
Riana mengenakan kacamatanya untuk membaca buku materi dan membuat tugas kuliah di laptop miliknya.
Riana tidak mau meminta bantuan dari kekasih hatinya itu karena bayarannya sangat mahal. Lebih baik berusaha sendiri.
Tidak lama sekretaris Ranto yang bernama Kinan masuk ke dalam ruangan membawa makan siang yang banyak untuk Riana.
Kinan melihat kekasih bos galaknya sangat cantik dan anggun, padahal hanya mengenakan kemeja yang bahkan terlalu besar untuk ukuran tubuhnya, "Silahkan di makan, Bu!"
Riana yang sedang fokus menoleh ke sumber suara, "Iya. Terima kasih."
Riana menyimpan file terlebih dahulu sebelum mematikan laptop miliknya. Lalu Riana menyodorkan tangannya ke arah Kinan, "Perkenalkan, saya Riana."
Kinan tidak menyangka selain cantik kekasih bosnya itu juga ramah dan sopan, "Saya Kinan, Bu."
Riana tersenyum, "Jangan memanggil saya dengan sebutan ibu, panggil saja saya Riana."
Kinan menggeleng, "Tidak bisa, Bu. Nanti bapak bisa marah."
Riana yang mengerti posisi Kinan segera mengangguk, "Baiklah. Lebih baik mencari aman ya?"
Kinan tersenyum, "Iya, Bu."
Riana melihat ke arah meja, "Sebanyak ini makan siang untukku?"
Kinan menjawabnya, "Iya, Bu. Dan bapak menyuruh saya duduk di sini menemani ibu makan siang karena bapak mengatakan bila ibu tidak suka makan sendirian."
Riana tersenyum, "Iya, saya suka bila ada yang menemani. Ayo, kita makan bersama!"
Kinan menolak, "Tidak, Bu. Terima kasih banyak, tetapi tadi bapak berpesan saya harus mengawasi ibu menghabiskan makan siang ini."
Riana merasa kesal, "Sebanyak ini? Aku bahkan hanya memakan mie ayam setengah porsi saja. Ya sudah, kalau begitu kita makan bersama ya! Bila kamu tidak mau maka aku juga tidak mau makan."
Kinan bingung menghadapinya, "Tapi, Bu.." Kinan menggantungkan kalimatnya.
Riana melihat ke arah Kinan, "Tapi apa, Kinan?"
Kinan melanjutkan perkataannya, "Tapi tadi bapak berpesan juga khusus untuk ibu, bila tidak dihabiskan maka ibu akan menerima hukuman."
Riana membersihkan kacamatanya, "Bapak menceritakan tentang apa hukuman yang akan diberikan untuk saya?"
Kinan menggeleng, "Tidak, Bu."
Riana bersyukur Kinan tidak mengetahuinya, "Kita habiskan bersama dengan karyawan lain ya!"
Kinan masih menolaknya, "Tapi nanti bila bapak mengetahuinya maka kami bisa dipecat, Bu."
Riana tidak habis pikir dengan kekasihnya itu, "Dipecat hanya karena masalah kecil seperti ini?"
Kinan mengangguk, "Iya, Bu. Setiap kami melakukan kesalahan walaupun itu hal kecil maka bapak tidak akan segan untuk memecat kami."
Riana terdiam sambil berpikir, "Tapi bapak tidak akan mengetahuinya bila kalian tidak bercerita."
Kinan tersenyum, "Kamera pengawas selalu dalam posisi mengintai, Bu."
Riana melihat ke arah pojok ruangan lalu sekelilingnya, benar saja kamera pengawasnya terlalu banyak.
Namun bukan Riana namanya kalau tidak mempunyai akal banyak, "Kita ke parkiran bawah tanah, lalu duduk di antara mobil yang di parkir sehingga posisi kita tidak terlihat oleh kamera pengawas, bagaimana Kinan? Tolonglah saya, makanan ini terlalu banyak untuk saya habiskan sendiri. Bila tidak habis maka saya akan di hukum."
Kinan melihat ke arah meja, "Memang banyak sekali, Bu. Ini bisa untuk makan 20 orang."
Riana mendekati Kinan dan merangkulnya, "Aku benar, bukan? Ini terlalu banyak."
Kinan mengangguk.
Sesuai komando Riana, Kinan membawa kembali makanan dari restoran mahal itu lalu mereka turun ke parkiran dan mengajak 18 orang yang terdiri dari karyawan dan petugas kebersihan untuk makan siang bersama mereka.
