Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 07 ( Jalan Menuju Cinta )


__ADS_3


Angga memasuki ruangan bosnya sekaligus sahabatnya. Mereka sekarang masih menempuh Pascasarjana di kampus yang sama dengan Riana.


Meneruskan kuliah mereka sambil bekerja mengurus perusahaan.


"Aku sudah menyelesaikan tugas proyek perusahaan di kota Surabaya dan itu selesai dengan baik. Jadi, mengapa memanggil aku sepagi ini? Aku bahkan langsung menuju ke sini dari bandara, tidak sempat beristirahat di apartemen." Tanya Angga setengah kesal karena lelah.


"Berisik." Jawab Ranto singkat.


Angga geleng-geleng kepala. Dia tahu sahabatnya sedang kesal tingkat dewa.


Ranto bertanya, "Kamu kenal dengan yang namanya Seno Aji ?"


Angga mengerutkan dahinya, "Ada urusan apa dengan ketua senat di kampus ?"


"Berarti kamu kenal ? " Pertanyaan di jawab lagi dengan pertanyaan.


Angga tersenyum, "Siapa yang tidak kenal dengan Seno Aji, ketua senat yang tampan juga idola para mahasiswi. Berasal dari keluarga berada, ayahnya seorang pengusaha, lalu kakaknya seorang walikota kota Bandung. Jangan lupakan kakeknya yang merupakan mantan anggota DPRD. Belum lagi beberapa sepupunya yang mempunyai jabatan strategis di pemerintahan. Tanpa harus mengenalnya, Seno memang terkenal."


Ranto tersenyum sinis, "Begitu saja kelebihannya, tidak lebih banyak daripada aku." Menyombongkan dirinya.


Angga tertawa, "Iya, level Seno memang masih di bawah kamu."


Ranto tersenyum sinis, "Bagus, kamu tidak percuma menjadi seorang sahabat."


Angga terbiasa dengan kata-kata sahabatnya yang bernama Ranto itu, dia memang seperti itu, bermulut pedas namun sebenarnya memiliki hati yang baik.


"Satu yang membuat kamu kalah dengan Seno satu langkah." Tegas Angga.


"Apa ?"


Angga mengulum senyum, "Followersnya banyak."


Ranto kesal, "Kalau memang seperti itu maka tugas kamu mulai hari ini adalah membuat media sosial aku penuh dengan followers. Aku memang tidak begitu suka di foto, tapi untuk yang satu ini kamu harus mencari fotografer handal."


Angga heran, "Kamu ingin bersaing dengan Seno, ada apa gerangan ?"


"Soal bisnis, tidak mungkin. Seno belum begitu serius dengan dunia bisnis milik keluarganya. Dia begitu menyukai dunia kampusnya." Batin Angga.


"Kemarin aku kalah baku hantam dengan Seno." Jawab Ranto.


Angga mendengarnya, "Apa?"


Lalu tertawa keras.

__ADS_1


"Seno kamu lawan. Sekedar pemberitahuan yang penting. Seno sering menjadi perwakilan kota cabang olahraga karate, lalu kamu yang merupakan atlet badminton, masa mau melawan Seno yang seorang atlet karate."


Angga tidak berhenti tertawa.


"Bila mau tertawa terus silakan, tetapi silakan juga mengajukan surat pengunduran diri sebagai karyawan." Ancam Ranto.


Angga langsung berhenti tertawa, "Kamu yang bertanya maka sudah sepatutnya aku menjawab. Mengapa urusannya menjadi lain."


"Repot memang sahabat yang satu ini bila sedang kesal, di mana lagi ada pekerjaan dengan gaji sekelas direktur. Belum lagi hutang jasa sama sahabat yang satu ini yang membuat aku tidak bisa meninggalkannya." Batin Angga.


"Mengapa berhenti tertawanya ?" Sindir Ranto kepada Angga.


"Baiklah. Soal media sosial tenang saja. Aku mengenal orang-orang handal di bidang itu. Lagipula kamu saja yang tidak mau mengikuti media sosial dengan baik. Followers kamu juga bukan jumlah yang sedikit. Bahkan waktu kamu posting foto kaki saja yang hanya memakai sendal jepit, foto kamu banyak mendapat tombol like dari netizen."


Ranto tersenyum senang sekarang dan itu membuat Angga juga senang.


"Soal karate?" Tanya Ranto.


Angga menggaruk kepalanya, "Apakah harus seperti itu?"


Ranto mengangguk pasti dan penuh percaya diri.


Angga pun bergumam, "Merepotkan."


"Memang ada masalah apa antara kamu dengan Seno sampai harus baku hantam? Walaupun Seno jago karate, tapi dia tidak pernah menggunakannya bila tidak terdesak atau untuk hal yang tidak penting. Apakah kamu sudah mengusik Seno?" Tanya Angga serius.


