Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 09 ( Mulai Cemburu )


__ADS_3


Riana melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah. Hari ini Riana hendak memberikan semangat kepada Tomi sahabatnya sewaktu dia masih aktif di klub badminton .


Tin..tin..


Suara klakson mobil.


Riana menoleh, "Seno ? Kenapa dia selalu ada di waktu yang pas ya ?"


Riana bingung sendiri membayangkan apa yang ada di pikirannya.


Seno membuka kaca mobil, "Masuk Riana, kamu ingin menonton pertandingan Tomi ?"


Riana mengangguk, " Ya."


Seno tersenyum, "Ayolah, kita berangkat bersama saja."


Riana berpikir sebentar.


"Baiklah."


Riana segera masuk ke dalam mobil sport Seno.


Seno tersenyum senang.


Tidak percuma rasanya menunggu di dalam mobil dari jam lima pagi hanya untuk menunggu Riana keluar rumah.


Seno mengetahui bahwa Riana akan pergi menonton pertandingan Tomi hari ini karena dia sudah mendapat informasinya dari Tomi.


Bila mengajaknya langsung, seperti biasa Riana akan menolak. Ini satu-satunya cara.


"Kamu mengantuk ?" Tanya Riana ketika melihat Seno dari tadi selalu menguap.


Seno bingung menjawabnya, "Sedikit, semalam banyak tugas yang harus di kerjakan."


"Mudah-mudahan Riana tidak mengetahui bila aku sudah menunggunya cukup lama di ujung jalan itu." Batin Seno.


Hening..


Seno tidak tahu harus berkata apa bila berada di dekat Riana. Padahal Seno selalu punya stok kata-kata lebih dari satu milyar. Melebihi kamus bahasa Inggris yang harganya mahal itu.


"Riana ?" Tanya Seno sambil memutar musik yang Riana suka.


"Iya." Jawab Riana sambil memainkan gadgetnya. Dia juga harus memantau keripik jualannya di media sosial bersama Nadia.


Tampaknya stok sudah menipis, sedangkan Nadia masih sibuk syuting.


"Kamu cantik hari ini." Rayu Seno.


Riana tersenyum, "Hari ini saja? Kemarin jelek dong."


Seno senang melihat senyum Riana, "Setiap hari kamu selalu cantik di mata aku. Bahkan walaupun kamu belum mandi sekalipun."


Riana tertawa geli, "Kamu itu selalu remedial, Seno Aji."


Seno mengernyitkan dahi, "Maksud kamu, Riana?"


"Remedial merayunya. Itu-itu terus." Riana tertawa.


Seno juga ikut tertawa, "Aku selalu kehabisan kata-kata bila dekat dengan kamu, Riana."


Riana hanya tersenyum.


"Aku mencintai kamu, Riana. Selalu dan selamanya. Kamu mempunyai tempat spesial di hati aku. Kapan aku bisa menjadi kekasih hati kamu, Riana?"


Ada nada kejujuran yang Riana tangkap dari kata-kata Seno. Namun susah untuk Riana jawab.

__ADS_1


Riana tahu bila Seno mencintainya, namun susah rasanya membuka hati untuk seorang Seno Aji.


"Bagaimana jika kita menikmati lagu saja ?" Tawar Riana sambil langsung ikut bernyanyi mengikuti lagu yang diputar Seno.


Seno senang saja walaupun pertanyaannya tidak di jawab oleh Riana. Dekat dengan Riana saja dia sudah senang.


Riana terus bernyanyi sampai satu album untuk menemani perjalanan mereka.


😉😉


Sementara itu di GOR.


Angga sedang sibuk mengatur penonton yang di persiapkan untuk menyemangati bos kesayangannya.


Bukan penonton bayaran ya.


Angga tersenyum-senyum sendiri melihat penuhnya GOR itu oleh semua karyawan perusahaan.


Angga mengerahkan seluruh karyawan kantor pusat untuk di jadikannya penonton.


" Ini bukan penonton bayaran, tapi penonton gajian." Batin Angga geli.


Mau tidak mau mereka harus ikut bila tidak ingin di pecat.


Pak Budi menyerahkan setumpuk kertas, "Pak Angga, ini sudah saya absen semua karyawan kita. Semua hadir. Bahkan ada yang mengajak anggota keluarganya."


Angga tersenyum senang, "Kerja bagus Pak Budi, nanti yang membawa anggota keluarganya sesuai janji kemarin maka akan di berikan kompensasi setengah bulan gaji bila bos kita menang."


Pak Budi mengangguk.


Angga melihat sekilas daftar absensi karyawan yang diserahkan oleh Pak Budi, "Sepertinya ada beberapa karyawan yang sepengetahuan saya masih lajang namun mengapa mendaftar membawa keluarga ?"


Pak Budi tersenyum kecil.


Angga membaca lagi dengan teliti, "Bukan beberapa namun mengapa semua karyawan membawa anggota keluarga ? Bukankah karyawan kita banyak yang masih lajang ?"


Angga hanya tersenyum kecil melihat ulah para karyawan, "Do'akan saja bos kita menang, agar suasana hatinya membaik dan dia akan membayar kompensasi sesuai dengan yang di janjikan."


