengan mudahnya melakukan klaim kepemilikan.
"Bisa! Aku tidak menerima sebuah penolakan ! Saat dadaku sudah berdebar kencang, itu artinya aku sudah menetapkan hatiku hanya tertuju kepadamu. Dan kamu wajib menjaganya."
Riana menarik nafas dalam-dalam, "Kamu suka sekali memaksakan kehendak sesuka hatimu."
__ADS_1
Ranto tertawa kecil.
Riana beranjak bangun dari tidurnya, lalu duduk di kasur dengan Ranto yang masih berada di hadapan Riana.
"Lalu apa bedanya kamu dengan Seno Aji?" Tanya Riana.
Ranto langsung terdiam. Dia dalam mode marah ketika mendengar Riana mengucapkan nama Seno.
"Seno menghalalkan segala cara untuk memiliki hatimu! Berbeda dengan aku."
Ranto mengambilkan air minum untuk Riana, "Aku akan berusaha menggapai hatimu pelan-pelan, sampai tiba saatnya hati kita berdua berdebar secara bersamaan saat kita sedang bersama atau saat memikirkan satu sama lain."
Jarak mereka sangat dekat, mereka saling menatap setelah Ranto mengatakan hal itu.
Riana melihat pantulan dirinya di mata Ranto begitu juga sebaliknya. Jantung Ranto berdetak lebih keras dari normalnya.
Ranto memeluk erat tubuh Riana dan tanpa Riana sadari tangannya juga memeluk Ranto dengan erat.
Ranto yang merasakan sentuhan Riana sangat senang.
Ini pertama kali Riana membalasnya.
Dia langsung merenggangkan sedikit pelukannya, "Riana, jantung kamu sekarang juga berdetak lebih kencang, apakah itu artinya kamu sudah mencintai aku sepenuh hatimu?"
Riana malu Ranto bertanya seperti itu. Apalagi saat Ranto mengetahui bahwa jantungnya juga berdetak kencang.
Ranto menatap Riana dengan tatapannya yang lembut, "Sepertinya aku mencintai kamu, Riana. Sangat mencintai kamu. Aku takut terjadi sesuatu dengan dirimu bila kita berjauhan. Aku ingin kita selalu bersama tanpa ada yang mengganggu. Aku ingin mempunyai tempat yang spesial di hati kamu." Ranto menyatakan cintanya yang begitu besar terhadap Riana.
Ranto memeluk Riana sambil membelai rambut Riana dengan lembut. di
Riana hanya bisa memejamkan mata sambil merasakan debaran yang ada. Merasakan belaian tangan Ranto yang membelai lembut rambutnya yang panjang.
Tidak ada lagi percakapan antara keduanya. Hanya deru nafas yang terdengar di sana.
Cakrawala biru yang membentang di balik jendela hotel dari ketinggian 20 lantai menjadi saksi bisu romansa cinta mereka.
Suara pintu terbuka.
"Bos." Angga masuk tanpa mengetuk pintu, tidak mengetahui apa yang terjadi.
Akhirnya Angga menonton drama Korea.
Dan jantungnya ikut berdetak kencang.
"Kamu selalu mengganggu aktifitas aku dengan Riana!" Ranto membentak Angga sambil mengusap rambut Riana.
Angga hanya cengengesan melihat sahabatnya itu yang sedang jatuh cinta dengan Riana, mantan musuh Ranto.
"Maaf Bos, tidak sengaja. Aku duduk disini saja agar kalian tidak terganggu. Silakan untuk melanjutkan !" Ujar Angga sambil duduk di sofa kecil yang terdapat di sudut ruangan.
Ranto melempar bantal yang ada di dekat Riana kepada Angga.
Angga mengelak sehingga tidak terkena lemparan bantal.
Ranto menutupi Riana yang sedang malu di belakang tubuhnya, "Sudah, pergilah! Dasar asisten kurang kerjaan kamu !"
__ADS_1
"Aku tidak ingin pergi. Aku ingin melihat langsung, Drama Korea Live."
Angga masih saja menggoda Ranto.
Ranto berbalik badan. Lalu membelai rambut Riana dengan tangannya, "Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan asistenku itu."
Riana mengangguk.
"Kita pulang sekarang atau menikmati kota ini beberapa hari ?" Ranto bertanya kepada Riana.
"Kita pulang saja, aku ingin melupakan kejadian disini." Sahut Riana tersenyum sambil berdiri merapihkan rambutnya. Terlihatlah senyum Riana yang manis dan lehernya yang jenjang.
Ranto menatap Riana, "Pantas saja Seno menginginkan kamu seutuhnya."
Riana ingin melangkah pergi, namun Ranto menahan tangan Riana, "Kamu mau kemana ?"
Riana menjawab, "Mau mengambil tas itu." kata Riana sambil menunjuk pada kantong belanjaan pakaian yang terdapat di meja kecil.
"Angga, ambilkan kantong belanja berwarna coklat itu !" Ranto malah menyuruh Angga.
Angga yang sedang santai sambil melihat hasil kerja anak buahnya melalui gadget hanya geleng-geleng kepala.
Angga mengambilkannya, "Aku ambilkan ini demi Riana, bukan demi kamu, Bos galak yang berisik !"
Angga sengaja mengedipkan sebelah mata kepada Riana di depan Ranto.
"Besok kamu periksa ke dokter mata untuk memperbaiki mata kamu yang genit itu !"
Riana hanya tersenyum melihat mereka.
"Riana, kamu membeli pakaian di butik Pretty ya?" Angga bertanya sambil menenteng kantong belanjaan ke arah Riana.
Angga hapal kantong belanjaan itu.
"Aku memang pergi ke butik itu, namun tidak membelinya. Seno Aji yang membelinya tadi."
Angga melihat sedikit ke kantong belanjaan itu, "Banyak sekali Seno membelinya. Jadi benar kalian akan pergi dan menikah?"
Riana menggeleng, "Seno tidak mengatakan apa-apa tentang itu, aku hanya berniat mengganti pakaian milikku yang basah saja."
Riana mengambil satu buah pakaian yang berwarna merah.
Ranto menarik pakaian itu dari tangan Riana. Lalu membuangnya ke lantai.
Ranto juga mengambil dan membuang pakaian yang ada pada kantong belanjaan hingga berserakan di lantai.
"Kenapa kamu membuangnya?" Riana ingin mengambil kembali pakaian yang sudah berserakan di lantai, namun Ranto menahan tangannya.
"Kamu ingin berganti pakaian?" Tanya Ranto kepada Riana.
Ranto langsung membuka kemejanya hingga menyisakan kaos T-shirt berwarna putih. Senada dengan kemeja yang tadi Ranto pakai.
"Ganti baju kamu dengan ini!" Ranto menyerahkan kemeja itu kepada Riana.
Lalu Ranto memerintah Angga kembali, "Sumbangkan semua pakaian dari Seno atau kamu jual kembali dan uangnya kembalikan kepada Seno!"
__ADS_1
💘♥️💘♥️
Follow me 📝✍️ dee.reeana.24