Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 28 ( Rekaman Indah )


__ADS_3


Riana membaringkan tubuhnya di kasur mewah yang lebar.


Tidur di apartemen milik Ranto serasa tidur di istana kecil. Mewah dan elegan.


Ranto hanya memberikan kaos miliknya dan kemeja untuk besok di pakai oleh Riana.


Riana melihat cermin besar yang terdapat di ruangan itu, "Pakaian ini terlalu besar untuk aku. Kenapa aku tidak dibelikan gaun di butik seperti cerita di novel yang kekasihnya adalah bos yang memimpin perusahaan besar."


Riana merapihkan rambutnya,"Dasar, pria galak ! Seenaknya saja memberi hukuman." Riana mengumpat sendiri.


Bila berada di hadapan Ranto mana ada keberanian Riana seperti itu, dirinya bisa habis terkena hukuman yang di lakukan dimana saja dan di depan siapa saja.


Riana menyuruh Jojo membelikan pelembab khusus tubuh di minimarket yang berada di lantai bawah apartemen itu.


Uangnya memakai milik Jojo dulu, nanti bila sampai rumah akan Riana ganti. Walaupun tadi Jojo mengatakan tidak perlu mengganti uangnya.


Riana segera mandi namun dia lupa membawa pakaian gantinya. Jadi dia akan mengganti pakaian di kamar saja.


Sementara itu...


"Bos, besok pagi kita ada meeting dengan pihak Angkasa Perkasa untuk mengecek progres pembangunan proyek sudah sampai mana. Lalu siangnya dengan Pak Hari, direktur PT Rekayasa Berdikari. Jadwal kuliah tidak ada." Angga sedang menjelaskan jadwal untuk esok hari.


" Usahakan untuk memulai jadwal setelah aku mengantar Riana ke kampus !" Ranto memerintah Angga dengan tegas.


"Baiklah. Apapun untuk Riana." Angga berkata menggoda Ranto.


Ranto langsung memukul bahu Angga dengan pelan, "Riana milikku !"


Mereka tertawa bersama.


"Tenang saja, sahabat. Aku bukan tukang tikung." Angga tertawa kecil.


"Kamu memang sahabat sejati." Ranto mengacungkan jempolnya.


Angga tersenyum sinis, "Tapi aku tukang pungut. Aku akan memungut Riana bila kamu sudah membuangnya !"


Ranto menarik nafas, "Aku tidak akan pernah membuangnya. Aku akan menjadikannya istriku."


"Kalian belum lama kenal." Angga mengingatkan.


"Hatiku sudah menjadi miliknya. Tidak peduli berapa lama mengenalnya." Ranto membayangkan Riana.


"Bukankah tradisi di keluarga kamu adalah sudah mempunyai jodoh masing-masing sejak lahir ?" Angga bertanya tentang tradisi keluarga Ranto yang sudah ada turun temurun.


"Aku lahir di era globalisasi, jadi sudah bebas." Ranto yakin dengan perkataannya.


Angga menaruh tangan di bahu sahabatnya itu, "Tetap saja, sulit bagimu menikah dengan Riana. Aku yakin keluarga kamu akan menentangnya."


Ranto tersenyum, "Bantu aku mempertahankan dan menikahi Riana. Aku sangat ingin memilikinya. Aku bahkan tidak ingin berhenti ketika sedang menatapnya."

__ADS_1


Angga tertawa kecil, "Aku baru mengetahui bila cara mencintai adalah dengan cara seperti itu."


"Khusus dengan Riana." Ujar Ranto.


Angga menepuk bahu Ranto, "Habis Riana dengan kamu, Bos !"


Ranto tersenyum karena sedang mengingat Riana.


"Pantas saja Seno Aji habis-habisan menginginkan Riana." Ranto berkata sambil mengambil gadgetnya.


Angga mengingat Seno, "Seno yang menunggu Riana lama, kamu yang mengambilnya. Kasihan Seno, mengapa Riana tidak menerima cintanya. Seno sebenarnya orang baik, dari keluarga baik-baik juga. Tampan, cerdas. Banyak wanita yang mengejarnya."


Ranto menimpuk kepala Angga dengan bantal sofa, "Kamu sedang memuji Seno ? Jadi maksud kamu Seno lebih baik untuk Riana daripada aku ?"


Angga tertawa, "Tentu saja."


"Aku pecat kamu, Angga !" Ranto kesal.


"Seperti yang Riana katakan, mulutmu seperti sambel ayam geprek, Bos ! Pedas."


Ranto tertawa, "Bahkan Riana sudah punya panggilan sayang khusus untuk aku sebelum aku menjadi kekasihnya."


Angga hanya tertawa kecil menanggapi perkataan sahabatnya itu.