Semula mereka bingung, bila membuat kekasih bos kesal maka mereka bisa dipecat namun bila membantu kekasihnya untuk membantah bos maka mereka juga bisa dipecat.
Namun Riana menjamin bahwa bila Ranto mengetahuinya maka dia yang akan bertanggung jawab, "Kalian tenang saja, bila terjadi sesuatu pada kalian, maka aku yang akan bertanggung jawab."
Mereka sangat senang berkenalan dengan kekasih bos mereka yang baik hati seperti Riana.
Tidak malu berbagi dan makan bersama mereka dengan cara duduk lesehan di lantai sambil sembunyi. Seperti sedang menjalani misi rahasia yang biasa mereka kerjakan dari Bos Angga.
__ADS_1
Riana bertanya kepada mereka, "Bagaimana, enak tidak makanannya?"
Pak Hari, seorang petugas kebersihan menjawab pertanyaan Riana, "Ini makanan terenak yang pernah saya makan, terima kasih banyak, Bu Riana."
Pak Reza yang juga rekannya menimpali, "Benar, Bu Riana. Ini adalah makanan yang belum pernah saya rasakan seumur hidup saya, terima kasih karena Bu Riana sudah mau berbagi dengan kami."
Susi, karyawan bagian resepsionis yang baru masuk juga tersenyum, "Saya mewakili rekan-rekan berterima kasih sama ibu Riana yang sudah berbaik hati membagi makan siangnya kali ini. Apalagi makanan ini dari restoran tempat yang biasa bapak makan beserta rekan-rekan bisnis bapak sesama CEO. Kami serasa menjadi bos untuk sementara waktu, Bu Riana."
Olive karyawan bagian administrasi yang tadi sempat menonton drama Korea antara Ranto dan Riana di lobi memperhatikan Riana lalu tersenyum, "Ibu Riana ini sudah cantik, ditambah baik hati pantas saja bapak jatuh cinta kepada Bu Riana."
Riana tersenyum, "Kalian itu sebenarnya yang baik hati. Akulah yang seharusnya berterima kasih kepada kalian karena sudah menemani aku makan siang kali ini. Aku ini orang yang paling tidak bisa makan sendiri. Lebih baik aku kelaparan daripada harus makan sendiri.
Jangan lupa ya, masukkan nomor telepon kalian ke gadget aku ini. Nanti kita buat grup "Pemberontak Bos Galak", bila setuju segera masukkan kontak kalian di gadget milikku ini.
Susi yang paling kagum dengan Riana segera mengambil gadget yang diberikan oleh Riana dan mengetikkan nomor serta namanya ke dalam kontak telepon, lalu semua secara bergiliran melakukan hal yang sama.
Riana menyuruh mereka untuk mengumpulkan wadah bekas makanannya sebagai bukti bahwa dia sudah menghabiskan makan siangnya kepada Ranto.
Riana kembali mengerjakan tugas kuliahnya di ruang khusus tempat Ranto sering beristirahat.
Setelah beberapa saat dirinya merasa kelelahan padahal tugas belum selesai. Sebelum menutup laptopnya, Riana menyempatkan diri untuk membuka file tempat dia menyimpan foto Ranto.
Riana tersenyum melihat foto Ranto di laptopnya, "Tampan. Aku cinta sama kamu, sayang." Riana berbicara sendiri di depan laptopnya.
Mata Riana sudah terlalu berat, lalu dia tertidur dengan laptopnya yang masih menyala.
Ranto sudah selesai rapat dengan para CEO rekanan perusahaan.
Mereka sudah sepakat melakukan kerjasama saling menguntungkan. Dengan begitu maka sudah dipastikan perusahaan baru itu akan melambung tinggi melampaui perusahaan manapun di negara ini.
Ranto dan Angga masuk ke dalam ruangan.
Angga bertanya, "Di mana, Riana?"
Ranto membuka dasi yang dikenakannya, "Coba kamu cek ke ruangan istirahat itu!"
Angga membuka pintu ruang khusus istirahat Ranto, lalu berkata dengan pelan, "Riana bahkan terlihat cantik saat tertidur." Angga memuji kekasih sahabatnya itu.
Ranto tersenyum, "Dia kekasihku, Angga."
Angga menoleh, "Aku tahu itu."