"Tidak pernah aku mengusik Seno. Aku kenal karena tidak sengaja pernah bertemu Seno dan ayahnya yang aku kenal. Mereka sedang makan di salah satu restoran." Ranto menjelaskan bagaimana dia mengenal Seno.


Angga tidak mengerti, "Lalu mengapa sampai bisa kalian bertengkar, bagaimana ceritanya?"


Ranto memijit pelipisnya, "Ada demonstrasi di kampus. Aku bertengkar dengan wanita yang kita lihat berada di rumah Kevin. Kami juga pernah bertengkar di kampus beberapa waktu lalu. Kemarin ketika aku sedang bertengkar lagi dengan dia , Seno turut campur. Gara-gara wanita itu aku menjadi viral satu kampus. Itu terjadi sewaktu kamu menangani proyek di kota Surabaya."


"Kamu bertengkar dengan wanita sampai Seno turut campur?" Angga mengulanginya.


"Kurang jelas aku bicaranya?" Ranto bertanya balik kepada Angga.


"Riana." Angga menyebutkan sebuah nama.


"Siapa?" Tanya Ranto tidak mengerti.


"Wanita yang kamu ajak bertengkar itu adalah Riana. Hanya untuk seorang Riana, Seno berani mati. Jadi yang kita ikuti dan kita lihat di rumah Kevin adalah Riana."


"Apakah wanita yang kita lihat di rumah Kevin dan yang bertengkar dengan diriku itu orang yang sama ?" Ranto bertanya kepada Angga.


"Aku yakin itu Riana. Satu kampus juga mengetahui bila Seno selalu mencintai Riana, wanita yang mempunyai senyuman paling manis itu."

__ADS_1


Di akhir kalimatnya terdengar Angga memuji.


"Baiklah, sekarang aku mengetahui nama wanita yang menyebalkan itu bernama Riana."


Angga mengerutkan dahinya, "Menyebalkan? Bahkan kamu mengikutinya saat dia sedang ke rumah Kevin. Benci berubah menjadi cinta."


Ranto tertawa kecil, "Tidak berlaku untuk aku." Jawabnya sombong.


Angga mengingatkan, "Benci itu merupakan gabungan kata dari benar-benar cinta."


"Terserah kamu!" Tegas Ranto.


Angga serius kembali, "Lalu apa hubungannya dengan mencoba mengalahkan Seno dalam hal karate apalagi dengan persoalan followers. Seperti seolah-olah kalian mau bersaing mendapatkan Riana, bukan begitu ?"


Ranto tersenyum, "Tidak. Itu semua bukan untuk mendapatkan Riana. Kemarin sewaktu aku berkelahi, satu kampus mendukung Seno dan Riana, wanita yang di puja oleh Seno. Hanya sedikit yang mendukung aku."


Angga merasa pembicaraan mereka lucu pagi ini, "Sepertinya kamu memang harus update berita di kampus. Seno itu idola para wanita di kampus. Sedangkan Riana merupakan idola kaum pria di kampus. Jadi wajar bila mereka mendukung Riana dan Seno."


"Terserahlah. Aku tidak peduli mereka idola kampus. Yang penting hanya satu, aku harus mengalahkan Seno dalam hal apapun." Tampaknya Ranto sudah bertekad.


"Soal karate cukup sulit, tapi bila mau di coba aku kenal dengan master yang handal. Bila untuk menjaga diri cukup menambah jumlah bodyguard untuk kamu." Angga menenangkan Ranto.


Angga teringat sesuatu, "Memangnya sewaktu ke kampus, para bodyguard itu tidak melindungi kamu ?"


Ranto menjawab, "Aku sengaja menyuruh mereka untuk menunggu di depan area kampus karena sedang ada demonstrasi."


Angga mengusulkan, "Kamu berprestasi di bidang olahraga badminton. Bila di tingkatkan sedikit lagi maka akan menyamakan level Seno di tingkat perwakilan kota, yang berbeda hanya bidang olahraga saja."


"Mudah-mudahan Ranto setuju, agar tidak merepotkan soal urusan karate."


Ranto berpikir sebentar, "Baiklah. Aku coba."


"Syukurlah." Angga bersorak dalam hati.


"Tapi untuk karate, aku wajib mencobanya juga. Siapa tahu harus pakai fisik lagi menghadapi Seno." Tambah Ranto yang membuat Angga sedikit kesal.


"Terlihat jelas kalau kamu sesungguhnya melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan hati Riana !" Angga berusaha menyadarkan Ranto.


Mulai hari ini pasti Angga yang repot.


Dan Angga pun mendapat timpukan berkas yang ada di tangan Ranto.


💠💠😘😘💠💠


Follow me 📝 ✍️ dee.reeana.24

__ADS_1


__ADS_2