"Bila memang mau menikahinya, kamu harus menyiapkan segalanya, Bos." Ujar Angga sambil mengecek jadwal seminggu ke depan.


"Surat nikah ?" Tanya Ranto sambil melihat berkas kerjasama untuk esok hari.


Ranto mengangguk, "Bisakah kamu siapkan agar aku memisahkan perusahaan yang aku rintis sendiri dengan perusahaan keluargaku ? Bahkan aku yang merintis perusahaan ini dari kecil hingga sebesar sekarang."


Angga tersenyum, "Aku tahu, Bos ! Tenang saja, aku akan membuat perusahaan kita terpisah dengan milik keluargamu tanpa mereka sadari. Aku akan mempersiapkan sebuah perusahaan yang bahkan lebih besar daripada ini. Keuntungan kita sangat banyak saat kepemimpinan kamu, investasi pribadi kita sudah tidak terhitung ada di berbagai perusahaan. Mulai sekarang aku akan fokuskan ke perusahaan baru itu agar berkembang pesat sebelum kamu menikahi Riana. Kamu juga boleh memakai uang warisanku yang tak terhitung itu untuk lebih memperbesar perusahaan baru milikmu."


Ranto bertanya, "Uang warisan dari keluargamu ?"


Angga menjawab, "Ya."


Ranto tersenyum melihat sahabatnya yang setia itu, " Aku bangga bisa menjadi sahabat kamu, Angga."


"Harus !" Kelakar Angga.


Dan mereka tertawa.


"Angga, apakah kamu sudah mengecek semua ruangan Riana dengan benar ?" Ranto bertanya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Sudah." Jawab Angga singkat.


Ranto bertanya lagi, "Apakah kamera pengawas ruangan di unit itu berfungsi semua ?"


Angga mengambil lagi gadget di atas meja, "Sebentar, aku lihat dulu."


Angga mengecek kamera pengawas yang berada di ruangan Riana, semua berfungsi dengan baik. Terakhir mau melihat yang berada di kamar tidur, dan...

__ADS_1


Angga menjatuhkan gadgetnya.


"Ada apa ?" Ranto langsung khawatir kepada Riana begitu melihat Angga menjatuhkan gadgetnya dengan muka yang merah.


Angga tidak menjawab.


Ranto mengambil gadget milik Angga dan melihatnya.


Terlihat Riana yang sedang duduk di pinggiran kasur mengangkat kaki kirinya, lalu mengolesi tubuh mulusnya dengan pelembab khusus tubuh, mulai dari tangan, leher, hingga sekujur tubuhnya.


Selesai semuanya terlihat Riana berdiri menghadap kaca sambil kembali mengolesi pelembab di tangannya.


Lalu Riana memakai kaos milik Ranto yang terlihat kebesaran di tubuhnya yang langsing.


Riana menyisir rambutnya yang panjang dan berkilau hanya menggunakan jari di tangannya.


Tak lama Riana terlihat berbaring sambil memainkan gadgetnya.


Ranto langsung mengusap wajahnya dengan kasar melihat semua itu.


Ranto menekan sebuah tombol untuk menyimpan rekaman indah itu.


Ranto tersenyum-senyum sendiri.


Angga menepuk kepala Ranto untuk menyadarkannya.


"Sampai mana kamu lihat Riana ?" Tanya Ranto menginterogasi Angga.


Angga tersenyum, "Saat dia masuk kamar dan hanya memakai handuknya, Bos."


"Kamu sampai terkejut seperti itu ?" Ranto mengirim rekaman itu ke gadget miliknya dan menghapusnya dari gadget Angga.


Angga menerima kembali gadgetnya, "Aku memang sering melihat wanita cantik, Bos. Tapi yang ini berbeda. Melihatnya hanya memakai handuk saja bisa membuat aku pusing."


Ranto melempar bantal ke muka Angga, "Jangan kamu lihat lagi ! Riana calon istriku."


Angga tersenyum sinis, "Lalu, apa tadi yang kamu lihat sampai celana kamu menjadi ketat seperti itu ?" Angga menunjuk ke bawah.


Ranto tidak menjawab.


Angga kembali bertanya, "Handuknya terlepas ?"


Ranto tersenyum, "Rahasia."


Ranto segera beranjak ke kamar mandi untuk mendinginkan otaknya.


Angga tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang sedang jatuh cinta.


Angga berkata dalam hati, "Sebenarnya tadi aku melihat Riana sedang mencoba pakaiannya. Maafkan aku sobat, yang sudah tidak jujur kepadamu. Aku tidak sengaja melihat kesayanganmu seindah itu."


♥️💘♥️

__ADS_1


Follow Instagram me 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2