
Lala membanting gelas yang berada ditangannya hingga pecah menjadi kepingan kecil yang memenuhi lantai di sekitarnya.
"Tidak tahu diri kamu, Seno! Beraninya meminta bantuan dengan saingan cinta kamu itu!" Lala melihat berita tentang harga saham perusahaan milik keluarganya yang sudah hancur.
Ayah Lala yang juga berada di sana ikut merasa kesal. Perusahaan yang sudah dibangunnya susah payah mulai dari nol kini tidak berbekas, "Bagaimana bisa mereka membuat perusahaan kita ini hancur dalam semalam?"
Bayu yang merupakan kakak Lala juga tidak kalah terkejutnya, "Aku memantau indeks harga saham terus 24 jam, kemarin perusahaan milikku masih baik-baik saja, bahkan cenderung memiliki performa yang mengagumkan tapi sekarang......."
Bayu tidak meneruskan kalimatnya karena dia sudah membanting berkas-berkas perusahaan miliknya yang sudah tidak ada harganya lagi, "Perusahaan Papa hancur, begitu pula dengan perusahaan milik aku, hancur sampai habis! Ini semua karena kamu! Lala! Karena kamu begitu menginginkan Seno hingga membuat kami seperti ini. Kamu terlalu terobsesi dengan Seno!" Bayu sadar bahwa dia terlambat untuk memarahi adik perempuannya itu.
Lala merasa kesal disalahkan seperti ini walaupun dia tahu bahwa ini adalah merupakan kesalahan yang dia perbuat.
"Ini semua karena Riana! Pasti wanita itu yang meminta menghancurkan perusahaan keluarga kita kepada kekasihnya yang seorang pengusaha terkenal itu! "
Papa Lala terkejut, "Jadi, bukan karena Seno?"
Lala menggeleng, "Mana mungkin pria sekelas Ranto mau membantu Seno yang jelas-jelas adalah saingan cintanya!"
Bayu yang sedang kesal bertanya kepada adiknya, "Kenapa Ranto mau saja membantu Seno hanya karena permintaan wanita itu?"
"Efek cinta! Pria pengusaha itu sangat mencintai Riana. " Lala menyebutkan kata terakhir dengan penuh kebencian, "Pria itu selalu mau melakukan semua hal untuk kekasihnya itu."
"Apakah wanita itu cantik?" Bayu bertanya.
Lala diam, sebenarnya dia tidak mau mengakui bahwa Riana itu wanita yang cantik, tapi sekarang sudah tidak ada gunanya lagi, "Cantik, sangat cantik."
Bayu tersenyum sinis, " Aku akan mengambil wanita itu dari tangan kekasihnya agar dia bisa merasakan sakitnya kehilangan sesuatu. Katakanlah kelemahan wanita itu kepadaku, Lala!"
"Riana adalah orang yang baik hati, dia suka menolong orang lain." Lala menjelaskan yang dia ketahui tentang Riana.
"Jika memang seperti itu, maka aku akan menjadi pria yang tepat yang akan memerlukan pertolongan darinya." Bayu tampak memiliki ide.
"Laksanakan segera, agar aku bisa bahagia di atas derita Riana." Lala tersenyum jahat.
__ADS_1
Paginya, Seno menerima kabar baik dari keluarganya bahwa perusahaan mereka sudah kembali, ayahnya juga sudah dinyatakan tidak bersalah. Seno harus menemui Ranto untuk berterima kasih kepadanya.
Sementara itu Ranto yang pagi ini sedang membantu istrinya itu untuk berpakaian memberi pesan, "Kamu tidak boleh jauh dariku, Riana. Perusahaan keluarga Lala sudah hancur, maka Lala dan Seno sudah tidak bertunangan lagi. Dan itu berarti...."
Riana memotong kalimat yang akan diucapkan oleh lelaki itu, " Aku akan tetap berada di sisi kamu, sedetik saja tidak ingin berpisah dengan dirimu. Apa kamu sudah tenang mendengar perkataan dari istri kamu ini?"
Ranto mendekap Riana, "Ya, aku senang. Aku hanya takut kehilangan dirimu sedetik saja."
" Jadi, kamu akan mengantarkan aku ke kampus untuk menerima hasil beasiwa aku?" Riana bertanya sambil membantu suaminya berpakaian.
"Tentu saja, aku akan mengantarkan kamu kemana saja sesuka dirimu." Ranto memakai jas berwarna biru gelap.
Ranto sedang duduk di kursi ketika Riana menyisir rambut suaminya yang berpotongan pendek itu.
