
Riana sedang menemui dosennya yang mengurusi masalah beasiswa.
"Sepertinya kamu mendapatkan beasiswa keluar negeri, Riana."
Perkataan dosen tersebut membuat Riana sedikit terkejut, dia pikir akan mendapatkan beasiswa di dalam negeri.
Riana tampak gelisah dan itu terlihat di mata dosen, "Bukankah ini yang kamu harapkan dari dulu?" Dosen itu memberikan setumpuk berkas berisi data universitas yang di maksud.
Riana terdiam, "Bagaimana ya, Pak?“
"Kenapa kamu bingung Riana.. Bukankah ini sesuai dengan apa yang kita diskusikan dari tahun lalu?"
Riana membuka berkas itu, "Ya. Ini memang impianku. Sesuai dengan apa yang aku harapkan tetapi..." Riana berbicara sendiri.
"Kamu bicara apa Riana? Bapak kurang mendengarnya bila suara kamu kecil seperti itu."
Riana tersenyum, "Tidak ada, Pak. Saya hanya merasa sangat senang. Saya akan melihat lagi universitas ini, baru akan saya lanjutkan pengiriman dokumennya.."
" Baiklah. Sebaiknya pikirkan dengan bijak."
Riana keluar ruangan dengan langkah lemah, bagaimana bisa dirinya meninggalkan cintanya demi cita-cita. "Apa yang harus aku lakukan?" Riana bertanya sendiri, "Aku tidak mungkin meninggalkan suami kesayangan aku itu, bahkan aku sangat menyukai ketika bisa tidur dalam pelukannya yang hangat. Aku sangat mencintainya."
Ranto yang baru saja menunggu Riana sambil menghubungi rekan bisnisnya langsung menangkap Riana ke dalam pelukannya, "Ada apa sayang? Mengapa kamu sepertinya tidak bersemangat?"
Riana langsung tertawa kecil menutupi kegundahan hatinya, "Tidak ada sayang, tadi aku hanya memikirkan hadiah apa yang bagus untuk dirimu yang sudah membantu Seno."
Ranto menyadari kebohongan yang diucapkan oleh istrinya itu, "Kamu berbohong, Riana?"
Riana tampak gugup, "Sayang.. ...."
Ranto mengerti, "Apa ini menyangkut beasiswa itu?"
Riana mengangguk.
"Kamu mendapat beasiswa di mana, Riana. Jawab dengan jujur dan tidak perlu berbohong. Aku suami kamu!"
"Kanada." Riana menjawab dengan singkat.
Jawaban Riana mulai membuat Ranto kesal, "Lalu kamu setuju?"
Riana diam, lalu menjawab, "Belum."
"Belum?" Ranto tak mempercayai pendengarannnya, bahkan istrinya menjawab 'belum'.
__ADS_1
"Iya, belum." Riana malah mengulang kata yang membuat darah Ranto semakin tinggi.
"Kamu tahu arti kata belum itu, Riana!" Ranto mulai tak habis pikir dengan istrinya.
"Aku belum menyetujuinya." Riana tidak tahu kalau suaminya akan bertambah marah.
Ranto merasa marah terhadap istrinya, "Pergilah! Kejar cita-cita kamu sejauh mungkin. Jangan pernah mempedulikan aku yang tak berharga ini di mata kamu, Riana."
Ranto menjauh dari Riana. Namun dia ingat kalau istrinya itu menderita 'broken heart syndrome'.
"Sayang.... "Riana memanggil Ranto dengan lirih sambil menahan rasa sakit di jantungnya.
Ranto langsung memeluk Riana, "Aku tidak akan menyuruh kamu untuk pergi, Riana. Tidak akan. Aku mencintai kamu. Aku hanya marah kepada kamu. Aku hanya marah kecil kepada kamu, karena aku sangat takut kehilangan dirimu. Bahkan kita belum sempat berbulan madu dengan benar."
Riana merasa hangat saat berada di dekapan suaminya itu, "Jangan suruh aku pergi."
Ranto mengusap rambut panjang Riana, "Tidak."
Riana memperat pelukannya, "Janji, tidak akan menyuruh aku untuk pergi?"
Suami Riana ini bingung akan kalimat yang diucapkan oleh istri cantiknya itu, "Bukankah kamu yang ingin pergi mengejar cita-cita kamu sampai harus ke luar negeri meninggalkan suami kamu yang tampan ini?"
Riana mencubit pinggang suaminya itu, "Dasar suami tidak peka!"