"Tenang Pak Angga, tadi kami sudah berdo'a di pimpin oleh Pak Hasan agar pertandingan ini di menangkan oleh Bos Ranto." Pak Budi menerangkan apa yang sudah di kerjakan.


"Baguslah." Jawab Angga.


"Bos, demi harga diri dan Riana, kamu harus menang, karena itu akan membahagiakan semua karyawan kita yang hadir hari ini." Batin Angga.


😉😉😉


Setelah sampai di GOR, Riana dan Seno heran. Tidak biasanya GOR sepenuh ini.


Seperti sedang ada pertandingan internasional saja. Riana memang senang menonton berbagai macam pertandingan olahraga.


Seno berkata, "Tenang saja Riana, tadi Tomi mengatakan dia sudah menyiapkan dua kursi untuk kita, namun aku tidak menyangka bila penontonnya sebanyak ini, bahkan sampai ke luar areal GOR."


Riana tersenyum menanggapi perkataan Seno, "Ayolah masuk, tampaknya sebentar lagi pertandingan akan di mulai."


😊😊😊


Pembawa acara mengumumkan bahwa pertandingan akan di mulai, gemuruh tepuk tangan penonton memenuhi stadion berkapasitas cukup banyak itu.


Riana tersenyum melihat Tomi, namun seketika senyumnya luntur ketika melihat seseorang yang akan menjadi lawan Tomi, "Pria tampan rasa sambel ayam geprek " Batin Riana.


Seno juga terkejut tak senang.


Berbeda dengan Ranto, dia senang sekali hari ini.


Kemampuannya yang berada tiga level di atas Tomi, menjadikan Ranto mempunyai tingkat kepercayaan diri yang besar.


Karyawannya yang menjadi penonton dan hanya bertepuk tangan untuk dirinya saja tentu menjadi salah satu faktor kepercayaan diri juga.

__ADS_1


Ranto tersenyum sinis melihat Seno dan Riana yang ada di bangku penonton paling depan.


Pertandingan berlangsung cukup mudah.


Tomi kewalahan menghadapi serangan demi serangan yang di lancarkan Ranto. Belum lagi penonton yang terlihat hanya menyemangati lawannya itu.


"Bos Ranto menang !" Teriak penonton sambil menabuh gendang.


"Ye..ye.. Bos Ranto menang..!" Teriak mereka lagi.


"Setengah bulan gaji...ye...ye..." Penuh semangat mereka meneriaki yel-yel penyemangat.


"Bos Ranto menang...kita senang..ye...ye..." Tambah penonton bersama-sama.


Kompak sekali bila soal uang.


Angga hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar yel-yel para karyawan, "I**ni pasti ajarannya Pak Budi."


Pertandingan telah usai.


Ranto memenangkan pertandingan itu.


Dia lalu sengaja menghampiri Tomi yang sedang beristirahat di temani oleh Seno dan Riana di pinggir lapangan.


"Besok latihan lagi ya !" Kata Ranto dengan nada meledek kepada Tomi.


"Tapi bertandingnya dengan anak TK saja, belum satu level bila bertanding melawan aku." Sambung Ranto lagi.


Tentu saja itu membuat Riana kepanasan mendengar sahabatnya di hina oleh pria tampan rasa sambel ayam geprek.


"Dasar mulut pedas ! Kamu tidak pernah membaca kamus agar kata-kata yang kamu ucapkan terdengar sopan ya ?" Penuh amarah Riana menatap pria itu.


Ranto tersenyum mengejek, "Kamu tidak perlu turut campur, cukup urusi saja kekasih kamu!"


"Kamu mencari keributan dengan aku !" Sahut Riana sambil meletakkan tangannya di baju Ranto yang langsung di tepis oleh Ranto.


"Tidak perlu memegang aku. Kamu suka sama aku ?" Tanya Ranto sambil meledek.


Riana rasanya ingin melayangkan tinju pada makhluk Tuhan yang satu ini, namun itu artinya memalukan dirinya sendiri.


"Suka ? Aduh Pak, maaf ya." Sahut Riana sambil menurunkan jempol kirinya ke arah bawah membalas ejekan Ranto.


Ranto mendorong Riana kesal.


Seno maju melindungi Riana, "Sabar Bos! lawan kamu adalah aku, bukan Riana!"


"Seno Aji, ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Tidak perlu turut campur urusanku dengan wanita ini !" Ranto meninggikan suaranya.


Seno sinis, "Urusan Riana adalah urusan aku juga!"


Penonton yang tadinya sudah hampir bubar, kembali lagi berkerumun melihat bos mereka yang sedang bertengkar.


Tampaknya Bos Ranto masih butuh yel-yel penyemangat.


Pikir mereka.


Dasar penonton bergaji.


Pak Budi tidak tinggal diam. Dia kembali mengarahkan penonton untuk memberikan yel-yel penyemangat kepada bos mereka.


" Ye..ye...Bos Ranto.." Teriak penonton kurang kerjaan itu.


"Bos Ranto menang...kita senang.." Teriak mereka lagi memanaskan kompor yang sudah panas agar meledak..


💘💘♥️♥️


Follow me 📝✍️

__ADS_1


dee.reeana.24


__ADS_2