Ranto bisa mencium harum aroma tubuh istri kesayangannya itu, dan dia merasa mengingat sebuah janji, "Sayang... Bagaimana soal hadiah untukku?"
Riana tersenyum sedikit kepada suaminya itu, "Nanti malam saja, ya.."
Ranto mengusap rambut Riana, "Aku akan menagihnya dan bila terlambat maka akan ada denda beserta bunganya. Ingat itu, Sayang!"
Riana mengeluarkan suara desahan akibat kegiatan Ranto itu namun berusaha untuk tetap fokus, "Kita harus berangkat, Sayang.."
Ranto tetap melanjutkan kegiatannya, malah semakin jauh.
Riana berusaha menghindari suami nakalnya ini, "Sayang...."
Ranto menangkap istrinya yang ingin menghindar, berusaha meminta sesuatu kepada istrinya yang sudah berdandan cantik itu, "Aku hanya ingin meminta DP saja, Sayang... Pembayaran selanjutnya nanti malam."
Riana mencubit pinggang suaminya, "Benar-benar rentenir cinta! Rasakan itu!" Riana berhasil lari dan keluar dari ruangan itu dengan pakaian sedikit berantakan akibat ulah suaminya.
Ranto hanya tertawa kecil melihat ulah istrinya yang tidak mau membayar DP kepada dirinya.
Sesampainya di kampus, sepasang suami istri ini menjadi pusat perhatian. Mereka bergandengan tangan dengan sangat mesra, merasa dunia hanya milik berdua.
"Sayang, mengapa kamu masih menerima beasiswa ini? Bahkan untuk membeli sebuah universitas saja masih bisa. "Ranto mengajukan protes.
__ADS_1
"Aku sudah mengusahakannya sejak lama, jadi harus dijalankan." Riana menjelaskannya sambil memeluk pinggang suaminya itu mencari kehangatan.
"Riana... "Suara Seno yang memanggil Riana.
Ranto langsung kesal.
Sepasang kekasih halal ini berhenti.
"Seno." Riana menyapa pria bertubuh atletis itu.
Seno memasang senyum terbaiknya, "Aku hanya ingin berterima kasih dengan kekasih kamu ini yang sudah membantu aku, sehingga bisa bebas dari keluarga Lala."
Ranto menggenggam tangan Riana dengan erat, "Seharusnya kamu menemui aku saja bila ingin mengucapkan hal ini, tidak perlu menemui aku saat dengan Riana."
Seno mengerti kecemburuan Ranto, "Aku berterima kasih kepada kamu, namun bukan berarti aku menghentikan perasaan aku terhadap Riana. Selamanya aku akan mencintai Riana. Aku berjanji sebelum janur kuning belum berkibar dan Riana belum memakai cincin pernikahan, maka aku akan terus mengejar untuk mendapatkan cinta Riana."
Ranto tersenyum sinis, "Kalau begitu, maka mulai dari hari ini aku harap kamu harus berhenti mengejar istriku!"
Seno tidak mengerti maksud perkataan Ranto, "Istri kamu?"
Ranto mencium tangan Riana dihadapan Seno, "Riana sudah menjadi istriku, paham!"
Seno terkejut tampak tidak mempercayai kalimat yang diucapkan oleh Ranto, "Kamu bercanda?"
Ranto ingin melangkah pergi sambil mengajak Riana, namun Seno menghalangi jalan mereka, "Katakanlah kepada aku, Riana. Apakah benar yang dikatakan oleh Ranto atau dia hanya sekedar cemburu hingga berkata seperti itu?"
Riana menatap suaminya, "Memang benar apa yang dikatakan oleh suami aku ini, Seno. Sebaiknya kamu tidak perlu mengejar cinta aku lagi. Aku sudah menjadi istri sah kekasihku ini."
Bagai tersiram air es saat hari panas, Seno sungguh terkejut bukan main, "Kapan kalian menikah?"
Ranto tidak menyukai bila Riana terlalu lama berinteraksi dengan pria yang bernama Seno ini, "Sudahlah, sebaiknya tidak perlu menanyakan hal yang tidak harus kamu ketahui. Sekarang tepati janjimu tadi untuk tidak mengejar Riana, karena sekarang kamu tahu bahwa janur kuning sudah berkibar dan Riana sudah memakai cincin pernikahan tanda bukti cinta kami berdua!"
Ranto memperlihatkan sepasang cincin di jarinya dan jari Riana, "Apa masih kurang percaya?"
Seno mendadak merasa kakinya tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menopang dirinya.
__ADS_1
Follow : dee.reeana.24