Ranto mengambil perlahan laptop di samping Riana. Masih menyala.
Ranto meletakkan laptop itu di meja kerjanya lalu membukanya dan seketika dia tersenyum senang, "Setiap menit, dia selalu merindukan aku, Angga."
Angga mendekati Ranto yang sudah duduk di kursi kerjanya lalu melihat laptop Riana, "Riana suka mengambil foto kamu secara diam-diam."
Ranto mengusap kasar wajahnya, "Aku sangat mencintai dia, Angga. Setiap detik aku tidak akan tahan bila jauh dari dirinya."
Angga menepuk bahu Ranto, "Kalian akan selalu bersama."
Ranto menghela nafas, "Percepat perusahaan baru ini maju pesat, Angga ! Pergunakan semua aset yang aku miliki untuk menjadikannya nomor satu. Bawa semua anak buah dan karyawan yang selalu setia dan berkompeten! Khusus alumni kampus kita, aku sudah berjanji menambah kuota penerimaan karyawan. Bawa alumni kampus kita ke perusahaan baru!"
Angga menjawabnya sambil memperhatikan berkas kerjasama yang tadi sudah berhasil di sepakati, "Siap, Bos! Aku akan membuat perusahaan kita besar dalam waktu semalam."
Ranto melempar pulpen yang berada di atas mejanya ke arah Angga, "Memangnya kamu Bandung Bondowoso, yang bisa membuat seribu candi dalam waktu semalam!"
Angga tertawa kecil takut membangunkan Riana, "Aku Angga Bondowoso, Bos!"
Ranto tersenyum saja menanggapi tingkah Angga yang seperti itu, namun dia tahu bukan hal yang tidak mungkin Angga membantunya memajukan perusahaan dalam waktu beberapa bulan saja.
"Angga." Ranto memanggil Angga pelan.
Angga menoleh, "Apa ?"
Ranto membuka jas, "Menurut aku, kamu ini memang benar Angga Bondowoso."
Angga tersenyum kecil mengacungkan jempolnya.
Ranto sibuk melihat laptop Riana, rasa ingin tahunya besar.
Ranto segera membuka dan membaca beberapa file milik Riana.
Ada satu folder khusus yang Riana buat dan folder itu berjudul "Cintaku Yang Galak" Ranto tersenyum membacanya, "Sungguh nakal kamu, Riana." Ranto berbicara sendiri.
__ADS_1
Ranto juga membuka file tugas kuliah Riana lalu terlihat jadwal pengumpulan tugas itu adalah esok hari dan belum selesai, "Angga, kamu simpan file tugas kuliah Riana ini, sayangku itu belum selesai mengerjakannya. Kamu segera selesaikan dan besok pagi serahkan kepada aku! Aku tidak mau Riana mendapatkan nilai buruk di mata kuliah ini."
Angga menarik kursinya ke meja kerja Ranto lalu memasukkan USB miliknya ke laptop Riana, dan mengirim file tugas kuliah Riana yang belum selesai, "Besok pagi aku berikan kepadamu."
Ranto tersenyum puas.
Semula Angga ingin melihat tugas lain yang belum diselesaikan oleh Riana namun ada satu folder yang tidak bisa di buka olehnya, "Ini ada file yang tidak bisa dibuka, pasti isinya penting, Bos."
Ranto kembali melihat dengan teliti ke laptop Riana, "Benar kamu, Angga. Coba kamu suruh Heru untuk membukanya."
Angga segera memanggil Heru, karyawan yang paling handal dalam bidang teknologi komputer.
Setibanya Heru di ruangan, Ranto langsung memerintahkan untuk membuka file tersebut dan mengirimnya langsung ke laptop milik Ranto.
Heru mengerjakan perintah Ranto dengan cepat, ini bukanlah hal yang sulit bagi Heru.
Ranto meletakkan kembali laptop milik Riana ke posisi semula agar Riana tidak mengetahuinya.
Ranto membuka kancing kemejanya, "Angga, berapa jam lagi aku harus menghadiri seminar?"
Angga melihat jadwal Ranto melalui gadgetnya, "Tiga jam lagi."
Ranto melihat ke arah meja yang terdapat wadah bekas makan siang untuk Riana, "Pantas saja sayangku tertidur rupanya terlalu kenyang karena makan siang yang aku pesan terlalu banyak."