Riana sekarang yang meninggalkan Ranto, "Susahnya mengerti wanita, tadi dia yang menyuruh agar aku tidak menyuruhnya pergi namun sekarang dia yang pergi meninggalkan aku."
Selalu saja menyusahkan Angga.
"Bukankah kalian sudah menikah? Kenapa kalian masih menyusahkan aku! " Angga sedang bersama Kinan menyusun rencana menaklukkan ayah Kinan.
"Angga!" Ranto merasa kesal.
Angga terdiam sebentar, mencoba berpikir, "Belikan Riana sebuah hadiah."
Angga bertanya kepada Kinan yang sedang berada di sampingnya, "Wanita menyukai hadiah apa, Kinan?"
"Bunga." Kinan menjawab singkat.
Angga memijit pelipisnya, tampaknya dia tak pernah melihat Riana menyukai gambar bunga.
Ranto merasa terbantu, "Hadiah apa, Angga?"
"Riana sekarang istrimu jadi kamu harus mencari tahu apa yang menjadi kesukaannya. Bila aku yang mencari tahu maka aku pastikan besok Riana akan kuambil dari kamu dan menjadikannya sebagai istriku." Angga sedikit mengancam agar tidak selalu di ganggu oleh pasangan kekasih absurd itu.
Angga merasa otaknya sedang buntu karena menghadapi sejuta permasalahan tentang lamaran dirinya dengan Kinan, ini ditambah mengurusi istri sahabat kesayangan itu.
__ADS_1
Rasanya lebih baik Angga berlibur ke Afrika saja sekalian.
"Awas kalau kamu berani melakukannya, Angga! " Ranto kesal sekali dengan asistennya yang mulai membantah itu.
Rupanya ancaman yang Angga lancarkan berhasil. Ranto langsung menutup teleponnya.
Ranto berusaha mencari sendiri dengan mencarinya di internet.
Pria tampan ini mengetikkan suatu kata 'hadiah' untuk memudahkannya berpikir dan memberikan sesuatu yang membuat hati istrinya senang.
"Dapat!" Ranto berteriak senang, dia sudah mengetahui semua kesukaan wanita.
Ranto menghubungi dealer mobil mewah, "Ya, jangan lupa kirimkan semuanya dengan memakai pita berwarna putih, tampaknya istriku menyukai warna putih."
Ranto menutup teleponnya, dia berhasil membeli hadiah untuk istri kesayangannya itu tanpa bantuan Angga.
" Untuk hari ini cukup hadiah kecil sebagai permulaan, mulai besok aku akan mendatangkan hadiah yang banyak untuk kamu, Riana Sayangku." Ranto tersenyum sendiri membayangkan akan mendapatkan pelukan dan ciuman dari istrinya nanti malan karena sudah menjadi suami yang peka akan kemauan istrinya.
Malamnya Riana sedang mendengarkan musik menggunakan headset, dia sedang marah dengan suaminya yang tidak peka itu.
Terdengar suara pintu apartemen diketuk oleh petugas keamanan.
Riana tak melihat suaminya itu, jadi dia yang membukakan pintu, "Ada apa?"
"Di bawah ada kiriman untuk Bu Riana."
Petugas keamanan itu menyuruh Riana untuk segera ke bawah karena di bawah sedang terjadi keramaian akibat kiriman yang dialamatkan untuk dirinya.
"Baiklah, tunggu sebentar. "
Riana mengikuti petugas keamana itu, dia hanya menggunakan celana jeans ketat dan kaos milik suaminya itu.
"Ini semua kiriman hadiah untuk Bu Riana, mohon ditandatangani." Petugas pengiriman memberikan beberapa BPKB mobil mewah.
BEBERAPA....
"Ya, Tuhan...!" Riana berteriak terkejut setelah melihat deretan 'beberapa' mobil mewah yang katanya adalah hadiah dari suaminya.
Ranto tersenyum melihat istrinya yang sedang terkejut, pria itu dari tadi menunggu Riana di lobi apartemen, "Apa kamu terlalu menyukai hadiah kecil dari aku, Sayang?"
Riana merasa saat ini dirinya ingin pergi ke antartika untuk menjauhi suami luar biasanya itu
"Kamu yang mempunyai ide ini?" Riana berkeliling melihat satu per satu deretan mobil mewah yang terparkir dengan rapi.
Ranto membuka tangannya, berharap mendapatkan pelukan dan ciumandari istrinya namun.......
__ADS_1
"Rasakan itu, suami kurang kerjaan!"
Ig : dee.reeana.24