Angga melihat arah pandangan Ranto, "Riana yang menghabiskannya? Kamu yakin? Bahkan sewaktu makan siang bersama aku, sepiring steak saja tidak bisa dia habiskan. Tampaknya Riana sudah terbiasa makan sedikit."
Ranto berpikir sebentar, lalu memanggil sekretarisnya, "Kinan, apa Riana menghabiskan makan siangnya sendiri? Atau kamu membantunya?"
Kinan gemetar takut tidak bisa membohongi bosnya yang galak itu, "Itu, Bos..."
Ranto tidak sabar melihat Kinan yang gugup, "Angga, suruh pengawas kamera pemantau mengirim rekaman sewaktu aku meninggalkan Riana di ruangan ini dan seluruh area kantor."
Angga yang sedang sibuk menjawab, "Baik, Bos."
Tidak lama Ranto melihat ke laptop miliknya rekaman ruangan tersebut. Terlihat Riana bersama Kinan membawa makanan ke luar ruangan dan menuju arah parkiran mobil di basemen. Lalu Ranto melihat beberapa karyawan mengikuti Riana dan bersembunyi di balik mobil. Sepertinya Ranto tahu bagaimana Riana menghabiskan makan siangnya.
Ranto memerintahkan kepada Angga untuk memanggil para karyawan yang terlihat di rekaman tersebut.
Mereka sekarang berada di hadapan Ranto dengan wajah ketakutan.
"Kinan, aku memerintahkan kamu untuk menemani Riana makan siang dan memastikan dia makan, lalu mengapa kamu malah mengajak dia ke basemen?"
Kinan tidak menjawab, dia terlihat menyeka air matanya.
Lalu Ranto menatap ke arah para karyawan lain yang semuanya menundukkan kepala, "Apa yang kalian lakukan bersama kekasihku itu ?"
Hening, tidak ada yang bisa menjawabnya.
Ranto menggebrak meja kerjanya, "Tidak ada yang mau menjawabnya? Kalian semua aku pecat!"
Suara Ranto yang keras membangunkan Riana yang sedang tidur, dia mendengar suara wanita menangis. Suara Kinan.
Riana keluar dari ruang istirahat itu dan melihat Kinan sedang menundukkan kepalanya sambil menangis, "Jangan pecat mereka, Bos. Maafkan saya yang bersalah ini dan memberi ide kepada Bu Riana untuk menghabiskan makan siang bersama kami."
Ranto masih kesal, karena dia mempercayakan menjaga Riana kepada Kinan dan menurutnya Kinan sudah lalai, "Kamu, saya pecat!"
Riana segera menghampiri Kinan dan memeluk teman barunya itu, "Tenang saja, ya. Jangan menangis lagi!"
Ranto terkejut melihat Riana yang sudah bangun dari tidurnya dan memeluk karyawannya yang sedang menangis itu.
Riana melihat ke arah Ranto, "Mereka semuanya adalah teman baru aku, bahkan kami sudah membuat grup di WhatsApp. Kamu yakin akan memecat mereka semuanya?"
Lalu Riana mengambil tasnya yang berada di sofa, "Aku rasa kamu belum terlalu mencintai aku."
Riana melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu namun Ranto menarik tangannya, "Aku mencintai kamu, Riana. Tidakkah kamu percaya?"
Riana menggeleng, "Kamu bahkan memecat mereka semua yang merupakan teman baru aku. Bahkan kami sudah saling bertukar kontak. Bila mencintai aku maka pastikan apapun yang aku sayangi kamu harus menerimanya sebagai bagian dari diriku. Namun bila tidak bisa menerimanya, maka pastikan juga untuk memegang dada kamu apakah di dalam sana jantung kamu masih berdetak kencang saat mengingat aku?"
Perkataan Riana menohok Ranto, "Sayang Riana, jantungku masih berdetak kencang saat memikirkan kamu, juga berdetak kencang saat melihat foto kamu dan berdetak lebih kencang lagi saat di dekat dirimu. Aku sangat mencintai kamu, Riana. Maafkan aku tidak mengetahui bila mereka semua sudah berteman dengan kamu."
Ranto mendekap erat tubuh Riana di depan para karyawannya yang sedang dia sidang itu. Ranto takut bila Riana marah dan pergi.
Riana memberontak, "Lepaskan!"
Ranto makin erat mendekapnya, "Tidak akan pernah dan jangan berharap!"
__ADS_1
♥️💘♥️💘
Follow ✍️ dee.reeana.24